Chapter 5 part 2
Induk Seri: Holmes of Kyoto [id]
Setelah Akihito pergi, toko mendadak menjadi jauh lebih tenang, hanya diiringi alunan musik jaz yang menenangkan di latar belakang. Holmes sedang merapikan dokumen, sementara aku menaruh cangkir-cangkir kopi yang sudah kosong ke atas nampan.
“Memang sulit terbiasa memakai yukata. Rasanya pekerjaanku bakal lebih lambat dari biasanya.” Lengan bajunya terus-terusan mengganggu. Mungkin sebaiknya kuikat ke belakang saja?
“Ini memang bukan pekerjaan yang seharusnya kamu lakukan, jadi kamu tidak perlu bekerja terlalu keras selama periode ini.”
“Oh, tidak bisa begitu. Salah satu teman sekelasku bekerja di restoran kecil, dan dia bilang dia harus memakai kimono sepanjang waktu. Kalau dia bisa bekerja keras memakai itu, aku juga pasti bisa.”
Holmes terkekeh. “Kesungguhanmu patut dipuji.”
“Eh? Kesungguhan…?” Belum pernah ada orang yang menyebutku sungguh-sungguh sebelumnya.
“Ya. Meskipun ayahku dan aku selalu bilang bahwa kami sudah bersyukur hanya dengan adanya seseorang yang menjaga toko saat kami pergi, kamu selalu berusaha mencari cara untuk membantu karena ingin bekerja setimpal dengan gajimu. Aku bisa melihat kalau kamu memegang teguh prinsipmu.”
“I-itu bukan sesuatu yang sehebat itu. Kalau aku mendengarkan kalian berdua dan dibayar hanya untuk duduk-duduk tanpa melakukan apa pun, aku tidak akan sanggup menahan rasa bersalahnya. Lagipula, membosankan kalau tidak melakukan apa-apa.” Menggetirkan rasanya mendengar penilainnya yang berlebihan terhadap karakterku. “Lagipula, aku tidak sesungguh-sungguh itu. Aku ini gampang tergoyahkan oleh hal-hal sepele.” Aku mulai mengelap meja dengan lap kain agar tidak perlu bertatapan mata dengannya. Kalau aku melakukannya, dia kemungkinan besar bisa melihat menembus diriku…
“Belakangan ini kamu kelihatannya sedang tidak terlalu senang. Terjadi sesuatu?” tanya Holmes pelan.
Oh, dia rupanya sudah tahu. Aku tersenyum menyindir diri sendiri dan berhenti mengelap meja. Aku mendongak dan melihat kerumunan orang yang berjalan di luar jendela pajangan. Interior toko yang tenang membuatku merasa seperti berada di dunia yang berbeda.
“Jadi begini… umm…”
Tepat saat aku membuka mulut dengan ragu-ragu untuk berbicara, lonceng pintu berdenting. Seorang wanita muda yang mengenakan gaun masuk ke dalam toko. Tubuhnya langsing, rambut bergelombang sebahunya terurai, dan ia memiliki aura yang manis, tetapi ada juga tatapan yang agak ketakutan di matanya. Aku begitu terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba hingga sapaanku sempat tertahan sejenak.
“Izumi…?” kata Holmes, tampak terkejut.
“H-halo, Kiyotaka.” Wanita itu mengangkat bahunya sedikit.
Holmes terlihat agak bingung sejenak sebelum kembali ke senyuman biasanya. “Sudah lama tidak bertemu. Aku senang kamu kelihatannya baik-baik saja.”
“Oh, jangan sekaku itu,” katanya, kelihatannya merasa terganggu dengan sikap Holmes.
Holmes hanya terus tersenyum. “Aku dengar kamu mau menikah. Selamat, ya.”
Menikah. Aku sudah punya firasat, tetapi kata itu menguatkannya. Ini adalah mantan pacar Holmes. Namanya Izumi, dan dia cantik serta manis. Aura rapuhnya terasa mirip dengan Saori, sang Saio-dai.
“Sebenarnya ada sesuatu yang ingin kuminta kamu nilai.” Izumi gelisah saat berjalan mendekatinya.
“Silakan duduk,” kata Holmes sambil berdiri dan menarikkan kursi.
Izumi ragu-ragu sebelum akhirnya duduk. “Terima kasih.”
Toko itu diselimuti ketegangan yang tak tertuliskan. Aku diam-diam pergi ke dapur kecil dan mulai menyeduh kopi. Holmes selalu melakukannya sendiri kalau dia ada di sini, tapi… entah kenapa, aku tidak ingin membiarkan wanita itu meminum kopi lezat buatannya.
