Chapter 2 part 6
Induk Seri: Holmes of Kyoto [id]
“M-Maaf, Holmes,” kataku meminta maaf untuk kedua kalinya sambil mengatupkan kedua tangan. Kami telah meninggalkan lokasi acara dan pergi ke kafe yang tersambung dengan lobi lantai satu hotel.
Holmes tersenyum. “Tidak apa-apa. Aku sama sekali tidak keberatan.”
“B-Benarkah?” Dia tidak sedang menahan marah di balik senyuman itu, kan?
“Iya, kerabatku sering memperlakukanku seperti orang aneh, jadi aku sudah terbiasa. Bahkan, aku sempat berpikir untuk menjadikan ‘Aneh’ sebagai nama tengahku,” kata Holmes dengan santai seraya mengantarkan cangkir kopinya ke mulut.
Mataku terbelalak kaget. “I-Itu artinya kamu keberatan! Dengar, aku tidak bermaksud buruk. Maksudku cuma kamu itu bukan orang yang biasa-biasa saja!”
Holmes tertawa terbahak-bahak melihat kelahanku yang sibuk beralasan. “Aku cuma bercanda, Aoi.” Dia terus terkekeh, dan aku bisa merasakan pipiku merona merah. D-Dia mengerjaiku lagi.
“Ini yang orang-orang sebut ‘pria Kyoto yang licik,’ ya?” gerutuku sambil meminum kopiku.
“Aoi, yang benar itu ‘lelaki Kyoto,’ bukan ‘pria Kyoto.’” Dia mengacungkan jari telunjuknya yang panjang dan berbicara dengan nada menegur, tetapi bibirnya tersenyum.
“Oh, begitu? Tapi, entah kenapa, menurutku ‘pria Kyoto’ lebih cocok untukmu.” Benar, pria yang anggun tapi agak jahil asal Kyoto.
“Ungkapan itu tidak ada, tapi aku suka terdengar lebih halus daripada ‘lelaki Kyoto.’” Holmes tampak terhibur, matanya menyipit membentuk lengkungan. Sepertinya dia menyukainya.
“Jadi, apa kamu mendengar sesuatu dari Keiko dan Yuuko?” tanya Holmes.
“Ah, iya. Lebih dari yang diperkirakan.”
“Oh? Bagaimana bisa?”
“Merek membocorkan banyak hal. Aku sampai sangat terkejut.” Mereka begitu terbuka sampai-sampai aku ragu untuk menceritakan semuanya pada Holmes. Bagaimanapun juga, mereka mengincar Holmes, dan aku tidak ingin menghalangi jalan mereka. Tapi, karena ini penyelidikan penting, aku menyampaikan setiap detailnya kepada Holmes.
“Begitu. Jadi mereka sangat terbuka soal rasa cemburu mereka terhadap Saori. Itu mengejutkan.” Holmes mengangguk sambil bersedekap.
Spontan aku mecondongkan badan ke depan. “B-Benar, kan? Biasanya orang tidak bakal mengatakan hal-hal seperti itu kepada seseorang yang baru pertama kali ditemui, kan?”
“Tepat sekali. Ini secara tidak langsung berarti gadis-gadis itu sudah terbiasa membicarakan keburukan Saori sehari-hari.”
“Jahat sekali.”
“Ini semakin membuktikan betapa Saori dulu dan sekarang adalah idola sekolah. Karena dia begitu cemerlang, mereka tidak merasa bersalah melakukannya.”
Karena dia begitu cemerlang, mereka tidak merasa bersalah melakukannya?
“Umm, apa maksudmu?”
“Mirip seperti bagaimana orang awam merasa sah-sah saja membicarakan keburukan idola. Gadis-gadis itu mungkin membenarkannya di dalam kepala mereka dengan berpikir, ‘Saori kan sangat cantik dan disukai lawan jenis. Dia sudah menerima banyak perasaan positif, jadi tidak masalah mau seburuk apa pun yang kita katakan.’”
Prinsipnya mirip dengan orang biasa yang mengatakan hal buruk tentang idola populer, ya? Aku tidak menyangka hal seperti itu bisa terjadi di antara teman dekat… Atau mungkin rasa cemburu mereka makin membesar justru karena mereka teman dekat.
“Tapi tetap saja, bagaimana bisa mereka mengatakan hal-hal itu secara terbuka?” ratapku.
“Kamu benar; itu perilaku yang buruk. Malah, mereka mungkin tidak peduli kalau Saori mendengarnya sendiri. Mereka mungkin memang ingin membuatnya merasa tidak nyaman.”
