Chapter 4 part 5-1

Induk Seri: Holmes of Kyoto [id]

Fitur Asisten Suara AI (Beta)
Berdiskusi di server Discord
Pengaturan Membaca
18px

Kami minum teh sambil menunggu, dan aku mencoba memasukkan tanganku ke dalam air sungai (yang memang terasa dingin). Duapuluh atau tiga puluh menit kemudian, seseorang dari kediaman Kajiwara tiba untuk menjemput kami dari restoran, dan kami menemuinya di luar pintu masuk.

“Saya Kurashina, sekretaris Tuan Kajiwara,” katanya sambil membungkuk. Pria berjas dan berbadan ramping itu tampak berusia empat puluhan.

Kajiwara punya sekretaris? Hebat juga, pikirku.

“Saya Kiyotaka Yagashira.”

“S-Saya Aoi Mashiro.”

Kurashina tersenyum menanggapi perkenalanku. “Senang bertemu dengan Anda sekalian.”

“Terima kasih sudah datang menjemput kami,” kata Holmes.

“Ini sudah sepantasnya, apalagi kami mendadak memaksakan permintaan ini kepada Anda. Silakan masuk ke mobil,” kata Kurashina sambil membukakan pintu belakang mobil Benz yang terparkir di depan restoran.

Mobil Benz! Dan warnanya hitam!

“Penulis memang kaya-kaya, ya?” bisikku pada diri sendiri, merasa kagum. Aku dan Holmes lalu masuk ke dalam mobil.

“Aoi, apakah kamu tahu film Struggle for Power?” tanya Holmes.

“Ya, aku pernah dengar. Itu film tentang perseteruan politisi dan yakuza, kan?” Aku tidak menontonnya karena tidak tertarik dengan genre tersebut, tetapi film itu sangat terkenal sampai diadaptasi menjadi serial TV.

“Kajiwara adalah penulis novel yang diadaptasi menjadi film tersebut.”

“Oh, ya? Wah, hebat.”

Kurashina terkekeh sambil duduk di kursi pengemudi. “Film itu memang bukan ditujukan untuk gadis muda.”

“M-Maaf. Tapi sepertinya ayahku menontonnya.” Aku samar-samar mengingat jalan ceritanya yang sangat rumit.

“Kajiwara adalah mahasiswa Universitas Tokyo di masa yang marak dengan aksi protes mahasiswa. Setelah lulus, ia menjadi pengacara dan sesekali melihat sekilas dunia bawah tanah. Ia menulis Struggle for Power berdasarkan banyak pengalaman pribadinya hingga memenangkan Penghargaan Penulis Pendatang Baru Terbaik. Buku itu sukses besar, diadaptasi menjadi drama TV dan film, serta melambungkan kariernya sebagai penulis ke puncak kejayaan,” terang Holmes seperti biasa.

“Kamu tahu banyak hal, Kiyotaka.”

“Tentu saja. Beliau dekat dengan ayahku, jadi secara pribadi aku juga bangga dengan hubungan itu,” kata Holmes dengan senyuman terbaiknya. Dia selalu punya jawaban yang sempurna untuk segala hal.

“Namun, Kajiwara tidak hanya menulis Struggle for Power. Beliau juga menulis kisah-kisah indah seperti Flowers of All Kinds dan Forbidden Fruit,” ujar Kurashina dengan riang sambil menyetir. Cara bicaranya santai, tetapi aku bisa merasakan antusiasme dalam kata-katanya.

“Memang, buku-buku Kajiwara tentang topik tabu juga sangat sukses. Anda sendiri sepertinya penggemar beratnya, Tuan Kurashina.”

Kurashina ragu-ragu sejenak sebelum berkata, “Tentu saja. Saya bahkan mungkin penggemar terbesarnya.” Dia tampak malu karena perasaannya tersingkap.

Mobil melaju menaiki jalan pegunungan.

