Kerang Jelita

Induk Seri: A Sorcerer’s Journey[id]

Fitur Asisten Suara AI (Beta)
Berdiskusi di server Discord
Pengaturan Membaca
18px

Gubernur telah menyiapkan jamuan makan malam yang mewah untuk sang Penyihir dan enam murid yang terpilih untuk mempelajari sihir. Keenam murid itu adalah Lafite, putri gubernur; Chris dan Nina Hank; Wade, putra pemilik Restoran Rembulan; Sam, penjaga gerbang di pintu masuk rumah gubernur; dan Glenn.

Di atas meja tersaji babi panggang, daging domba, daging sapi, dan jenis daging lain yang tidak bisa dikenali Glenn, serta beragam saus cocolan – cokelat, keju krim jahe, dan selai blackberry… hampir 70 jenis hidangan dan saus.

‘Ini luar biasa! Bisa makan malam bersama gubernur, pria paling berpengaruh di Kota Bi Seer,’ pikir Glenn, ‘meskipun ini semua hanya karena sang Penyihir.’

“Glenn,” panggil sang Penyihir.

“Guru!” jawab Glenn dengan hormat sambil meletakkan pisau dan garpu di tangannya.

“Gunakan bakat khususmu. Dalam tes, kekuatan mentalmu dinilai sebesar 12 poin. Memiliki kekuatan mental lebih dari 10 poin berarti kamu bisa memprediksi bakatmu saat meletakkan tangan di atas bola kristal. Apa yang kamu alami dalam ‘mimpimu’ saat bersentuhan dengan bola itu ada hubungannya dengan bakatmu, dan bakat itu sangat krusial bagimu untuk menjadi seorang penyihir,” jelas sang Penyihir dengan suara serak.

“Terima kasih, Guru. Saya akan berusaha semaksimal mungkin memanfaatkan bakat saya,” jawab Glenn secara refleks, meskipun dia tidak tahu apa maksud sang Penyihir dengan mengatakan bahwa dia berbakat.

Sang Penyihir kemudian beralih ke Lafite dan Wade. “Kekuatan mental yang kalian berdua dapatkan dalam tes kurang dari sepuluh poin, yang seharusnya membuat kalian tidak memenuhi syarat untuk belajar sihir. Namun, kekuatan mental adalah sesuatu yang bisa didapatkan. Yang paling penting di dunia penyihir, alih-alih bakat, adalah kebijaksanaan, dan faktor penentu kebijaksanaan adalah pengetahuan.”

“Terima kasih, Guru. Kami akan bekerja keras dalam mempelajari sihir,” jawab Lafite dan Wade serempak.

“Guru! Perjalanan Anda pasti sangat melelahkan. Sekarang bersantailah dan cobalah kerang yang saya temukan di Laut Perbatasan Selatan ini. Kerang ini disebut Kerang Jelita, karena dagingnya sebenarnya adalah seorang gadis cantik yang hidup. Ini cukup berharga dan sangat sulit ditemukan,” kata gubernur kepada sang Penyihir dengan nada menghamba.

Gubernur kemudian melambaikan tangannya, dan tujuh gadis muda nan elok menyajikan piring-piring berisi Kerang Jelita masing-masing kepada sang Penyihir, gubernur, dan keenam murid.

‘Berharga? Dalam hal apa?’ Meskipun Glenn sudah terbiasa dengan pesta gala yang mewah, dia tetap penasaran.

“Kerang Jelita? Aku pernah memakannya saat melakukan perjalanan bisnis di Laut Perbatasan Selatan. Itu 120 tahun yang lalu. Apakah kamu tahu apa mereka sebenarnya?” tanya sang Penyihir.

“Saya sama sekali tidak tahu. Mohon beri kami pencerahan, Guru,” jawab gubernur.

“Kerang Jelita dulunya adalah manusia. Suku mereka diburu oleh suku-suku lain yang lebih kuat yang tinggal di daerah sekitar. Sebagian besar anggota suku adalah perempuan, sehingga hanya memiliki sedikit pertahanan melawan musuh. Semua laki-laki di suku itu ditangkap dan disembelih, sementara para wanita luput dari pembantaian dengan mengubah diri mereka menjadi kerang dan menjadi apa yang banyak orang sebut sebagai Kerang Jelita,” terang sang Penyihir dengan antusias kepada orang-orang di meja makan.

