Bab 3: Sejuta Doa

Induk Seri: Holmes of Kyoto [id]

Fitur Asisten Suara AI (Beta)
Berdiskusi di server Discord
Pengaturan Membaca
18px

Bulan Juni adalah musim hujan di Kyoto, sama seperti di kampung halamanku.

Musik jazz yang tenang mengalun di Kura, diiringi suara gesekan pena Manajer yang menari di atas kertas naskahnya. Sembari memegang papan jalan, aku sedang memeriksa stok barang ketika tiba-tiba aku tertegun dan menatap ke luar jendela. Orang-orang yang berjalan di luar membawa payung terlipat. Sepertinya hari ini hujan lagi. Musim ini rasanya seolah langit sedang menangis.

“Ada apa, Aoi?” tanya Manajer.

Tersadar dari lamunanku, aku kembali memegang papan jalan dengan erat. “Ah, maaf. Aku melamun sebentar.”

“Kalau kamu lelah, istirahat saja. Kamu bahkan boleh mengerjakan PR kalau mau. Aku dan Kiyotaka juga selalu sibuk dengan urusan kami sendiri di sini.” Di balik kacamata, mata Manajer menyipit, membentuk senyuman yang hangat.

Aku menggeleng. “Tidak, aku digaji di sini, jadi aku harus bekerja, walaupun kontribusiku tidak seberapa… Tapi kurasa aku tidak pantas bicara begitu setelah baru saja melamun.” Aku menundukkan bahuku dan Manajer terkekeh. Jujur saja, dia mirip sekali dengan Holmes kalau sedang begini.

Ngomong-ngomong, saat ini Holmes sedang di kampus, sementara sang Pemilik toko sepertinya sedang keluyuran di suatu tempat seperti biasa.

“Seperti yang kamu lihat, toko kita tidak punya banyak pelanggan. Tapi bukan berarti kita bisa meninggalkan toko tanpa pengawasan, jadi keberadaan seseorang yang menjaga toko saja sudah sangat membantu. Lagipula, kamu sudah banyak membantu membersihkan toko, menata pajangan, memeriksa stok, dan membungkus barang. Kami benar-benar berterima kasih atas bantuanmu,” kata Manajer dengan senyum lembut, membuat dadaku terasa hangat.

“T-Terima kasih banyak sudah berkata begitu.”

“Pemeriksaan stok barang tidak ada habisnya, jadi bagaimana kalau kamu istirahat sebentar dan kita minum kopi bersama?”

“Oh, kalau begitu, biar aku yang buatkan.”

Berbeda dengan Holmes yang menyeduh kopi sebagai hobi, Manajer tidak terlalu pandai dalam hal seperti itu. Jadi saat Holmes tidak ada, itu menjadi tugasku. Aku menyeduh kopi dengan teliti dan meletakkannya di dekatnya, berhati-hati karena ada kertas naskahnya di sana. “Ini kopinya.”

Tulisan tangannya sangat artistik—bahkan terlalu artistik sampai-sampai aku tidak bisa membaca sepatah kata pun.

Manajer mengambil cangkirnya dan berkata, “Naskah tulisan tangan rasanya sudah ketinggalan zaman ya sekarang?” seolah menyadari arah pandanganku.

“Ah, iya. Kuikir sekarang semua orang sudah pakai komputer.” Aku mengangguk dan duduk di sampingnya, siap menyambut pengunjung kapan saja.

“Orang-orang menyebutku sebagai beban bagi editorku sendiri.”

Mungkin itu ada benarnya, mengingat mereka harus mengetik ulang seluruh isi naskahnya. Aku juga kagum editornya bisa membaca tulisan tangan seperti itu.

“Apakah Anda tidak bisa menggunakan komputer?” tanyaku.

“Tidak juga. Aku bertukar pesan lewat surel, dan manajemen toko kami dikelola menggunakan Excel.”

Wah, tak disangka. Kpikir beliau menulis dengan tangan karena tidak bisa pakai komputer.

