Dunia Para Penyihir

Induk Seri: A Sorcerer’s Journey[id]

Fitur Asisten Suara AI (Beta)
Berdiskusi di server Discord
Pengaturan Membaca
18px

“Dok! Dok! Dok!” Tiga ketukan keras terdengar di pintu kayu yang tebal.

Di dalam rumah beratap jerami, di balik selimutnya yang lusuh, Glenn terbangun kaget dari tidurnya. Rasa dingin yang menusuk membuatnya menelan ludah. Tanpa menunda lagi, dia berteriak ke arah pintu, “Sebentar.”

Abaikan kakinya yang membeku, dia dengan cepat mengenakan pakaiannya yang compang-camping. Dia kemudian mengambil sebuah mantel dari tempat tidurnya—yang berfungsi sebagai selimut keduanya—dan membukakan pintu. Dia menggigil begitu pintu terbuka saat angin musim dingin yang membawa serpihan es menerpanya.

Di depan pintu berdiri sebuah kereta kuda dan Old Ham duduk di atasnya. Saat itu dia meringkuk kencang, merokok dengan pipa di satu tangan dan memegang cambuk di tangan lainnya. Dua alur roda panjang yang ditinggalkan kereta terlihat di jalan yang tertutup salju.

“Ayo cepat, jalannya tidak rata. Kita bakal dihukum kalau terlambat,” gerutu Old Ham sambil mengembuskan asap pipanya dalam-dalam.

“Sebentar lagi.” Glenn mengunci pintu kayu dan dengan cekatan naik ke atas kereta. Sejak Glenn mendapatkan pekerjaan tetap ini bersama Old Ham, keluhan “ayo cepat, jalannya tidak rata” tidak pernah berhenti terdengar, dan dia sudah terbiasa dengan hal itu.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Old Ham mengisap pipanya sekali lagi dan mencambuk kudanya dengan kuat. Kuda tua itu meringkik lalu melanjutkan perjalanan di padang salju yang berlubang-lubang.

Sambil menatap langit yang redup dan kelabu, Glenn menyandarkan dirinya pada pagar di satu sisi kereta dan tertidur ayam. Berdasarkan perjalanan-perjalanan sebelumnya, dia tahu butuh waktu lebih dari setengah jam untuk sampai di Kediaman Zi Jue dalam cuaca bersalju ini, dan saat itu hari sudah hampir fajar.

Glenn merasa familiar dengan bau tembakau yang diisap Old Ham dan bersyukur atas bantuan pria tua itu. Ingatan tertua Glenn adalah saat dirinya berada di Kota Bi Seer di tengah badai salju. Dia tidak ingat apa pun sebelum hari itu, dan tidak ada yang mengenalnya; seolah-olah dia datang dari dunia yang berbeda. Sejak hari itu, dia menggelandangan bersama sekelompok anak yatim piatu di kota, sementara hasil mengemisnya nyaris tidak cukup untuk mengobati rasa lapar, sampai Old Ham yang tidak memiliki anak bertemu dan mengangkatnya sebagai anak karena menganggapnya anak yang cerdas.

Old Ham terkekeh. “Kalau aku mati, rumah dan kuda ini bakal jadi milikmu.” Sejujurnya, rumah jerami dua kamar di pedesaan dan kuda tua ini sama sekali tidak berharga, tetapi hal itu tetap memperkuat rasa terima kasih Glenn kepada pria tua di sampingnya.

Pekerjaan yang mereka jalani adalah pergi ke Kediaman Zi Jue dan membersihkan sejumlah besar sisa makanan dan sampah lain dari pesta makan dan minum para bangsawan malam sebelumnya. Mereka diminta menyelesaikan pembersihan sebelum fajar, membuang sampah ke luar kota, dan membeli perlengkapan untuk pesta malam itu. Perjalanan tersebut memakan waktu hampir seharian.