“Kisah yang luar biasa.” Semua orang terlalu terkejut untuk berkomentar, kecuali sang gubernur.

Karena tidak terbiasa menikmati makhluk seaneh itu, Glenn tidak mencobanya. Alih-alih memakannya, dia menyaksikan dalam diam bagaimana gubernur menyenangkan sang Penyihir dengan kerang-kerang tersebut.

“Brak! Brak!” Gubernur mengetuk cangkang kerang dua kali dengan jari telunjuknya.

Pada saat itu, Glenn bisa melihat lebih dekat perhiasan di jari-jari sang gubernur. Ada tujuh cincin, dari emas atau giok, di jari-jarinya yang gemuk.

Beberapa detik kemudian, kerang itu terbuka perlahan.

Mata Glenn membesar melihat pemandangan itu. Seorang gadis cantik tanpa busana terbaring tidur di dalam cangkang. Tubuhnya begitu gemulai seolah-olah tidak ada tulang yang menyangganya. Saat cangkang terbuka lebar, dia terbangun dan menguap, melihat sekeliling dengan penuh rasa ingin tahu.

Gubernur mengangkatnya ke arah mulutnya yang meneteskan air liur. Gadis jelita itu mendadak menyadari bahaya yang mengancamnya dan menjerit saat berjuang membebaskan diri.

Tanpa memedulikan jeritan itu, sang gubernur menyedot gadis jelita itu dengan kuat ke dalam mulutnya.

“Luar biasa. Sungguh hidangan yang nikmat.” Gubernur berdengkus sambil membuang cangkangnya ke tempat sampah. Jeritan gadis jelita itu masih terdengar dari dalam perutnya.

Sang Penyihir dan Lafite juga menikmati Kerang Jelita tersebut.

Glenn dan murid-murid lainnya mengikuti lalu mengetuk cangkang kerang mereka. Mata mereka tertuju pada para gadis jelita yang bersandar di tangan mereka, dan mereka masih tidak tega untuk memakan manusia hidup.

“Selain rasanya yang enak, mengonsumsi Kerang Jelita membantu memurnikan Elemen Api.” Melihat raut wajah ragu para murid, sang Penyihir berkata persuasif. “Dan jangan terkecoh oleh penampilan mereka yang elok. Pahamilah kebenarannya: Kerang Jelita ini adalah moluska, bukan manusia.”

Rombongan itu mengangguk.

Setelah jeda sejenak, sang Penyihir melanjutkan, “Namun, ada harganya. Rumor mengatakan bahwa memakan Kerang Jelita akan membuat auramu lebih menarik bagi monster laut sehingga membuatmu menjadi target yang lebih potensial. Ini adalah sebuah kutukan.”

Glenn berpikir ini akan menjadi kesempatan baik untuk memberikan kesan positif pada sang Penyihir jika dia menguatkan diri dan memakan ‘manusia hidup’ itu. Oleh karena itu, dia memejamkan mata, mendongakkan kepala, dan meluncurkan gadis jelita di tangannya ke dalam mulutnya.

Glenn tidak berani mengunyah potongan daging lembut yang menggeliat di dalam mulutnya; sebaliknya, dia membiarkannya meluncur melewati tenggorokan dan masuk ke perutnya. Dia berusaha sebaik mungkin untuk berpura-pura bahwa kerang itu hanyalah makanan, tetapi wajahnya yang meringis dan bibirnya yang gemetar mengkhianatinya.

Sisa rombongan mengikuti langkah Glenn dan mulai makan. Suara jeritan kerang bergema bersahut-sahutan di dalam aula.

Satu pengecualian adalah Nina Hank. Dia sangat jijik oleh kekejaman itu dan mendorong piring kerangnya ke samping. Dia adalah gadis yang sangat berhati lembut.

Keesokan harinya, Glenn memutuskan untuk mengambil kembali kereta kudanya dan meninggalkannya di tempat Saudara Keenam. Kereta itu telah diikatkan pada sebuah pohon di dekat Kediaman Zi Jue. Glenn bisa melupakan koin-koin emas di rumah, tetapi kereta kuda itu telah menjadi milik Paman Ham selama lebih dari satu dekade. Bagi Glenn, kereta itu seperti Paman Ham dan dalam keadaan apa pun dia tidak akan mencampakkannya. Lafite dan Wade jelas tidak memahami hal ini, dan mereka mengejek Glenn saat dia bergegas mengambil keretanya.

