Dialog Cinta

Induk Seri: A Sorcerer’s Journey[id]

Fitur Asisten Suara AI (Beta)
Berdiskusi di server Discord
Pengaturan Membaca
18px

The Moon Chirper telah menghilang bersama pria yang bersembunyi di pohon. Mendengar pesan bantuan Nina, Lafite dan Glenn segera menuju ke sana. Lafite tiba lebih dulu dibanding Glenn bersama Alastair, yang ia temui di jalan. Tak lama setelah Lafite dan Alastair tiba, rombongan murid dari Kompas School melarikan diri. Tanda rantai Lafite dan Alastair memancarkan energi kuat yang menakutkan para murid pengecut itu. Sementara itu, Glenn berlari kencang menuju Nina, sehingga sinyal energinya yang tinggi terasa dari jarak jauh.

Lafite menyelamatkan Nina dari rawa lalu menyuruhnya dan Lowry untuk lari. Ia kemudian bersiap bersama Alastair untuk menghadapi musuh yang tangguh.

Pria itu akhirnya muncul.

“Bukan. Itu topeng Glenn!” Lafite gemetar. Ia mengenali topeng pucat yang dikenakan orang itu. Itu milik Glenn. Hal pertama yang terlintas di pikirannya adalah kematian Glenn. Lafite menduga pemakai topeng itu telah membunuh Glenn dan mengambil topengnya. Saat itu juga, kemarahan dan kebencian Lafite meledak. Ia bertekad untuk membalas dendam.

Dengan jeritan kepedihan dan dendam, Lafite mencabut panah, menarik, lalu melepaskannya hingga melesat ke arah orang asing itu.

Terkejut oleh serangan mendadak ini, Glenn berteriak. Suaranya yang cemas sampai ke telinga Lafite.

“Tidak! Apakah itu Glenn? Bagaimana mungkin?” Lafite tampak kehilangan tumpuan dan berlutut di tanah. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya, terlihat sangat terkejut. Ia paham betul sihir panah ini. Sihir ini terlalu kuat untuk ditangkis atau dinetralkan oleh murid biasa. Belum pernah ada yang selamat dari sihir ini.

Panah itu tampak sangat murka hingga bergerak menyerupai berkas cahaya. Karena kecepatannya yang sangat tinggi, panah tersebut menciptakan pusaran besar dan menerjang ke arah Glenn.

Lafite menatap pusaran yang menerjang itu dengan terperangah. Tidak ada yang lebih paham efek sihir ini selain dirinya — ini adalah salah satu sihir paling mematikan, dan tidak ada cara untuk menghentikannya. Ia tahu bagaimana korbannya akan tewas. Panah itu akan pecah menjadi banyak daun berbilah tajam yang siap merobek tenggorokan musuh.

“Apa yang telah kuperbuat? Aku… aku… Ah…” Wajah Lafite memucat. Ia mandi air mata.

Alastair yang menyaksikan semua ini merasa terkejut. Di satu sisi, ia takut melihat sihir yang baru saja digunakan Lafite. Selain panah yang bergerak sangat cepat, sihir itu memancarkan sinyal berdaya rusak setara energi 100 derajat, dan bertahan cukup lama. Ratu berlidah tajam ini bersikap dominan bukan tanpa alasan!

Lebih dari itu, Alastair belum pernah melihat Lafite sedih sampai seperti ini. Lafite ternyata bisa menjadi emosional.

“Lafite, ini aku,” kata Glenn pelan saat mendekati Lafite.

“Glenn! Kamu tidak apa-apa?” Lafite berlari mendekati Glenn.

Pusaran daun berbilah tajam telah pudar. Pelindung Glenn kembali menunjukkan keajaibannya. Namun, pusaran itu menguras banyak kekuatan sihir Glenn. Jumlahnya bahkan tidak lebih sedikit dari yang terpakai saat bertarung melawan Kyrie sebelumnya.

“Ini aku, Lafite. Aku baik-baik saja.” Glenn memeluk Lafite dengan lembut dan mencium keningnya. Momen berikutnya, ia merengkuh Lafite dengan lengannya yang kokoh.

Alastair pernah bertemu Glenn sekali di Black Isotta. Glenn mengenakan topeng itu saat pesta yang diadakan Death Sail League. Namun kini, saat melihat Glenn, Alastair meragukan ingatannya sendiri karena Glenn memancarkan sinyal energi yang jauh lebih kuat daripada Lafite. Ini sulit dipercaya.