Sekitar setengah jam kemudian, suara derap langkah kaki kuda terdengar saat kuda melangkah ke jalan setapak yang mulus. Glenn yang terkantuk-kantuk terbangun oleh suara langkah kuda tersebut, sehingga pria tua itu tidak perlu membangunungkannya. Tahu bahwa dia sudah berada di Kota Bi Seer dan akan segera sampai di Kediaman Zi Jue, Glenn mengibaskan salju dari mantelnya agar tidak terlihat terlalu kumal.

Namun, berdandan pun tidak ada bedanya. Sebagian besar bangsawan di pesta itu sudah tertidur saat Glenn dan Old Ham tiba di Kediaman pada pagi-pagi sekali. Bagi satu atau dua bangsawan yang masih terbangun, mereka tidak akan sudi menundukkan kepala dan melihat dua pelayan rendahan tersebut.

Namun, pelayan tua di kediaman itu adalah orang yang sulit dihadapi. Dia rutin memeras Old Ham, Glenn, dan pelayan lainnya, dengan alasan dangkal bahwa mereka ceroboh; belum lagi dia sudah menggunakan alasan itu berulang kali.

Di pintu masuk depan kediaman, dua pengawal berbadan besar yang pasti lelah karena berdiri seharian tampak terkantuk-kantuk. Mereka terbangun saat mendengar ringkikan kuda, lalu melirik Old Ham dan Glenn yang berada di atas kereta. Kedua pengawal itu sudah sangat hafal dengan wajah mereka setelah bertahun-tahun bertemu, jadi mereka mengabaikannya begitu saja.

Old Ham tersenyum patuh kepada kedua pengawal itu dan melompat turun dari kereta, lalu Glenn mengikutinya dari dekat. Keduanya menundukkan kepala saat melewati gerbang dan berjalan terus menuju ruang tamu mewah tempat mereka biasa membersihkan tempat itu.

Old Ham dan Glenn merasakan atmosfer yang berbeda di tempat itu hari ini. Mereka melihat sang pelayan tua berdiri cemas di pintu masuk ruang tamu. Pelayan itu menatap tajam ke arah Old Ham dan Glenn dengan matanya yang sipit dan licik saat melihat mereka. Dia kemudian berlari kecil menghampiri mereka lalu berkata setengah berbisik dengan nada membentak, “Tetap di sini! Jangan dengarkan! Jangan bicara!”

“Baik, Baik,” jawab mereka cepat.

Suara keributan kemudian terdengar samar-samar dari ruang tamu. Old Ham dan Glenn bisa mengenali bahwa seorang gadis sedang membuat masalah, dan tanpa berpikir panjang mereka menduga gadis itu pasti berasal dari keluarga terpandang. Hampir setengah jam berlalu dan hari sudah terang benderang. Namun cuaca masih sangat dingin, membuat Old Ham dan Glenn menggigil. Mereka mengentakkan kaki di halaman yang tertutup salju agar tidak membeku.

Pelayan tua yang muram di satu sisi pintu masuk ruang tamu itu melangkah menghampiri mereka.

“Kalau tidak kuat dingin, tidak usah datang besok.”

Wajah Old Ham dan Glenn berubah muram. Old Ham mengeluarkan sekeping koin perak dari mantel kain linennya yang lusuh lalu menyelipkannya ke tangan pelayan itu. “Kami kuat dingin. Kami kuat.”

“Humph.”

Pelayan tua itu dengan cekatan memasukkan koin itu ke dalam kantongnya lalu meninggalkan mereka. Dia kembali ke pintu masuk, sesekali melihat ke dalam dengan gelisah.

Glenn tidak tahan untuk berbisik kepada Old Ham, “Dia baru saja memeras kita beberapa hari lalu dan sekarang melakukannya lagi.”

“Tahan! Pekerjaan ini diincar banyak orang, dia cuma ingin kita berhenti,” Old Ham menghela napas. “Makin tua atau makin dekat dengan akhir hayat, orang-orang mulai paham banyak hal dan tidak lagi punya gairah masa muda.”

Pada saat itu, seorang gadis berpakaian mewah lari keluar dari ruang tamu sambil menangis. Gadis itu mendadak berhenti di samping Old Ham, lalu berbalik dan berteriak ke arah ruangan.

