Chapter 4 part 5-4

Induk Seri: Holmes of Kyoto [id]

Fitur Asisten Suara AI (Beta)
Berdiskusi di server Discord
Pengaturan Membaca
18px

Kakak beradik itu menundukkan kepala sambil berpikir.

“Kurasa begitu. Sebenarnya aku tidak yakin.”

“Aku juga tidak ingat.”

“Sama…”

“Ngomong-ngomong, apakah krematoriumnya bisa digunakan oleh siapa saja?” tanya Holmes.

“Ya. Awalnya biasa dipakai ayah untuk membakar naskah-naskahnya yang tidak terpakai agar tidak dibaca orang lain,” jawab Fuyuki.

“Begitu rupanya.” Holmes mengangguk. “Ini… sulit.” Aku terkejut. Jarang sekali melihat Holmes kebingungan seperti ini. Apakah dia kehilangan kepercayadirian atas jawabannya setelah berbicara dengan mereka? Mungkinkah dia mencurigai Kurashina hanya karena pria itu bukan anggota keluarga, tetapi pikirannya berubah setelah mendengar ceritanya? Holmes, kamu tidak apa-apa?

Saat aku sedang panik, Akihito tertawa. “Masih belum tahu juga, kan? Kalau begitu, mau lihat gulungan yang terbakar? Kamu bisa pura-pura mengecek apakah gulungannya sempat ditukar.” Dia mengambil bungkusan kain dari atas konter, meletakkannya di meja depan kami, lalu membukanya. Di dalamnya terdapat sisa-sisa tragis dari tiga lukisan gulung yang hanya tersisa tangkainya.

Holmes memegang salah satunya dengan hati-hati lalu menyatakan, “Tidak, gulungan ini tidak ditukar.”

Semua orang membeku. “Apa?”

“Tidak ada orang di sini yang tahu apa isi wasiat kedua. Dengan kata lain, tidak ada yang tahu sebelumnya bahwa kalian akan menerima lukisan gulung. Dari cara kalian berbicara, aku tahu kalian tidak berbohong. Pada dasarnya, semua orang mengetahui tentang lukisan itu di waktu yang sama, dan Yanagihara langsung melakukan penilain tepat setelahnya. Lukisan yang terbakar ditemukan keesokan harinya, dan tidak ada yang meninggalkan penginapan selama rentang waktu tersebut. Tidak ada waktu untuk menyiapkan barang tiruan. Lagipula, kalaupun ada yang menyelinap keluar tanpa ketahuan, tidak ada tempat untuk mendapatkan lukisan tiruan di daerah pegunungan seperti ini.”

Semua orang mengangguk setuju.

“Namun yang lebih penting, memisahkan siapa pelakunya bukanlah hal yang kumaksud sulit,” gumam Holmes pelan, wajahnya meringis gusar.

Bukan menentukan pelakunya yang dia anggap sulit? Apa maksudnya? Semua orang saling bertukar pandang tanpa kata, tampak sama bingungnya denganku.

Akihito menggebrak meja dengan kedua tangannya, memecahkan kesunyian. “Apa maksud kata-katamu itu? Kalau tahu sesuatu, beri tahu kami. Atau kamu terlalu gengsi untuk mengaku kalah?”

“Akihito! Jangan tidak sopan pada tamu kita,” tegur Ayako.

“Maksudku… Baiklah,” gumam Akihito, mungkin karena malu.

Fuyuki melangkah maju dan membungkuk. “Aku minta maaf atas ketidaksopanan Akihito, Kiyotaka. Jika kamu sudah menyadari sesuatu, bisakah kamu memberi tahu kami?”

“Aku juga ingin tahu. Apakah benar-benar ada pesan rahasia di lukisan yang terbakar itu? Sesuatu yang mengarah ke harta karun tersembunyi?” tanya Haruhiko, tetap ceria terlepas dari situasinya. Mungkin dia menganggap ini seperti permainan tebak-tebakan.