“Wah, kita benar-benar ada di dalam gunung,” komentarku sambil melihat keluar jendela. Dedaunan hijau di luar tampak begitu memesona. Pemandangan ini mungkin tidak berubah sejak ratusan atau ribuan tahun lalu, dan pemikiran itu terasa menyentuh bagiku.

Kami berbelok dari jalan utama ke jalan yang lebih kecil, dan tak lama kemudian, sebuah pondok kayu bergaya konvensional muncul di antara pepohonan.

“Wah, bagus sekali tempat ini!”

“Terima kasih. Ini adalah studio milik Tuan Kajiwara.”

“Apakah beliau biasa mengurung diri di sini saat menulis?” tanya Holmes.

“Ya,” jawab Kurashina sambil mengangguk. “Istrinya dan saya juga sering datang ke sini, jadi bisa dibilang ini rumah keduanya.”

“Di mana rumah utamanya?”

“Saat ini berupa apartemen di Shijo. Beliau tinggal di sebuah rumah di Kinugasa saat putra-putranya masih kecil, tetapi setelah ketiganya dewasa dan pindah, beliau dan istrinya pindah ke apartemen karena rumah itu terlalu besar untuk mereka berdua.”

Kurashina memarkir mobil di depan pondok gunung tersebut dan kami segera turun. Hembusan angin yang menyegarkan membawa aroma dedaunan.

“Udaranya segar sekali,” kataku sambil merentangkan tangan dan menarik napas dalam-dalam. Rasanya atmosfer di sini dipenuhi oleh energi spiritual Gunung Kurama. Aku bisa memahami mengapa seorang penulis memilih menyendiri di sini untuk berkarya.

“Silakan masuk,” kata Kurashina. Saat ia mulai berjalan menuju pondok, pintu depan terbuka dan memunculkan seorang wanita yang kutebak adalah istri Kajiwara.

“Terima kasih sudah datang. Saya istri Kajiwara, Ayako,” kata wanita itu sambil membungkuk dalam-dalam. Kutebak usianya sekitar lima puluhan. Dia langsing dan cukup cantik untuk menjadi seorang aktris.

“Senang bertemu dengan Anda. Saya Kiyotaka Yagashira. Ayah saya selalu senang bercerita tentang Anda.”

“Oya, apa saja yang dikatakan Ijuin tentang saya?”

“Setiap kali pulang dari pertemuan dengan Anda, dia selalu berkata, ‘Dia cantik sekali. Aku iri pada Kajiwara.’”

“Dasar pandai merayu. Terlepas dari itu, kamu mirip sekali dengannya, Kiyotaka,” kekehnya. Dari aksennya, aku tahu dia bukan berasal dari daerah Kansai. “Maaf ya sudah mengganggu kencan kalian,” katanya sambil melirik ke arahku. Aku terperanjat. K-k-k-kencan?!

“Jadi, apa yang ingin Anda tanyakan kepada saya?” Holmes mengabaikan komentar itu dan dengan cepat mengalihkan pembicaraan. Tunggu, apa dia secara tidak langsung mengakui kalau ini kencan? Tapi kalau dilihat-lihat dari sudut mana pun, ini memang kelihatan seperti kencan.

“Oh, silakan masuk dulu.” Ayako membukakan pintu lebar-lebar untuk kami.

“Baiklah.”

Kami melangkah masuk ke dalam pondok gunung. Ruang tamunya bernuansa retro ala era Showa. Ada lampu gantung hitam, jam berdiri besar yang mirip dengan yang ada di Kura, meja bar, dan meja biliar. Tiga pria tampak duduk di sofa beludru. Mereka berdiri saat melihat kami dan berkata secara berurutan:

“Anda pasti putranya Ijuin…”

“…dan cucunya Seiji Yagashira.”

“Terima kasih sudah datang hari ini.”

