Chapter 2 part 5

Induk Seri: Holmes of Kyoto [id]

Fitur Asisten Suara AI (Beta)
Berdiskusi di server Discord
Pengaturan Membaca
18px

Hari Sabtu tiba. Menyerahkan Kura di bawah penanganan manajer, Holmes dan aku bertolak menuju hotel tempat pameran ikebana diadakan. Lokasinya adalah sebuah ruang acara di Kyoto Hotel Okura, yang terletak di dekat balai kota. Dengan kata lain, tempat itu masih dalam jarak tempuh berjalan kaki dari Kura.

“Aoi, apakah adik perempuan Saori mengatakan sesuatu kepadamu di sekolah?” tanya Holmes sembari kami berjalan.

“Ah, ya.” Aku mengangguk. “Keesokan paginya, dia sudah menunggu di pintu masuk, dan ketika melihatku, dia memperingatkanku, ‘Tolong jangan beri tahu siapa pun tentang kejadian kemarin.’”

“Bisa dimaklumi. Jika siswi-siswi di sekolah mendengar kabar tentang Saio-dai yang menerima surat-surat mencurigakan, aku bisa membayangkan berita itu akan menyebar bak api menyambar jerami. Apakah dia cemas kalau-kalau kamu sudah memberi tahu seseorang saat itu?”

“Kurasa begitu. Tapi bagaimanapun juga, aku tidak memberi tahu siapa pun, dan aku memang tidak berniat melakukannya,” jawabku dengan senyum kaku.

Holmes menyipitkan mata. “Apakah kamu punya teman yang bisa kamu percayai di sekolahmu yang sekarang?”

Aku ragu-ragu sebelum menjawab, “Tidak ada di sekolahku yang sekarang.” Sejak aku dihadapkan pada kenyataan bahwa teman terdekatku berkencan dengan pacarku di belakangku, aku seperti kehilangan kepercayaan pada konsep persahabatan. Jika yang kulakukan hanyalah pergi ke sekolah, berbasa-basi, makan siang bersama orang-orang, melambaikan tangan untuk berpamitan, lalu pulang, maka tidak akan ada hal buruk yang terjadi. Karena aku tidak menceritakan kekhawatiran dan rasa sakitku kepada siapa pun, aku juga tidak memiliki teman yang bisa kubagi rahasia.

“Kamu dan Katsumi benar-benar pasangan yang serasi! Aku akan mengawasinya untuk memastikan dia tidak menduakanmu, jadi jangan khawatir soal kepindahanmu ke Kyoto.”

Kata-kata dari Sanae—yang pernah menjadi sahabat terbaikku—bergema di kepalaku, dan aku merasakan rasa sakit yang menusuk di dadaku. Mengapa, Sanae? Mengapa kamu berpacaran dengan Katsumi? Kamu seharusnya tahu bagaimana perasaanku, kan? Apakah kamu pikir itu tidak masalah karena aku sudah tidak ada lagi di sana? Atau apakah kamu hanya berpura-pura mendukung kami, padahal sebenarnya, kamu selalu menyukainya dari dulu? Apakah kamu menderita? Jika demikian, apakah kamu bahagia saat aku pergi?

Napasku mulai terasa sesak. Ini selalu terjadi. Aku terus mempertanyakan diriku sendiri, tanpa mampu menemukan jawaban. Ini menyakitkan, aku tidak tahan, dan aku sangat ingin mengetahui kebenarannya.

“Bukankah cuacanya sangat cerah hari ini, Aoi?” tanya Holmes dengan riang, seraya menengadah ke langit.

Aku kembali ke kesadaranku dan mendongak. Langit biru cerah tanpa awan itu tampak seolah-olah berkilauan. “Kamu benar, memang cerah.”

Kalau dipikir-pikir, sejak aku mulai bekerja di Kura, rasanya aku menghabiskan lebih sedikit waktu terjebak dalam pusaran pikiranku yang menyakitkan. Seolah-olah setiap kali aku terperosok ke dalamnya, kata-kata santai Holmes selalu mengangkatku kembali.

