Di Pelabuhan Krakatoa
Induk Seri: A Sorcerer’s Journey[id]
Setelah berangkat dari Pelabuhan Seer, rombongan berlayar selama setengah bulan sebelum akhirnya tiba di Pelabuhan Krakatoa. Ada seorang anggota baru, seorang anak laki-laki bernama Robinson. Ia diterima sebagai murid untuk belajar sihir saat rombongan singgah sebentar di Pelabuhan Apex, sebelum kedatangan mereka di Pelabuhan Krakatoa. Robinson sangat cerewet dan, lebih buruknya lagi, suka membocorkan rahasia orang lain. Namun yang paling parah, Glenn telah menjadi sasaran ceriwisnya.
Dulu di rumah gubernur Rothenstein, kota tempat Pelabuhan Apex berada, Robinson menangis kegirangan saat ia lolos tes bola kristal. Ia hampir membuat rumah itu gempar karena bernyanyi dan menari-nari, sebelum akhirnya diredam oleh Penyihir Apollo. Pada akhirnya, sang penyihir membebaskannya dari hukuman karena Glenn membelanya. Sejak saat itu, Glenn “terpaksa” hidup bersama ocehan Robinson yang terus-menerus membahas hal-hal sepele dan skandal—yang menurut pikiran Glenn—sangat mengganggu.
“Glenn, Shelly punya tanda lahir di bokongnya, kamu tahu tidak?” kata Robinson dengan bangga. “Aku mengintipnya waktu dia sedang mandi. Tapi jangan bilang siapa-siapa, ya.”
“Aku tidak akan bilang, tapi siapa Shelly itu?” tanya Glenn setengah hati karena ia tidak berminat pada topik seperti itu.
“Shelly? Kamu tidak tahu Shelly? Shelly! Kekasihnya Elvis!” bisik Robinson.
‘Elvis? Aku juga tidak kenal Elvis,’ gerutu Glenn dalam hati. Namun, ia menyerah pada kegigihan Robinson yang terus “mencekoki” pengetahuannya, dan malah berkata:
“Oh, begitu.”
Situasi serupa telah terjadi puluhan kali sejak mereka bertemu.
Kapal telah tiba dan berlabuh di Pelabuhan Krakatoa.
“Turun dari kapal!” perintah sang Penyihir.
Mengikuti perintah Penyihir Apollo, para murid bergegas turun dari kapal.
Pelabuhan Krakatoa adalah yang terbesar di Pulau Karang Timur, seluas kurang lebih 960.000 kaki persegi, dengan satu jalur pelayaran utama yang mengeruk bagian tengahnya dari muara hingga ke teluk.
Ada ratusan kapal yang berlabuh di lepas pantai pulau itu, beberapa di antaranya memiliki panjang lebih dari 1.000 kaki. Banyak orang berlalu-lalang keluar masuk pelabuhan saat itu.
“Wah, Pelabuhan Krakatoa. Pemandangan yang indah!” Lafite menatap ke arah laut.
Lafite sepertinya telah melupakan kekesalannya karena dipaksa belajar sihir, dan kini menikmati kemegahan kapal-kapal yang berjejer di pelabuhan.
Tubuhnya tinggi, hampir setara dengan Glenn, dengan perawakan yang langsing dan luwes. Ia mengenakan gaun ketat dengan sehelai kain terikat di pinggangnya seperti selendang. Sambil menghadap ke laut, ia memejamkan mata dan merentangkan tangannya, hingga ikatan kain itu mempertegas lekuk tubuhnya dengan sempurna.
“Luar biasa! Dia benar-benar menakjubkan,” kata Robinson lantang. Suara tegukan ludahnya bahkan terdengar jelas oleh Glenn yang berdiri di belakangnya.
Glenn juga mengagumi kecantikannya, hanya saja dalam diam, dengan jantung yang berdebar kencang.
“Lafite, manisku, lihat dirimu, betapa memikatnya kamu! Kamu adalah orang yang kutunggu seumur hidupku. Kamu adalah takdirku. Ya, benar. Lafite, tolong jadilah penyelamatku, jadilah pacarku!” Rentetan kata-kata manis meluncur dari mulut Robinson saat ia menatap Lafite dengan penuh kasih sayang.
‘Mengejar Lafite? Apakah dia sudah gila?’ Glenn menggaruk kepalanya, membayangkan apa yang akan menimpa Robinson yang malang itu. Murid-murid lain juga menatapnya seolah memperkirakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Sementara itu, Nina Hank, yang terkejut melihat pernyataan cinta secara terbuka itu, menggigit bibirnya dengan malu-malu.
Lafite berbalik dan menatap Robinson dengan wajah muram.
“Jadi penyelamatmu, ya?” Lafite memberikan tatapan mengancam pada Robinson.
Detik berikutnya, ia menggumamkan sesuatu dengan suara lirih dan menunjuk ke arah Robinson. Entah dari mana datangnya, sebuah sulur tanaman muncul, merayap dengan cepat, dan melilit Robinson. Dalam sekejap, Robinson terikat erat dalam beberapa lingkaran.
“Itu sihir!” rombongan itu bertakjub.
“Mmm…” Robinson mengerang saat ia menggeliat untuk melepaskan diri dari sulur itu, tetapi mulutnya justru tersumbat oleh sulur yang bergerak menyesuaikan diri.
