Bab 2 Bagian 8
Induk Seri: Holmes of Kyoto [id]
“Tadasu no Mori” adalah nama hutan yang menutupi sebagian besar kawasan Kuil Shimogamo. Di pintu masuk Jalan Mikage kuil ini, terdapat monumen batu besar bertuliskan “Situs Warisan Dunia.” Sebuah jalan lurus membentang dari sana menuju kuil utama, dan Tadasu no Mori adalah hutan tua nan luas yang mengelilingi jalan tersebut. Saya mendengar bahwa hutan itu sendiri merupakan bagian dari Situs Warisan Dunia.
Sekalian saja, tempat ini juga dianggap sebagai energy vortex (pusat energi) yang terkenal. Jujur saja, dulu saya mengira hal-hal seperti itu cuma omong kosong. Baru belakangan ini saya mengubah pikiran, tepatnya setelah pindah ke Kyoto. Mengunjungi tempat seperti Tadasu no Mori yang sepi ini—terutama di pagi hari—membuat saya merasa bisa memahami mengapa tempat ini disebut energy vortex. Tempat ini memiliki atmosfer yang tenang dan spesial, seolah-olah saya masuk ke hutan yang dalam atau mendaki gunung yang tinggi, meskipun saya berada di tanah datar.
Saya tiba di hutan lebih awal dari janji temu jam 8 pagi kami dan berjalan-jalan sebentar sambil menarik napas dalam-dalam. Ah, rasanya segar sekali. Sinar matahari yang berkilauan menyusup di antara dedaunan, sementara kicauan burung bergema di sekeliling saya. Saya memejamkan mata dan fokus pada suara-suara hutan. Rasanya benar-benar seperti berada di hutan lebat.
Saat itulah, saya mendengar langkah kaki pelan mendekati saya.
“Selamat pagi, Aoi. Kamu datang awal, ya,” terdengar suara Holmes.
Saya membuka mata, berbalik ke arah asal suara, dan dia ada di sana. Benar-benar pemandangan yang menyegarkan mata. Di hutan yang sepi ini, penampilannya tampak seperti seorang pangeran—bukan, seorang bangsawan dari era Heian.
“S-Selamat pagi. Ya, karena saya tinggal di dekat sini, jadi…”
Holmes berjalan tepat ke hadapan saya dan menatap wajah saya. “Matamu agak merah. Apa kamu begitu penasaran dengan kebenarannya sampai tidak bisa tidur nyenyak?”
Wajah saya memerah. “T-Tentu saja saya penasaran. Itu wajar saja.” Saya sudah bertanya lagi kepadanya setelah kejadian kemarin, tetapi dia mengelak dan berkata, “Aku akan menjelaskan semuanya besok.” Bagaimana bisa saya tidak penasaran?
“Kamu benar. Dan sepertinya pihak lain yang juga penasaran sudah tiba,” kata Holmes sambil menegakkan badan dan menoleh ke belakang. Kaget, saya melakukan hal yang sama. Di belakang kami, saya melihat keluarga Miyashita memasuki kawasan kuil dengan raut wajah cemas.
Hutan itu sepi selain kami, hanya kicauan burung dan gesekan angin yang memecah keheningan sampai akhirnya tersapu oleh langkah kaki keluarga Miyashita yang mendekat. Mereka berhenti sekitar tiga langkah dari kami dan membungkuk dalam-dalam.
“Selamat pagi.”
“Selamat pagi. Maaf telah memanggil Anda sekalian ke sini sepagi ini,” kata Holmes sambil meletakkan tangannya di dada dan menundukkan kepala. Berdiri di belakangnya, saya ikut membungkuk.
“Jadi, um, apakah benar pelakunya akan datang ke sini?” tanya sang ibu sambil melihat sekeliling kawasan yang tenang itu.
Holmes tersenyum. “Ya. Sebenarnya, mereka sudah ada di sini.”
Ketiga anggota keluarga Miyashita membuka mata lebar-lebar karena terkejut. Holmes mengeluarkan salah satu surat dari saku bajunya dan mengarahkan pandangannya yang tajam ke arah seseorang.
“Orang yang membuat surat kaleng ini… adalah kamu, kan, Kaori?” tegas Holmes sambil menatapnya tajam.
Sang ibu jelas terkejut, tetapi saya juga sama, dan refleks bergumam, “A-Apa?” Kaori? Adik perempuan Saio-dai sekaligus teman sekolah saya, Kaori?
Holmes tidak bereaksi terhadap kebingungan saya dan tetap mempertahankan ekspresi tenangnya. Kaori awalnya membeku kaku, tetapi kemudian mulai gemetar.
