Pertemuan dengan Bartholomew Alexander
Induk Seri: Silent Witch [id]
Bicara tentang pendidikan, sihir adalah bagian dari pendidikan wajib. Walau masyarakat tidak dituntut memiliki pengalaman praktis, mereka setidaknya wajib memiliki pengetahuan dasar tentang hal tersebut.
Faktanya, justru akan merepotkan bagi Adipati Crockford jika anak laki-laki itu bisa menggunakan sihir. Karena itu, si anak dilarang menyentuh latihan sihir. Namun anehnya, semakin suatu hal dilarang, semakin orang ingin menyentuhnya.
Lebih dari segalanya, ada satu sihir yang sangat ingin digunakan oleh anak itu. Sihir untuk membuat kontrak dengan roh tingkat tinggi menggunakan batu roh.
Anak itu telah mempelajari sihir secara otodidak demi mewujudkan hal ini, hingga akhirnya, dia berhasil melakukannya.
—Apakah Anda tuan baru saya?
Setelah sihir berhasil diselesaikan, sesosok roh muncul dalam wujud seorang pemuda berambut biru muda. Fitur wajahnya rapi dan bersih, namun keberadaannya yang tipis membuat dirinya hampir bisa diabaikan. Sementara matanya berwarna biru air yang pucat, warnanya bahkan lebih pucat daripada batu akuamarin yang menjadi media kontrak.
Melihatnya, anak itu tersenyum tipis dan berbicara.
“Roh Wildeanu. Aku butuh bantuanmu untuk mewujudkan keinginanku. Aku percaya keinginan ini pantas untuk dikabulkan olehmu, mantan pelayan Ratu Irene.”
—Apa keinginan Anda?
Roh itu bertanya dengan suara samar, yang dijawab oleh si anak dengan senyum yang sangat tipis dan tatapan mata… yang didorong oleh obsesi.
“Aku ingin menyalakan bintang tertentu di langit malam.”
Getaran kereta mengembalikan kesadarannya ke realitas, dan dia teringat bahwa dirinya sedang berada di dalam kereta kuda.
Saat Felix mengusap matanya perlahan, dia mendengar suara-suara ceria dari tepat di sebelahnya.
“Itu tidak adil, aku yakin kamu pasti melakukan sesuatu pada kartunya…”
“Aku benar-benar tidak melakukan apa-apa pada kartunya. Anda saja yang terlalu payah dalam bermain kartu.”
“Asal tahu saja, aku bahkan pernah…”
“Baiklah, aku menang.”
“Ah, tunggu…!”
Glenn membalikkan kartu di tangannya untuk menunjukkan kombinasi miliknya, sementara Eliane menjatuhkan kartu-kartunya sendiri di pangkuan dan memekik kesal.
Kartu yang mereka gunakan memiliki ilustrasi dan huruf di atasnya. Kemungkinan itu adalah permainan yang populer di kalangan anak-anak rakyat jelata.
“Selamat pagi, kalian tampaknya sedang bersenang-senang.”
Ketika Felix menyapa, bahu Eliane tersentak dan dia buru-buru menyembunyikan kartunya dengan panik sambil menatap Felix.
“S-Selamat pagi, Tuan Felix. Maafkan saya karena telah membuat keributan…”
“Tidak apa-apa, jangan khawatir. Omong-omong, permainan apa itu?”
“I-Ini saya lakukan sebagai bagian dari studi sosial untuk memahami tren masyarakat umum saat ini…”
Eliane tampak tidak nyaman dengan kenyataan bahwa dia memainkan permainan rakyat jelata.