“Seperti yang kamu bilang, aku… mau menikah.” Aku bisa mendengar suaranya yang tertahan dari sini.
“Selamat,” ulang Holmes dengan nada tenang.
“Terima kasih. Jadi, aku menerima perangkat makan sebagai hadiah pernikahan dari bibiku di Kobe. Tunanganku menyuruhku mencari tahu berapa harganya…” Dia kelihatannya ragu untuk bertanya.
Jujur saja, aku terkejut. Itu hadiah dari bibinya, kan? Bukan dari tunangannya? Namun tunangannya menyuruh dia untuk memintakan penilaian harganya? Agak sulit dipercaya. Ya… mungkin tunangannya tidak berniat menjualnya dan cuma penasaran berapa harganya? Aku tersenyum kecut saat kopi menetes ke dalam teko. Aroma harumnya berembus memenuhi toko.
“Ini barangnya.” Izumi meletakkan sebuah kotak dengan hati-hati di atas meja. Holmes mengenakan sarung tangan putih yang biasa dipakainya. Aku juga ingin melihatnya, jadi aku terburu-buru menuangkan kopi ke dalam cangkir dan menyajikannya di atas meja.
“Kalau begitu, izinkan aku melihatnya,” kata Holmes sambil membuka kotak itu dengan hati-hati. Di dalamnya ada mangkuk persegi dengan lukisan pemandangan di atasnya. Warnanya lembut dan anggun. Barang itu jelas berasal dari Barat—apa Holmes tahu cara menilai barang antik Barat? Toko ini memang punya barang dari berbagai negara, tapi kalau dipikir-pikir, aku belum pernah melihatnya menilai barang antik Barat sebelumnya.
“Royal Copenhagen, rupanya.”
“Oh, jadi memang benar. Itu yang dibilang bibiku, tapi kami cuma tahu Royal Copenhagen dari piring Natal mereka.” Izumi mengangkat bahunya malu-malu.
Kalau memikirkan Royal Copenhagen, yang terlintas adalah piring Natal tahunan mereka. Sayangnya, pengetahuanku selevel dengannya.
“Memang benar, piring Natal adalah produk mereka yang paling terkenal. Bagaimanapun juga, tradisinya terus berlanjut sejak tahun 1908 tanpa terputus,” terang Holmes dengan luwes.
“Oh, ya?” Izumi tampak terkejut. Apakah ini pertama kalinya dia melihat Holmes melakukan pekerjaannya seperti ini? Walau jujur saja, aku sendiri juga diam-diam kagum karena Holmes ternyata paham tentang barang antik Barat juga.
“Tunanganku bilang, ‘Copenhagen selalu punya desain biru kobalt, jadi yang ini mungkin barang lain.’”
“Memang benar bahwa Royal Copenhagen sejak lama sangat dipengaruhi oleh keramik Imari Jepang dari periode Edo. Mereka terkenal dengan pola biru kobalt lukisan tangan, tetapi mereka juga punya banyak produk lain. Yang satu ini berasal dari seri yang dibuat lebih dari enam puluh tahun yang lalu, yang menggambarkan berbagai pemandangan Eropa. Kalau soal harga… Karena jumlahnya yang beredar cukup banyak, aku menilainya sekitar dua puluh sampai tiga puluh ribu yen.”
“Dua puluh sampai tiga puluh ribu…” Izumi mengangguk. Dia tidak kelihatan senang maupun kecewa. “Aku senang bisa mengetahuinya. Ini piring yang bagus, jadi aku akan merawatnya baik-baik.” Nada suaranya menjadi lebih formal, mungkin karena terpengaruh oleh cara bicara Holmes.
“Tolong dirawat baik-baik.”
Aku menghela napas pelan dan berbalik untuk membersihkan debu di rak yang berjarak tak jauh dari mereka.
“Kiyotaka… tadi itu luar biasa. Aku tahu kamu bisa menilai barang, tapi aku tidak menyangka kamu seahli ini.”
“Yah… ini kan bisnis keluarga.”
“Kamu bilang ‘sudah lama tidak bertemu’, tapi buatku, tidak begitu,” kata Izumi berani. Langkahku terhenti seketika secara refleks.
“Eh?” Bahkan Holmes pun bingung.
“Aku sudah lewat di depan toko ini beberapa kali dan melihatmu. Aku juga pernah ke kampus Universitas Kyoto. Kamu kuliah S2 di sana, kan? Luar biasa sekali.”
Holmes ragu-ragu sejenak sebelum berkata, “Terima kasih.”