“A-Apa yang membuatmu berpikir begitu?” tanyanya dengan suara gemetar dan bernada tinggi.
“Mari kita lihat. Pertama, ada sesuatu yang menurut saya mencurigakan. Saori berkuliah di universitas swasta terkenal, tetapi Kaori bersekolah di SMA negeri biasa. Mengapa begitu? Saya yakin siapa pun pasti akan memikirkan hal yang sama.”
Saya mengangguk mendengar perkataannya. Memang benar saya juga sempat memikirkan hal itu. Mengapa Kaori bersekolah di sekolah biasa sementara kakak perempuannya bersekolah di tempat para gadis kaya?
Holmes melanjutkan, “Setelah bertanya kepada kakek saya, saya tahu bahwa kalian berdua bersekolah di sekolah swasta yang sama hingga SMP, dan baru saat SMA kamu pindah ke sekolah negeri. Kamu memohon kepada orang tuamu agar diizinkan masuk ke SMA Oki, dengan alasan beberapa teman baikmu bersekolah di sana. SMA Oki adalah sekolah negeri biasa, tetapi reputasinya cukup baik dan punya sejarah panjang. Jadi, orang tuamu mengizinkannya tanpa mempermasalahkannya.”
Ibu mereka mengangguk setuju dalam diam. Kalau dipikir-pikir, Holmes sempat bilang ada sesuatu yang ingin dia pastikan kepada pemilik toko. Pasti hal ini—alasan mengapa Kaori pindah ke sekolah negeri.
“Tapi itu bukan alasan yang sebenarnya, kan? Kaori, saat kamu duduk di kelas dua SMP, Toko Kain Kimono Miyashita membuka cabang di Roppongi atas saran seorang teman. Namun, bisnisnya berjalan buruk dan mereka menarik diri dari pasar setelah satu tahun. Apakah kamu memutuskan pindah ke sekolah negeri demi mempertimbangkan keuangan keluargamu?” tanya Holmes dengan nada lembut.
Kaori mengepalkan tangannya, tidak memberikan jawaban apa pun.
Holmes melanjutkan, “Lalu, Saori terpilih sebagai Saio-dai. Apakah kamu tidak mengkhawatirkan keluargamu?”
“Hm?” Saya mengerutkan dahi. “U-Um, mengapa terpilihnya Saori sebagai Saio-dai membuat dia mengkhawatirkan keluarganya?”
“Saya tidak tahu seberapa banyak fakta pastinya, tetapi saya mendengar bahwa sebagian besar biaya persiapan ditanggung oleh keluarga gadis itu. Rumornya, biaya kostumnya saja mencapai lima juta yen, dan total pengeluarannya mencapai sepuluh juta.”
“S-Sepuluh juta…”
“Katanya, itulah alasan mengapa hanya putri-putri dari keluarga terpandang yang pernah menjadi Saio-dai.”
Begitu rupanya. Jadi itu sebabnya Keiko dan Yuuko bilang keluarganya terlalu memaksakan diri.
Menerima kekalahannya, Kaori menggertakkan gigi dan menengadahkan wajahnya untuk menatap Holmes. “Benar! Toko kami memang tua dan terkenal, tapi kami sedang rugi! Tentu saja, dulu sekali kami pernah membuatkan pakaian untuk banyak penyanyi terkenal yang memakainya di acara musik terbesar tahunan, tapi itu semua sudah masa lalu. Tidak ada lagi yang datang ke tempat mahal seperti toko kami! Meskipun begitu, kami tertipu hingga membuka toko di Roppongi dan gagal total! Dan tepat ketika aku berpikir kami akhirnya mulai bangkit, Kakak terpilih jadi Saio-dai! Yang benar saja! Ibu dan Ayah terlalu gengsi untuk menolaknya, jadi aku pikir membuat surat itu adalah demi kebaikan bersama! Aku membuatnya, tapi…!” Kaori tersedak kata-katanya.
Holmes menyipitkan matanya dengan senyuman lembut. “Ah, jadi dugaan saya soal itu juga benar.”
“Hah?”
“Kamu membuat surat itu, tapi kamu tidak mengirimkannya. Benar?” kata Holmes.
Dugaannya pasti tepat sasaran, karena Kaori terlihat sangat terkejut. Dia mengepalkan tangan dan mengangguk.
