Mimpi yang Sama
Induk Seri: I'm Really Not The Demon God's Lackey[id]
Rodney tersenyum melihat tujuh pendeta ‘beruntung’ yang berdiri di sekeliling altar berubah menjadi tumpukan daging yang hancur dalam sekejap mata. Darah yang menciprat ke segala arah menodai altar putih itu menjadi merah terang, dan berbagai organ tubuh yang masih aktif tergeletak menggeliat di lantai.
Ruangan tertutup ini seketika dipenuhi bau anyir darah yang menyengat, dan patung-patung paus terdahulu di sekeliling ruangan tampak berubah dari khidmat menjadi mengerikan.
Haa… Haa…
Ekspresi ketakutan dan kepanikan adalah hal terakhir di wajah mereka saat mereka meronta, hingga mata mereka perlahan meredup saat napas terakhir meninggalkan tubuh.
Rodney melangkah ke altar dan dengan penuh minat mengamati satu-satunya pendeta yang masih berjuang untuk tetap berdiri.
Komponen utama dari Esensi Bulan Suci adalah potongan-potongan artefak sakral, ‘Anak Bulan yang Tidur’, yang jika dibangkitkan, akan memodifikasi inangnya untuk membentuk tempat tinggal yang cocok bagi sang dewa untuk turun, baik dalam wujud daging maupun roh.
Ini adalah ‘janin’.
Tidak perlu dikatakan lagi, plasenta perak yang diletakkan di atas altar di tengah ruangan adalah ‘plasenta’.
Seluruh ruang dalam itu, dengan rune yang terukir di mana-mana, adalah altar itu sendiri dan sekaligus ‘rahim’…
Ketika ‘janin’, ‘plasenta’, dan ‘rahim’ ada bersamaan, ‘Dewa’ akan lahir dari janin tersebut!
Rodney menatap pemandangan ini dengan wajah penuh ekstase. Ini adalah Dewa yang sesungguhnya, yang telah disembah selama ribuan tahun.
Hari ini, dia benar-benar akan turun dari alam mimpi ke dunia nyata, benar-benar dipandang oleh orang-orang, dan disembah!
Gakk! Gakk!
Tentakel tumbuh dari dada pendeta itu, menari liar sambil menarik kedua sisi tubuhnya, seolah mencoba melebarkan rongga tempat tumbuhnya tentakel tersebut.
Pfftt…
Pendeta itu terus memuntahkan darah, menggerakkan tangannya dengan panik seolah mencoba meraih sesuatu. Ia berjuang selama lima belas menit penuh sebelum akhirnya jatuh ke lantai karena kelelahan.
Saat ia jatuh, tentakel-tentakel itu seolah kehilangan semua daya dorongnya. Tak lama kemudian, mereka terkulai lemas ke lantai. Jika dilihat lebih dekat, tentakel berlendir dan berdarah itu tampak seperti usus.
Keheningan kembali menyelimuti. Selain mayat yang bergelimpangan di lantai, hanya Rodney dan sang Orang Suci (Saintess) yang tersisa di ruangan itu.
Awalnya, Rodney terus menatap mayat-mayat di lantai dengan pandangan antisipasi yang penuh kerinduan. Namun, seiring berjalannya waktu, kegembiraan di wajahnya perlahan menghilang dan akhirnya digantikan oleh kekecewaan serta amarah.
Semua mati… Itu berarti… tidak satu pun dari mereka yang mampu menahan kedatangan sang Bulan. Mereka semua gagal!
Braak!
Rodney membanting tinjunya ke meja dan memberi isyarat kepada sang Orang Suci yang berdiri di samping. Dengan wajah tanpa emosi, dia memerintahkan, “Sheryl, panggil kelompok berikutnya.”
“Ya.” Sang Orang Suci keluar dari ruangan, memasang senyum ramah saat ia pergi untuk memilih kelompok pendeta berikutnya.
