Chapter 3 part 4
Induk Seri: Holmes of Kyoto [id]
Bagaimana ya bilangnya…
“Sepertinya aku bisa paham kenapa dia cemburu,” gumamku saat kami berjalan.
“Hm?” Holmes menatapku.
“Ah, bukan apa-apa kok,” kataku panik. Mana mungkin aku memberitahunya kalau ayahnya merasa serba salah karena cemburu pada putranya sendiri.
“Aoi, mau beli kopi lalu diminum di samping kuil?” tanya Holmes sambil menunjuk papan petunjuk buatan tangan bertuliskan “Dijual Kopi Buatan Rumah.”
“Ah, boleh. Kelihatannya enak.” Aku mengangguk.
Holmes memesan kopi hitam, sedangkan aku minta ditambahi gula dan susu. Kami menuju area yang lebih tenang, menjauh dari pasar, lalu duduk di tangga kuil.
Aku meminum kopiku dan merasakan pipiku makin rileks. “Enak banget.”
Holmes menatapku dan bertanya dengan suara lembut, “Aoi, kurasa tabunganmu sudah cukup untuk pergi ke Saitama. Apa yang akan kamu lakukan?”
Aku menatap kopi susu di cangkirku. Angin berembus dan aku bisa mendengar riuh rendah suasana pasar kerajinan tangan.
“Jujur saja, aku ragu-garu kalau membayangkan harus pulang. Padahal dulu aku yakin sekali akan langsung pergi begitu punya uang, jadi rasanya menyebalkan melihat diriku yang plin-plan begini.” Aku tersenyum meratapi diri sendiri.
Holmes menghela napas pelan. “Aku paham perasaanmu. Kamu tidak perlu memaksa diri untuk pergi. Biarkan saja mengalir secara alami.”
“Holmes…” Dia benar-benar baik—tunggu sebentar. “Aku kaget kamu bisa paham perasaanku,” kataku sambil sedikit tertawa.
Holmes tersenyum kecut dan mengedutkan bahu. “Jujur saja, bukan cuma karena kejelianmu makanya aku menawarkan pekerjaan itu.”
“Eh?”
“Sebenarnya, aku pernah mengalami hal yang sama dengamu.”
“E-Eh? Maksudmu?”
“Pacarku pernah direbut orang lain, walau pelakunya bukan sahabatku sendiri.”
“B-Benarkah?” Aku hampir tidak percaya! “K-Kapan itu terjadi?”
Holmes terdiam sejenak sebelum menjawab, “Waktu aku masih SMA.” Dia menghela napas pelan sebelum mulai bercerita. “Saat baru masuk kelas tiga, seorang teman sekelas menyatakan perasaannya padaku dan kami mulai berpacaran. Kami pasangan yang sangat normal dan menikmati waktu bersama. Karena sudah kelas tiga, kami juga belajar untuk ujian masuk perguruan tinggi bersama.
“Namun, aku selalu dikelilingi oleh orang dewasa, dan hal itu tidak pernah berubah. Mereka sering menggoda, ‘Kamu tidak akan bisa fokus belajar kalau punya pacar’—tapi tentu saja tidak di depannya. Aku tidak menganggap serius omongan mereka, tapi menurutku ada benarnya juga. Karena itu tahun yang penting untuk menentukan masa depan kami, aku berjanji tidak akan melangkah terlalu jauh dulu, demi kebaikan kami berdua. ‘Kiyotaka’ berarti ‘murni dan mulia’, dan begitulah hubungan kami.”
“I-Ooh.” Apa bagian terakhir tentang namanya itu benar-benar perlu diucapkan?
“Dalam pikiranku, begitu kami berdua masuk universitas, kami bisa melangkah ke tahap berikutnya. Sampai saat itu tiba, sebaiknya kami memprioritaskan ujian masuk dulu.”
“Itu tindakan yang benar.”