“S-sebenarnya aku sudah mempertimbangkan untuk putus dari tunanganku berkali-kali. Dia terus-terusan berselingkuh dariku…” Izumi menundukkan pandangannya, pipinya merona merah terang.
Holmes tidak memberikan tanggapan apa pun. Tampaknya “pria tampan egois yang pemaksa” itu tidak mengubah tabiatnya dan menggunakan pendekatan yang sama pada wanita lain.
“Tapi setiap kali aku memergokinya, dia selalu bilang, ‘Cuma kamu satu-satunya buatku’… dan aku menurut begitu saja. Tapi setiap kali itu terjadi, aku teringat padamu dan ingin bertemu denganmu lagi. Tapi semuanya sudah terlambat, jadi aku cuma bisa lewat begitu saja di depan toko.”
Holmes tetap diam mendengarkannya mencurahkan isi hatinya.
“Tapi lalu, saat aku akhirnya tidak tahan lagi dengan kelakuannya yang mendua dan bilang kalau aku mau putus, dia menangis, meminta maaf, dan melamarku. Aku tersentuh saat itu dan menerimanya, tapi aku khawatir saat kami benar-benar menikah nanti. Apa dia bakal tetap selingkuh? Apa dia memang orang yang tepat buatku? Dan setiap kali aku berpikir untuk menikah dengannya, wajahmu selalu terlintas di pikiranku. Kamu memperlakukanku dengan sangat baik, tapi dulu aku terlalu muda untuk memahaminya. Aku benar-benar bodoh.” Suara Izumi bergetar saat berbicara, air mata mengalir di pipinya. Sisi lemah inilah—kerentanan yang memicu naluri perlindungan seorang pria… Aku merasa tidak tenang.
Tepat saat Holmes membuka mulut untuk berbicara, Izumi memotongnya. “Kamu tidak perlu bicara apa-apa. Aku tahu aku ini bodoh.”
Holmes mengatupkan mulutnya, mengerti.
Kuasumsi dia merasa cemas sebelum menikah dan datang ke sini untuk meluapkan perasaannya. Tapi apa cuma itu saja?
Di tengah keheningan, Izumi menyapu air mata di matanya dan menghela napas. “Kiyotaka, apa kamu masih suka puisi klasik?”
“Puisi klasik…? Ya, kurasa begitu.”
Aku menyimak percakapan mereka dengan saksama, dan pertanyaannya yang mendadak serta tak relevan itu membuatku sangat bingung.
“Tolong lihat yang ini juga. Aku akan kembali dua hari lagi untuk mengambilnya, jadi sebelum itu…” kata Izumi sambil mengeluarkan kotak kecil dari kantong kertas.
“Sebelum lusa?”
Dengan kata lain, tanggal lima belas.
“Ya, tolong perhatikan baik-baik tanpa terburu-buru… Barang ini dibuat di sebuah gunung di prefektur Shiga.” Izumi berdiri pelan.
“Gunung di Shiga…” Holmes mengerutkan alisnya sedikit saja.
Izumi memegang gagang pintu dan berbalik menghadapnya lagi. “Terima kasih untuk hari ini. Aku senang akhirnya memberanikan diri untuk datang ke sini. Yukata itu cocok sekali untukmu,” katanya sambil tersenyum.
“Terima kasih.”
Izumi meninggalkan toko. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Holmes membuka kotak kecil yang ditinggalkannya. Di dalamnya ada mangkuk teh matcha berwarna oranye pucat dengan desain warna hijau…
“Apa ini gambar daun?” tanyaku tanpa sadar.
Dia mengangguk. “Ya, ini tanaman mugwort Jepang.”
Aku menyondongkan badan sedikit. “Apa ini berharga?”
Holmes tidak menjawab dan terus menyipitkan mata menatapnya. Tampaknya dia sedang tidak ingin membicarakan nilainya saat ini.
“Kamu suka puisi klasik, Holmes?” tanyaku mengalihkan topik.
Dia tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu dan berkata, “Dalam batas wajar. Puisi klasik… adalah cara kami saling mengenal dulu.”
“Benarkah?”
“Ya. Saat kelas dua SMA, kami pergi ke Kuil Tofuku dalam rangka karyawisata sekolah. Kuil itu ada di Higashiyama-ku, yang terkenal dengan dedaunan musim gugurnya.”
“Karyawisata sekolah…” Aku agak terkejut.
