Bab 4 bagian 3
Induk Seri: Holmes of Kyoto [id]
Akhirnya kami tiba di pemberhentian terakhir, Stasiun Kurama. Stasiunnya sangat kecil dan bergaya kuno.
“Ini mengingatkanku pada film Poppoya.” Lho, bukankah latar film itu di Hokkaido? Mungkin semua stasiun kecil dan tergerus zaman seperti ini memang punya kemiripan. Bagaimanapun juga, potret Yoshitsune dan Benkei yang menghiasi stasiun ini benar-benar menghidupkan suasana Kurama, mengingat keduanya adalah bagian dari legenda lokal di sini.
Tepat setelah keluar stasiun, kami langsung dihadapkan pada patung wajah tengu berukuran besar.
“Wah, tengu-nya besar sekali—dan cuma wajahnya saja!” Wajah merah menyala, mata tajam yang menatap garang, serta hidung yang memanjang. Sangat cocok untuk Kurama, gunungnya para tengu.
“Banyak orang yang mengambil foto kenang-kenangan di sini. Kamu mau?”
“Ah, tidak usah, terima kasih.”
Holmes tampak terkejut dengan penolakanku yang serba cepat.
“Aku tidak suka difoto,” jelasku. “Tapi kalau mengambil foto kenang-kenangan, aku suka.” Aku memaksakan senyum sambil mengeluarkan ponsel dan memotret tengu tersebut.
“Berarti kamu juga tidak suka photobooth?”
“Hmm… kalau itu tidak apa-apa.”
“Begitu, ya. Kamu tipe orang yang matanya selalu menyipit di foto?”
Aku bisa merasakan darah mendesir naik ke pipiku. “B-Bagaimana kamu bisa tahu?”
“Aku cuma menebak, karena kamu tidak suka difoto tapi tidak masalah dengan photobooth. Soalnya di photobooth, gambarnya bisa diedit,” jawab Holmes dengan nada geli.
“Tidak perlu membacaikiranku sedalam itu, kan,” kataku sambil cemberut.
“Maafkan aku. Tapi aku tidak akan mengatakan hal seperti itu ke orang lain, kok,” ucapnya seolah berbicara pada diri sendiri.
“Akan?” Aku membeku.
“Ayo kita ke Kuil Kurama dulu, Aoi.”
“Ah, iya.”
Di samping stasiun terdapat deretan toko oleh-oleh. Yang paling menarik perhatianku adalah jajaran topeng tengu, tetapi ada juga spanduk bertuliskan “Ushiwaka Mochi”—sangat pas untuk Kurama, mengingat Ushiwakamaru adalah nama kecil Yoshitsune.
Setelah berjalan menanjak sebentar, Gerbang Nio milik Kuil Kurama mulai terlihat. Gerbang dua tingkat berwarna merah pudar itu persis seperti yang kubayangkan dari sebuah kuil di atas gunung.
“Gerbang ini dibangun oleh Tankei, seorang pemahat dari zaman Kamakura, dan menampung Nio, dua dewa pelindung kuil. Gerbang ini menjadi pembatas antara dunia fana dan kawasan suci,” terang Holmes.
“M-Maksudnya area di balik gerbang ini sudah disucikan?”
“Benar. Ini adalah ‘pusaran energi’ yang lumayan terkenal, seperti yang sering dikatakan orang-orang.”
“Iya. Aku juga pernah mendengarnya.” Aku mengangguk dan melewati gerbang itu bersama Holmes. Sekarang kami berada di tanah suci… “Udaranya terasa berbeda,” kataku dengan wajah serius.
Holmes tertawa kecil.
“Kamu berpikir kalau aku cuma terkena efek plasebo, ya?” tanyaku.
“Memang, tapi menurutku itu hal yang bagus. Contohnya, saat kamu melewati Gerbang Nio ini, persepsimu akan berbeda tergantung apakah kamu tahu kisahnya atau tidak. Itu memang plasebo, tapi kamu akan mendapat nilai lebih dari tindakan itu jika kamu memanfaatkannya untuk lebih menikmati suasana.”
Mungkin dia benar. Aku merasa bahwa tahu area ini adalah tanah suci membuat momen melewati gerbang terasa lebih spesial daripada jika aku tidak mengetahuinya.
Setelah berjalan lebih jauh, kami sampai di sebuah kuil kecil bernama Kuil Kiichi Hogen.