“Aku tidak sudi pergi ke Sekolah Penyihir Lilith, dan aku tidak akan pernah mau jadi penyihir!” Marahnya belum reda; dia melemparkan sebuah buku ke tanah dan berlari keluar dari Kediaman Zi Jue.

“Anak pemberontak!” Seorang bangsawan berperut buncit menyusulnya keluar.

“Apa yang kalian lihat?! Pergi dan bawa dia kembali!” Wajah bangsawan itu memerah karena marah lalu membentak dua pengawal bersenjata di sampingnya.

Yang membuat Old Ham terkejut adalah sikap tunduk dari Lord Zi Jue, pemilik Kediaman Zi Jue. Dia berdiri di sebelah bangsawan itu dengan raut wajah memelas. Dia kemudian mengatakan sesuatu dengan suara pelan kepada bangsawan tersebut.

“Dia tahu apa? Penyihir yang menguasai dunia. Tuhan tahu seberapa besar usahaku demi tes penyihirnya, dan tes itu tinggal enam bulan lagi,” bantah bangsawan itu.

Lord Zi Jue menyusul bangsawan itu keluar dari kediaman dengan terburu-buru untuk mengejar gadis kecil tadi. Pelayan tua yang sama gelisah ikut menyusul di belakang mereka sambil memanggil para pengawal di pintu masuk untuk ikut serta. Tidak ada seorang pun yang memedulikan keberadaan Old Ham dan Glenn.

Dalam sekejap, halaman menjadi sunyi dan kosong.

Sambil menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memastikan tidak ada orang di sekitar, Glenn hendak mengambil buku yang dilemparkan ke tanah oleh gadis kecil itu, tetapi dihentikan oleh Old Ham yang dengan cepat melangkah maju dan menepis tangan Glenn.

“Kau mau mati?”

“Kurasa tidak apa-apa. Kalau nanti ditanya, kita tinggal bilang kalau buku ini sudah dibuang sebagai sampah. Gadis bangsawan itu yang membuangnya.” Glenn meringis kesakitan pada tangannya.

Old Ham memikirkannya lagi, dan setelah memastikan tidak ada orang di sekitar, dia menyetujuinya dengan anggukan.

Glenn kemudian menyelipkan buku itu di balik mantelnya dan mulai membantu Old Ham membersihkan sampah di ruang tamu lalu memuatnya seperti biasa ke dalam kereta kuda, berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa. Tidak ada yang menanyakan tentang buku itu selama proses berlangsung, membuat Glenn merasa lega. Mereka sering menemukan barang-barang di tempat sampah yang bernilai bagi mereka, namun tidak berharga di mata para bangsawan.

Setelah pembersihan dan pemuatan selesai, Old Ham dan Glenn naik ke kereta dan menjalankan kuda dengan santai. Di atas kereta yang penuh sampah, rasa kantuk Glenn telah hilang.

Dia kemudian bergegas mengeluarkan buku itu dan melihatnya sekilas. Namun dahinya berkerut. Orang-orang seperti Glenn, yang bekerja keras seumur hidup untuk bangsawan, tidak bisa membaca. Beruntung, Old Ham sempat belajar membaca dan menulis saat belajar pembukuan bertahun-tahun sebagai magang di sebuah toko yang akhirnya gulung tikar. Karena itulah, Old Ham mengajarkan Glenn cara membaca. Alasan Glenn berkerut adalah karena dia menemukan judul buku itu terdiri dari kata-kata aneh yang tidak biasa terlihat di dunia nyata.

“Peningkatan Indra Penciuman Anjing dan Pemetaan Bau? Ini buku tentang apa?” Glenn tidak menyangka buku ini akan seaneh ini. Dia mengira itu adalah biografi seorang penyair keliling, jenis buku yang sangat laris di kalangan anak-anak bangsawan. Tiba-tiba sebuah pemikiran terlintas di benaknya, dan matanya membesar karena gembira.

“Mungkinkah ini buku tentang penyihir-penyihir hebat yang mencatat kekuatan sihir mereka? Katanya penyihir itu misterius dan kejam. Mereka membantai orang, menelan mata anak-anak, dan melakukan eksperimen pada orang hidup. Manusia takut pada mereka karena betapa mudahnya mereka membantai warga sipil bahkan ksatria. Hampir tidak ada orang yang beruntung bisa melihat seorang penyihir, dan urusan sihir hanya menjadi obrolan di kalangan bangsawan.”