“Saat dia melihat daun-daun merah terang berguguran mengapung di sungai kecil, dia berkata, ‘Oh, ini mengingatkanku pada puisi terkenal itu! Bahkan di zaman para dewa dan keajaiban, aku belum pernah mendengar tentang Sungai Tatsuta… Um, bagaimana sambungannya lagi, ya?’ dan aku menjawab, ‘Air Sungai Tatsuta yang terwarnai merah tua.’ Itu adalah puisi terkenal ‘Chihayaburu’. Setelah itu, dia kelihatannya jatuh cinta padaku karena mengira aku menyukai puisi klasik.”
“P-paham.” Menerima sambungan puisi dari pria seatraktif itu di saat dirinya sedang tersentuh oleh pemandangan sungai yang dipenuhi daun-daun merah cerah jelas bisa meluluhkan hatinya.
“Tapi, walau aku suka puisi klasik, aku tidak menyukainya sejauh yang dia bayangkan.” Holmes mengangkat bahu malu-malu dan aku tidak bisa menahan kekehanku. Dia cuma mengucapkan baris itu karena dia tahu jawabannya.
“Wanita memang gampang tergoyahkan, ya?” gumamnya pada diri sendiri sambil memegang mangkuk teh.
Aku menghela napas. “Mungkin kamu benar.” Aku sendiri selalu tergoyahkan oleh hal-hal sepele.
“Oh ya, tadi obrolan kita terpotong.”
“Eh?”
“Kita tadi sedang membahas kenapa kamu kelihatan tidak senang belakangan ini. Ada apa?”
“Oh… itu, sekolahku yang dulu di Saitama… katanya mau datang melihat Festival Gion sebagai bagian dari semacam kegiatan karyawisata sekolah.”
Mata Holmes membelalak terkejut.
“Katanya untuk penelitian budaya atau semacamnya. Jadi, seorang teman perempuan dari kelompok bermainku mengirim pesan bilang kalau dia ingin bertemu, dan dia memintaku datang ke lobi hotel mereka. Mantan temanku ada di kelompok itu juga, jadi aku takut kalau-kalau berpapasan dengan mantan pacarku… tapi aku ingin bertemu teman-temanku yang lain, jadi akhirnya aku mengiyakan.” Aku tertawa hampa.
“Begitu…” Holmes berdiri perlahan. “Kurasa itu ide yang bagus. Kamu masih merasa tidak tenang, kan? Karena mereka yang datang ke sini, kamu mungkin bisa mendapatkan kejelasan yang kamu butuhkan tanpa harus pergi jauh-jauh ke Saitama sendiri,” katanya sambil menatapku dengan pandangan mantap.
“Ya… kamu benar.”
“Kapan kamu mau pergi?”
“Tanggal lima belas—yoi-yoi-yama. Dia menyuruhku datang ke hotel di Jalan Shijo-Muromachi jam 7:30 malam.”
Hari-hari menjelang pawai utama Festival Gion adalah masa hitung mundur, dengan yoi-yoi-yama jatuh pada dua hari sebelumnya. Kedai-kedai makanan dan yamaboko yang dihiasi lampu berderet di sepanjang jalan untuk merayakan mulainya festival. Pada hari itu, aku bekerja di Kura sampai jam 7 malam, jadi aku bisa langsung pergi ke sana setelahnya.
Seperti yang dikatakan Holmes, aku pikir ini kesempatan bagus. Namun, aku tetap tidak bisa mengusir rasa takutku.
“Jangan terlalu cemas. Ingat, tindakan adalah musuh terbesar rasa khawatir.” Holmes menepuk kepalaku dan tersenyum hangat.
Dadaku terasa sesak. “Holmes…”
Tepat saat itu, ponsel pintarnya bergetar. Dia melihat ke layar dan berkata, “Benar juga, aku harus mengantarkan beberapa dokumen. Aku bakal segera kembali, jadi tolong jaga toko selagi aku keluar.” Dia mengambil amplop cokelat dari laci dan bergegas keluar.
“Oh, oke,” jawabku, walau dia sudah menghilang saat itu.
Mataku tertuju pada mangkuk teh yang ditinggalkan di atas meja. Mugwort Jepang… Aku sudah bekerja di Kura selama beberapa bulan, dan mataku sudah cukup terlatih selama waktu ini. Mangkuk teh ini… jelas-jelas dibuat oleh seorang amatir. Kalau begitu, apa ini buatan Izumi? Apa dia ingin Holmes menilai karyanya sendiri?
“Kiyotaka, apa kamu masih suka puisi klasik?”
Itu yang dikatakannya sebelum menyerahkan mangkuk teh ini. Dia juga bilang kalau barang ini dibuat di gunung di Shiga… Ini pasti ada hubungannya dengan sebuah puisi. Benar, pasti itu! Barang ini mengandung pesan yang didasarkan pada sebuah puisi!