“Begini… lukisan-lukisan itu memang mengandung pesan untuk kalian masing-masing, meskipun bukan tentang harta karun tersembunyi,” Holmes memulai. Menilik dari nada suaranya, dia enggan melanjutkannya. Semua orang menantikan kata-kata selanjutnya dengan napas tertahan.

“Pertama, milik Fuyuki, ‘Kiyomori Memanggil Kembali Matahari Terbenam’, yang menggambarkan adegan dari pertunjukan kabuki yang kusebutkan tadi. Dalam adegan ini, matahari hampir terbenam sebelum upacara penting dimulai, dan Kiyomori, yang terinspirasi oleh raja mitologi Tiongkok yang memanah sembilan matahari dari langit, mengibaskan kipas lipatnya ke arah matahari terbenam untuk membuatnya terbit kembali. Setelah melakukan hal itu, matahari benar-benar mulai naik, dan semua orang bersujud di hadapan Kiyomori yang memiliki kendali atas matahari.

“Pertunjukan ini merupakan penggambaran yang agak menyindir kekuasaan dan wewenang Kiyomori yang tanpa batas pada era ketika ada anggapan, ‘Jika kamu bukan dari klan Taira, kamu sama saja bukan manusia.’

“Namun, kamu tentu tahu bagaimana nasib akhir Kiyomori. Kajiwara menyukai Taira no Kiyomori, dan melihat pencapaian bisnismu, aku yakin dia ingin kamu meniru karisma langka Kiyomori untuk mencapai tingkatan yang lebih tinggi, sembari tidak mengulangi kesalahan yang sama yaitu menjadi besar kepala,” kata Holmes pelan.

Fuyuki mulai gemetar, matanya berkaca-kaca. “Ayah kami bukanlah tipe orang yang akan mengatakan hal-hal seperti ini secara langsung. Aku memang merasa telah menjadi sombong karena keberhasilan perusahaanku. Alangkah bodohnya aku menepis lukisan yang sudah dipikirkannya matang-matang untuk diberikan padaku,” katanya sambil menahan air mata. Dia pasti sangat terpukul atas terbakarnya lukisan itu.

Dada saya juga terasa sakit. Saat aku menatap Fuyuki, Akihito dengan lemas menyisir rambutnya dengan tangan. “Lalu, um, bagaimana denganku…?” tanyanya dengan sangat berat. Dia pasti malu untuk bertanya karena semua ejekan yang telah dilakukannya, tetapi dia tetap ingin tahu.

“Baiklah. Milik Akihito, ‘Naga di Atas Gunung Fuji’ dilukis oleh Hokusai tiga bulan sebelum kematiannya. Hokusai berusia hampir sembilan puluh tahun ketika dia meninggalkan dunia ini, tetapi kata-kata terakhirnya adalah ‘Andai saja Surga mengizinkanku hidup lima tahun lagi, aku bisa menjadi pelukis sejati.’ Di pembaringan terakhirnya, dia meratapi keinginannya untuk melukis lebih banyak dan meningkatkan kemampuannya. Bisa dikatakan bahwa dia adalah seorang seniman sejati.

“Aku yakin Kajiwara ingin mengatakan, ‘Jika kamu benar-benar ingin mengejar karier di dunia hiburan, lakukanlah dengan kesungguhan hati yang pantas. Jangan setengah-setengah. Dan persis seperti Gunung Fuji dalam lukisan itu, jadilah yang terbaik di Jepang. Jadilah bintang, seperti naga yang membubung ke langit.’ Aku yakin dia mendukungmu, meskipun dia tidak bisa mengatakannya secara langsung.” Holmes tersenyum hangat.

Mata Akihito terbelalak. “Ayah…” katanya gemetar. Dia diam-diam berbalik dan duduk di kursi bar, tidak ingin kami melihatnya menangis.

“Terakhir, lukisan Haruhiko…”

“Hentikan!” jerit Ayako, memotong perkataan Holmes.

“Maksudnya?” Kami semua berbalik, bingung.

“Tolong, hentikan saja. Aku… akulah yang membakar lukisan-lukisan itu. Kamu bisa berhenti sekarang, kan?”