“Tidak apa-apa, tidak apa-apa…” Rodney menghampiri altar dan menenangkan plasenta yang bergetar dan mengeluarkan tangisan samar. Darah dan isi perut di lantai diserap oleh altar putih hingga tak ada setetes pun yang tersisa dan semuanya kembali bersih berkilau.
Dengan lebih banyak lagi ‘janin’, pasti akan ada satu yang beruntung.
“Waktu tidak menunggu siapa pun. Sepertinya sudah waktunya untuk menyebarkan Esensi Bulan Suci secara massal…” gumam Rodney pada dirinya sendiri.
——
Annie Tuttle adalah ibu rumah tangga biasa. Dia memiliki dua anak dan suami yang bekerja sebagai tukang roti.
Saat jam makan malam, sembari membujuk anak-anaknya untuk makan, dia mendengar berita dari televisi—Baru-baru ini, Gereja Kubah mengalami insiden di mana seorang pendeta melakukan apostasi (murtad), dan dengan menggunakan bahan peledak yang asalnya tidak diketahui, meledakkan dua gereja yang mengakibatkan setidaknya 1700 korban jiwa, termasuk Pastor Terrence dari Kapel Amal.
“Masyarakat Paroki Ketujuh pasti mengenal Pastor Terrence dengan baik. Dia adalah… sosok ayah bagi Vincent, yang justru memunggungi kebaikan ini dan kehilangan kemanusiaannya, langsung menuju Kapel Amal setelah melakukan apostasi dan membunuh…”
Annie mengerutkan kening dan mengambil remote untuk mengganti saluran. Ini sudah ketiga kalinya dia melihat berita seperti itu.
“Haa…” Dia menghela napas.
Pastor Vincent pernah membantu keluarganya sebelumnya. Ada suara-suara aneh yang muncul dari loteng dan dinding beberapa waktu setelah mereka pindah, sehingga mereka mengira itu ulah roh jahat.
Namun, setelah Pastor Vincent diundang untuk melihat, dia menemukan bahwa itu sebenarnya disebabkan oleh remah-remah roti dan kue dari toko roti yang menyebabkan tikus berkembang biak dan tinggal di dalam dinding.
Pastor Vincent membantu membongkar dinding dan membersihkan loteng untuk mengusir semua tikus itu.
Meskipun melakukan sesuatu yang tampaknya tidak relevan dengan pekerjaannya, pendeta yang ramah itu hanya tertawa dan berkata bahwa “dia perlu melayani umat di mana pun Bulan bersinar.”
Annie tidak bisa melupakan bagaimana pendeta yang wajahnya penuh debu karena membersihkan loteng itu mengeluarkan sebotol racun tikus dan bercanda bahwa seperti itulah rupa air suci.
Bagaimana mungkin pria baik dan penuh perhatian seperti Pastor Vincent bisa meledakkan dua gereja dan membunuh pria yang sudah seperti ayah angkat baginya.
Dia tidak ingin percaya bahwa Pastor Vincent adalah orang seperti itu, tetapi imannya pada Gereja Kubah membuatnya bimbang.
Annie menggelengkan kepalanya. Dia hanyalah orang biasa dengan cukup banyak masalah dalam kehidupan sehari-harinya. Hal-hal seperti itu terlalu jauh baginya dan tidak ada yang bisa dia lakukan meskipun dia memilih untuk percaya.
“Ibu, ibu, ibu, ibu…” Kedua anaknya menarik-narik pakaiannya lagi, memintanya untuk bermain.
“Baiklah, baiklah.”
Annie menenangkan kedua anaknya dan tersenyum pada suaminya. Dalam suasana yang tenang dan hangat, keluarga itu bersiap untuk tidur seperti biasa.
…
“Di mana aku?”
Annie menatap sekelilingnya dengan heran. Jalanan yang sepi itu tanpa orang dan malam begitu gelap. Di kejauhan, sepertinya terdengar suara samar dari tempat yang jauh.
Namun, Annie ingat bahwa dia seharusnya sudah tertidur.
