Buck, Sang Akhir
Induk Seri: I'm Really Not The Demon God's Lackey[id]
Sialan, seharusnya aku sudah lama sadar ada yang tidak beres!
Buck mengumpat dalam hati sembari mengamati lingkungan baru yang aneh itu, lalu mundur dengan waspada.
Aula di depannya tampak seperti lantai pertama sebuah vila tua. Di sudut ruangan, ia samar-samar bisa melihat tangga. Ada rak-rak penuh buku di kedua sisinya dan beberapa ruangan agak jauh di sana. Di tengah aula terdapat sofa, meja teh, dan barang-barang lainnya.
Jendela-jendelanya tertutup rapat. Semuanya buram dan Buck tidak bisa melihat ke luar.
Namun, ada perasaan mencekam seolah seseorang sedang menguntit setiap gerakannya dari segala sudut. Rasanya seperti ada seseorang di kegelapan yang mengintip segala sesuatu yang terjadi di ruangan ini dan memperhatikan setiap gerak-geriknya.
Saat ini, ia merasa kekuatannya telah lenyap tanpa jejak, seolah menguap ke udara. Tidak ada sisa-sisa aether yang aktif di sekitarnya sama sekali.
Ia bahkan tidak bisa merasakan keberadaan aether… Apalagi menggunakannya.
Seolah-olah ia benar-benar telah menjadi manusia biasa!
Pada saat yang sama, Buck merasa semua perasaan dan emosi yang telah hilang akibat kehidupan panjangnya dari tak terhitung jumlah kebangkitan kembali, kini membanjirinya seperti arus deras.
Marah, bodoh, takut… Emosinya belum pernah sejelas ini. Rasanya seperti seseorang yang sudah lama berada di bawah air, tiba-tiba muncul ke permukaan, dan semua indranya yang tumpul kembali berfungsi.
Tetapi Buck tidak membutuhkan hal-hal yang sudah lama ia buang ini. Nyatanya, hal-hal inilah yang membuat dirinya—seseorang yang berada di atas sana yang bisa dengan seenaknya menghakimi kehidupan orang lain—jatuh ke dalam jurang. Ini membuatnya merasa seolah-olah seluruh batinnya terguncang dan hancur.
Tanpa kekuatan, ia merasa tidak memiliki apa-apa.
Perasaan superioritas karena bisa menghakimi kehidupan orang lain tergantikan oleh ketakutan akan kehampaan.
“Tidak, mustahil! Ini pasti mantra ilusi!”
“Aku harus tenang. Selama aku menemukan petunjuk dan berbaur, aku akan bisa memecahkan kekuatan lawan. Kekuatan suciku masih ada…”
Buck menenangkan dirinya sebisa mungkin. Ia berbalik dan menatap pintu kayu yang tertutup. Sambil menarik napas dalam-dalam, ia mencoba membukanya.
Kriet…
Pintu itu terkunci rapat. Pintu itu tidak bergeming sedikit pun tidak peduli berapa banyak tenaga yang ia gunakan, seolah-olah pintu itu menyatu dengan ruang ini.
Sambil terengah-engah, Buck tiba-tiba berhenti dan menatap tangannya yang mencengkeram gagang pintu dengan erat.
Gemetar halus di tangannya begitu jelas.
Baru saat itulah Buck menyadari bahwa bukan hanya tangan, pergelangan tangan, dan lengannya yang gemetar. Seluruh tubuh dan kakinya gemetar dan mulai lemas.
Bagaimana ini bisa terjadi!
Mustahil!
Bagaimana mungkin aku takut!
Rasa tidak berdaya yang mutlak dirasakan Buck perlahan berubah menjadi keputusasaan, yang menumbuhkan histeria di dalam dirinya.
Ia tiba-tiba melepaskan gagang pintu seolah tersengat listrik. Dadanya naik turun dengan berat dan ia memaksakan diri untuk tenang.
Ia kemudian berbalik ke arah tangga di sudut ruangan.
Pengeja yang memasang adegan seperti ini pasti ingin target yang terperangkap dalam mantra ini keliru mengira bahwa ilusi itu nyata dan menjeratnya di dalam sana.