Mereka bertiga kemungkinan adalah putra-putra Kajiwara. Dari yang tertua hingga yang termuda, wujud mereka tampak seperti berusia awal tiga puluhan, pertengahan dua puluhan, dan awal dua puluhan. Tiga bersaudara itu tampak sedikit khawatir melihat betapa mudanya Holmes, meskipun mereka tidak mengatakannya secara terang-terangan.

“Senang bertemu dengan Anda sekalian. Saya Kiyotaka Yagashira.”

“S-Saya Aoi Mashiro.”

“Senang bertemu dengan kalian. Saya putra sulung, Fuyuki,” kata pria berusia awal tiga puluhan itu. Kesan pertamaku terhadapnya adalah seorang pebisnis muda.

“Saya putra kedua, Akihito.” Pria berusia pertengahan dua puluhan itu tampak lemah lembut dan memiliki aura seniman. Wajahnya cukup tampan, mungkin mirip dengan ibunya.

“Saya putra ketiga, Haruhiko.” Pria yang satu ini tampak seumuran dengan Holmes. Dia penuh senyum dengan aura yang ramah dan kelihatan seperti orang baik.

Berdasarkan penampilan luar mereka, aku menduga putra sulung, Fuyuki, mirip dengan ayah mereka—yang belum pernah kutemu, tetapi aku tahu adalah pria tegap dari Kyushu—sedangkan putra kedua, Akihito, mirip dengan ibu mereka, dan putra ketiga, Haruhiko, adalah perpaduan keduanya. Selain itu, kamu bisa menebak musim kelahiran mereka dari nama masing-masing, di mana “Fuyu” berarti “musim dingin,” “Aki” berarti “musim gugur,” dan “Haru” berarti “musim semi.” Nama-nama yang agak kurang imajinatif untuk ukuran seorang penulis…

“Yah, tidak aneh jika seorang penulis kesulitan memberi nama pada anaknya sendiri,” bisik Holmes pelan, hanya bisa didengar olehku. Aku terkejut. Jangan baca pikiranku! Menakutkan tahu!

“Silakan duduk,” kata Ayako. Sesuai arahan, kami duduk di sofa beludru. Kopi dan biskuit langsung disajikan untuk kami, dan aku lega melihat susu dan gula juga disediakan.

“Kiyotaka, kudengar kamu kuliah di Universitas Kyoto sama seperti ayahmu.”

“Ya, tapi saya mulai dari S2. Sebelumnya saya di Universitas Prefektur Kyoto,” jawab Holmes sambil tersenyum.

“Ah, KPU. Haruhiko sekarang semester empat di sana.”

“Mungkin aku juga akan mencoba masuk Universitas Kyoto untuk S2 nanti,” kata Haruhiko sambil tertawa. Jika Haruhiko mahasiswa semester empat, berarti usianya sekitar 20 tahun.

Putra kedua, Akihito, yang duduk di meja bar, mengedikkan bahu. “Aku tidak pernah kuliah, jadi hal-hal seperti itu asing buatku.”

“Itu karena kamu kabur dan bilang mau jadi aktor,” kata Fuyuki, si putra sulung, sambil tertawa getir.

“Karena Kakak masuk Universitas Tokyo sama seperti Ayah, aku merasa tidak enak karena otakku tidak encer. Tapi ya, karena Kakak pindah ke Tokyo, aku jadi bisa pergi ke sana juga.”

“Hanya karena kamu menumpang tinggal tanpa diundang dan menempel padaku. Ya ampun.”

Ayako menyela, “Suamiku berpura-pura menentangnya, tetapi di dalam hati, beliau bersedia membantu Akihito jika ia benar-benar ingin menjadi aktor. Namun Akihito bilang dia tidak ingin terkenal karena pengaruh orang tuanya, jadi dia belajar akting sambil menyembunyikan kenyataan bahwa dia adalah putra Naotaka Kajiwara. Kerja kerasnya perlahan membuahkan hasil, dan sekarang dia mulai muncul di film dan acara TV, meskipun baru peran-peran kecil.” Ia tampak malu tetapi antusias menceritakan kisah putranya.