Jadi… Aku sedang bermimpi?
Annie berjalan gontai ke depan, samar-samar merasa familiar. Dia mendongak dan melihat papan nama Kapel Amal.
Kapel Amal?!
Dia akhirnya ingat! Bukankah ini jalan di dekat Kapel Amal tempat Pastor Terrence memimpin?
Berita itu benar bahwa masyarakat Paroki Ketujuh mengenal Pastor Terrence dengan baik. Orang-orang seusia Annie akan datang ke Kapel Amal untuk berobat ketika mereka masih muda.
Ingatan yang samar itu menjadi jelas dalam sekejap dan Annie secara naluriah ingin mengetuk pintu.
Namun sebelum dia bisa bergerak, sesosok tubuh muncul di tikungan, membuat Annie terkejut.
Dia menyaksikan dengan kaget saat sosok itu tersandung dan jatuh di depan pintu. Tubuh orang itu hangus terbakar dan berlumuran darah. Dua lubang berdarah ada di tempat mata seharusnya berada, tetapi Annie mengenali wajah ini.
Pastor Vincent!
Annie menutup mulutnya saat matanya melebar tak percaya.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya benar-benar meruntuhkan persepsinya tentang apa pun yang dia ketahui…
——
Keesokan harinya.
Annie bangun pagi-pagi tetapi masih berbaring di tempat tidur, menatap kosong ke langit-langit.
Dia tidak tahu apa arti mimpi itu, tetapi Rasul Bulan Sabit yang mengerikan, mendiang Pastor Terrence, dan Pastor Vincent yang menangis tanpa suara dalam kobaran api, semuanya masih segar dalam ingatannya.
Sebuah pemikiran dingin terus berputar di benaknya. Mungkinkah… Mungkinkah ini kebenaran yang sebenarnya?
“Waa! Ibu, tolong! Aku takut!” Anak-anaknya terbangun sambil menangis, meratap saat mereka menceritakan mimpi buruk mereka dengan tidak jelas.
Kuduknya meremang saat dia mendengarkan anak-anaknya. Kata-kata yang digunakan anak-anak berbeda, tetapi secara keseluruhan, apa yang mereka alami persis sama dengan mimpinya!
Tidak mungkin ini kebetulan!
Mungkinkah itu hantu pendendam Pastor Vincent?
Tapi mengapa Pastor Vincent terlihat seperti itu dalam mimpi?
Apakah itu alasan mengapa dia melakukan apostasi?
Gereja lain…
Apakah semua yang terjadi dalam mimpi itu nyata?
Annie yang bingung membawa anak-anaknya keluar ke ruang tamu dan melihat suaminya duduk di sofa dengan tatapan kosong. Ekspresi suaminya yang hampa membuatnya bertanya, “George, apakah kamu juga mengalami mimpi itu?”
George membeku, dan ekspresinya berubah serius. “Apakah kalian semua juga memimpikannya?”
Kedua orang dewasa itu saling menatap, menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres saat rasa dingin menjalar di punggung mereka.
George menelan ludah dan memaksakan senyum. “Mari kita jangan panik dulu. Mungkin kita harus pergi ke gereja…”
Namun, suaranya menghilang di akhir kalimat. Jika semua yang ada di dalam mimpi itu benar, bisakah Gereja Kubah dipercaya?
Kring, kring…
Telepon di ruang tamu berdering dan Annie pergi untuk mengangkatnya. Itu teman baiknya, Athena.
Dia juga penganut Gereja Kubah dan pernah dibantu oleh Pastor Vincent di masa lalu.
Wanita paruh baya yang gemuk itu bertanya dengan ragu, “Annie, apakah… apakah kalian semua mengalami mimpi itu?”
Bab Ini Masih Terkunci
Bab ini dijadwalkan rilis gratis pada .
Ingin baca instan sekarang? Dukung penerjemah di halaman Donasi Novelfire untuk klaim token eksklusif Anda.