“Memang, tapi hidup tidak selalu soal melakukan hal yang benar. Tepat setelah kami masuk universitas, pacarku menemani temannya ikut kencan kelompok. Di sana, dia bertemu pria asal Osaka yang pemaksa dan egois, yang langsung merebut hati dan tubuhnya.”
“A-Apa?” Aku mencicit tidak percaya mendengar alur cerita yang tiba-tiba ini.
“Menurutnya, aku terlalu pasif, membuat dia merasa kesepian dan tidak pasti. Aku melakukan itu demi kebaikan kami berdua, tapi dia tidak menangkap maksudku sama sekali. Aku tahu dia ingin melakukan lebih dari sekadar berciuman, tapi aku tidak menyadari kalau selama ini dia memendam rasa kesepian dan ketidakpastian.
“Pria Osaka yang pemaksa dan egois itu masuk memanfaatkan celah dari rasa tidak aman tersebut dan akhirnya merebut semuanya. Aku sangat syok, iri, dan frustrasi sampai-sampai sempat berpikir untuk pergi ke Gunung Kurama dan menjadi biarawan.”
“G-Gunung Kurama? Biarawan?!”
“Dan kemudian, aku agak gila dan menghabiskan sebagian masa kuliahku dengan melakukan hal yang bertolak belakang dari seorang biarawan.”
“A-Apa?”
“Yah, tidak usah dibahas lah. Lagipula, karena masa laluku itu, aku tahu persis apa yang kamu rasakan, Aoi,” kata Holmes sambil tersenyum.
Dada rasanya sesak. Aku sama sekali tidak tahu kalau Holmes punya masa lalu sekelam itu.
“Kamu ternyata orang biasa juga, ya?” kataku tanpa berpikir.
Mata Holmes membesar, lalu dia terkekeh. “Maksudmu apa bilang begitu?”
“M-Maksudku, kamu kan jenius sekali. Pemilik toko adalah penilai yang luar biasa dan manajer adalah penulis hebat, tapi mereka saja mengakui bakatmu, kan?” Sampai-sampai manajer cemburu pada putranya sendiri.
“Aoi, apa kamu membaca buku ayahku?”
“Anu, baru sekitar setengahnya.” Aku tertahan dan tidak bisa lanjut lagi karena luapan perasaan cemburu di dalamnya terasa terlalu realistis.
“Mungkin memang agak berat untuk kamu baca saat ini.”
Seperti biasa, dia bisa membaca pikiranku.
“Tapi bertahanlah. Tolong baca sampai paling akhir,” lanjutnya.
“Eh?”
Holmes menunduk dan meletakkan tangannya di dada. “Begitu kamu sampai di bagian akhir, hatimu akan tersisa dengan sesuatu yang indahnya tak tertandingi.”
Sesuatu yang indah…
“Saat semua emosimu terkuak dan rasanya terlalu menyakitkan untuk melakukan apa pun, pemandangan yang kamu lihat saat akhirnya kamu menengadah kembali adalah pemandangan yang sangat indah. Itulah yang diajarkan oleh buku itu. Ayahku benar-benar penulis yang hebat, kalau boleh kubilang.”
Melihat Holmes memuji manajer dengan senyuman paling tulus membuatku agak sulit bernapas. “Holmes, apa kamu tahu apa yang dirasakan manajer di dalam hatinya?” tanyaku pelan. Karena ini Holmes, dia mungkin sudah paham juga soal ayahnya.
“Hmm… Aku tahu kalau ayahku sangat mengagumi kakekku dan bermimpi untuk menjadi penilai barang antik juga, tapi berkecil hati karena kurang berbakat lalu menyerah. Dia merasa aku memiliki bakat alami yang tidak miliki dan menyimpan sesuatu yang menyerupai rasa cemburu padaku,” kata Holmes tanpa ragu.
Aku tertegun. Dia sudah tahu semuanya dari awal! Memang Holmes luar biasa.
“Eh, maaf, bukan itu ya yang kamu maksud?”
“T-Tidak, memang itu… Bagaimana perasaanmu soal hal itu?” Rasanya canggung menanyakan hal itu.