Orang-orang yang sedang bergegas lewat mendadak berhenti dan berkumpul untuk menonton apa yang mereka sangka sebagai pertunjukan jalanan.
“Sihir apa yang baru saja kamu rapalkan?” tanya murid-murid lain kepada Lafite.
“Cincin Ajaib. Ini adalah alat sihir! Aku menggunakan kekuatan sihirku untuk membangkitkan cincin ini. Itulah mengapa aku bisa mengendalikan sulur ini,” jelaskannya dengan gembira karena sihir sulurnya berhasil.
Glenn telah selesai membaca Panduan Meditasi dan tahu bahwa kekuatan sihir berkaitan dengan kekuatan mental. Ia pernah mencoba meningkatkan kekuatan mentalnya tetapi gagal. Jadi, melihat Lafite mampu mengendalikan kekuatan mental dan kekuatan sihirnya membuat Glenn bersemangat dan terpacu kembali.
Setengah menit kemudian, Lafite menghentikan mantranya, dan sulur-sulur itu langsung menghilang.
Pada saat itu, sepasukan ksatria yang dipimpin oleh seorang pria di atas kuda gemuk datang menghampiri sang Penyihir, yang sejak tadi menyaksikan ulah para murid. Pria yang memimpin pasukan itu turun dari kudanya dan membungkuk kepada sang penyihir: “Tuan, Adipati telah menunggu Anda. Beliau telah menyiapkan makan malam untuk Anda.”
“Baiklah,” jawab sang penyihir acuh tak acuh, tidak memedulikan kebisingan dari kerumunan penonton.
Makan malam itu sangat mewah. Glenn sudah terbiasa dengan jamuan makan mewah yang disajikan oleh para bangsawan karena mereka selalu disambut dengan pesta di setiap perhentian. Ia juga telah mempelajari beberapa etika sosial tentang cara berkomunikasi dan berinteraksi dengan para pejabat tinggi.
Sang Adipati duduk di seberang Penyihir Apollo di meja makan dan memberi isyarat agar sang Penyihir menikmati lebih banyak makanan. Cara berpakaian dan berbicaranya menunjukkan bahwa ia memiliki tingkatan yang lebih tinggi daripada para marquis di kota-kota sebelumnya, dan tampaknya ia sudah kenal baik dengan sang penyihir.
“Apollo, apakah ada sesuatu yang mengganggumu?” tanya sang Adipati kepada sang Penyihir dengan raut peduli.
Penyihir Apollo sedang mengaduk-aduk sendok logam di mangkuk kuah, meski ia tampaknya tidak berselera untuk menikmatinya. Mendengar perhatian dari sang Adipati, ia mendesah:
“Keadaan makin tak terkendali, dan para penyihir mulai berjatuhan hilang. Kamu benar. Di sini lebih aman, maksudku, di dunia manusia. Tidak ada hal buruk yang terjadi di sana yang akan memengaruhi tempat ini.”
“Ha!” Sang Adipati tersenyum kecut, “Aku ciut. Tidak seperti kamu, aku tidak bisa naik ke tingkat yang lebih tinggi di sana, jadi aku menyerah dan menurunkan derajatku ke kehidupan yang tenang di sini,” jawab sang Adipati sambil mencelupkan bistik setengah matangnya ke dalam kaviar.
Sang Penyihir bungkam.
“Lalu siapa yang akan menjemput para murid di sini?” tanya sang Adipati.
“Dior.”
“Oh…”
“Kehidupan di sana mungkin tidak begitu berat bagi mereka. Sekolah Penyihir Lilith, ya? Lebih mudah untuk bertahan hidup di sana. Hal-hal mungkin jauh berbeda di Sekolah Penyihir Isotta Hitam—”
Penyihir Apollo memotong perkataan sang Adipati dengan tidak sabar. Ia sudah bosan dengan percakapan tersebut.
“Retakan besar ditemukan di Dunia Bawah Tanah. Aku akan pergi mengeceknya.” Apollo mengalihkan topik.
Jamuan makan berakhir. Glenn dan murid-murid lainnya diantar ke sebuah rumah kediplomatan yang indah dan tenang untuk beristirahat. Mereka akan tinggal di kediaman Adipati selama sekitar tujuh hari sebelum dijemput oleh Dior menuju sekolah Lilith.
Angin sepoi-sepoi yang membawa sedikit aroma amis berembus saat Glenn membuka jendela kamarnya. Kediaman itu terletak di atas tebing yang menghadap ke laut.
“Seperti apa Benua Penyihir itu?” batin Glenn. Akhir-akhir ini ia telah menyaksikan sihir-sihir yang luar biasa sekaligus mengerikan—senjata pancaran cahaya, katak bermata merah, dan sulur yang bergerak—dan kekuatan-kekuatan itu begitu indah hingga ia sangat mendambakannya. Namun, ia merasa mual mengingat kenyataan bahwa Penyihir Apollo membunuh orang tanpa rasa menyesal sedikit pun.
“Terus melangkah! Itulah yang harus kulakukan,” gumam Glenn.
Ia kemudian menutup jendela, menyalakan lilin, dan melarutkan dirinya dalam perenungan kitab barunya—Panduan Meditasi.
Bab Ini Masih Terkunci
Bab ini dijadwalkan rilis gratis pada .
Ingin baca instan sekarang? Dukung penerjemah di halaman Donasi Novelfire untuk klaim token eksklusif Anda.