“Konon Kiichi Hogen, guru seni beladiri yang mengajari Ushiwakamaru strategi perang, disemayamkan di sini,” kata Holmes.
“Aku pernah mendengar legenda bahwa Ushiwakamaru dilatih oleh tengu, tapi ternyata oleh orang ini, ya?”
“Namun, ada juga yang mengatakan kalau Kiichi Hogen sebenarnya tokoh fiktif.”
“Lho, begitu ya?”
“Iya. Minamoto no Yoshitsune memang sosok yang misterius dalam berbagai hal.”
“Memang.” Aku mengangguk. “Tapi benar kan kalau dia dibesarkan di sini, di Gunung Kurama?” tanyaku sambil kami berjalan perlahan di jalur pegunungan.
“Benar. Ushiwakamaru adalah putra ketiga dari kepala klan Minamoto, Minamoto no Yoshitomo, dan selir kesayangannya, Gozen Tokiwa. Ketika Yoshitomo dikalahkan oleh klan Taira, dia takut ada kemungkinan besar anak-anaknya juga akan dibunuh. Namun, pada akhirnya, Taira no Kiyomori mengampuni mereka, dan Ushiwakamaru dibesarkan di sini di Kurama.”
“Kenapa dia diampuni?” Tunggu, ini bukannya pengetahuan umum bagi siapa saja yang belajar sejarah dengan serius? Aku menghafal semua nama zaman itu di kepalaku, tapi detailnya agak samar. Maafkan aku yang jadi murid tidak berguna ini, sungguh.
“Menurut salah satu teori, ibu Ushiwakamaru, Gozen Tokiwa, adalah wanita yang luar biasa cantik. Kiyomori jatuh cinta pada pandangan pertama dan memintanya untuk menjadi selirnya. Gozen Tokiwa menjawab, ‘Hanya jika Anda mengampuni nyawa anak-anak saya.’ Kiyomori menyetujui syarat tersebut.”
“E-Eh? Berarti Gozen Tokiwa menjadi wanita simpanan komandan musuh—orang yang membunuh suaminya—demi menyelamatkan anak-anaknya?”
“Iya, benar.”
“Dan pada akhirnya, Kiyomori dikalahkan oleh anak yang dia ampuni itu, kan?”
“Ya, itulah yang dinamakan karma.”
Aku menarik napas dalam-dalam. Sungguh sebuah karma. “Seseorang sekuat Kiyomori pasti punya banyak wanita cantik di sekitarnya. Kenapa dia repot-repot menjadikan istri musuhnya sebagai selir? Apakah dia secantik itu?”
“Pertanyaan yang bagus. Gozen Tokiwa konon dipilih dari antara seribu wanita. Dia adalah pemenang kontes kecantikan pertama di Jepang.”
“Lho? Maksudnya bagaimana?”
“Permaisuri saat itu—dengan kata lain, istri kaisar—sangat menyukai hal-hal indah dan ingin memilih orang-orang berparas cantik untuk menjadi pelayannya. Dia mengumpulkan seribu wanita cantik Kyoto untuk dinilai, dan orang terakhir yang terpilih adalah Gozen Tokiwa. Jadi, Gozen Tokiwa memang wanita tercantik di Kyoto. Tentu saja, tidak ada yang tahu seberapa banyak dari kisah ini yang benar-benar terjadi.”
“W-Wah, menarik sekali.”
“Memang.”
Sambil mengobrol, akhirnya kami sampai di Kuil Kurama. Bangunan tunggal di puncak gunung itu ternyata lebih sederhana dari yang kubayangkan. Eksteriornya simpel, mungkin cocok untuk kuil pegunungan. Yang membuatku penasaran adalah patung penjaga batunya bukan anjing-singa seperti biasanya.
“Ini harimau, kan?” tanyaku.
“Iya, kuil ini memiliki harimau sebagai penjaganya.”
Dan yang paling menarik perhatian adalah segi enam besar di tanah tepat di depan bangunan utama. Di tengahnya terdapat ubin batu berbentuk segitiga.
“Ini adalah pusaran energi paling terkenal di sini,” kata Holmes.