Semua orang melongo menatapnya, termasuk aku.

“Apa… Ibu? Kenapa?”

“A-aku tahu dia memberiku cincin ini, tapi aku kesal karena namaku sama sekali tidak disebut dalam wasiat kedua! Lagipula karena lukisan-lukisan itu murah dan tidak menarik, aku membakarnya saat amarah akibat mabuk!”

“I-itu alasannya?” Haruhiko tampak tercengang.

“Ya! Aku tidak tahu kalau di dalamnya ada pesannya! Ini semua salahku! Jadi tolong, aku sudah cukup! Kurashina, berikan sesuatu atas waktu mereka dan antar mereka pulang!” Ayako bangkit dari duduknya dan berlari keluar dari ruang tamu.

“Ibu, tunggu!”

“Ayako!”

Haruhiko dan Kurashina bergegas mengejarnya. Fuyuki, Akihito, dan aku menatap kosong ke arah pintu tempat dia berlari. Hanya Holmes yang tampak lega. Dia meletakkan tangannya di dada dan berkata, “Misterinya telah terpecahkan. Ayo pulang.”

“Eh? Kamu menyebut ini terpecahkan?” tanyaku.

“Kita sudah tahu siapa yang membakar lukisan-lukisan itu beserta alasannya.” Holmes berdiri.

“Tunggu. Kamu masih belum memberi tahu kami tentang lukisan Haruhiko.” Akihito berdiri di antara kami dan pintu depan, menghalangi jalan kami.

Fuyuki membungkuk dalam-dalam. “Aku juga ingin tahu. Tampaknya ibu kami berusaha mencegahmu menjelaskannya.”

Holmes menghela napas dan berkata pelan, “Ini mungkin sesuatu yang bakal membuat kalian menyesal setelah mengetahuinya. Setidaknya, Ayako tidak ingin kalian mengetahuinya.”

“Aku tidak keberatan.”

“Ya, kami akan menyimpannya sendiri.”

Keduanya menatap kami dengan sungguh-sungguh, dan Holmes mengangguk. “Lukisan untuk Haruhiko adalah kisah tentang ‘Tadamori dan Lentera’.”

“‘Tadamori dan Lentera’?” aku mengulangi. Aku tidak tahu sama sekali apa itu.

“Suatu malam, ketika Kaisar Shirakawa melewati Gion untuk bertemu dengan selir kesayangannya, Nyogo Gion, beliau melihat sosok seperti siluman di jalan depan dan memerintahkan pengawalnya, Taira no Tadamori, untuk membunuhnya. Namun, Tadamori menangkapnya hidup-hidup untuk memastikan identitasnya dan menemukan bahwa itu hanyalah seorang pendeta tua. Kaisar sangat berterima kasih atas kecermatan Tadamori, karena kesalahpahaman beliau tidak sampai menyebabkan tewasnya pendeta yang tidak bersalah.

“Nah, sebuah teori menyatakan bahwa sebagai hadiahnya, kaisar menyerahkan selir kesayangannya, Nyogo Gion, kepada Tadamori, dan dari situlah Kiyomori lahir.”

Ruang tamu menjadi hening. Apa…?

“Apa maksudnya, menyerahkan Nyogo Gion kepada Tadamori?” tanyaku.

Holmes meringis. “Artinya beliau mengizinkan Tadamori menghabiskan satu malam bersama Nyogo Gion.”

“A-apa? D-dan itu menyebabkan lahirnya Kiyomori?”

“Aku tidak bisa memastikan apakah itu benar, tetapi ada teori seperti itu.”

A-aku tidak percaya. Dalam bahasa yang lebih sederhana, dia “meminjamkan” wanitanya kepada bawahannya selama semalam, kan? Tapi kalau begitu, Kajiwara memberikan lukisan itu kepada Haruhiko berarti…

“A-apa? Maksudmu Haruhiko bukan anak Ayah? Tapi siapa lagi yang mungkin—” Akihito terhenti.