Holmes tampak serba salah. “Bagaimana perasaanku? Kurasa aku menganggapnya naif,” katanya datar.
“N-Naif?” Aku melotot menatapnya.
“Ya. Ayahku menyerah untuk menjadi penilai barang antik karena dia tidak punya bakat alami untuk itu. Memangnya bakat seperti apa yang dibutuhkan untuk menjadi seorang penilai? Mungkin mataku lebih jeli daripada orang awam, tapi bukan berarti kakekku juga begitu, padahal dialah sosok yang diagumi ayahku.”
“Eh? Benarkah?”
“Ya. Saat kakek berusia lima belas tahun, dia menjadi murid magang dari seorang ahli penilai yang mengelola toko barang antik. Sang ahli punya banyak murid magang lain, dan agar bisa diakui di antara mereka, kakek belajar sebanyak-banyaknya dari beliau, melatih mata batinnya. Dia bekerja keras sampai berdarah-darah, dan begitulah caranya menjadi ‘Seiji Yagashira’ yang tersertifikasi secara nasional seperti sekarang.
“Jadi, kalau ayahku ingin menjadi seperti kakek, dia harus melakukan usaha yang sama banyaknya—atau bahkan lebih. Malahan, dia malah memutuskan kalau dirinya ‘tidak punya bakat’ dan berganti arah. Setelah benar-benar melupakan mimpinya menjadi penilai, dia melahirkanku dan terkejut saat merasakan bakat itu ada padaku.”
“O-Ooh.”
“Ayahku mungkin berpikir aku bisa melakukan penilaian dengan mudah karena bakat yang kubawa sejak lahir, tapi itu tidak benar. Karena alasan tertentu, aku tidak pernah masuk TK dan malah selalu menemani kakek ke mana pun beliau pergi…”
Aku mengangguk, tahu alasannya.
“Setiap kali kakek membawaku bekerja, beliau berkata, ‘Kamu asistenku, jadi berdirilah di sampingku dan jangan mengganggu.’ Mungkin itu hal yang konyol untuk dikatakan kepada anak kecil, tapi kata-kata itu sangat berarti bagiku. Aku adalah asisten dari Seiji Yagashira yang ternama. Sejak usia sangat muda, aku berlatih keras agar tidak memalukan di posisi itu.
“Berdiri di samping kakek, aku memperhatikan barang antik dan memikirkan perbedaan antara barang asli dan tiruan, ciri-ciri tiap era, dan persamaan apa yang dimiliki barang-barang tiruan itu. Aku sudah belajar sejauh yang bisa kuingat.
“Namun, aku masih belum bisa menyusul kakek, karena di saat yang sama, beliau juga terus belajar dan mencari pengalaman. Ini adalah dunia tanpa batas. Kamu tidak akan pernah selesai belajar, dan terkadang ada hal-hal yang bertentangan dengan pengetahuan umum. Ayahku sudah kabur sebelum melangkahkan kaki ke dunia ini, itulah kenapa aku cuma bisa menganggapnya naif karena cemburu padaku,” tegas Holmes.
Aku meneguk ludah, merasa kewalahan dengan keseriusannya. Holmes benar. Memang naif rasanya kalau cemburu padahal belum memeras darah, keringat, dan air mata.
“Tapi, aku paham perasaannya. Jadi, selama ayahku masih iri padaku, aku harus membidik sasaran yang lebih tinggi.”
“Lebih tinggi?”
“Ya. Contohnya, kalau tim bisbol SMA kalah dari rival mereka di turnamen regional, mereka pasti ingin tim rival itu terus maju dan menjuarai kejuaraan nasional, kan?”
“Ah, benar juga.”
“Aku juga akan mengalami hal itu di dunia nyata.”
“Di dunia nyata?”
“Ya. Kudengar perempuan yang meninggalkanku dan pria Osaka yang pemaksa dan egois itu akan menikah.”
“A-Apa?” Itu kejutan lainnya. Siapa yang menyangka mereka berdua bisa melangkah sejauh itu?