“Glenn?” tanya Alastair ragu-ragu.

“Hmm,” jawab Glenn sambil melepaskan Lafite dan menoleh ke Alastair. Alastair adalah salah satu pendiri Death Sail League. Glenn menghormatinya.

Bagi Alastair, Glenn masih tampak seperti orang yang tertutup, sama seperti yang ia ingat. Meski Glenn pucat, raut rapuhnya tidak teramati oleh Alastair. Yang dilihat Alastair hanyalah pria yang tenang dan sulit ditebak.

“Siapa yang bisa selamat dari serangan sekuat itu?” Alastair takjub. “Pantas saja Lafite menolak cinta Armida berkali-kali padahal Armida pria yang baik. Ternyata Glenn memang lebih unggul.”

Perasaan Alastair campur aduk. Ia selama ini menikmati rasa hormat dari anggota League, dan terkadang sifat sombong menguasainya. Ia kini merasa malu atas kesombongannya dulu. Namun, ia tetap tersenyum sopan pada Glenn, lalu pergi untuk memberi mereka privasi.

Apa yang dikhawatirkan Glenn akhirnya terjadi. Ada kebanggaan yang mendalam di hati Lafite. Ia memang berhati baik, tetapi ia gadis yang berharga diri tinggi. Ia selalu begitu. Ayahnya, gubernur kota Bi Seer, memberinya hak istimewa untuk bersikap bangga.

“Apakah selama ini kamu menganggapku bodoh? Seperti badut yang tampil untukmu?” Lafite menatap serius dan bertanya.

“Kenapa? Ada apa?” Glenn bertanya balik.

“Sinyal energimu begitu kuat, dan kamu bahkan bisa bertahan dari Pusaran Daun. Bagaimana bisa kamu menyembunyikan kemampuanmu dariku sekian lama? Tidakkah kamu tahu aku mengkhawatirkanmu untuk Ujian Berdarah ini? Bagaimana bisa kamu sekejam ini?” Lafite melangkah mundur dengan raut wajah seolah Glenn adalah orang asing baginya.

“Tidak, aku tidak berniat begitu. Aku hanya mencari waktu yang tepat. Itu saja. Aku tidak berniat menyembunyikannya darimu.” Glenn melangkah maju. “Kamu adalah cinta dalam hidupku. Aku akan menikahimu suatu hari nanti.”

“Cinta dalam hidupmu? Menikah? Hah! Menikahi seseorang yang dianggap bodoh? Menikahi seseorang yang membesar-besarkan dirinya sendiri? Itu terdengar ironis bagiku.” Lafite menatap Glenn.

“Tidak, kamu penting! Kamu adalah penyihir sulur. Kamulah yang selalu melindungiku dari bahaya, di kapal dan di Black Isotta. Aku tidak akan bisa bertahan tanpamu.” Glenn tidak sekadar sadar bahwa menyebut kekuatan Lafite dapat menenangankannya; ia sungguh-sungguh dengan ucapannya. Ia menganggap Lafite sebagai pelindungnya, baik secara fisik maupun mental.

Harus diakui, Lafite tersenyum tipis saat mendengar kata “penyihir sulur”. Kata “sulur” mengingatkannya pada hari-hari bersama Glenn di kapal yang membawa mereka ke sekolah penyihir. Lebih dari itu, kata itu mengingatkannya saat ia tergantung di luar lambung kapal dan Glenn mempertaruhkan nyawa untuk menolongnya. Glenn-lah yang turun ke sekoci dan menariknya kembali.

Lafite tidak pernah menyangka akan mencintai seseorang sejauh ini — seorang rakyat biasa yang bahkan dari kalangan bawah. Namun, saat ia bersandar di pelukannya ketika diselamatkan dulu, ia merasa rela menyerahkan segalanya untuk Glenn.

Cemoohan Lafite memudar, meleleh oleh cinta Glenn. Ia menatap Glenn dalam diam, meski tangannya masih gemetar.

Glenn menyadari kondisi Lafite. Ia mengeluarkan sebuah tongkat dan meletakkannya di tangan Lafite.

“Tebak apa ini? Ini barang rampasan yang kudapatkan dari rumah cermin! Aku ingin kamu ingat, apa pun yang terjadi, aku akan selalu bersamamu, mendukungmu dan mencintaimu. Tapi kamu akan selalu menjadi pelindungku.” Glenn menatap mata Lafite.

Berdiskusi di server Discord