Aku menoleh ke arah Holmes, dan dia membalas senyumku. Pipiku memerah. Ngeri rasanya betapa peka dirinya, tetapi dia juga telah menyelamatkanku berkali-kali. Memang salah bagiku karena mencoba menjual barang-barang milik keluargaku, tetapi aku benar-benar bersyukur bisa datang ke Kura dan bertemu dengan Holmes.

Setelah berjalan beberapa saat lagi, kami tiba di ruang acara di Kyoto Hotel Okura. Di pintu masuk terdapat papan tanda bertuliskan “Pameran Ikebana Aliran Hanamura.” Aku yakin tulisan itu pasti dibuat oleh seorang ahli kaligrafi terkemuka. Para pengunjung disambut oleh karangan bunga besar di tengah ruangan, sementara karya-karya para murid berjejer di keempat sisi dinding ruangan tersebut.

“Spektakuler,” kata Holmes, menatap hangat ke arah karangan bunga di tengah yang ukurannya lebih lebar dari rentangan tangan orang dewasa. Aku berasumsi dia menyukai bunga.

“Sepertinya ini karya sang guru,” komentarku.

“Ya, karya ini menggambarkan kemegahan musim semi di Kyoto. Terlepas dari ukurannya, karya ini berhasil tampil halus namun sekaligus tegas. Aku bisa merasakan gairah sang seniman untuk pameran ini.”

Aku melihat bunga-bunga itu lagi. Pada awalnya, aku hanya berpikir, “Wah, besar sekali!” tetapi setelah mendengar penjelasannya, aku menyadari bahwa karya itu memang halus meskipun begitu besar. Sama seperti pola pada porselen biru-putih dinasti Yuan, rasanya seperti ada kepekaan yang menjangkau hingga ke ujung-ujung daunnya. Seni merangkai bunga juga sangat mendalam, ya?

“Seperti yang diharapkan dari kepala aliran seni ini. Pamerannya juga sukses besar,” lanjut Holmes.

“Memang benar,” jawabku. Sebagian besar pengunjung adalah wanita yang mengenakan pakaian tradisional. Banyak dari mereka yang sudah lanjut usia, tetapi aku juga melihat murid-murid seusia kami, termasuk para murid dari aliran tersebut, salah satunya Saori Miyashita.

“Umm, kita berpura-pura tidak mengenalnya, kan?”

“Ya. Untuk saat ini, mari kita lihat-lihat pamerannya terlebih dahulu.”

“Baiklah.” Aku mengangguk dan memperhatikan karya-karya yang dipajang di atas kain putih. Masing-masing murid menampilkan dua karya. Ketika aku sedang mengamati rangkaian bunga milik semua orang, aku terdengar seseorang sedang berbicara.

“Aduh, ini karya Saio-dai tahun ini. Anggun sekali.”

Aku melihat Saori membungkuk penuh terima kasih kepada seorang pengunjung. Dia tertegun sejenak ketika melihat kami, tetapi kemudian membungkuk dengan anggun seperti yang dia lakukan kepada orang lain. Kami membalas bungkukannya dan beralih ke karya-karyanya.

Salah satunya adalah karya dinamis yang menggunakan bunga-bunga tinggi. Yang satunya lagi berukuran kecil, tetapi menampilkan keseimbangan yang sempurna dengan dahan-dahan horizontal dan bunga-bunga kecilnya. Karya itu terlihat halus dan fana, namun memancarkan kesan keteguhan.

Ada sesuatu dari kedua karya ini… Aku menyilangkan tanganku tanpa sadar.

“Kedua karya ini memberikan kesan yang cukup berbeda,” gumam Holmes pelan, rupanya memikirkan hal yang sama denganku.

Saori mendengarnya dan mulai hendak berbicara, tetapi terpotong oleh suara tegas yang datang dari belakang kami: “Itu karena keduanya dibuat dengan cara yang berbeda.”