“Kalau begitu, kenapa tidak pakai komputer saja untuk menulis naskah? Bukankah begini malah lebih melelahkan?”

“Pertanyaan yang bagus… Aku memulai segalanya dengan menulis tangan, jadi aku sudah terbiasa. Namun yang terpenting, ketika aku mengetik di papan ketik, aku merasa tidak bisa menyalurkan jiwaku ke dalamnya.”

“Jiwa Anda?”

“Setiap orang berbeda-beda. Kalau untukku pribadi, aku merasa bisa menuangkan lebih banyak hal ke dalam tulisanku saat melakukannya dengan tangan.”

“Mungkin Anda benar. Rasanya mirip seperti saat menulis surat.”

“Tepat sekali. Aku sangat berharap surat tulisan tangan tetap menjadi bagian dari budaya kita. Tapi kalau untuk karya yang diterbitkan, editor tetap akan mengonversinya menjadi data digital pada akhirnya, jadi mungkin hasil akhirnya sama saja. Ini cuma masalah kepuasan batinku,” kata Manajer sambil terkekeh.

Jiwanya akan tetap terperangkap di dalam tulisan tangannya, ya?

“Aku sedang pelan-pelan membaca buku Anda. Luar biasa—rasanya buku itu memang benar-benar memiliki jiwa.”

Women’s Quarters, yang diterbitkan dengan nama pena Manajer, Takeshi Ijuin, berlatar di kediaman para wanita pada zaman Heian—dengan kata lain, harem milik Kaisar. Kisahnya menggambarkan badai kecemburuan yang melibatkan seorang pejabat yang menyingkirkan orang lain demi ambisinya, serta para selir yang nekat melakukan apa saja demi mendapatkan kasih sayang kaisar. Singkatnya, itu adalah drama cinta dan benci yang rumit. Tulisannya begitu realistis dan detail hingga di satu titik aku harus berhenti membaca karena terlalu mendalami dan merasa sakit. Aku terkejut Manajer yang tenang dan lembut bisa menulis cerita yang begitu kelam.

“Ah, kamu benar-benar membacanya? Sekarang kamu paham kan kenapa aku tidak ingin kamu membacanya?” Manajer tersenyum canggung sambil menyesap kopinya.

“Oh, k-kalau itu, bagaimana ya bilangnya… Aku cuma terkejut karena ceritanya begitu kelam.” Tanpa sengaja aku menjawab dengan jujur.

Manajer terkekeh. Beliau menatap ke luar jendela dan bergumam seolah bicara pada dirinya sendiri, “Semua kegelapan yang tersembunyi di dalam diriku kutumpahkan ke dalam karyaku.”

“Kegelapan tersembunyi…” Aku mendapati diriku menirunya dengan ikut menatap ke luar jendela.

Kurasa aku paham apa yang beliau maksud, secara garis besar. Aku pun memiliki sisi gelap di dalam diriku yang tidak bisa kubuang.

“Aku kehilangan ibuku saat masih kecil. Bukan karena meninggal dunia—tapi karena perceraian. Hanya tinggal aku dan ayahku, tapi seperti yang kamu lihat, ayahku selalu keluyuran. Jadi, aku dibesarkan oleh kerabat kami di Tokyo.” Manajer mulai menceritakan kisahnya dengan nada tenang, senada dengan alunan nada jazz yang sedang berputar di toko. Aku menunggu dengan sabar sampai beliau melanjutkan.

“Kerabat itu adalah adik laki-laki ayahku dan istrinya. Mereka tidak punya anak, jadi mereka memperlakukanku dengan sangat baik. Meski begitu, mereka bukan orang tua kandungku, jadi ada bagian dari diriku yang selalu merasa kesepian. Aku merindukan ayahku dan pulang ke Kyoto saat libur panjang, tetapi bahkan ketika kami sedang bersama, rasanya tetap tidak nyaman karena suatu alasan. Canggung rasanya jika hanya ada kami berdua sebagai sesama laki-laki.”