“Kudengar Anda sendiri awalnya juga ingin menjadi aktris, Bibi Ayako. Anda bertemu dengan suami Anda lewat sebuah audisi, kan?” tanya Holmes sambil meminum kopinya.

Ayako mengangguk. “Ijuin menceritakan semuanya padamu, ya? Ya, itu benar. Saya tidak punya bakat untuk menjadi aktris, tetapi untungnya, putra saya mewarisi impian saya.”

Bibi Ayako, ini bukan karena Manajer menceritakan semuanya pada Holmes. Tapi karena Holmes bisa mengetahui segalanya dalam sekejap mata, batinku diam-diam sambil mendengarkan percakapan mereka.

Holmes meletakkan cangkir kopinya di atas meja dengan bunyi berdenting, mendongak, lalu bertanya, “Jadi, apa yang ingin Anda sekalian bicarakan hari ini?”

Ayako dan Kajiwara bersaudara saling pandang, seolah bingung harus mulai dari mana. Kemudian, sang sekretaris, Kurashina, melangkah maju. “Izinkan saya menjelaskan situasinya.”

Suasana ramah di ruang tamu seketika berganti dengan ketegangan.

“Ketika Tuan Kajiwara meninggal dunia, beliau meninggalkan dua surat wasiat kepada pengacaranya. Yang pertama langsung dibuka dan merupakan surat wasiat formal yang merinci pembagian asetnya. Untuk surat wasiat kedua, kami diinstruksikan untuk membukanya tiga bulan kemudian di pondok gunung ini. Peringatan tiga bulan kematiannya jatuh pada tiga hari yang lalu, jadi kami datang ke sini untuk menerima surat wasiat tersebut dari sang pengacara. Di dalamnya tertulis, ‘Aku ingin memberikan salah satu lukisan kesayanganku kepada masing-masing dari ketiga putroku,’ beserta kata sandi menuju brankas. Brankas itu berisi tiga gulungan lukisan gantung.”

Aku meneguk ludah saat mendengarkan cerita itu.

“Gulungan lukisan gantung, katamu?” ujar Holmes pelan.

Mereka pasti memanggilnya ke sini untuk melakukan penaksiran. Tiga gulungan lukisan gantung yang ditinggalkan oleh seorang penulis terkenal untuk putra-putranya… Berapa nilainya? Aku mulai merasa antusias.

Saat aku duduk di samping Holmes sambil menunggu gulungan itu dikeluarkan dengan cemas, Kurashina menghela napas dan menundukkan pandangannya. “Ya. Sebuah lukisan Taira no Kiyomori untuk Fuyuki, putra sulung; lukisan Gunung Fuji untuk Akihito, putra kedua; dan lukisan Taira no Tadamori untuk Haruhiko, putra ketiga. Berpikir bahwa lukisan-lukisan itu mungkin bernilai tinggi, kami segera memanggil penaksir dan mendapati bahwa semuanya hanyalah barang reproduksi tanpa nilai khusus sebagai barang antik. Kami kemudian berspekulasi bahwa Tuan Kajiwara hanya ingin memberikan karya seni favoritnya kepada putra-putranya.”

Aku menatapnya dengan tatapan kosong. Penaksirannya sudah dilakukan? Lalu untuk apa mereka memanggil Holmes ke sini? Sementara itu, ekspresi Holmes tetap tak berubah saat menunggu Kurashina melanjutkan.

Sebagai gantinya, Fuyuki menghela napas panjang. “Hari itu, kami minum-minum di sini di pondok gunung sambil membicarakan bagaimana kami akan merawat gulungan lukisan itu dengan baik. Semuanya berjalan lancar saat kami tertidur, tetapi keesokan paginya, sesuatu yang buruk telah terjadi.”

Berdiskusi di server Discord