Perburuan Berlanjut
Induk Seri: A Sorcerer’s Journey[id]
Di Hutan Bramble saat ini, ada seseorang yang cukup patut diperhitungkan—Baird dari Sekolah Penyihir Umbra.
Baird rendah hati dan memiliki pengetahuan yang mendalam, namun ciri utama yang paling membedakannya adalah ambisinya yang membara untuk menjadi sosok yang hebat.
Ia memegang keyakinan bahwa seiring berjalannya waktu, ia akan mampu mengalahkan semua penyihir yang ada di Benua Penyihir, dan ia benar-benar membuktikannya. Selama tiga tahun, ia mencurahkan seluruh waktunya untuk mempelajari sihir. Ia melampaui semua orang di sekitarnya dan langsung terkenal sebagai sosok yang berpotensi masuk ke dalam sepuluh penyihir teratas di sekolah. Ia yakin, jika diberi lebih banyak waktu, ia akan mampu menundukkan mereka satu per satu.
Inilah kebanggaannya.
Kini, Ujian Sihir Tahun Pertama menjadi kesempatannya untuk membuktikan diri. Ia hampir tidak bisa menahan kehendaknya untuk menertawakan raut wajah mengerikan para siswa ketika Sekolah Umbra mengumumkan dimulainya ujian. Bagi Baird, ujian ini adalah sebuah pesta di mana ia bisa menghibur diri dengan menikmati hidangan yang ada.
Ia menundukkan kepala demi menyembunyikan hasrat membunuhnya yang jahat.
“Bunuh satu siswa, ambil lambang rantai di dahinya, dan aku akan mendapatkan 500 batu sihir. Itu terlalu mudah. Tuhan tahu aku hanya menghasilkan puluhan batu saja dalam sebulan,” kata Baird pada dirinya sendiri. “Itu berarti 5.000 batu jika berhasil menghabisi sepuluh siswa, 10.000 untuk 20 siswa, dan…”
Mata Baird membesar karena bersemangat.
‘Ujian ini hanyalah ajang mengumpulkan batu sihir, dan aku yakin tidak ada peserta dari Umbra atau sekolah sihir lain yang benar-benar bisa menandingiku. Yang kupedulikan hanyalah Uji Coba Menara Kudus,’ pikir Baird.
Di Hutan Bramble saat ini, selagi menunggu kedatangan cermin sihir yang pertama, ia telah membunuh empat peserta lain dan memperoleh 2.000 batu.
“Dengan uang sebanyak itu, aku bisa membeli semua barang yang kubutuhkan saat kembali ke sekolah. Sepuluh siswa terbaik itu akan kuhancurkan seperti serangga jika mereka cukup beruntung bisa lolos dari ujian ini.”
Baird tampaknya menjadi terlalu terobsesi saat terakhir kali mencabut nyawa seorang siswa; ia menancapkan “cakar”-nya ke dalam tubuh siswa tersebut lalu menariknya keluar.
Setengah jam pasir berlalu.
Selama rentang waktu ini, Baird belum membunuh satu siswa pun, bahkan belum bertemu satu pun. Hal ini disebabkan oleh kekuatan besar yang telah ia serap dari tanda rantai milik para korban, yang membuat lambang rantai di dahinya memancarkan gelombang sinyal yang sangat kuat. Setiap siswa yang mendekati wilayahnya menganggapnya sebagai musuh yang tak tertandingi dan langsung menjauhinya.
Tiba-tiba, ia berhenti saat mencium sinyal yang datang dari balik semak-semak. Ia bergumam ragu: “Sudah berapa lama sejak terakhir kali aku membunuh seseorang? Kasihan sekali kau, kucing kecil.”
Baird melangkah beberapa langkah lagi menuju semak-semak. Kedua tangannya berubah menjadi sepasang cakar—cakar yang sama yang telah mengakhiri nyawa empat siswa sebelumnya—dan hampir bersamaan, seluruh tubuhnya terlapisi sisik. Di permukaan sisik itu terdapat lendir lengket yang berkilau di bawah sinar matahari yang menembus celah-celah dedaunan. Setelah perubahan selesai, ia bergerak mendekati mangsanya dengan kelincahan layaknya seekor macan tutul.