Aku juga bisa sedikit memahami apa yang beliau maksud. Jika ibu dan anak laki-laki mungkin tidak terlalu canggung, tetapi jika ayah dan anak laki-laki mendadak tinggal berdua saja, kedengarannya memang akan kaku.

“Ayahku tidak tahu harus berbuat apa denganku, jadi dia mengajakku ikut bekerja. Galeri seni dan keluarga kaya kerap memintanya melakukan penilai barang antik, dan diriku yang masih kecil merasa terpesona melihat bagaimana dia bisa secara instan mengenali barang palsu. Dia mirip sekali dengan Sherlock Holmes yang bisa membongkar kejahatan dalam sekejap. Ah, dulu aku ini anak yang gemar membaca buku,” tambah Manajer. Aku tersenyum dan mengangguk.

“Aku sangat mengagumi ayahku dan ingin menjadi penilai barang antik seperti dia suatu hari nanti. Aku belajar keras agar bisa masuk ke Universitas Kyoto semata-mata karena ingin kembali ke sisinya.”

“Begitu ya…”

“Namun, aku menyadari bahwa aku tidak memiliki ‘mata yang jeli’. Tidak ada yang bisa kubuat tentang hal itu, jadi aku merelakan impianku dan bekerja di perusahaan penerbitan. Mimpiku memang hilang, tetapi aku menikah dengan wanita yang sedang kukencan saat itu. Kami dikaruniai Kiyotaka dan hidup bahagia. Kiyotaka adalah cucu pertama ayahku, jadi dia sangat dimanja.”

“Aku bisa membayangkannya.”

“Malu untuk mengakuinya, tapi aku cemburu pada anakku sendiri karena aku tidak punya kenangan dimanja oleh ayahku. Aku memang menyayangi Kiyotaka, tetapi aku juga iri pada besarnya kasih sayang yang dilimpahkan ayahku kepadanya.”

Dada terasa agak sesak mendengar perkataannya. Rasanya tidak masuk akal bisa cemburu pada anak sendiri, tetapi dalam kasusnya, hal itu mungkin memang tidak terelakkan.

“Ketika Kiyotaka berusia dua tahun, istriku jatuh sakit dan meninggal dunia… Awalnya hanya flu biasa, tetapi ada komplikasi yang parah.”

“Ya ampun…”

“Karena semuanya berawal dari flu biasa, ayahku jadi sangat protektif terhadap Kiyotaka. Dia bersikeras, ‘Tubuhnya masih berkembang, jadi aku tidak bisa membiarkannya pergi ke tempat yang penuh kuman seperti taman kanak-kanak.’ Meskipun orang lain dan aku sudah memberitahunya bahwa terpapar bakteri melalui kehidupan bersosialisasi adalah cara anak-anak tumbuh sehat dan kuat, dia tidak mau mendengarkannya dan mulai mengawasi Kiyotaka setiap saat. Anakku adalah anak yang penurut, jadi ayahku membawanya ke mana pun dia pergi, baik itu ke lokasi penilaian barang maupun ke pasar lelang.”

Aku terkejut. Itu artinya Holmes tidak pernah mengenyam pendidikan di taman kanak-kanak.

“Kiyotaka memiliki ‘mata’ yang spesial sejak awal, dan bakatnya makin diasah oleh semua barang asli yang dia lihat sejak kecil. Suatu kali, ayahku, Kiyotaka, dan aku pergi ke pasar barang antik di sebuah kuil. Kiyotaka menarik lengan bajuku dan berkata, ‘Wah, mereka punya mangkuk Tsukinowa Yuusen di sini!’ Bagiku, itu hanya terlihat seperti mangkuk biasa, tetapi mata ayahku berbinar dan dia berteriak, ‘Kamu benar-benar jenius!’ Sebagai orang tua, aku seharusnya bangga juga, tetapi sebaliknya, aku merasa tidak berdaya dalam rasa iriku,” kata Manajer sambil menundukkan pandangannya.