“Ya. Aku selesai membuatnya, tapi aku masih ragu-ragu. Lalu, Ibu dan Ayah berkata, ‘Terpilihnya Saori sebagai Saio-dai adalah kesempatan bagus yang kita butuhkan. Biayanya mungkin mahal, tapi itu harga yang murah untuk publikasi sebesar itu.’ Saat mendengar itu, aku sadar betapa piciknya aku… Aku ingin membuang surat itu, tapi…” Kaori menatap ke tanah saat berbicara.
“Tapi, pada satu titik kamu kehilangan surat itu dan berakhir di dalam tas kakakmu?” kata Holmes.
Kaori menelan ludah dan mengangguk. “Surat itu masih di dalam amplop cokelat, jadi mungkin tidak sengaja terikut ke sana karena suatu hal.”
“Saya rasa tidak. Saori menemukan surat itu dan memasukkannya sendiri ke dalam tasnya, kan?” tanya Holmes, lalu dengan cepat menatap lurus ke arah Saori, yang wajahnya mendadak pucat karena terkejut.
Ibu mereka berseru, “Hah? Benarkah? Kok bisa? Bukankah kamu senang menjadi Saio-dai? Kamu sangat cemas saat surat ancaman itu datang!”
Saori menunduk dengan ekspresi kesakitan.
“Selain itu, Saori membuat satu surat lagi sendiri. Itulah surat kedua ini,” kata Holmes sambil mengeluarkan surat kedua dari sakunya.
Setelah keheningan singkat, Saori menjawab pelan tanpa mengangkat wajahnya dari tanah, “Bagaimana Kamu bisa tahu?”
“Dari dua rangkaian bunga di pameran itu. Rangkaian yang lebih kecil yang dibuat di rumah—itu buatan Kaori, kan? Bukan buatanmu.”
Saori dan Kaori berdua mendongak dengan cepat, seolah-olah tertangkap basah. “B-Bagaimana kamu…?”
“Instruktur bilang rangkaian itu ‘dibuat dengan cara yang berbeda,’ tapi bukan itu masalahnya. Rangkaian yang lebih kecil terlihat jelas dibuat oleh orang yang berbeda. Saya menarik kesimpulan bahwa jika rangkaian yang dibuat saat kelas di hadapan guru adalah milikmu, maka yang dibuat di rumah pasti hasil karya orang lain.
“Lalu, ada masalah surat-surat ancaman ini. Surat pertama menunjukkan tingkat kerapian yang luar biasa dalam cara huruf-hurufnya dipotong dan ditempel. Namun, surat kedua tidak menunjukkan ketelitian yang sama. Saya menduga pembuatnya juga menyadari hal ini, sehingga mereka menulis pesannya dengan singkat. Jadi, dua orang telah membuat surat-surat itu, dan dua orang telah membuat karya ikebana tersebut. Tentu saja, Kaori dan Saori langsung terlintas di pikiran saya. Namun, tampaknya mereka memiliki motif yang berbeda dalam membuat surat-surat itu,” Holmes menjelaskan dengan tenang.
Saya menelan ludah. Benar, motif Kaori adalah demi mempertimbangkan keuangan keluarga mereka. Kalau begitu, bagaimana dengan Saori? Saya mencuri pandang ke arahnya. Dia menundukkan kepala, tampak layu dan seolah-olah berada di ambang tangisan.
Setelah jeda hening, Saori bergumam hampir tak terdengar: “A-Aku… tidak ingin mereka makin membenciku.” Dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Saat SMA, Keiko dan Yuuko tiba-tiba mulai menjauhiku tanpa alasan, dan persahabatan kami hancur sepenuhnya saat Ibu memarahi mereka. Tapi, aku selalu ingin kembali seperti dulu lagi. Setelah sekian lama, permusuhan mereka akhirnya mereda, dan aku pikir kami bisa berteman lagi sebentar lagi, tapi lalu aku terpilih sebagai Saio-dai. Aku berharap mereka akan memberi selamat dan kami bisa berbaikan, tapi dampaknya justru sebaliknya. Mereka benar-benar membenciku… Itu sangat menyakitkan. Aku berpikir mungkin, jika aku mendapat surat ancaman dan mundur, mereka akan bersikap baik padaku dan menunjukkan rasa simpati. Mungkin saat itu, kami bisa kembali berteman.” Air mata menetes di pipinya saat dia menceritakan kisahnya.
Saya tidak tahu harus berkata apa. Saya tahu dia menderita, tetapi saya tidak menyangka dia akan bertindak sejauh itu hanya demi belas kasihan teman-temannya. Pertama-tama, kedua orang itu sangat cemburu padanya sampai-sampai saya rasa tidak ada hal yang bisa membuat mereka berteman kembali. Dangkalnya pemikiran mereka sampai membuat saya kehabisan kata-kata.