Namun Glenn tampaknya tidak keberatan saat dia mengumpulkan kartu-kartu itu dan berkata:
“Ini permainan yang sedang populer di kalangan rakyat jelata belakangan ini. Anda harus mengumpulkan empat kartu berisi cakar, sisik, sayap, dan mata naga, dan orang pertama yang berhasil menyusun naga secara utuh adalah pemenangnya. Jenis naga yang berhasil disusun tergantung pada jenis bagian yang Anda miliki, dan semakin kuat naganya, semakin tinggi skor Anda. Omong-omong, naga terkuat adalah naga hitam…”
Felix bisa memahami betapa bagusnya rancangan permainan itu setelah mendengarkan penjelasan Glenn. Meskipun aturannya cukup sederhana untuk dipahami oleh pemula, permainan ini melibatkan banyak strategi dan ternyata cukup mendalam.
Mungkin permainan ini dirancang untuk membantu orang-orang mempelajari berbagai jenis naga melalui permainan.
“Kedengarannya menarik,” komentar Felix dengan ramah, dan Glenn tersenyum hingga menunjukkan giginya yang putih.
“Ketua, apakah Anda ingin bergabung di babak ini?”
“Aku ingin sekali, tapi sepertinya kita sudah hampir sampai di kediaman.”
Saat Felix melihat ke luar jendela, kusir kereta menambahkan, “Benar, kita sudah hampir sampai.”
Glenn dengan penuh penyesalan mengumpulkan kartu-kartu itu dan memasukkannya ke dalam tas. Selain kartu, tas itu penuh dengan barang-barang yang tampak seperti mainan dan buah kering untuk camilan. Kenyataan bahwa tidak ada satu pun barang yang berguna untuk misi pengawalan sangatlah mencerminkan kepribadiannya.
Pada saat mereka tiba di Kediaman Adipati Rehnberg, matahari telah sepenuhnya terbenam.
Rombongan itu disambut oleh seorang pria paruh baya berpenampilan bersahaja dengan rambut pirang keabu-abuan yang tersisir rapi.
“Nama saya Peter Sams, dan saya yang akan mengurus keperluan Anda selama beberapa hari ke depan. Jika Anda memiliki permintaan, jangan ragu untuk menghubungi saya.”
Hmm, Felix memiringkan kepalanya. Dia samar-samar mengingat wajah Peter.
“Sepertinya aku pernah melihat wajahmu sebelumnya. Bukankah kamu pernah berada di rumah kakekku?”
Mata Peter melebar karena terkejut mendengar ucapan Felix.
Untuk sesaat, ekspresi cemas yang pahit muncul di wajahnya. Peter dengan cepat menguasai diri kembali dan menundukkan kepalanya seperti seorang pelayan.
“Merupakan suatu kehormatan bagi saya karena diingat oleh Yang Mulia. Benar sekali. Saya dulunya adalah pelayan Lord Crockford.”
Adipati Crockford dan Adipati Rehnberg memiliki hubungan pertemanan yang mendalam, jadi memberikan seorang pelayan kepada keluarga lain bukanlah hal yang aneh.
Namun, ekspresi cemas yang diperlihatkan Peter sesaat tadi mengusik pikiran Felix.
Mungkin dia telah melakukan suatu kesalahan di keluarga Crockford dan dikirim ke keluarga lain. Atau mungkin dia adalah seorang perantara antara Adipati Crockford dan Adipati Rehnberg.
Memutuskan bahwa hal itu kemungkinan besar bukan sesuatu yang harus diungkit saat ini, Felix menyimpan pemikiran itu.
“Baiklah, kalau begitu mohon bantuannya mulai hari ini… Aku hanya penasaran, apakah Nona Everett sudah tiba?”
“Ya… oh, pucuk dicinta ulam pun tiba.”
Ada dua sosok yang sedang berjalan ke arah mereka dari ujung koridor. Sesosok bertubuh kecil yang mengenakan jubah berkerudung sambil memegang tongkat di tangannya, dan seorang pemuda bertubuh tinggi.
Sosok kecil itu mengenakan kerudung dengan sangat rapat hingga wajahnya pun tidak terlihat. Namun, jubah biru tua dan tongkat panjang yang hanya boleh dikenakan oleh Tujuh Penyihir Agung menandakan bahwa orang ini adalah Silent Witch yang dikagumi Felix.