“Kucing kecil, aku datang. Jangan takut.”
Baird mengitari semak-semak dan terkejut melihat pemandangan di depannya.
Hamparan luas rumput pendek dan dahan pohon telah hangus. Tanahnya berlubang-lubang, seolah-olah baru saja terjadi ledakan.
Ledakan sungguhan tidak mungkin terjadi karena tidak ada hal seperti bubuk mesiu, namun sihir dapat menghasilkan kekuatan yang jauh lebih efektif untuk membuat kekacauan semacam itu.
“Pasti telah terjadi pertarungan besar. Setidaknya 20 siswa terlibat di sini,” perkira Baird.
Anehnya, tidak ada mayat yang ditemukan. Ketika ia mencari lebih jauh, ia melihat seorang pria sedang terengah-engah sambil menopang tubuh dengan kedua tangan menekan paha.
Baird menelan ludah. Keringat dingin menetes tanpa ia sadari.
Sinyal yang dipancarkan dari tanda rantai pria tak dikenal itu sangat kuat. Tanda rantai itu ibarat matahari, dan sinyalnya adalah angin surya yang terhempas ke segala arah.
“Berapa banyak siswa yang telah ia bunuh hingga bisa memancarkan sinyal sekuat ini?” batin Baird heran. “Aku tidak mungkin bisa menghadapinya.” Baird mendadak lupa pada niat awalnya dan hanya menginginkan jalan keluar dari mimpi buruk ini.
Pria itu menegakkan tubuh dan berbalik menghadap Baird.
Baird hampir tersilaukan oleh pantulan cahaya dari topeng putih yang mengenai matanya.
Pria itu adalah Glenn. Ia belum bertemu musuh yang sepadan di hutan ini, dan enam siswa telah tewas di tangan Firebird-nya. Setiap tanda rantai mengandung tingkat kekuatan yang berbeda; beruntung bagi Glenn, ia sempat membunuh seorang siswa yang tanda rantainya memiliki kekuatan setara dengan empat tanda rantai biasa. Jadi, ia pada dasarnya telah mengumpulkan sepuluh tanda rantai. Ia juga merasa terganggu oleh ketidaknyamanan akibat sinyal yang terlalu kuat, karena siswa yang lebih lemah langsung mengenali sinyal tersebut dan melarikan diri. Glenn ibarat sumber api, dan hawa panasnya membuat hampir semua siswa menjauh.
Namun, itu memang hanya “hampir”.
Kedatangan Baird ke hadapan Glenn adalah sebuah kebetulan, karena Baird sempat kehilangan akal sehat saat berburu mangsa. Ia tidak akan melakukan hal bodoh ini jika ia tersadar dan sempat “menilai” seberapa besar kekuatan yang diwakili oleh sinyal Glenn.
Selain itu, tadi ada kelompok berisi empat siswa yang terlalu percaya diri dengan kekuatan mereka dan sengaja menantang Glenn, berharap bisa mendapat keuntungan besar. Mereka mempertaruhkan nyawa dan akhirnya tewas. Pada saat Baird tiba di lokasi, Glenn telah menghancurkan mereka dan menyerap tanda rantai mereka. Ledakan tadi adalah sisa pertarungan antara kelompok tersebut dengan Glenn.
Sekali lagi, keberuntungan berpihak pada Glenn. Anggota terlemah di kelompok itu memiliki tanda rantai bernilai tiga kali lipat dari tanda biasa, dan yang terkuat bernilai delapan. Jadi, Glenn kini memiliki tanda rantai yang setara dengan 33 tanda dasar. Sinyal yang memancar dari tanda rantai Glenn menyebar dalam bentuk cincin-cincin gelombang, dengan radius pengaruh mencapai 100 meter.