Terkejut, aku berbalik dan melihat seorang wanita paruh baya berkimono tersenyum ramah kepada kami.

“Ah, Hanamura-sensei,” kata Holmes sambil membungkuk. Mataku terbelalak menatapnya karena terkejut. Jadi, orang ini adalah guru ikebana tersebut. Tunggu, Holmes mengenalnya?

“Aduh, apakah ini Kiyotaka dari tempatnya Seiji? Kamu sudah tumbuh besar ya,” kata sang guru.

“Sudah lama tidak berjumpa.”

“Kamu kuliah di universitas prefektur, kalau tidak salah ingat?”

“Aku sekarang berada di sekolah impianku, Universitas Kyoto.”

“Oh, kamu masuk untuk S2? Mengagumkan!”

“Tidak apa-apa; silakan saja kalau mau menyebutnya lewat jalur culas.”

“Aduh, aku tidak akan pernah bilang begitu!”

Aku merasa kewalahan oleh percakapan mereka yang ceria. Tampaknya, dia mengenal guru ikebana ini melalui sang pemilik toko. Kyoto benar-benar luar biasa dengan semua jaringan hubungannya ini.

Holmes menatap ke arah kedua rangkaian bunga tersebut dan mengubah topik pembicaraan. “Ini karya-karya milik Saio-dai, kan?”

Sang guru mengangguk mantap. “Yang berukuran besar dibuat di dalam kelas, sedangkan yang kecil dibawa pulang untuk dikerjakan. Bakat Miyashita tampaknya lebih terpancar saat dia fokus sendirian di rumah, jadi karya yang kecil memiliki pengerjaan yang lebih baik.”

Tanpa sadar aku mengangguk mendengar penjelasannya. Memang benar bahwa karya yang kecil jauh lebih bagus. Karya itu menunjukkan perhatian terhadap detail yang sama seperti yang kurasakan dari karya sang guru. Mungkin Saori tidak bisa menjaga ketenangannya di dalam kelas tempat mantan teman-temannya berada. Bagaimanapun juga, pasti sulit untuk masuk ke dalam suasana hati saat merangkai bunga yang anggun ketika kamu berada di sebelah orang-orang yang mungkin telah mengirimimu surat-surat teror. Sangat wajar jika dia bisa membuat sesuatu yang lebih baik saat sendirian di rumah. Aku tidak meragukan bahwa berada di kelas rasanya seperti duduk di atas duri baginya.

“Karya-karya seniman muda sangat menyenangkan dan hidup. Apakah ada karya dari anak-anak muda lain selain milik Saio-dai?” tanya Holmes dengan santai.

Sang guru terkekeh. “Karya anak muda? Kamu berbicara seperti kakek-kakek, Kiyotaka.”

“Anda tahu sendiri bagaimana kakekku. Kurasa aku akhirnya berakhir sama seperti dia.”

“Kalau itu aku paham. Bagaimanapun juga, Seiji itu memang kekanak-kanakan. Benar, selain Miyashita, kami memiliki dua mahasiswa universitas lainnya,” kata sang guru sebelum berjalan dengan cekatan dan berhenti di depan karya-karya yang berada lebih jauh di depan. Dua gadis seusia mahasiswi yang mengenakan kimono berada di sana, kemungkinan adalah dua orang yang telah mengirimkan surat kepada Saori. Mata mereka berbinar saat melihat Holmes.

“Duh, dia ganteng banget.”

“Ah, dia jalan ke arah sini!”

“Kiyotaka, ini Keiko Kawase—keluarganya memiliki restoran Jepang di Ponto-cho—dan Yuuko Mikami—keluarganya mengelola penginapan lama di Gion,” kata sang guru.

Keiko dan Yuuko. Mereka tampak benar-benar biasa—sulit dipercaya bahwa mereka bisa mengirimkan surat-surat itu. Mereka begitu normal sehingga aku mungkin tidak akan bisa membedakan bahwa mereka berasal dari keluarga terpandang jika bukan karena kimono yang mereka kenakan.