“Apa?! Kasihan sekali Saori.”
“Begitulah.”
“Tunggu. Saori memang cantik, tapi apakah dia benar-benar tipe gadis yang sangat disukai laki-laki? Sampai-sampai membuat gadis-gadis lain secemburu itu?” Bagaimanapun juga, ada yang bilang kecantikan itu hanya sebatas penampilan luar, batinku menambahi.
“Yah,” kata Holmes sambil menyeruput kopinya. “Bisa jadi perpaduan antara kecantikannya yang anggun dan kesan rapuhnya membangkitkan naluri pria untuk melindunginya.”
Dengan kata lain, dia punya sesuatu yang membuat pria ingin melindunginya.
“Holmes, apa kamu juga lebih menyukai gadis seperti Saori?” tanyaku.
“Siapa yang tahu?” Holmes memiringkan kepalanya.
“Kenapa kamu menghindar dari pertanyaan? Kamu juga berpikir dia cantik, kan?”
“Mungkin saja iya, tapi prinsipku menyatakan bahwa saat aku sedang bersama seorang wanita, aku tidak boleh memuji wanita lain,” kata Holmes sambil tersenyum.
“Hah?” Mataku terbelalak. Apakah dia… menganggapku sebagai ‘wanita’ yang dimaksud? Wajahku memerah begitu aku menyadarinya. “A-Apa yang kamu bicarakan? Aku tidak masuk hitungan sebagai seorang ‘wanita,’ kan?”
“Kamu bukan seorang wanita, Aoi? Mohon maaf atas ketidaksopananku.”
“Tunggu, aku ini jelas-jelas wanita!”
Holmes tertawa melihat amarahku yang meledak-ledak. Ugh, dia benar-benar jahil. Pria Kyoto yang licik luar dalam. Aku menggembungkan pipiku dengan kesal, dan Holmes terus terkekeh melihatku.
“Kiyotaka!” Aku mendengar suara wanita dari belakangku dan langsung berbalik kaget. Saori, Kaori, dan ibu mereka semua ada di sana. Kaori mengenakan gaun, sementara yang lainnya memakai kimono. Ketiganya tampak gugup.
Holmes berdiri tanpa suara, dan aku mengikutinya. Kami menghampiri mereka.
“Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk datang ke sini hari ini,” ibu mereka memulai. Mereka bertiga membungkuk.
“Tidak, saya justru senang bisa melihat karya-karya yang begitu indah,” kata Holmes, tersenyum dengan anggun sambil meletakkan tangannya di dada. Seluruh tubuhnya memancarkan keanggunan. Jujur, sisi dirinya yang itu memang patut dihormati. Mungkin itulah yang membuat keanehannya jadi begitu mencolok.
“Aduh, begitu ya?” Sang ibu jeda sejenak sebelum melanjutkan dengan suara berbisik, “Jadi, um, apa Anda mengetahui sesuatu?”
Holmes mengangguk. “Ya, tapi saya ingin meluangkan waktu untuk membicarakannya dengan baik. Apakah Anda ada waktu senggang besok, kalau bisa di pagi hari?”
“Saya ada janji dengan Shimogamo pagi-pagi sekali.”
“Pukul berapa?”
“Dimulai pukul sembilan, lalu saya harus kembali ke pameran ini dari siang dan seterusnya.”
“Kalau begitu, mari kita bertemu pukul delapan, di ‘Tadasu no Mori’ milik Kuil Shimogamo. Harusnya tidak ada orang di sana pada jam segitu, jadi saya pikir itu lokasi yang ideal.”
“B-Baiklah.”
Ketiganya mengangguk, tetapi tampak bingung dengan usulannya.
“Um, apa Anda berhasil mengetahui sesuatu?” tanya Saori.
“Ya, saya sudah tahu,” jawab Holmes tanpa ragu.
Keluarga Miyashita dan aku sama-sama terkejut. “Hah?” ucap kami serempak.
“T-Tunggu, seberapa banyak yang sudah kamu ketahui, Holmes?” tanyaku.
Holmes mengeluarkan surat-surat yang terlipat dari saku dalam jasnya. “Tentu saja aku tahu siapa yang mengirim ini,” katanya sambil tersenyum.
Bab Ini Masih Terkunci
Bab ini dijadwalkan rilis gratis pada .
Ingin baca instan sekarang? Dukung penerjemah di halaman Donasi Novelfire untuk klaim token eksklusif Anda.