Tujuh Desperater Berkumpul
Induk Seri: A Sorcerer’s Journey[id]
“Apakah si topeng itu juga seorang Desperater?” Manusia Setengah Robot itu menggelengkan kepala dan menghela napas, memikirkan mengapa murid seperti Glenn bisa memiliki kekuatan sehebat itu.
Kulit Manusia Setengah Robot itu telah robek, sementara lengan dan ekor mekaniknya rusak dan tidak bisa berfungsi untuk sementara. Dia merasa jengkel dan berteriak dari kejauhan:
“Glenn, aku tunggu kamu di tempat cermin ketiga dijatuhkan!” Bersamaan dengan berhentinya suara Manusia Setengah Robot itu, piringan yang tergeletak di tanah terangkat melintasi hutan dan melayang menghampirinya.
Di area pertarungan, pilar-pilar yang menyangga altar telah lenyap. Orang-orang di luar tim Glenn langsung melarikan diri ke dalam kegelapan malam.
Lafite memasukkan kembali panah Hurricane ke dalam sarungnya. Dia menggunakan panah kedua ini hanya untuk menggertak. Itulah salah satu alasan mengapa Manusia Setengah Robot itu memilih kabur.
“Kita benar-benar aman sekarang! Kita tidak perlu takut lagi pada para Desperater dari sekolah lain,” ujar Lafite gembira saat mengambil manik-manik itu dari tangan Robin.
Anggota tim Glenn yang lain berkumpul mengelilingi Lafite, menatap manik-manik itu dengan mata terbelalak.
“Astaga! Aku yakin energi di dalamnya lebih dari 100 poin!” teriak Chris.
“Ya, energinya memang sebesar itu. Para Desperater tidak akan mengganggu kita kecuali terpaksa,” jawab Glenn.
Sekarang kelompok itu bisa bernapas lega. Mereka mencari tempat yang lebih terisolasi dan mendirikan tenda untuk beristirahat.
Keesokan harinya, matahari terbit. Anggota tim keluar dari tenda untuk menikmati udara segar khas area hutan.
Lafite menyandarkan kepalanya di bahu Glenn dan berkata pelan:
“Aku memikirkan usulmu semalam. Aku masih merasa itu terlalu berbahaya.”
“Apa yang berbahaya?” Chris berbalik dan tampak serius. “Kita sudah punya manik-manik ini. Bahaya apa lagi yang bakal mengintai kita?”
“Ini… ini soal peluncuran cermin ketiga. Aku ingin mendapatkannya,” kata Glenn terbata-bata, tetapi nadanya penuh tekad.
“Tapi kenapa? Kita sudah punya manik-manik ini dan benda ini saja sudah cukup buat menghindarkan kita dari masalah,” ujar Chris yang meragukan jalan pikiran Glenn.
Anggota tim lainnya menatap Glenn dengan terkejut. Suasana menjadi canggung dan menekan. Melihat hal ini, Lafite memotong sebelum Chris sempat merespons lagi.
“Glenn. Kamu bakal membahayakan kita semua! Aku tahu kamu sangat membantu mendapatkan manik-manik ini. Tapi kamu tidak seharusnya mempertaruhkan nyawa tim seperti itu. Cermin ketiga itu diperuntukkan bagi para Desperater.”
Teguran gamblang ini memberikan rasa sakit yang tajam di hati Glenn.
“Baiklah,” jawab Glenn singkat lalu kembali masuk ke dalam tenda.
Hari ke-20 ujian tiba. Tepat di tengah area ujian, tujuh pilar besar berpenampilan aneh menjebol tanah dan perlahan menjulang tinggi ke udara.
Hampir pada saat yang sama, gelombang energi berhembus melintasi hutan. Pohon-pohon tinggi membengkok dan rumput-rumput tertunduk saat gelombang itu lewat.
Tujuh Desperater tengah menuju ke pilar-pilar tersebut. Cermin “tahap” ketiga telah dikirimkan oleh para penyihir yang mengawasi ujian dari luar hutan.
Berbeda dengan dua tahap sebelumnya, hanya ada satu cermin yang menjadi hadiah. Hadiah tahap pertama—tongkat—berjumlah 100, dan tahap kedua—manik-manik—berjumlah sepuluh. Oleh karena itu, satu-satunya cermin yang menjadi piala tersebut menarik perhatian ketujuh Desperater.