Namun saat saya melihat Saori, yang gemetar dan menangis tersedu-sedu, saya teringat pada diri saya sendiri. Saya dulu pernah mencoba kembali ke Saitama dengan menjual barang-barang almarhum kakek saya. Dari sudut pandang orang luar, itu adalah hal yang sia-sia, tetapi bagi orang yang mengalaminya, hal itu bisa berarti segalanya. Saori telah belajar bersama mantan sahabat-sahabatnya di universitas dan sekolah ikebana yang sama, menderita sepanjang waktu.
“Kakak bodoh!” Saya menatap Kaori dengan terkejut saat suaranya seolah bergema di seluruh hutan. “Aku kira Kakak melakukannya karena mengkhawatirkan uang juga, tapi ternyata karena itu?! Itu konyol sekali! Aku mau menangis rasanya!” Wah, pelan-pelan, Kaori. Saya bisa bersimpati, tapi itu tetap terlalu tajam.
“Kamu tidak bakal paham, Kaori! Kamu tidak tahu apa yang aku rasakan selama ini!”
“Tentu saja aku tidak paham! Kenapa Kakak harus bergantung pada orang-orang menyebalkan itu? Kakak bahkan tidak terlalu suka ikebana, tapi Kakak tetap lanjut belajarnya cuma karena ingin berbaikan dengan mereka suatu hari nanti! Berhentilah terobsesi pada orang-orang bodoh yang cuma bisa menjelek-jelekkan Kakak karena mereka terlalu buta buat melihat kebaikan Kakak! Move on ke dunia baru yang lebih baik! Jadilah Saio-dai paling cantik yang pernah ada, supaya suatu hari nanti, mereka berdua bakal pamer kalau dulu pernah berteman sama Kakak!” teriak Kaori dengan sekuat tenaga.
Saya merasa terpukau. Kata-katanya seolah menyentuh lubuk hati Saori juga. “Kaori…” bisiknya sebelum kembali menangis, wajahnya merah padam. Kelompok itu pun menjadi hening.
Tiba-tiba, Holmes mulai bertepuk tangan. “Luar biasa sekali, Kaori.”
Wajah Kaori memerah, seolah kata-kata Holmes mengembalikannya ke kesadaran.
“Kalau begitu, saya akan mengembalikan ini kepada Anda,” kata Holmes sambil menyerahkan kedua surat itu kepada ibu mereka.
“Ini benar-benar memalukan. Terima kasih banyak,” kata ibu mereka dengan nada lesu sambil menerima surat-surat tersebut.
Saori dan Kaori menundukkan kepala kepada Holmes seraya berkata, “Kami sangat mohon maaf atas keropotan ini, Kiyotaka.”
“Jangan khawatirkan hal itu,” jawab Holmes sambil menggelengkan kepala. “Saori, saya setuju dengan apa yang dikatakan Kaori. Berusahalah untuk menjadi Saio-dai yang memukau dan memikat siapa saja yang memandangmu.”
Saori mengangguk, menyapu air matanya dengan ujung jari.
“Dan Kaori, ada sesuatu yang ingin saya tanyakan padamu,” lanjut Holmes.
“Y-Ya?” jawab Kaori dengan pandangan mata yang sedikit waspada. Dia mungkin takut karena Holmes telah berhasil menebak begitu banyak hal dengan tepat.
“Kamu pindah ke sekolah negeri demi keluargamu dan kamu merangkai bunga demi kakakmu. Apa yang membuatmu begitu berdedikasi? Mengapa kamu membiarkan kakakmu mengambil kursus ikebana padahal kamu sendiri menikmati seni itu?”
Kaori menatapnya terkejut sejenak sebelum terkekeh. “Oh, yah, aku kan anak kedua, jadi suatu hari nanti aku bisa keluar dari rumah dan bebas. Tapi Kakak harus menikah dan mewarisi toko. Karena itulah aku pikir sudah sepantasnya dia masuk sekolah yang bagus dan mengambil kursus, karena itu mempengaruhi gengsi keluarga kami. Aku menghormatinya, tapi aku juga merasa kasihan padanya, jadi aku ingin mendukungnya sebisa mungkin. Dia memang cantik, tapi sebenarnya tidak bisa apa-apa dalam hal lain.” Kaori berbicara dengan senyuman ceria, dan saya merasa suasana hati saya ikut membaik.
Kaori melihat jam tangannya dan berkata, “Ibu, sudah waktunya pergi ke kantor kuil,” mengejutkan Saori dan ibu mereka.