Namun, alih-alih tertuju pada Silent Witch yang sangat ingin ditemuinya, perhatian Felix justru tersita oleh pria yang berdiri di sampingnya. Felix pernah bertemu pria ini sekali sebelumnya.
Rambut hitamnya agak berantakan, dan matanya berwarna emas tajam. Pria yang mengenakan jubah kuno saat pertemuan sebelumnya itu kini berpakaian rapi layaknya seorang pelayan.
“Kamu adalah…”
Eliane dan Glenn menatap Felix dengan penasaran, yang tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya.
Pria berambut hitam itu menyeringai dan membuka suara.
“Oh, saya ingat, saya pernah bertemu Yang Mulia sekali.”
”…Sudah lama tidak bertemu, Bartholomew Alexander.”
Saat Felix menyebutkan nama itu, pria berambut hitam itu membusungkan dadanya dengan bangga.
“Benar sekali, saya Bartholomew Alexander, pelayan dari Silent Witch.”
Monica sangat terkejut hingga dia mengira jantungnya akan melompat keluar dari mulutnya.
Tunggutunggutunggutunggu!????
Monica menarik ujung baju Nero dan bergeser ke sudut koridor. Felix dan yang lainnya memperhatikan interaksi itu dengan penasaran, tetapi Monica sudah tidak dalam suasana hati untuk memikirkan hal tersebut.
“Oh, ada apa, Tuan?”
Monica mendekat ke arah Nero, yang sedang menyeringai padanya, sambil meredam suaranya.
“B-B-Bagaimana kamu bisa mengenal Yang Mulia, Nero?!”
“Hmm? Memangnya aku belum memberi tahumu? Aku berpapasan dengannya saat menggendong Si Pria Dingin ke asrama putra.”
“Kamu tidak pernah memberi tahuku tentang itu!”
Kemungkinan besar, ‘Si Pria Dingin’ yang dia maksud adalah Cyril Ashley. Namun, sudah tiga bulan berlalu sejak Monica menghentikan amukan sihir Cyril.
Pada saat itu, Nero membawa Cyril yang pingsan ke asrama putra… tapi dia tidak pernah membayangkan bahwa Nero berpapasan dengan Felix saat itu!
Waktu itu kamu cuma bilang “Sudah kuantar”, tahu!
Jika Monica tahu bahwa Nero telah bertemu Felix dalam wujud manusianya, dia tidak akan pernah memberinya peran sebagai pelayan.
“Dan apa-apaan dengan nama Bartholomew Alexander itu? Kamu tadinya memikirkan nama alias yang lain, kan?”
Sir Bartholomew Alexander adalah nama pahlawan dari novel petualangan yang terkenal. Siapa pun yang mendengar nama itu pasti akan berpikir itu adalah nama samaran dan akan sangat mencurigainya.
Nero tampaknya tidak merasa bersalah, sebaliknya, dia hanya berkata dengan blak-blakan:
“Nama alias, ya? Ya, aku lupa tentang itu. Aku tidak bisa mengingat nama orang-orang yang tidak menarik minatku.”
Setidaknya ingatlah nama aliasmu sendiri!
Monica menutupi wajah dengan kedua tangannya dan terduduk lemas di atas lututnya. Ini adalah kesalahan mutlak dari pihak Monica dalam memilih personel yang tepat.
Namun Nero, orang yang bertanggung jawab atas kekacauan ini, tampaknya tidak ambil pusing.
“Tidak ada yang perlu diributkan. Hanya sedikit orang yang pernah melihat wujud manusiaku sejak misi pengawalan dimulai.”
Itu benar. Selain Lynn, orang yang pernah melihat “Monica Norton” bekerja bersama Nero dalam wujud manusia di Akademi Serendia hanyalah Casey saat upaya pembunuhan, dan Barney saat turnamen catur.
