Tiga Orang di Dalam Kereta
Induk Seri: Silent Witch [id]
Setelah upacara di Akademi Serendia selesai, Eliane bergegas kembali ke kamarnya di asrama untuk berganti gaun.
Dia menanggalkan seragamnya dan mengenakan gaun kasual, merapikan riasan, serta mengubah gaya rambutnya.
“Topi merah muda dengan pita yang baru kubeli beberapa waktu lalu pasti sangat cocok dengan gaya rambut ini.”
“Baik, Nona.”
Tanpa bicara banyak, pelayan itu mengambil topi yang diinginkan dari tas perjalanan dan memakaikannya pada Eliane.
Eliane berdiri di depan cermin besar setinggi tubuh untuk memeriksa penampilannya. Mantel baru yang dipadukan dengan syal, serta topi berdesain paling modis saat ini di atas kepalanya. Sosok gadis cantik dan anggun yang pasti akan dipuji menggemaskan oleh semua orang terpantul di cermin.
Karena aku akan naik kereta yang sama dengan Tuan Felix, aku harus memastikan penampilanku sempurna.
Eliane sedang bersemangat tinggi. Menjelang libur musim dingin yang sudah di depan mata, Felix akan tinggal di kediaman Eliane. Bagaimana mungkin dia tidak gembira?
Felix akan menghabiskan dua hari pertama libur musim dingin di kediaman Hyatt, yang kemudian akan dilanjutkan dengan agenda diplomasi saat utusan dari Kerajaan Falforia tiba. Tugas Eliane adalah menyambut dan menjamu Felix serta para utusan dari negara tetangga tersebut.
Ini adalah kesempatan sempurna untuk menunjukkan sisi terbaiknya di hadapan Felix.
Menurut ayahnya, sosok yang mengatur diplomasi ini adalah Adipati Crockford, paman buyut Eliane. Dengan kata lain, seluruh rangkaian acara ini bisa terjadi karena telah diatur oleh beliau.
Dia harus benar-benar memanfaatkan kesempatan ini untuk mengamankan posisinya sebagai tunangan Felix.
…Jika perlu, dia hanya tinggal menjadikannya sebuah fakta yang tak terbantahkan.
Jika seandainya… ya, seandainya saja Tuan Felix tidak sengaja masuk ke kamarku… tentu saja, aku tidak akan pernah melakukan sesuatu yang tidak sopan seperti menggodanya, tetapi jika Tuan Felix terpikat melihatku mengenakan gaun tidur, kami berdua mungkin bisa menghabiskan waktu bersama hingga pagi… meski itu baru asumsi-ku saja. Tentu saja, aku tidak akan mengajaknya. Itu hanya terjadi jika Tuan Felix sendiri yang menginginkannya… dan untuk mewujudkannya, aku sudah menyuruh pelayanku melakukan beberapa persiapan…
Eliane merapikan pita di kerah bajunya sambil menyusun berbagai rencana untuk menggiring Felix ke kamar tidurnya.
“Nona, sudah hampir waktunya kereta tiba.”
“Baiklah, aku akan segera ke sana.”
Sambil tersenyum balik kepada pelayannya, Eliane melangkah keluar dari asrama.
Banyak kereta kuda berbaris di depan Akademi Serendia, menunggu majikan mereka kembali ke kediaman masing-masing. Di antara semuanya, kereta kuda milik Adipati Rehnburg yang sangat indah tampak paling mencolok.
Dia berniat menemui Felix di depan kereta ini. Orang-orang yang melihat Felix masuk ke kereta yang sama dengan Eliane pasti akan menyebarkan rumor. Bahwa Pangeran Kedua telah memilih Eliane sebagai tunangannya dan menghabiskan libur musim dingin di rumah Eliane.
Oh, sungguh perasaan yang luar biasa!
Sadar bahwa semua mata tertuju pada kereta keluarga Adipati Rehnburg, Eliane menahan keinginannya untuk melompat kegirangan dan melangkah maju dengan keanggunan seorang putri dari kelas atas.
Seperti yang bisa dilihat, berdiri di depan kereta adalah seorang pangeran tampan yang menjadi pusat perhatian semua orang, sedang menunggunya…
“Hah? Bukankah kamu yang memerankan tokoh Amelia? …hmm, siapa lagi ya namamu?”
“Beliau adalah Nona Eliane Hyatt.”
Sosok yang berbicara dengan suara keras dan tidak sopan itu bukanlah pangerannya, melainkan Glenn Dudley, yang sempat tampil bersama Eliane dalam drama di festival sekolah. Dan orang yang memberi tahu namanya adalah Felix yang berdiri di sampingnya, sambil bertepuk tangan setelahnya.
“Oh, benar juga! Eliane, Eliane… tunggu, kenapa Eliane ada di sini?”
Harusnya itu kalimatku!
Mengapa Glenn Dudley sedang mengobrol dengan Felix di depan kereta milik keluarga Adipati Rehnburg?
