Chapter 4 part 5-3

Induk Seri: Holmes of Kyoto [id]

Fitur Asisten Suara AI (Beta)
Berdiskusi di server Discord
Pengaturan Membaca
18px

Sebelum Haruhiko sempat menjawab, kedua kakaknya menyuarakan rasa tidak senang mereka:

“Ayah selalu memanjakannya.”

“Iya, enak ya jadi anak bungsu.”

“Mungkin karena aku anak yang penurut, makanya Ayah selalu baik padaku. Tapi ya, kakak-kakakku kan sering dimarahi, jadi aku berusaha hati-hati supaya tidak dimarahi juga.”

Menurutku itu keistimewaan yang umum bagi anak bungsu. Aku juga punya adik laki-laki yang baru masuk SMP, dan dia hidupnya lebih mudah karena melihat hal-hal apa saja yang membuatku dimarahi.

“Haruhiko, apa yang kau pikirkan saat melihat gulungan lukisan itu?”

“Hmm, kurasa aku tidak mengerti lukisannya.” Haruhiko tersenyum dan melipat tangannya.

“Maksudmu?”

“Maksudku, gulungan milik kakak-kakakku bisa langsung dikenali sebagai Kiyomori dan Gunung Fuji, tapi miliki adalah prajurit yang tidak dikenal. Aku bertanya pada Ibu dan kakak-kakakku siapa orang itu, tapi mereka juga tidak tahu. Penilai Yanagihara-lah yang memberi tahu kalau itu adalah Taira no Tadamori,” Haruhiko menjelaskan dengan senyum pahit. Aku bisa tahu kalau dia kecewa dengan lukisannya.

“Begitu. Aku sudah berniat menanyakan ini, tapi bisakah kalian menceritakan lebih banyak tentang lukisan di gulungan tersebut? Fuyuki, milikmu adalah Taira no Kiyomori, tapi seperti apa gambarnya?”

Tiga bersaudara itu saling memandang.

“Coba kupikir… Kiyomori memakai kimono emas, lalu ada matahari merah terang dan kipas lipat besar,” kata Fuyuki sambil mengingat kembali lukisan itu.

Holmes tersenyum paham dan mengangguk. “Apakah itu ‘Kiyomori Memanggil Kembali Matahari Terbenam’?”

“Kiyomori Memanggil Kembali Matahari Terbenam?” tanya kami semua serempak.

“Itu mengacu pada penampilan Kiyomori dalam pertunjukan kabuki Beckoning at Itsukushima.”

“Oh!” seru Ayako. “Kalau dipikir-pikir, suamiku dulu memang suka kabuki.”

“Ayahku juga suka, dan sesekali pergi bersama Kajiwara untuk menonton pertunjukan.”

“Kamu benar.”

Holmes dan Ayako terkekeh bersama.

“Nah, kalau begitu, seperti apa lukisan Gunung Fuji milik Akihito?” tanya Holmes, kembali ke topik semula.

Akihito melipat tangannya. “Hmm. Secara keseluruhan warnanya cokelat kekuningan dan punya bentuk Gunung Fuji yang tajam dengan naga hitam yang membubung ke langit.”

“‘Naga di Atas Gunung Fuji’, kalau begitu. Catat. Sekarang giliranmu, Haruhiko.” Holmes berbalik dengan cepat.

“E-Eh, cuma perasaanku saja, atau aku baru saja dicueki?” Akihito terdengar kesal.

“Menarik sekali kau mengeluh, padahal kau yang memprovokasiku duluan,” kata Holmes, berbalik lagi dengan senyuman kelas satu di wajahnya. Akihito terhenti di tempat, tertekan oleh dampaknya.

Itu dia—serangan kejamnya yang terbalut senyuman. Dia tidak terang-terangan mencela lawannya, tapi kata-katanya tetap saja menusuk. Begitulah cara main cowok Kyoto!

Aku mendapati diriku mengepalkan tangan menyaksikan pertarungan abstrak ini.

“Jadi, seperti apa lukisan Haruhiko?” tanya Holmes, dengan cepat kembali ke ekspresi seriusnya. Suasana tegang kembali terasa.

“Oh, lukisan di gulunganku menggambarkan seorang prajurit dan seorang pendeta tua yang membawa lentera di dalam hutan.”

“Seorang pendeta membawa lentera…” Holmes terdiam sejenak sebelum berkata, “Begitu. Terima kasih.” Dia kemudian mengalihkan pandangannya ke Ayako. “Bisakah Anda memperkenalkan diri Anda juga, Ayako?”

Wanita itu mendongak, terkejut. Dia mungkin tidak menyangka akan diinterogasi. “Oh, aku? Baiklah. Namaku Ayako Kajiwara… umurku lima puluh tiga tahun,” katanya, ragu-ragu sebelum menyebutkan umurnya.

“Kapan Anda menikah?”

“Aku bertemu Naotaka saat umur delapan belas tahun, dan kami menikah saat aku berumur dua puluh tahun.”

“Dia tujuh tahun lebih tua dari Anda, kan?”

“Iya.”

“Apakah Anda tahu kalau dia menyiapkan gulungan lukisan untuk ketiga putra Anda?”

“Tidak, aku sama sekali tidak tahu.”

“Apakah dia tidak menyiapkan apa pun untuk Anda?”

“Tidak. Oh, tapi…” Ayako memperlihatkan batu permata biru muda yang berkilau di jari manis kirinya kepada kami. “Dia memberiku ini sebelum dia meninggal. Ini cincin dengan batu kelahiranku.”