“Kamu benar. Kiyotaka, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya karena telah merepotkanmu dengan urusan keluarga kami. Um, jika memungkinkan, tolong jangan…” kalimat ibunya menggantung.
“Jangan khawatir. Saya tidak akan memberitahu siapa pun,” jawab Holmes.
Ketiganya tampak lega mendengar jawaban itu. Mereka membungkuk dalam-dalam lalu berjalan pergi menuju kuil utama.
Saat melihat punggung mereka yang makin menjauh, tanpa sadar saya membuka mulut dan memanggil, “K-Kaori!”
Dia berbalik, mungkin heran apa yang saya inginkan. Saya mendadak jadi sangat gugup. Tunggu, kenapa tadi saya menghentikannya?
“U-Um, saya dengar Hotel Okura punya bakpao kacang merah isi krim. D-Dan, itu cuma bisa dimakan di tempat. S-Saya tidak bisa pergi sendiri, jadi um, maukah kamu pergi bersamaku kapan-kapan?” kata saya dengan suara melengking.
Kaori tampak agak terkejut, tetapi lalu tersenyum dan berkata, “Aku pernah dengar tentang bakpao terkenal Okura! Aku juga ingin mencobanya, jadi aku pasti mau pergi bersamamu!”
“T-Terima kasih!” Saya melambaikan tangan berpamitan, jantung saya berdegup kencang karena senang.
“Saya senang kamu bisa bertemu dengan seseorang yang cocok denganmu,” kata Holmes dengan senyum lembut. Saya mengangguk pelan. Benar, tidak ada alasan khusus untuk itu. Saya hanya spontan berpikir, “Saya ingin berteman dengan orang ini.”
Saya menarik napas dalam-dalam dan menatap Holmes lagi sebelum berkata, “Saya senang insiden ini selesai dengan damai.”
“Memang. Lokasinya mungkin juga membantu mereka untuk jujur.”
“Oh ya, tempat ini punya atmosfer yang sangat sakral.”
“Itu benar, tapi apakah kamu tahu cerita di balik Tadasu no Mori?”
“Hah? Cerita apa?”
“Konon katanya nama itu berasal dari mitologi kuno. Dewa yang bersemayam di Kuil Shimogamo, Kamotaketsunumi-no-Mikoto, melakukan peradilan di sini, karena itulah dinamai ‘Tadasu’ yang berarti ‘menyelidiki.’ Tempat ini adalah ruang sidang para dewa,” jelaskan Holmes sambil menatap ke langit.
Mata saya terbuka lebar. Ruang sidang para dewa… Saya tidak tahu Tadasu no Mori adalah tempat yang sesakral itu.
Angin sejuk berembus lewat. “Kalau begitu, bagaimana kalau kita berkunjung ke kuil utama?” tanya Holmes.
“Oh, tentu. Mumpung kita sudah ada di sini.” Saya mengangguk dan kami berjalan menyusuri jalan kuil.
Melewati gerbang torii merah terang, saya bisa melihat gerbang dua lantai yang megah dengan warna yang sama. Dan di depan kami di sebelah kiri ada pohon misterius yang merupakan hasil gabungan dua pohon yang tumbuh menjadi satu batang. Tampaknya, pohon itu dikenal sebagai pohon suci pernikahan.
Kami melewati gerbang berikutnya menuju kuil utama, dan di sekeliling kami terdapat jajaran kuil-kuil kecil yang didedikasikan untuk dewa dua belas zodiak. Di depan sana terdapat bangunan utama kuil yang besar, yang tidak memiliki lonceng seperti biasanya. Saya pernah mendengar seorang pemandu wisata berkata bahwa banyak kuil yang sudah berdiri sejak lama tidak memiliki lonceng.
Setelah berdoa di kuil, Holmes memeriksa jam tangannya dan berkata, “Masih sebelum jam sembilan. Mau makan pagi, Aoi?”
“O-Oh, tentu. Saya sebenarnya belum makan apa-apa.”
“Baguslah. Saya tahu kafe yang bagus di dekat sini.”
“Ooh, saya jadi sabar menantikannya. Oh, tapi sebelum itu, bolehkah saya mengambil ramalan ramalan (omikuji)?”
“Silakan. Ramalan di Shimogamo juga berisi peribahasa, jadi sangat menarik.”
“Kamu benar-benar tahu segalanya, ya?”
Kami mengobrol seperti itu, mengambil ramalan kami, dan meninggalkan kuil.
Bab Ini Masih Terkunci
Bab ini dijadwalkan rilis gratis pada .
Ingin baca instan sekarang? Dukung penerjemah di halaman Donasi Novelfire untuk klaim token eksklusif Anda.