“Dudley. Dia adalah putri dari Adipati Rehnburg.”
“Oh, aku tidak tahu! Hmm, akan lebih mudah dipahami kalau kamu dipanggil Eliane Rehnburg Hyatt.”
“Itu adalah gelar yang diambil dari nama wilayah yang mereka kelola.”
“Begitu ya?”
“Benar.”
“Omong-omong, kenapa wilayah itu dinamai seperti itu?”
Eliane merasa seperti akan gila jika terus mendengarkan percakapan ini lebih lama lagi. Maka, dia memaksakan senyum anggun di wajahnya yang sebenarnya sudah hampir masam.
“Selamat siang, Tuan Felix. Sudah lama tidak berjumpa, Tuan Dudley. Kita tidak pernah bertemu lagi sejak pementasan drama waktu itu.”
Eliane secara halus menegaskan kepada orang-orang di sekitar bahwa dia tidak memiliki hubungan apa pun dengan Glenn, kecuali saat mereka tampil bersama dalam drama. Sayangnya, maksud tersebut langsung dihancurkan oleh ucapan Glenn.
“Aku tidak pandai dengan hal-hal formal, jadi panggil saja aku Glenn! Apalagi kita akan saling merepotkan satu sama lain mulai sekarang! Jadi jangan sungkan memanggil namaku.”
“…maaf?”
Apa maksudnya dengan “saling merepotkan satu sama lain mulai sekarang”?
Melihat kebingungan Eliane, Felix menjelaskan dengan senyum ramah.
“Selama aku tinggal di kediaman Adipati Rehnburg, Nona Everett sang Penyihir Sunyi dari Tujuh Penyihir Agung, serta Dudley yang merupakan murid dari Penyihir Penghalang, akan mendampingiku sebagai pengawal.”
Apa!?
Mendengar seruan batin Eliane, Glenn memberikan senyuman secerah matahari, lalu berkata.
“Karena situasinya begitu! Aku sangat menantikan kerja sama kita selama libur musim dingin ini!”
Para murid di sekitar memang sedang memusatkan perhatian pada Eliane dan kedua pria itu. Namun, bukan akhir seperti ini yang dia harapkan.
Alih-alih tatapan iri dari sekitar, yang dia dapatkan justru pandangan penuh rasa penasaran. Meski begitu, Eliane tetap menunjukkan senyum lembutnya, walaupun dalam hati dia menghentakkan kaki ke tanah dengan kesal.
* * *
Di dalam kereta berkapasitas empat orang dengan dua kursi yang saling berhadapan, sudah sewajarnya bagi Eliane untuk duduk di samping Felix. Harusnya itu menjadi hal yang mutlak, tetapi mengapa Felix justru duduk di samping Glenn?
“Tuan Felix, bukankah akan terasa agak sempit bagi dua orang pria untuk duduk berdampingan di sana?” Eliane mengungkapkan kekhawatirannya secara halus, yang dibalas Felix dengan senyuman menawan.
“Sama sekali tidak, justru aku merasa kereta ini lebih luas dan nyaman dari yang kukira. Lagipula, Dudley adalah pengawal pribadiku.”
Karena diberi tahu bahwa sudah sewajarnya seorang pengawal duduk di sampingnya, Eliane tidak bisa mendebat lagi. Padahal harusnya ada momen di mana dia tidak sengaja bersandar di dada Felix saat kereta berguncang, atau bersandar di bahunya sambil pura-pura tidur siang!
Saat Eliane menggertakkan gigi dalam hati, Glenn mengangkat pandangannya dan menatap Eliane seolah menyadari sesuatu.
Apakah kamu akhirnya menyadari apa yang kupikirkan? Baguslah, kamu harus tahu diri.
“Tidak perlu khawatir, Eliane! Aku pasti akan melindungi tidak hanya Ketua, tapi juga dirimu!”
Bukan itu yang dia ingin Glenn khawatirkan.
Setelah terpaksa menelan kembali kata-kata ‘Aku tidak mengharapkan perlindunganmu,’ dia memberikan senyum anggun.
“Oh ampun, sungguh menenangkan rasanya dilindungi olehmu, Tuan Glenn.”
“Serahkan saja padaku! Omong-omong, menurutku mengeja nama ‘Eliane’ agak sulit, jadi bolehkah aku memanggilmu Ellie saja?”
Mana boleh! Eliane hampir saja melontarkan kata-kata itu, tetapi kemudian dia berpikir.
Jika dia mengizinkan Glenn memanggilnya Ellie, maka dalam kelanjutan percakapan nanti, dia bisa memohon pada Felix, ‘Apakah Anda bersedia memanggilku Ellie juga, Tuan Felix?’ Dengan begitu, kemungkinan besar Felix akan memanggilnya Ellie, bukan?
Eliane merespons dengan senyum ambigu yang tidak bisa dikatakan sebagai penolakan maupun persetujuan, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Felix dengan gerakan yang sangat alami.