“Aquamarine. Kalau begitu Anda lahir di bulan Maret.”

“Iya. Kamu tahu banyak hal ya, Kiyotaka.” Ayako menyentuh cincin itu, tampak senang.

“Ayako, apa yang Anda pikirkan saat melihat lukisan-lukisan itu?”

“Hmm, aku sangat yakin kalau itu pasti karya seni yang berharga, jadi aku agak bingung saat mendengar kalau ternyata bukan.”

“Apakah suami Anda menyukai gulungan lukisan?”

“Dia tertarik pada apa saja dan segalanya, jadi itu salah satu alasannya. Tapi agak mengejutkan juga, karena kami tidak pernah memajang satu pun di apartemen kami atau di pondok ini.”

“Paham. Terima kasih.”

Berikutnya, Holmes beralih ke Kurashina. “Terakhir, Kurashina, silakan.”

“Tentu.” Kurashina mengangguk dengan wajah serius. “Yohei Kurashina, empat puluh dua tahun. Aku bekerja sebagai sekretaris Kajiwara.”

“Apakah Anda sudah tahu tentang gulungan lukisan itu sebelumnya, Kurashina?”

“Tidak. Hanya pengacara yang memegang surat wasiat kedua yang tahu tentang itu.”

Holmes jeda sejenak. “Begitu. Ngomong-ngomong, apa yang membuat Anda menjadi sekretaris Kajiwara?”

“Malu untuk mengakuinya, tapi aku dulu anggota geng motor,” kata Kurashina dengan senyum pahit.

“Hah?” Hanya aku satu-satunya yang jelas-jelas terkejut.

“Sulit dipercaya kan kalau melihat dia yang begitu serius sekarang?” Ayako terkekeh. Tiga bersaudara itu ikut tertawa. Tampaknya seluruh isi rumah sudah mengetahuinya. Dan Holmes kemungkinan juga sudah tahu.

“Saat aku berumur delapan belas tahun, kenakalanku memicu masalah dengan polisi, dan Kajiwara adalah pengacara yang membantuku. Aku mengaguminya karena hal itu dan selalu menempel di dekatnya karena ingin berguna dengan cara tertentu. Dia mempekerjakanku sebagai sopirnya, dan dua tahun kemudian, dia berkata, ‘Kamu lumayan berguna’ lalu mengizinkanku menjadi sekretarisnya,” Kurashina menjelaskan dengan ceria.

Tiga bersaudara itu mengangguk mantap.

“Kurashina mungkin mantan berandalan, tapi dia sangat pintar.”

“Bagaimanapun juga, akademis bukanlah segalanya.”

“Dan yang paling penting, dia menyelamatkan nyawa Ayah kami!”

Mata Holmes membesar mendengar pernyataan terakhir itu. Tampaknya itu adalah informasi baru baginya.

“Itu benar. Setelah Ayah menulis Struggle for Power, dia membuat marah kelompok yakuza yang menjadi dasarnya. Salah satu anggotanya yang lebih impulsif menerjangnya dengan pisau, dan Kurashina menghalangi jalan lalu tertusuk menggantikannya,” Fuyuki menjelaskan.

“Aku… tidak tahu tentang itu.” Holmes melipat tangannya, tampak terkesan.

“Itu bukan masalah besar kok. Cuma butuh dua minggu untuk pulih sepenuhnya, dan karena kejadian itu tidak dipublikasikan, Kajiwara bisa berdamai dengan yakuza tersebut. Berakhir dengan baik untuk semuanya,” kata Kurashina sambil tersenyum.

“Ayah kami menaikkan jabatan Kurashina dari sopir menjadi sekretaris sebagai rasa terima kasih. Tapi tentu saja, itu juga karena dia memang mampu melakukan pekerjaannya,” kata Fuyuki.

“Begitu.” Holmes mengangguk. “Aku punya pertanyaan lain untuk kalian semua. Kapan Yanagihara melakukan penilaian untuk kalian?”

“Kami menyuruhnya datang tepat setelah kami dan pengacara mendapatkan gulungan lukisan itu di sini.”

“Kalian menyuruh Yanagihara datang ke sini?”

“Iya. Kami bilang kami yang akan mendatangi tempatnya, tapi dia tahu tentang pondok gunung ini dan menyetir sendiri ke sini. Dia bilang sekalian lewat, karena dia mau pergi ke Pemandian Air Panas Kurama setelahnya.”

“Dan kira-kira setengah hari berlalu antara mendapat gulungan lukisan dan pembakaran? Apakah ada yang meninggalkan pondok ini selama rentang waktu itu?”

Semua orang saling memandang.

“Tidak, tidak ada yang pergi.”

“Iya, kami sudah membeli makanan dan barang-barang sebelum datang ke sini.”

Holmes melanjutkan, “Setelah penilaian Yanagihara, kalian minum-minum bersama di sini, kan? Di mana gulungan lukisan itu berada saat hal ini terjadi?”

“Di atas konter,” kata Akihito, meletakkan tangannya di atas konter.

“Apakah kalian pingsan (tertidur) tepat di ruang tamu ini?”

“Tidak, satu-satunya yang pingsan karena mabuk cuma Akihito. Sisanya kembali ke kamar tidur masing-masing,” kata Fuyuki, membuat Akihito menggaruk kepalanya karena malu.

“Saat kalian meninggalkan ruang tamu untuk tidur, apakah gulungan lukisan itu ada di atas konter?”

Berdiskusi di server Discord