Glenn berbalik dan melihat Baird.
“Orang ini cuma punya lima tanda rantai dasar?” Glenn tersenyum sinis. “Lumayanlah, masih bernilai 2.000 batu sihir.”
Glenn menatap Baird dengan tatapan tajam sambil mengonsumsi batu sihir tingkat menengah untuk memulihkan tenaga sihirnya.
Sebelum Glenn sempat bereaksi, Baird langsung berbalik dan berlari.
Glenn cukup bingung karena Baird sebelumnya punya keberanian untuk menghadapinya, tetapi sekarang justru melarikan diri tanpa bertarung sama sekali. Mengabaikan kebingungannya, Glenn memanggil seekor kelelawar bersayap besar yang berukuran dua kali lipat tubuhnya, lalu menungganginya untuk mengejar Baird.
Saat kelelawar menggepakkan sayapnya yang lebar, Glenn membumbung tinggi dan meluncur di udara. Tanda rantainya memancarkan sinyal terkuat yang pernah ada; siapa pun yang menangkap sinyal ini langsung melarikan diri dari jalurnya.
Sebenarnya ada cara untuk menekan pancaran sinyal agar berada dalam cakupan terkecil, yaitu ketika tenaga sihir seseorang berada pada kondisi maksimal dan pemiliknya tidak sedang menggunakannya.
Baird kini sudah masuk dalam jangkauan serangan Firebird milik Glenn. Glenn memanfaatkan momen tersebut dan memanggil Firebird untuk mengejarnya.
Baird berteriak. Ia tidak menoleh ke belakang karena sibuk berlari; ia takut gerakan tidak penting akan memperlambatnya dan menjadikannya alat bagi Glenn untuk meraup batu sihir. Namun, ia bisa merasakan gelombang energi besar sedang meluncur ke arahnya.
Dalam keputusasaannya, Baird mengeluarkan sebuah Alat Sihir yang konon bernilai sangat mahal. Alat itu sebenarnya adalah sebuah perisai samar yang melayang di tempatnya.
Firebird menghantam perisai tersebut, dan ledakan api menyambar ke segala arah diiringi suara yang memekakkan telinga.
Yang mengejutkan bagi kedua petarung tersebut, perisai itu mampu menahan serangan api, meski akibat benturan keras itu, wujud perisai hampir menjadi terlihat sepenuhnya.
Baird menghela napas lega.
“Bagaimana mungkin?” Glenn mengerutkan dahi.
Glenn pasti bisa menghancurkan perisai itu jika ia menggunakan lebih banyak tenaga sihir untuk satu atau dua serangan lagi. Namun, ia telah menghabiskan terlalu banyak tenaga sihir dalam pertarungan sebelumnya; jika tiba-tiba diserang oleh musuh yang kuat, ia bisa berada dalam posisi yang sangat merugikan.
Sebelum ia mendapatkan cermin, lebih baik ia bermain aman dan bertahan daripada terus menyerang.
“Hari ini keberuntungan sedang berpihak padamu. Nyawamu kuampuni,” desah Glenn.
Baird pun segera melarikan diri dengan cepat.
Glenn mendaratkan kelelawarnya dan fokus memulihkan tenaga sihir melalui konsumsi batu sihir.
Selain itu, Glenn juga berhasil merebut dua Alat Sihir yang tidak memiliki kegunaan biasa pada perebutan hari pertama.
Baird telah berlari keluar dari jangkauan serangan Glenn dan akhirnya bisa bernapas lega. Ia mengeluh, “Monster macam apa dia! Aku hampir saja terbunuh di hari pertama ujian. Untung saja aku membeli Perisai Hampa (Void Shield). Sekarang mungkin aku harus menepi dari tugas berburu ini dan mencari teman-teman sesekolahku.”
Bab Ini Masih Terkunci
Bab ini dijadwalkan rilis gratis pada .
Ingin baca instan sekarang? Dukung penerjemah di halaman Donasi Novelfire untuk klaim token eksklusif Anda.