Aku segera mendongak dan beralih ke rak buku yang berisi susunan bahan referensi yang rapi. Aku mengambil atlas terlebih dahulu untuk melihat di mana letak gunung-gunung di Shiga. Nama-namanya terdaftar sesuai urutan abjad di indeks. Gunung Bungen, Ibuki, Kanakuso, Oike, Shirakura… Jumlahnya jauh lebih banyak dari yang kubayangkan.
“Aku tidak bisa menebak yang mana…” Aku menatap nama-nama itu sebentar, tapi tidak ada yang terlintas sama sekali di benakku. Shiga bagaimanapun juga terkenal dengan keramik dan tembikar Shigaraki, jadi mungkin bagian gunung di Shiga itu tidak terlalu penting. Kalau begitu, mari coba cari mugwort Jepang.
“Mugwort disebut ‘rumput empat arah’ dalam bahasa Jepang karena akarnya tumbuh ke empat arah. Tanaman ini juga punya berbagai nama lain, dan disebut sashimogusa dalam puisi klasik. Tanaman ini disebutkan dalam dua puisi dari Hyakunin Isshu.”
“Hyakunin Isshu…” Itu adalah antologi seratus puisi oleh seratus penyair—antologi yang sama tempat puisi “Chihayaburu” berasal.
Kali ini, aku membuka kompilasi puisi. Sashimogusa… Sashimogusa…
Tak lama kemudian, aku menemukan dua puisi yang memuat kata tersebut.
“Hidupku bersandar pada janji-janji yang seperti embun di atas sashimogusa. Sayang sekali, musim gugur lainnya telah berlalu. — Fujiwara no Mototoshi”
Dan artinya…
“Kata-kata janjimu sama fana dengan embun di atas mugwort. Aku hidup lama memercayainya, tetapi pada akhirnya, keinginanku tidak dikabulkan.
“Penjelasan: Penulis meminta agar putranya dinaikkan jabatan, tetapi keinginannya tidak dikabulkan. Puisi ini ditulis sebagai bentuk keluhan.”
Uh… sepertinya bukan yang ini. Mari kita lihat yang satunya lagi.
“Meskipun aku seperti ini, aku tidak bisa mengatakannya. Seperti sashimogusa di Ibuki, tak diketahui, perasaanku membakar. — Fujiwara no Sanekata”
Sashimogusa di Ibuki… Gunung Ibuki di Shiga. Aku mencari artinya dengan jari yang gemetar.
“Aku sangat mencintaimu, tapi aku tidak bisa mengatakannya. Karena aku tidak bisa mengatakannya, kamu pasti tidak menyadarinya. Perasaanku membara untukmu seperti mugwort di Gunung Ibuki.”
Jantungku melonjak. Mangkuk teh ini… berisi pengakuan jujur dari lubuk hati Izumi. Dia pasti berpikir bahwa memberinya mangkuk teh yang terhubung dengan puisi klasik akan lebih menyentuh hatinya daripada sekadar bilang “Aku masih mencintaimu; aku tidak bisa melupakanmu.” Seperti saat dia jatuh cinta pada Holmes setelah Holmes menyelesaikan baris puisinya dulu.
Dia ingin Holmes melihat mangkuk teh ini, merasakan perasaannya… dan menerimanya. Itu sebabnya dia akan kembali dalam dua hari—untuk mendengar jawabannya.
Holmes pasti bisa mengenali pesan itu hanya dalam sekali lihat. Apa yang akan dia lakukan? Dia dulu sangat mencintainya. Dia pasti bakal tergoyahkan oleh pengakuan manis yang dibungkus teka-teki seperti ini, kan?
“Aku sangat mencintaimu, tapi aku tidak bisa mengatakannya.”
Keringat dingin keluar di dahiku saat aku diam-diam mengembalikan buku-buku itu ke rak. Aku duduk termenung sejenak sebelum denting lonceng pintu berbunyi, menandakan kembalinya Holmes.
“Maaf, tadi ternyata memakan waktu lebih lama dari perkiraan. Semuanya aman?”
“Ya. Tidak ada pembeli, dan tidak ada yang menelepon.” Aku tersenyum, mengambil kemoceng, dan berbalik.
Pada tanggal lima belas, jalanan akan dihiasi dengan yamaboko untuk yoi-yoi-yama. Secara kebetulan yang aneh, aku juga harus menyelesaikan masalahku sendiri pada hari itu.
Bab Ini Masih Terkunci
Bab ini dijadwalkan rilis gratis pada .
Ingin baca instan sekarang? Dukung penerjemah di halaman Donasi Novelfire untuk klaim token eksklusif Anda.