Sekitar dua puluh tahun yang lalu, Kurashina mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi Kajiwara. Jika Kurashina diam-diam mendambakan Ayako dan Kajiwara mengetahuinya, maka Kajiwara mungkin telah memberinya bukti rasa terima kasih yang paling utama.

Kurashina… dan Ayako… lalu Haruhiko lahir.

Apakah itu berarti Kajiwara membesarkan anak Kurashina sebagai anaknya sendiri? Aku merasa bulu kudukku merinding.

“Ayako tentu sangat tidak ingin hal ini diketahui. Bahkan jika dia tidak tahu apa arti lukisan Tadamori itu, aku yakin dia pasti akan mencarinya. Dan kemudian dia mungkin panik ketika menemukan kebenarannya,” jelas Holmes dengan tenang. Kami semua berdiri kaku, tidak mampu mengatakan apa pun.

“J-jika mereka merahasiakannya selama ini, Ayah bisa saja membiarkannya seperti ini selamanya. Mengapa dia memberi Haruhiko lukisan Tadamori?” tanya Fuyuki sambil mengepalkan tangannya erat-erat.

Tepat sekali. Mengapa dia harus mengaku tiga bulan setelah kematiannya, melalui perantara sebuah lukisan? Rasanya sangat tidak bertanggung jawab.

“Ini murni spekulasiku saja, tetapi apakah Haruhiko baru saja berulang tahun yang ke-dua puluh?” tanya Holmes.

Fuyuki dan Akihito mengangguk. “Dua minggu yang lalu.”

“Kurasa angka ‘tiga bulan kemudian’ itu mungkin karena Kajiwara mantap menunggu sampai Haruhiko berusia dua puluh tahun untuk memberi tahu kebenarannya. Namun, dari sudut pandangku, ini masih agak terlalu dini baginya. Ayako kemungkinan besar merasakan hal yang sama.” Holmes mengerutkan dahi.

Oh, jadi itu sebabnya Holmes bilang kalau ini “sulit”!

“Kalau begitu aku akan pamit sekarang. Aku akan berbicara denganmu di lain hari, Fuyuki,” kata Holmes.

“Bagaimana denganku?” Akihito angkat bicara dari samping kami. Holmes mengabaikannya.

“Terima kasih sudah memberi tahu kami. Apa yang harus kami lakukan mengenai situasi ini?” tanya Fuyuki dengan ekspresi serius.

“Ketika kalian merasa Haruhiko sudah siap, tolong beri tahu dia kebenarannya. Jangan membawa rahasia ini sampai ke liang kubur kalian,” pringat Holmes.

“Kenapa kita tidak merahasiakannya saja selamanya?” tanya Akihito sambil mengerutkan dahi dan memiringkan kepalanya. Aku berpikiran hal yang sama. Aku merasa akan lebih baik jika seperti itu.

“Mengabaikan leluhurmu akan selalu berujung pada perselisihan keluarga. Haruhiko adalah bagian dari keluarga Kajiwara, tetapi darahnya diwarisi dari Kurashina. Dia perlu menyadari hal itu.” Kata-kata Holmes mengandung bobot yang sangat besar, dan kami semua menelan ludah lagi. “Nah kalau begitu, bisa kita berangkat sekarang, Aoi?” Holmes menatap mataku dan aku mengangguk, masih merasa bingung.

“Aku yang antar. Di mana rumah kalian?” kata Akihito sambil mengeluarkan kunci mobilnya.

“Terima kasih. Di Stasiun Kurama saja tidak apa-apa.”

“Oh, ya?”

Kami meninggalkan ruang tamu.

“Tunggu, Kiyotaka. Ini untukmu.” Fuyuki berlari menghampiri kami sambil memegang sebuah amplop.

“Maaf, saya harus menolaknya.”

“Terima saja. Ini tiket pertunjukan kabuki.”

Holmes ragu-ragu. “Jika demikian, terima kasih banyak.” Dia menerima amplop itu dengan kedua tangannya. Kamu mau menerima imbalannya kalau itu tiket kabuki?! batinku.

Berdiskusi di server Discord