Awal Mula Sebuah Bangsa! 04.

Induk Seri: GOT: The Legend of Jon Arctic [id]

Fitur Asisten Suara AI (Beta)
Berdiskusi di server Discord
Pengaturan Membaca
18px

POV Jon Snow

Di suatu tempat di balik Tembok, 290 AC, setelah 2 tahun.

Dalam keheningan fajar, di bawah jalinan akar purba pohon weirwood yang agung, Jon Snow terbangun. Meski hanya tidur selama empat jam, ia merasa sangat bugar. Keberadaan weirwood itu terasa seperti obat penenang, memberinya energi dan memulihkan kekuatannya dengan efisiensi yang sulit dipahami orang awam. Ia bangkit dengan ketenangan alami dan berjalan melewati jalur yang familier di antara akar-akar pohon menuju sebuah sudut yang disiapkan khusus untuknya.

Di sana, di dalam ruangan yang dipahat di jantung pohon, sebuah bak mandi menantinya. Tidak seperti bak biasa, bak ini berisi lava panas yang mendidih—pemandangan yang akan menakutkan bagi siapa pun, namun bagi Jon, itu adalah ajakan untuk bersantai dengan cara yang tidak biasa. Tanpa ragu, ia menanggalkan pakaiannya dan terjun ke dalam cairan pijar tersebut, menebarkan gelombang lava ke sekeliling. Akar-akar yang mengelilingi bak telah dirawat secara sihir agar tahan terhadap panas ekstrem, memastikan lingkungan yang aman dan tenang.

Saat ia bersantai, membiarkan panas menyelimuti tubuhnya hingga ke leher, Jon merasakan gangguan pada ketenangannya. Sesuatu yang panas mengenai wajahnya, membuatnya membuka mata. Di hadapannya, muncul dari dalam lava, seekor makhluk kecil berpenampilan unik dan memikat. Itu adalah reptil seputih salju dengan sayap megah yang tampak kebal terhadap panas yang membakar. Matanya seperti dua permata safir kecil yang bersinar, menatap Jon dengan intensitas yang hampir manusiawi.

Makhluk ini bukanlah naga biasa; ini adalah Eragon, naga putra Jon, yang menetas dari telur istimewa yang diberikan oleh Aemon. Eragon adalah makhluk unik yang dikaruniai karakteristik magis yang mencerminkan hubungan mendalam antara dirinya dan Jon.

Jon tersenyum pada naga kecil itu, senyum yang menunjukkan kasih sayang seorang ayah dan ikatan yang tak terputuskan. “Jadi, kau memutuskan untuk menemaniku mandi pagi ini?” gumam Jon sambil mengulurkan tangan untuk mengelus kepala Eragon dengan lembut. Naga kecil itu menanggapi dengan suara lembut, seolah tertawa atas kejutan yang ia buat.

“Dan aku tadi sempat bertanya-tanya ke mana kau pergi,” gumam Jon dengan senyum yang sama. Si kecil ini muncul dua bulan lalu ketika Jon, dalam sebuah tindakan koneksi mendalam dan sihir, berhasil menetaskan telur berharga tersebut. Sejak saat itu, makhluk kecil yang nakal, cerdas, dan penuh rasa ingin tahu ini telah menjadi bayang-bayang yang selalu mengikuti Jon ke mana pun ia pergi. Naga itu benar-benar menganggap Jon sebagai ayahnya sendiri.

Berbeda dengan naga Targaryen yang dikenal dalam cerita dan legenda, naga ini memiliki empat kaki yang kuat dan kemampuan unik untuk menyemburkan es sekaligus api—dualitas yang mencerminkan sifat Jon sendiri. Proses penetasan naga itu tidak melibatkan pengorbanan darah kelam seperti yang dilihat Jon dalam beberapa penglihatan Valyria kuno; sebaliknya, Jon menyalurkan sebagian besar kekuatan hidupnya sendiri, seolah-olah ia mentransfer sebagian jiwanya kepada makhluk itu. Hasilnya, naga tersebut memiliki garis-garis hijau cerah pada tubuh bersisiknya yang seputih salju, simbol hidup dari koneksi dengan alam dan sihir yang dikuasai Jon.

Bagi Jon, naga ini lebih dari sekadar makhluk magis; ia adalah putranya sendiri, perpanjangan dari dirinya, yang telah ia beri kehidupan dan kasih sayang. Dan sebagai gantinya, naga itu tidak melihatnya sekadar sebagai majikan, melainkan sebagai sosok ayah sejati. Terinspirasi oleh koneksi unik ini, Jon melakukan hal serupa pada Ghost, tunggangan darat setianya. Melalui praktik sihir serupa, ia memperkuat sang serigala yang kini berbagi energi baru yang kuat, menjadikannya makhluk yang jauh lebih tangguh dan setia. Namun, ia hanya bisa melakukan ini pada beberapa hewan saja. Ia bisa berbagi koneksi warg-nya melalui ribuan makhluk, tetapi memberikan kekuatan hidup adalah sesuatu yang sangat berbeda. Di dunia di mana hal alami dan supranatural saling terkait, Jon dan makhluk-makhluknya mewakili era baru yang akan muncul.