Tiga Desperater dari Black Isotta—Golden Eye (Bionna), Transformer (Kyrie), dan Immortal (Sam)—berdiri bersama di depan pilar-pilar itu. Ada juga Daughter of Sun, yang dulu pernah dikejar oleh Kyrie, Bionna, dan Sam secara bersamaan; Manusia Setengah Robot; Ghost Burglar, sosok yang mencuri Moon Chirper dengan bersembunyi di atas pohon; serta sang Charmer.
Daughter of Sun ternyata seorang perempuan. Sesuai namanya, dia memancarkan energi berunsur api yang kuat. Mungkin karena itulah dia mengenakan pakaian yang sesedikit mungkin menutupi tubuhnya. Daughter of Sun dikatakan sebagai yang terkuat di antara ketujuh Desperater, dan penampilannya memang terlihat sangat dominan. Saat dia bergerak, gelombang energi yang dipancarkan dari rantai di dahinya dapat terasa dari jarak lebih dari 300 meter.
Ketujuh orang itu saling bertukar pandang. Masing-masing dalam kewaspadaan tinggi terhadap serangan yang lain, sembari berhati-hati agar tidak menjadi pemicu perang besar.
Muka Bionna terlihat masam. Dia mengalihkan perhatiannya dari Daughter of Sun yang arogan itu dan bertanya pada Kyrie.
“Kyrie, soal orang bertopeng yang kamu sebutkan, apa kamu benar-benar yakin dia sehebat kita?”
Kata “kita” yang dimaksud Bionna adalah para Desperater. Karena sudah lama disanjung sebagai salah satu Desperater, dia terbiasa dan sangat menikmati julukan itu.
Keraguan Bionna dijawab dengan anggukan mantap, meski anggukan itu dilakukan oleh tikus milik Kyrie. Saat berikutnya, Kyrie berkata:
“Kalau yang kamu maksud daya pertahannya, dia memang selevel dengan kita. Daughter of Sun sekalipun tidak bisa berkutik menghadapinya.”
Bionna merasa lega sejenak karena dia sempat berpikir untuk bekerja sama dengan Glenn. Namun beberapa saat kemudian, dia ragu-ragu.
“Jadi kita punya lawan baru di seleksi Seven Rings?”
“Tidak, aku rasa tidak. Dia terlihat kuat hanya karena punya Alat Sihir itu—topengnya. Dia tidak akan bisa dapat Alat yang lebih bagus dari itu.”
Sam juga skeptis soal keterlibatan Glenn dalam seleksi tersebut.
“Mentornya tidak seharusnya memberi alat semewah itu mengingat statusnya yang masih murid. Dia baru murid tahun ketiga! Dan dia memakainya terus-terusan! Bahkan kalaupun dia bisa lolos dari ujian ini, dia pasti kena hukuman, dan hukuman itu pasti bikin dia diskualifikasi dari seleksi.”
Mendengar dua rekannya berkata demikian, kekhawatiran Bionna berkurang. Namun, hatinya masih merasa tidak tenang karena pria bertopeng itu. Walau itu sekadar firasat saja.
“Jadi, apa kita bisa bekerja sama dengan dia—pria bertopeng itu? Daughter of Sun itu tipe yang menyusahkan!” Bionna bertanya pada kedua pria di sampingnya.
“Dia cuma menang di poin serangan. Ada hal lain yang harus dipertimbangkan dalam pertarungan. Ghost Burglar jelas bisa mengimbanginya!” Kyrie tidak terima jika perempuan itu dianggap sebagai petarung terkuat di hutan ini.
Daughter of Sun memperhatikan para Desperater dari Black Isotta yang sedang berdiskusi. Dia menyeringai dalam hati.
“Pfft, kalian bawa-bawa si pria bertopeng, ya?” Daughter of Sun memunculkan api di tangannya dan mulai memainkannya.
Bab Ini Masih Terkunci
Bab ini dijadwalkan rilis gratis pada .
Ingin baca instan sekarang? Dukung penerjemah di halaman Donasi Novelfire untuk klaim token eksklusif Anda.