“Oh, aku pernah lihat ini di TV! Katanya energi memancar ke sini dari luar angkasa. Aku mau coba berdiri di atasnya.” Karena dasarnya antusias, aku melangkah ke segitiga di pusat diagram itu. Saat aku melakukannya, aku merasakan sengatan listrik statis di tangan kananku—“Uwah!” Aku panik dan mengepalkan tanganku. Apa itu tadi? Aku cepat-cepat melangkah keluar dari segi enam dengan bingung. Aku mencoba menginjaknya lagi, tapi kali ini tidak terjadi apa-apa.
“Ada apa?”
“Oh, tidak ada apa-apa…” Aku terlalu malu untuk mengatakan hal klise seperti “Aku merasakan sengatan di tanganku.” Kuil ini terlihat biasa saja, tapi mungkin tempat ini benar-benar luar biasa.
Aku melihat ke arah bangunan kuil dan mengalihkan topik. “Apakah di sini tempat tinggal Ushiwakamaru?”
Holmes mengangguk. “Iya. Dia tumbuh menjadi sosok yang kuat dan sehat di atas gunung ini, jadi aku bisa paham kenapa fisiknya bisa lebih tangguh dari kebanyakan orang.”
“Benar juga,” aku terkikik.
Dia lahir dari wanita cantik yang terpilih dari seribu orang, dan kasih sayang ibunyalah yang membuatnya bisa bertahan hidup. Dia kemudian dibesarkan di kuil ini, dan ketika akhirnya dia turun ke kota, dia bertemu Benkei di Jembatan Gojo. Di sana mereka berduel di bawah sinar bulan, dan dikatakan bahwa Ushiwakamaru muda bertubuh tampan, ramping, dan bertarung dengan lincah seolah sedang menari. Aku tidak tahu seberapa banyak dari cerita itu yang benar, tapi rasanya sungguh mengagumkan.
Berikutnya, kami berjalan menyusuri “Jalur Akar Pohon” menuju Desa Kibune. Cuacanya bahkan lebih cerah dari yang kubayangkan. Karena kami berada di pegunungan, anginnya jauh lebih sejuk daripada di bulan Juli pada umumnya, dan rasanya benar-benar menyenangkan. Cuaca yang sempurna untuk mendaki.
Akhirnya, Kuil Kifune dengan torii merahnya yang indah mulai kelihatan. Katanya dewa-dewa air telah dipuja di sini sejak zaman kuno. Lentera taman berwarna merah berbaris di kedua sisi tangga batu. Banyak pohon bambu ditanam di sekitar area kuil, dan kertas warna-warni tergantung di dahan-dahannya.
“Oh iya, sebentar lagi kan Festival Tanabata,” komentarku.
“Kamu bisa menuliskan permohonanmu dan menggantungkannya di salah satu tanaman. Kamu mau?” tanyanya sambil tersenyum.
“Hmm…” Aku melihat selembar kertas yang bertuliskan “Aku berharap aku dan pacarku akan saling mencintai selamanya” dan langsung memalingkan wajah. “Sepertinya kali ini tidak usah saja.”
“Baiklah. Mau masuk dan berdoa ke kuil?”
“Boleh.”
Kami berdoa di kuil bersama-sama dan memutuskan untuk mencoba ramalan air yang terkenal di sana. Ada kolam khusus di dekat bangunan utama tempat kita bisa mengapungkan kertas ramalan kosong di atas air spiritual untuk memunculkan kata-kata.
“Ini keren, ya?” kataku.
“Memang,” jawab Holmes.
Kami membeli kertas ramalan kami dan meletakkannya di atas air. Tak lama kemudian, aku melihat tulisan “Keberuntungan Besar” muncul di kertasku.
“Wah, keberuntungan besar! Hore!”
“Punyaku tulisannya keberuntungan baik.”
“Itu bagus juga, Holmes!”
“Memang.”
Kami mengambil kertas ramalan kami dan tertawa bersama.
Holmes memeriksa waktu dan berkata, “Sepertinya sudah waktunya makan siang.”
Aku mengangguk dengan senyum tipis. “Oh, baiklah. Aku sebenarnya sudah cukup lapar.” Akhirnya saatnya menikmati lesehan pinggir sungai (kawadoko). Jantungku berdebar kencang penuh antisipasi.
Bab Ini Masih Terkunci
Bab ini dijadwalkan rilis gratis pada .
Ingin baca instan sekarang? Dukung penerjemah di halaman Donasi Novelfire untuk klaim token eksklusif Anda.