“Anak haram. Berani-beraninya kamu kembali!” bentak sang pelayan senior saat melihat Glenn mengamuk di pintu masuk Kediaman Zi Jue.

Ternyata Glenn tidak menemukan keretanya di tempat dia mengikatnya tadi. Dia memberanikan diri mengintip ke halaman Kediaman Zi Jue dan menemukan keretanya terikat pada pohon kurma cina di halaman. Glenn ingin menerobos masuk tetapi dihentikan oleh para penjaga di pintu masuk.

Di dalam lubuk hatinya yang terdalam, sang pelayan senior berharap Glenn akan mengalah dan kembali bekerja untuknya karena, dalam ketergesaannya memecat Glenn, dia lupa mencari pengganti. Dia akan dimintai pertanggungjawaban jika jamuan tidak disiapkan dengan sempurna.

“Tuan Pelayan. Saya akan pergi dan tidak akan pernah kembali, tapi tolong kembalikan kereta kuda saya,” balas Glenn.

Sang pelayan senior mengira Glenn datang untuk meminta maaf dan memohon agar mendapatkan pekerjaannya kembali; alih-alih melakukan itu, dia justru hanya datang untuk mengklaim kereta kudanya yang tak berharga. Sang pelayan senior menjadi murka dan berteriak: “Enyah sekarang juga! Tidak ada kereta kuda, dan kalaupun ada, itu bukan milikmu!”

“Sparta, lempar bocah ini keluar!” perintahnya kepada salah satu penjaga di pintu masuk depan. Mendengar instruksi itu, Sparta, seorang pria berbadan besar, menghampiri Glenn, mengangkatnya di atas kepala dan…

“Apa itu?!” pria bertubuh bongsor itu berteriak kaget.

Pada saat itu, berkas cahaya hitam yang menyilaukan meluncur ke arah sang penjaga.

Pria besar itu segera melepaskan genggamannya pada Glenn setelah melihat cahaya hitam mengarah padanya dan dengan cepat menundukkan kepala untuk menghindarinya. Cahaya hitam itu menghantam pilar di belakang Sparta lalu hancur menjadi sekumpulan serangga hitam yang menakutkan. Ada sekitar 7.000 ekor, dan masing-masing berukuran sebesar kuku manusia serta memiliki sayap dan rahang yang kuat.

Teguran keras meledak setelah cahaya itu:

“Penyihir tidak boleh dihina!”

“Ampuni saya! Tolong!” Penjaga itu memohon nyawanya saat dia dikepung oleh kawanan makhluk kecil yang siap melancarkan serangan kepadanya.

Sang Penyihirlah yang telah melepaskan berkas cahaya itu.

Dia mengabaikan permohonan ampun pria besar itu dan menunjuk ke arahnya sambil mengucap beberapa kata aneh (yang diyakini Glenn sebagai mantra atau seruan), dan tiba-tiba, sang ksatria berubah menjadi seekor anak babi.

“Seekor anak babi?” teriak Glenn, melupakan rasa sakitnya akibat terjatuh.

Kawanan serangga itu kemudian menyerbu anak babi tersebut dan dalam sedetik, pria besar itu telah dilalap habis.

Sang pelayan senior berdiri terpaku melihat adegan dramatis ini, dan nyawanya juga tidak akan diampuni.

Lidah merah besar mendesing ke arah sang pelayan senior, menggulungnya lalu ditarik kembali. Itu adalah lidah katak bermata merah. Katak itu telah membesar hingga seukuran manusia saat melompat tinggi ke udara, sekitar 20 kaki di atas tanah. Katak itu menjulurkan lidahnya yang besar dan menelan sang pelayan senior. Katak tersebut kemudian menyusut ke ukuran normalnya dan kembali ke tangan sang Penyihir.

“Oh, itu katak milik sang Penyihir! Katak itu bisa membesar!” Glenn mendadak menyadari apa yang sedang terjadi.

“Seorang Penyihir tidak boleh dihina,” gumam Glenn, “saat aku menjadi seorang penyihir nanti, aku tidak akan ditindas lagi.”

Setelah drama berakhir, Glenn membawa kereta kuda itu ke tempat Saudara Keenam dan menyusul rombongan.

Berdiskusi di server Discord