Ia akan langsung masuk ke dalam perangkap jika ia mencoba berpikir sesuai alur pemikiran si pengeja dan pergi mencari petunjuk di lantai atas. Kemudian, alam bawah sadarnya akan semakin percaya bahwa pemandangan di depannya nyata dan ia tidak akan pernah bisa keluar.
Buck mendengus. Ia sangat paham jenis mantra ilusi seperti ini.
Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk keluar sekarang… Adalah dengan terus menyelidiki lantai pertama!
Benar, Buck tidak punya rencana untuk pergi ke lantai atas.
Apa yang baru saja ia simpulkan adalah pemikiran yang diinginkan pengeja agar targetnya pikirkan, dan kebanyakan orang akan pergi ke lantai atas. Kenyataannya, inilah perangkapnya.
Tidak mungkin pengeja hanya menaruh petunjuk dengan santai di lantai atas. Ia pasti akan memastikan lantai atas lebih realistis, atau memasang lebih banyak jebakan yang akan menciptakan celah pada pertahanan mental orang-orang.
Kemudian perlahan, selangkah demi selangkah, itu akan menyebabkan pertahanan di sekitar hati korban runtuh dan menghancurkan pertahanan mentalnya.
Oleh karena itu, melalui proses pemikiran terbalik, Buck menyimpulkan bahwa hanya lantai pertamalah yang paling palsu.
Meskipun tempat itu diatur dan dibangun dengan begitu realistis dan banyaknya buku tampak mengintimidasi, justru itulah bagian yang paling sulit dibuat secara nyata. Selama ia bisa menemukan kejanggalan pada salah satu buku itu, mantra ilusi ini akan pecah dengan sendirinya!
Buck menarik napas dalam-dalam dan mengumpulkan kekuatannya. Kondisi mentalnya yang hampir hancur kembali stabil.
Ia bergumam pada dirinya sendiri, “Lalu kenapa kalau aku tidak punya kekuatan? Aku punya tekad dan kebijaksanaan yang kudapat selama bertahun-tahun. Semua ini tidak akan hilang.”
“Ilusi seperti ini jauh dari cukup untuk menjatuhkanku!”
Ia merayap ke arah rak buku dengan mata waspada dan langkahnya perlahan menjadi lebih berani.
Aura agung “Kerajaan Mati” kembali muncul.
“Biar kulihat trik apa yang kau mainkan,” ucap Buck sambil menarik sebuah buku dari rak.
——
Lin Jie merasa ia mendapat pengunjung pertama di alam mimpi yang ia bangun.
Silver pernah berkata bahwa ketika alam mimpi belum sepenuhnya terbentuk, atau jika ‘yurisdiksi’ belum ditetapkan, beberapa makhluk dari dunia mimpi atau jiwa orang lain di dunia nyata mungkin tidak sengaja tersedot ke dalam mimpi tersebut.
“Tapi jangan khawatir, pengunjung ini tidak membahayakanmu. Jika kau melihat makhluk mimpi yang kau sukai, kau bahkan bisa membiarkannya tinggal di mimpimu sebagai hewan peliharaan.” Begitulah yang dikatakan Silver.
Itulah alasan mengapa Lin Jie tidak panik. Ia bahkan mengamati tindakan pengunjung ini dengan penuh minat melalui sudut pandang bird’s-eye view-nya.
Ia tidak bisa menahan diri untuk berpikir, Haa.. orang ini agak jelek ya…
Seperti makhluk yang terfragmentasi yang disatukan dan dibentuk menjadi wujud manusia, mungkin semacam monster dunia mimpi yang aneh…
Sudahlah, lebih baik kubunuh dengan cepat, kalau tidak, melihatnya terlalu lama bisa memberiku mimpi buruk.
Oh… Benar, sekarang aku sedang bermimpi.
Tunggu sebentar. Jika begitu, mungkinkah ini sumber dari apa yang disebut mimpi buruk? Makhluk dunia mimpi yang menyerang mimpi orang biasa? Lin Jie merenung.
Namun, meskipun ia membuat keputusan cepat, Lin Jie tidak langsung bertindak. Tindakan humanoid aneh ini menarik perhatiannya.
Orang itu tampak takut. Ia mencoba membuka pintu untuk melarikan diri dan bahkan mulai berkonsentrasi… Mungkin makhluk ini memiliki kecerdasan.