“Gadis-gadis, ini Kiyotaka, cucu dari penilai terkenal bernama Seiji Yagashira. Dia kuliah di Universitas Kyoto dan membantu di Kura, sebuah toko barang antik di Teramachi-Sanjo yang memiliki sejarah panjang.”

Setelah perkenalan dari sang guru, kedua gadis itu membungkuk dan berkata, “Senang bertemu denganmu.” Holmes membalas gestur itu dengan anggun, dan pipi mereka berdua memerah.

Kemudian, seolah-olah baru menyadari keberadaanku, sang guru tersenyum dan berkata, “Kiyotaka, apakah gadis di sampingmu ini adalah…?”

“Bukan, dia seorang siswi SMA yang bekerja paruh waktu di toko kami. Dia bersamaku hari ini untuk tujuan edukasi,” jawab Holmes.

“Ah, begitu. Seorang siswi SMA—lucu sekali! Silakan nikmati pamerannya santai saja.” Sang guru tersenyum hangat padaku dan aku tergesa-gesa membungkuk sebagai balasan, sambil berkata, “Te-Terima kasih, saya akan menikmatinya.”

“Izinkan aku melihat karya Keiko dan Yuuko.” Holmes segera mengalihkan pandangannya ke rangkaian bunga mereka, yang memiliki bunga dan dahan yang menjulang ke atas. Karya-karya itu tampak semarak dan penuh kehidupan. Mungkin karena aku sudah terbiasa melihat barang antik di Kura? Apakah ini yang mereka sebut energi jiwa muda? Karya mereka kurang memiliki detail, kehalusan, dan rasa kefanaan apa pun, serta pengerjaannya sendiri mungkin terbilang buruk, tetapi aku merasa diriku tertarik pada karya-karya itu.

“Karya-karya ini menyampaikan antusiasme kalian,” kata Holmes dengan senyum anggun. Pipi gadis-gadis itu memerah lagi seolah-olah hati mereka baru saja tertembak.

“Tentu saja. Hanya anak muda zaman sekarang yang bisa menghasilkan karya seperti itu,” kata sang guru sambil terkekeh.

“Anda pasti bangga karena salah satu murid Anda terpilih sebagai Saio-dai.”

Aku terperanjat oleh betapa mendadaknya dia langsung masuk ke inti permasalahan. D-Dia sudah mau bertanyanya sekarang? Aku langsung melirik ke arah kedua gadis itu, yang kini tampak agak tidak senang.

Pada saat itu, Holmes bersuara, “Ah,” dan mengeluarkan ponsel pintar miliknya. “Maaf, aku menerima panggilan telepon. Aku harus permisi sebentar. Aoi, tolong tetap di sini.”

Aku berdiri di sana dengan terpana saat Holmes bergegas keluar dari ruangan sambil memegang ponselnya. Ada apa tiba-tiba begitu? Dengan perginya Holmes, sang guru menyampaikan salam perpisahan dan ikut pergi juga. Aku berdiri di sana sendirian tanpa tahu harus berbuat apa, sampai aku menerima sebuah pesan teks:

“Aoi, aku rasa ada hal-hal yang hanya akan diungkapkan oleh sesama gadis, jadi tolong ajukan beberapa pertanyaan kepada Keiko dan Yuuko. Aku akan sangat menghargainya jika kamu bisa bertanya, ‘Apakah kalian tidak kesal karena orang lain dari kelas kalian terpilih sebagai Saio-dai?’”

Pesan itu dari Holmes. Aku menatapnya sejenak.

Tunggu, apa? Dia sudah berencana memanfaatkanku sejak awal! Lagipula, bagaimana mungkin aku menanyakan hal seperti itu?!

Saat aku sedang menatap layar ponsel dengan kesal, seseorang tiba-tiba memanggilku, “Hei, anak SMA.”

Terkejut, aku berbalik. “Y-Ya?”

“Apakah kamu berpacaran dengan cowok itu?” Itu Keiko, tersenyum tetapi tampak sangat serius. Aku merasa kalah gertak.