“Melihat mereka melangkah sejauh itu sebenarnya membuatku merasa terselamatkan. Kalau ikatan mereka begitu kuat hingga mencapai jenjang pernikahan, berarti memang sudah takdirnya dia meninggalkanku.”
“M-Mungkin memang benar.” Jujur saja.
“Jadi, aku berpikir kalau ada orang yang cemburu padamu, kamu harus bekerja lebih keras demi mereka juga. Dan dalam kasus ayahku, rasa iri dan perasaan rendah dirinyalah yang membuatnya mampu menulis karya-karya hebat. Dia mungkin belum menyadarinya, tapi aku percaya kalau itulah panggilan hidupnya.”
“Kalau begitu, sudah takdirnya dia menjadi penulis meskipun dulu ingin jadi penilai barang antik.”
“Begitulah menurutku. Lagipula, kalau kamu benar-benar ingin menjadi sesuatu, kamu tidak akan menyerah cuma karena ‘tidak punya bakat’, kan? Aku percaya pada cerita Zenna yang kita dengar tadi: kalau kamu punya keinginan yang benar-benar ingin terkabul dan kamu berusaha sekeras sejuta doa, itu pasti akan terwujud,” kata Holmes sambil menatap langit biru tua.
Dadaku terasa hangat. Keinginan yang benar-benar ingin terkabul akan terwujud dengan usaha sekeras sejuta doa… Kalau dipikir-pikir lagi, apa aku memang sangat ingin menemuinya? Jangan-jangan aku juga naif, sama seperti manajer. Aku merasa frustrasi, tapi aku tidak melakukan apa pun untuk mengatasinya.
Aku mengepalkan tanganku erat-erat di pangkuan. “Holmes, aku rasa… aku akan membatalkan niat pergi ke Saitama.”
“Eh?” Holmes tampak terkejut—pemandangan yang langka. Dia pasti tidak menduga hal itu.
“M-Maksudku, ongkos keretanya saja sudah puluhan ribu yen, kan? Aku bekerja keras demi uang ini, dan aku tidak mau menghamburkannya untuk itu. M-Mungkin aku bakal pergi mendaki di Gunung Kurama saja, haha!”
Holmes tersenyum lembut melihat tawaku yang dipaksakan. “Begitu ya. Kalau kamu menunggu sedikit lebih lama lagi, kereta Eizan bakal menyajikan pemandangan daun mapel hijau terbaiknya.”
“Oh, ya? Biasanya aku mengaitkan pohon mapel dengan musim gugur, tapi ternyata orang-orang juga suka melihat daun yang hijau, ya.”
“Ya, rasanya menyegarkan. Aku juga berniat untuk pergi ke sana lagi. Mau pergi bersama?” Holmes menatap wajahku sambil tersenyum dan jantungku serasa berhenti berdetak.
“I-Iya. Aku tadi berpikir bakal kesepian kalau sendiri, jadi aku senang sekali kalau kamu ikut.” W-Waduh, suaraku sampai pecah.
“Aku sangat menantikannya.”
“S-S-S-Sama.” Jantungku berdegup kencang sekali.
“Bagaimana kalau kita makan siang sekarang?” kata Holmes sambil berdiri tegak. Aku ikut berdiri. “Aoi, kamu mau makan apa? Ada banyak restoran di sekitar sini, tapi kebanyakan agak bising.”
“Oh, a-aku makan apa saja boleh.”
Percakapan canggung kami berlanjut saat kami meninggalkan Kuil Hyakumanben Chion-ji pada tanggal lima belas Juni ini. Karena saat itu sedang reda di tengah musim hujan, ketidakpastian di langit terasa seperti cerminan dari hatiku sendiri.
--- [ End of Chapter ] ---
Bab Ini Masih Terkunci
Bab ini dijadwalkan rilis gratis pada .
Ingin baca instan sekarang? Dukung penerjemah di halaman Donasi Novelfire untuk klaim token eksklusif Anda.