“Tuan Felix, bisakah Anda…”
…memanggilku Ellie? Sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya, dia melihat kepala Felix terkantuk-kantuk.
Bulu mata emas panjang Felix tampak turun, dan dia terlihat agak mengantuk. Sepertinya dia sempat tertidur tanpa benar-benar mendengarkan ucapan Eliane.
“Anu… Tuan Felix?”
“Oh, maafkan aku. Aku agak kurang tidur… Aku sangat menantikan hari ini, sampai-sampai tidak bisa tidur nyenyak semalam.”
Suasana hati Eliane yang sempat turun langsung melonjak drastis setelah mendengar ucapan Felix.
Aku tidak menyangka Tuan Felix begitu menantikan kedatangannya ke rumahku sampai seperti ini!
Bukankah ini pertanda baik untuk sebuah hubungan asmara?
Eliane menyembunyikan rasa gembira yang membuncah dalam dirinya dan berkata pada Felix dengan nada penuh perhatian.
“Silakan santai saja dan beristirahatlah, Tuan Felix.”
“Ya. Aku akan melakukannya.”
Felix menyandarkan pipinya pada tangan yang bertumpu di sandaran lengan lalu memejamkan mata.
Saat Eliane sedang terpesona oleh ketampanan wajah Felix yang sedang tertidur, Glenn menyenggol dan mengusik Eliane.
“…ada yang bisa kubantu, Tuan Glenn?”
“Aku bosan kalau cuma melihat pemandangan ke luar, bagaimana kalau kita main gim? Aku membawa banyak barang dari rumah khusus untuk hari ini.”
“Tuan Felix sedang tidur, kurasa kita tidak boleh membuat terlalu banyak suara…”
“Aku akan mengecilkan suaraku, jadi jangan khawatir. Sekarang, lihat koin ini~”
Glenn mengeluarkan se keping koin tembaga dari sakunya dan menjentikkannya dengan tangan kanan, lalu menangkapnya kembali dengan tangan kanan. Setelah mengatupkan kedua tangan kanan dan kirinya, dia menyodorkannya di depan Eliane.
“Tangan mana yang ada koinnya?”
“…tangan kanan…”
Glenn tersenyum dan membuka tangannya, hasilnya koin tersebut berada di tangan kirinya. Eliane sontak membulatkan matanya.
“Apa? Bagaimana bisa? Aku jelas-jelas melihatmu menangkapnya dengan tangan kanan.”
“Oke, sekali lagi.”
Glenn menjentikkan koin dengan tangan kanan dan menangkapnya dengan tangan kanan. Eliane memperhatikan gerakan koin itu tanpa berkedip. Dia sangat yakin koin itu berada di tangan kanan.
“Di tangan kanan lagi.”
“Sayang sekali, kamu salah lagi~”
“Apa!?”
Eliane secara spontan condong ke depan dan menatap tajam ke arah koin tersebut. Trik semacam ini adalah pertunjukan biasa di jalanan, tetapi Eliane, seorang rona muda yang hidupnya terbatas di lingkungan masyarakat kelas atas, belum pernah melihat pertunjukan jalanan atau trik rakyat jelata.
“Kamu curang. Kamu menggunakan sihir, kan?”
“Padahal aku tidak merapalkan mantra sama sekali. Dan guruku bilang tidak mungkin memindahkan objek dengan mana manusia.”
Dan apa yang dikatakan Glenn adalah fakta. Jadi Eliane hanya bisa cemberut sambil menatap tajam ke arah tangan kanan Glenn.
“Tolong lakukan sekali lagi, oke, sekali lagi.”
“Baiklah, aku akan menaikkan tingkat kesulitannya sedikit kali ini.”
“Eh!? Padahal aku belum paham trik yang pertama tadi!”
Felix, yang tadinya tertidur sambil menyandarkan pipi di tangannya, membuka satu matanya sedikit dan menyunggingkan senyum tipis setelah melihat Glenn dan Eliane, sebelum akhirnya memejamkan mata kembali.
Dia merasa cukup terhibur mendengarkan percakapan mereka, tetapi saat ini dia ingin tidur.
Sama seperti seorang anak laki-laki yang akan pergi menemui cinta pertamanya, dia tidak bisa tidur dengan tenang semalam. Lagipula, dia akan bertemu dengan sang Penyihir Sunyi yang selama ini sangat dia kagumi.
Dari apa yang dia dengar, Nona Penyihir Sunyi telah tiba di Kediaman Adipati Rehnburg, menanti kedatangannya.
…Apa yang harus dia bicarakan saat menemuinya nanti—pikir Felix sembari kembali terlelap dalam tidurnya.
Bab Ini Masih Terkunci
Bab ini dijadwalkan rilis gratis pada .
Ingin baca instan sekarang? Dukung penerjemah di halaman Donasi Novelfire untuk klaim token eksklusif Anda.