Setidaknya, tidak ada orang di sini yang akan berspekulasi tentang hubungan antara Nero dalam wujud manusia dan Monica Norton.
”…Saat kamu bertemu dengan Yang Mulia tiga bulan lalu, kamu tidak menyebutkan namaku, kan?”
“Mana mungkin aku menyebutkannya. Aku tidak sebodoh itu.”
”…Aku akan memintamu menjelaskan semuanya nanti… tapi untuk sekarang, tolong jadilah pelayan yang baik, mengerti?”
Setelah mengingatkannya dengan tegas, Nero menepuk dadanya sambil berkata, “Oh! Serahkan saja padaku!” Monica merasa tidak tenang, dia tidak merasakan apa-apa selain kecemasan. Meski begitu, dia tidak bisa membiarkan Felix dan yang lainnya terus berdiri di pintu masuk.
Setelah menarik kerudungnya rapat-rapat hingga menutupi mata, Monica berdiri di depan Felix, menekuk lututnya, meletakkan tongkatnya di lantai, dan berlutut dengan satu kaki. Itu adalah penghormatan tertinggi yang bisa ditunjukkan seorang abdi kepada keluarga kerajaan.
Namun, saat Monica berlutut, Nero justru berdiri di sampingnya dengan angkuh.
“Orang ini adalah tuanku, Silent Witch. Seperti namanya, tuanku tidak berbicara, jadi jika Anda ingin menyampaikan sesuatu kepadanya, Anda bisa bicara lewat aku.”
Semua orang di ruangan itu tercengang oleh sikap si pelayan yang lebih dominan daripada tuannya sendiri.
Di tengah situasi yang mengejutkan ini, Felix tersenyum kecut sebagai tanggapan.
“Mengapa kamu masih berdiri sementara tuanmu sedang berlutut?”
“Kenapa aku harus berlutut padamu? Tuanku adalah dia, Silent Witch, bukan kamu.”
“Bahkan ketika status keluarga kerajaan lebih tinggi daripada Tujuh Penyihir Agung?”
“Aku tidak peduli kamu keluarga kerajaan atau bukan, aku hanya akan berlutut pada seseorang yang lebih hebat dari diriku sendiri.”
NEEEERROOOOO!!
Monica berdiri dalam diam dan memukul punggung Nero dengan tinjunya.
Tidak boleh! Tidak sopan! Kepada Yang Mulia!
Bibir Nero berkedut kesal seolah dia mengerti apa yang ingin dikatakan Monica.
Monica mencoba membuat Nero menundukkan kepalanya, tetapi sekeras apa pun dia berusaha meraihnya, tubuh Monica yang mungil tidak dapat menjangkau kepala Nero yang tinggi.
Sambil berhati-hati agar tidak ada yang melihat wajah di balik kerudungnya, Monica berjinjit untuk memaksa Nero menundukkan kepalanya.
Melihat interaksi antara Monica dan Nero, Felix tidak bisa menahan tawa kecilnya. Terlepas dari kenyataan bahwa mereka bersikap tidak sopan di hadapannya, dia bertindak murah hati tanpa menunjukkan rasa marah atau tidak senang.
“Begitu ya. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi tipe orang yang membuatmu ingin berlutut suatu hari nanti.”
“Oh, semoga berhasil.”
Dengan sihir tanpa rapalan (no-chant spell), Monica menciptakan gumpalan angin untuk memukul kepala Nero tanpa persetujuannya.
“Aduh!!” pekik Nero protes sebelum akhirnya tersungkur ke lantai.
“Apa yang kamu lakukan!? …ADUH!”
Monica melepaskan tembakan kedua tanpa ampun untuk membungkam Nero sembari berlutut kembali di hadapan Felix.
Aaaaaaaaah! Maafkan saya, maafkan saya jika Nero bersikap tidak sopan kepada Anda. Maafkaaaaan saya!
Saat Monica mengusapkan dahinya ke lantai sambil gemetar, dia mendengar gumaman kecil.