Glenn sering berpikir dalam hatinya, bagaimana para penyihir hebat mendapatkan kekuatan luar biasa mereka dan bagaimana mereka dipilih untuk belajar sihir sejak awal.

“Kalau aku jadi penyihir dan mendapatkan kekuatan ini, aku tidak akan lagi ditindas oleh para bangsawan ini!” Bersemangat dengan ide itu, Glenn membuka Peningkatan Indra Penciuman Anjing dan Pemetaan Bau dan mulai membacanya kata demi kata. Sangat sulit baginya untuk membaca dan dia harus melompati beberapa kata yang tidak dia kenali. Meski begitu, Glenn sangat gembira seolah-olah dia baru menemukan dunia yang sama sekali baru.

Menurut buku itu, manusia biasa dapat mencium 300 hingga 400 jenis bau yang berbeda, dan orang dengan indra penciuman luar biasa dapat membedakan hingga 600 jenis. Angka-angka ini sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah bau yang dapat dirasakan oleh makhluk seperti Ayam Tangis-Muda, sejenis ayam yang berkokok seperti bayi menangis. Berdasarkan hasil eksperimen, ayam ini dapat membedakan setidaknya 6.500 bau. Ada juga Kupu-kupu Bayangan, kupu-kupu yang memakan bau yang dikumpulkannya dan dapat membedakan lebih dari 8.200 jenis bau.

Namun, makhluk dengan indra penciuman terkuat adalah Cerberus berkepala tiga. Tidak ada satu pun dari 17.852 jenis bau, atau jumlah keseluruhan bau yang mampu dibuat oleh penyihir, yang bisa lolos dari penciuman anjing itu. Buku itu juga menjelaskan bagaimana para penyihir menjadi lebih kuat dengan terhubung dengan hewan-hewan yang memiliki indra penciuman tajam. Namun, ada satu kata yang sering muncul yaitu “sel” di dalam buku itu, yang tidak dipahami sama sekali oleh Glenn.

“Glenn… Glenn!” Old Ham berteriak pada Glenn dua kali sebelum dia tersadar kembali ke dunia nyata. Dia kemudian menyimpan buku itu dan melompat turun dari kereta untuk membantu Old Ham membuang sampah. Setelah kereta kosong dari sampah, mereka melanjutkan perjalanan untuk membeli barang-barang mewah untuk pesta para bangsawan malam itu. Mereka kembali ke Kediaman Zi Jue menjelang petang, menerima pembayaran beberapa koin perunggu untuk pekerjaan mereka, sebelum akhirnya pulang ke rumah mereka di pedesaan.

Glenn duduk di atas kereta dan asyik membaca buku sihir Peningkatan Indra Penciuman Anjing dan Pemetaan Bau.

“Anak nakal. Kau begitu suka dengan buku itu, ya? Sebagus itu?” Old Ham menoleh ke Glenn.

Glenn membalas dengan senyuman lebar, tidak ingin mengalihkan pandangannya dari rahasia yang tersembunyi di dalam buku itu.

“Apakah gunung yang punya nyawa dan bisa berjalan itu benar-benar ada? Apakah ada sungai yang mengalir dari langit? Apa itu negeri asing? Dan kenapa sihir bisa begitu kuat?”

Semua pertanyaan itu tidak terjawab.

“Umurmu sudah 17 tahun. Perbaiki rumah itu tahun depan dan cari istri dari tetangga sekitar, jadi aku bisa melihat ‘cucuku’ lahir sebelum aku mati,” kata Old Ham kepada Glenn.

“Bicara apa sih? Umurmu bakal sampai seratus tahun,” balas Glenn santai.

“Ha-ha!” Old Ham mencambuk kudanya dan melanjutkan perjalanan mereka di jalan yang sudah biasa mereka lewati.

Bab Selanjutnya →
Berdiskusi di server Discord