Napas tersangkut di tenggorokanku. Aku tidak tahu harus berkata apa.

“Aku sangat menyayangi Kiyotaka, tetapi aku juga sangat cemburu padanya. Karena tidak tahu harus berbuat apa dengan perasaan itu, aku mengambil pena dan menulis kisah sejarah tentang seorang guru yang sangat cemburu pada pemuda berbakat. Aku memenangkan penghargaan Penulis Pendatang Baru Terbaik lewat cerita itu.”

“Wah, benarkah? Itu luar biasa.”

“Terima kasih. Itulah yang membawaku debut sebagai penulis. Namun bahkan sampai sekarang, aku masih merasakan cemburu yang membara terhadap bakat Kiyotaka. Aku melampiaskan semua emosi negatif itu ke dalam tulisan-tulisanku,” Manajer menjelaskan dengan tenang sebelum menyesap kopinya lagi.

Begitu rupanya… Memang menyakitkan rasanya jika harus merasa cemburu pada orang yang paling dekat dengan kita.

Manajer tersenyum getir melihatku yang tak sanggup berkata apa-apa. “Maaf ya tiba-tiba membicarakan hal ini. Aku belum pernah bicara jujur mengenai hal ini kepada siapa pun sebelumnya, jadi mungkin ada sesuatu yang spesial dari dirimu.”

“O-Oh, tidak sama sekali. Kurasa itu mungkin karena kita memiliki perasaan yang serupa. Aku juga punya emosi negatif yang terus berputar-putar di kepalaku.”

“Terhadap mantan sahabatmu yang merebut pacarmu?” tanya Manajer dengan tenang.

Aku mengangguk. “Ya, terhadap mereka berdua.”

“Tabunganmu seharusnya sudah hampir cukup untuk pergi ke Saitama, kan?”

“Iya, aku berhasil menabung cukup untuk ongkos kereta.”

“Tidak ada libur panjang di bulan Juni, tapi kamu pasti bisa pulang bulan depan saat libur musim panas, kan?”

Aku ragu-ragu, tidak mampu menjawabnya.

Manajer tersenyum lembut dan berkata, “Tidak perlu terburu-buru. Pikirkan saja perlahan-lahan.”

Aku mengangguk.

Manajer menatap ke arah pintu dan menyipitkan mata. “Ah, Kiyotaka sudah datang.”

Aku ikut menatap ke arah pintu. Lonceng berdentang saat Holmes masuk. Dia menyapa kami dan meletakkan payungnya di tempat payung.

“Bagaimana hujannya?” tanya Manajer.

“Sudah berhenti. Besok sepertinya akan cerah.”

“Ah, besok tanggal lima belas,” kata Manajer sambil melihat kalender di atas meja.

Besok hari Minggu, jadi aku akan bertugas di sini lagi.

“Apakah kamu akan pergi bulan ini juga, Kiyotaka?”

“Iya, aku ingin pergi.”

“Kalau begitu, ajaklah Aoi pergi bersamamu. Aku yakin itu akan menambah wawasannya,” usul Manajer seolah baru saja mendapatkan ide tersebut.

“Eh?” Aku menatapnya terkejut. “Umm, pergi ke mana?”

Holmes tersenyum dan berkata, “Pasar kerajinan tangan Kuil Hyakumanben Chion-ji. Mereka mengadakan pasar kaget setiap tanggal lima belas tiap bulannya, dan terkadang kamu bisa menemukan barang berharga yang luar biasa di sana. Seperti yang dikatakan Ayah, kurasa ini akan bagus untuk menambah wawasanmu, jadi datanglah. Tentu saja ini akan dihitung sebagai bagian dari pekerjaanmu.”

Aku tidak begitu mengerti, tetapi aku tetap mengangguk setuju.

Berdiskusi di server Discord