”…Sihir tanpa rapalan…”
Suara Felix terdengar bergetar, tetapi juga mengandung semacam rasa hormat di dalamnya.
Pandangan Monica dari balik kerudung melirik ke arah suara itu… dan dia melihat mata Felix yang berbinar-binar seolah dia merasa sangat terharu hingga kehabisan kata-kata.
“Tolong angkat kepalamu, Nona Everett.”
Sambil bersusah payah menahan suaranya agar tidak keluar dari tenggorokannya yang kaku, Monica mengangkat kepalanya secukupnya agar wajahnya tidak terlihat di bawah kerudung.
Felix berlutut di depan Monica dan membisikkan kata-kata yang hanya bisa didengar olehnya sendiri.
“Sudah kuduga, Anda adalah orang yang menyelamatkan Cyril dari amukan sihirnya… dan juga menyelamatkanku dari [Conch Flame].”
”——!?”
Bagaimana Felix bisa tahu tentang [Conch Flame]? Satu-satunya orang yang mengetahui insiden itu adalah Louis, Monica, dan orang yang terlibat, yaitu Casey.
Felix meraih salah satu tangan Monica yang gemetar dan mencium punggung tangannya.
“Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan Anda, Nona Everett.”
Pipi Felix merona kemerahan saat dia menatap Silent Witch, mata birunya entah bagaimana tampak terpikat seolah-olah dia adalah… seorang pemuda yang sedang jatuh cinta.
Situasi saat ini mengingatkan Monica pada pria bernama Eig di distrik hiburan yang pernah memuji Silent Witch.
——“Maafkan perilaku saya. Sejujurnya, saya sebenarnya adalah penggemar berat Silent Witch. Jika menyangkut tentang dirinya, saya tidak bisa menahan diri untuk tidak banyak bicara.”
O-Oh. S-Sekarang aku ingat, jadi dia mengatakan yang sebenarnya padaku!
Itu adalah hal yang cukup mengejutkan bagi Monica ketika mendengar pernyataan tersebut di Toko Buku Kuno Porter, meskipun saat itu hanya dari sudut pandang seorang asing.
Namun, ketika dia dihadapkan pada kenyataan situasi yang sebenarnya ini, keringat mulai mengucur di telapak tangan Monica.
Saat wajah Monica menegang di balik kerudungnya, Eliane mengangkat suaranya dengan agak gusar.
“Peter! Peter! Yang Mulia dan rombongannya baru saja tiba, tolong siapkan teh untuk mereka terlebih dahulu!”
“Baik, Nona.”
Peter merespons dengan cepat perintah nonanya dan mengarahkan rombongan menuju ruang tamu.
Ketika Monica dilepaskan dari genggaman tangan Felix, dia menahan dadanya yang berdegup kencang dengan menarik jubahnya ke bawah. Apa yang harus kulakukan, aku merasa ingin muntah karena sangat gugup.
Saat dia menahan suaranya sambil menghela napas memburu, Felix tersenyum seolah dia telah terpesona oleh Monica.
“Mari, kita juga harus segera berangkat, Nona Everett.”
Jika memungkinkan, dia lebih memilih untuk tetap tinggal di sini, tetapi Monica adalah pengawal Felix. Dan jika anggota keluarga kerajaan mengajaknya untuk bergabung, dia tidak boleh mengabaikan permintaan mereka.
Maka Monica mengikuti rombongan itu ke ruang tamu sembari mendekap tongkatnya di dada dan berjalan membungkuk dengan ekspresi tertunduk.
…pada saat ini, dia lupa bahwa Nero masih terkapar di lantai, sama sekali tidak menyadari apa yang sedang terjadi.
Bab Ini Masih Terkunci
Bab ini dijadwalkan rilis gratis pada .
Ingin baca instan sekarang? Dukung penerjemah di halaman Donasi Novelfire untuk klaim token eksklusif Anda.