Namun, ini tidak mengubah pendapat Lin Jie. Ia juga ingin bereksperimen dengan batas-batas alam mimpinya.
Tentu saja, jika itu adalah jiwa manusia, Lin Jie pasti akan mengirimnya keluar setelah beberapa saat. Lagipula, ia tidak perlu berpikir keras untuk mengetahui dengan baik apa yang akan terjadi jika tubuh tidak memiliki jiwa. Ia tidak ingin menjadi pembunuh tanpa alasan yang jelas.
Hmm? Sepertinya ia berhenti di depan rak buku?
Lin Jie terkejut melihat makhluk humanoid itu mengambil buku.
Mata Lin Jie melebar. Ia bahkan tertarik pada Astronomi…
Eh, dalam kasus ini, bisakah aku juga membuka toko buku di alam mimpi untuk melayani makhluk mimpi?
Sebelum Lin Jie bisa terus mengembangkan ide baru ini, tubuh makhluk humanoid itu tiba-tiba menjadi terdistorsi. Ia menjerit seperti orang dalam lukisan cat minyak “The Scream”. Kemudian, makhluk humanoid itu terbakar, berubah menjadi api yang mengamuk seperti tumpukan kayu bakar yang dinyalakan sebelum akhirnya hancur menjadi abu.
Bos Lin, yang beberapa saat lalu penuh dengan ambisi, menjadi bingung dan linglung. Ia berkedip kosong tanpa tahu apa yang baru saja terjadi.
——
Di bawah naungan malam, para makhluk transenden yang berkumpul karena hadiah yang ditawarkan Gereja Kubah, semuanya menjadi diam saat ini. Mereka menatap dengan tenang ke arah peringkat Destruktif di atas yang memancarkan aura mengerikan.
Mereka menunggu Rasul Bulan Sabit Menurun ini, yang juga dikenal sebagai “Pemanen Kehidupan” dan “Kerajaan Mati” di antara banyak julukan lainnya, untuk membalaskan dendamnya.
Semua orang tahu bahwa pengkhianat yang menghancurkan sebuah gereja dan membunuh dua rasul dalam semalam saat ini berada di toko buku terpencil tidak jauh dari sana.
Kini, konfrontasi ini menjadi kontes diam di mata semua orang.
Begitu Buck bertindak, itu akan menjadi pertempuran besar antara peringkat Tertinggi.
Namun…
Satu menit berlalu, lalu lima. Sepuluh menit, tiga puluh menit, satu jam kemudian… Tidak ada gerakan sama sekali dari sosok yang melayang di langit di atas.
“Ada apa?”
“Bukankah Buck yang agung akan bergerak? Ini hampir subuh…”
“Apa yang kau tahu? Apakah pertempuran peringkat Tertinggi semudah itu? Kau harus melihat gambaran besarnya!”
“Itu tidak mungkin. Buck jelas siap untuk bertindak dan bahkan sudah maju. Mengapa ia tiba-tiba berhenti begitu lama?”
“Lihat, ia bergerak!”
Saat para makhluk transenden berdiskusi di antara mereka sendiri, sosok di langit akhirnya bergerak.
Rasul Bulan Sabit Menurun berbaju hitam itu gemetar saat tangannya mencapai kepala, dan ia diam-diam melolong sekuat tenaga.
Kemudian tanpa suara, ada percikan api kecil dan Buck sepenuhnya berubah menjadi abu yang tersapu angin di langit malam…
Tidak ada yang tersisa.
Dalam sekejap, semua makhluk transenden yang hadir tercengang, lalu anggota tubuh mereka mati rasa. Ketakutan yang dingin mencengkeram hati mereka.
Mereka yang lebih penakut merasakan kaki mereka lemas dan mereka jatuh ke tanah.
Yang lain segera berbalik dan melarikan diri.
Dalam keheningan, semua orang lari panik dan tidak ada yang berani menyimpan pikiran untuk memasuki toko buku tersebut.
Bab Ini Masih Terkunci
Bab ini dijadwalkan rilis gratis pada .
Ingin baca instan sekarang? Dukung penerjemah di halaman Donasi Novelfire untuk klaim token eksklusif Anda.