“T-Tidak, aku hanya pekerja paruh waktu. Beneran.”

Keduanya saling pandang dengan riang.

“Syukurlah! Kamu tidak ketemu cowok ganteng seperti itu setiap hari.”

“Iya, dan dia kuliah di Universitas Kyoto!”

Aku dibuat bungkam oleh sikap mereka yang kurang peka.

Kedua gadis itu kemudian memelankan suara mereka.

“Tunggu, gawat! Dia bakal dengar.”

“Iya, aku lihat matanya tadi terus memperhatikan cowok itu.”

“Apakah kalian sedang membicarakan Saio-dai?” tanyaku pelan.

“Iya. Lihat deh, itu dia.”

Aku mengintip ke arah Saori.

“Dia cantik banget, kan? Dia selalu populer di kalangan cowok-cowok.”

“Dia selalu dapat sorotan. Dan sekarang dia jadi Saio-dai.”

“Ugh, aku tidak habis pikir.”

Aku dibuat bungkam lagi, kali ini oleh betapa blak-blakannya mereka di depan seseorang yang baru pertama kali mereka temui.

“K-Kesal ya kalau orang lain dari kelas kalian yang terpilih?” Aku tidak menyangka akan bisa menanyakan hal itu, namun kalimat itu keluar dengan sangat mudah dari mulutku.

“Itu mah bukan hal baru.”

“Apa maksud kalian?” tanyaku.

“Kami sudah kesal sejak lama.”

“Semua cowok paling suka sama Saori. Cowok-cowok yang kami sukai juga bilang kalau mereka naksir dia.”

“Kami sudah muak cuma dijadikan pembanding, jadi kami menjauhinya, tapi lalu ibunya datang dan memarahi kami.”

“Sumpah, itu konyol banget. Tapi untungnya gara-gara itu, kami bisa putus hubungan sama dia. Aku senang kami tidak perlu terjebak lagi buat bikin dia kelihatan lebih menonjol.”

“Iya, tidak enak banget jalan bareng cewek cantik yang disukai semua cowok.”

“Dan sekarang dia malah jadi Saio-dai. Bisa tidak sih dia tidak usah sok sempurna begitu?”

“Keluarganya juga terlalu memaksakan diri, kan? Mengincar posisi Saio-dai padahal pengaruh mereka sudah tidak sekuat dulu?”

“Bener banget, tidak ada yang spesial dari mereka sekarang. Dia cuma terpilih karena nama tokonya yang terkenal.”

“Ibunya juga pamer banget.”

Mereka berbicara dengan jujur seolah-olah lupa kalau aku ada di sana. Aku terperanjat.

Saori, Keiko, dan Yuuko adalah teman baik saat SMA, tetapi Saori jauh lebih cantik daripada yang lain, dan mata semua orang selalu tertuju padanya. Ketika cowok-cowok yang ditaksir Keiko dan Yuuko memuji Saori, rasa cemburu yang terendam dalam diri gadis-gadis itu meledak, dan mereka mengeluarkan Saori dari kelompok mereka. Ketika ibu Saori mengetahuinya, dia marah dan melabrak rumah mereka. Hal itu memutuskan persahabatan mereka untuk selamanya.

Sekarang mereka beralih menatapku. “Ngomong-ngomong, apa pendapatmu tentang cowok itu?”

“Apakah ketampanannya bikin kepalamu pusing?”

Merek berdua mulai mendesakku untuk menjawab, seolah-olah baru teringat alasan mereka mengajakku berbicara sejak awal.

“Y-Yah, dia memang tampan.” Jujur saja, dia memang terkadang membuat kepalaku pusing. “Dia… agak aneh.” Begitu aku mengatakan hal itu, kedua gadis itu mendadak kaku. Huh, apakah itu begitu mengejutkan?

“Sayang sekali mendengar hal itu, Aoi,” kata Holmes dari belakangku. Kali ini, wajahku sendiri yang berubah pucat pasi.

Berdiskusi di server Discord