Akhirnya, setelah 20 menit bersantai, ia bangkit, mengenakan jubah, menyalakan pipa yang ia ciptakan sendiri, dan menghisap ramuan beraroma stroberi. Ia telah menciptakan cerutu baru dengan rasa berbagai buah yang ada di hutan, dan itu menjadi favorit di kalangan rakyatnya. Jon merokok beberapa saat sebelum Eragon keluar dari bak dan mengeringkan diri untuk bertengger di bahu tuannya.

Jon berjalan menuju pintu keluar pohon kolosal itu, langkah tegasnya bergema di terowongan yang dibentuk oleh jalinan akar. Di bahunya, Eragon mengamati dunia dengan rasa ingin tahu. Mereka berada 30 meter di atas tanah, bukti pertumbuhan luar biasa dari pohon tersebut yang saat Jon tiba hanya setinggi 25 meter dan kini berdiri megah setinggi 60 meter, tumbuh setiap hari berkat sihirnya pada akar-akar pohon. Pohon itu bukan sekadar tempat tinggalnya; itu adalah tempat perlindungan dan pusat pelatihan tempat Jon menghabiskan waktu tak terhitung untuk mengasah keterampilan dan kekuatannya.

Sesampainya di pintu keluar, Jon berhenti sejenak untuk merenungkan pemandangan arktik yang terbentang di bawahnya. Kota itu telah berubah drastis sejak kedatangannya. Sistem saluran pembuangan yang direncanakan dan dibangun dengan cermat membentang seluas 100 km². Jalan-jalan yang saling terhubung menghubungkan setiap sudut wilayah berpenghuni dengan ukuran yang cukup bagi kurcaci, manusia, dan raksasa untuk bergerak dengan nyaman.

Di Artica, populasi sebanyak 30.000 jiwa hidup tersebar di sebagian kecil dari hamparan luas tanah yang telah diubah oleh Jon. Area hijau yang membentang sejauh mata memandang hanyalah sebagian kecil dari apa yang akan menjadi kerajaan itu kelak. Penduduk ini—campuran beragam dari manusia dan makhluk magis lainnya—menikmati kehidupan di lingkungan yang telah dipupuk oleh Jon.

Membandingkan dirinya dengan Mance Rayder, sang Raja-di-Balik-Tembok legendaris yang mengumpulkan 40.000 manusia bebas dalam sembilan tahun, Jon merasakan kebanggaan mendalam atas pencapaiannya sendiri. Hanya dalam dua tahun, ia telah menarik 19.000 manusia dari kalangan rakyat bebas, bukti kepemimpinan karismatiknya. Namun, Jon menawarkan lebih dari sekadar tempat berlindung; ia menciptakan suaka di mana salju dan dingin utara yang tak kenal ampun memberi jalan bagi ladang hijau yang subur dan hutan lebat.

Jantung dari transformasi ini adalah weirwood agung yang kini setinggi 60 meter. Akar-akarnya menyebar bermil-mil, menjalin diri dengan esensi tanah itu sendiri. Saat akar-akar itu meluas, transformasi ajaib terjadi: tanah yang beku dan tandus berubah menjadi lahan subur yang ramah.

Di Artica, kehidupan adalah cerminan dari visi Jon. Rumah-rumah dibangun dengan teknik canggih dan material berkualitas, memastikan kehangatan selama musim dingin. Makanan melimpah berkat teknik pertanian maju. Cerutu lezat dan berbagai minuman seperti bir, rum, dan vodka diproduksi secara lokal, menawarkan sentuhan kemewahan dalam kehidupan sehari-hari.

Di luar kondisi kehidupan, kekuatan militer Artica adalah kekuatan yang patut diperhitungkan. Tentara yang terdiri dari 12.000 prajurit merupakan campuran dari pejuang manusia yang berani, raksasa yang tangguh, dan kurcaci yang strategis. Mereka dilatih dalam taktik tempur canggih oleh Ducken. Sebagian besar tentara ini dilengkapi dengan zirah dari eldenMetal, paduan logam yang sangat kuat dan ringan, ditempa oleh para ahli kurcaci terbaik dengan bantuan Jon.

Dalam gudang senjata Artica, terdapat 200.000 anak panah dragon glass. Senjata-senjata ini adalah garis pertahanan utama melawan para mayat hidup (undead).

Dua tahun setelah berdirinya Artica, kedamaian dan kemakmuran sesekali terganggu oleh kekerasan. Kelompok rakyat bebas yang tertarik pada kekayaan Artica namun enggan tunduk pada hukum kerajaan, meluncurkan serangan sporadis. Namun, disiplin dan pelatihan dari Ducken serta Jon sendiri selalu berhasil memukul mundur mereka.

Jon tidak akan pernah melupakan pertemuan pertamanya dengan White Walker. Pertempuran melawan gerombolan mayat hidup adalah pusaran teror dan kekacauan. Setelah pertempuran panjang dan melelahkan, White Walker tersebut berhasil dikalahkan berkat keberanian prajurit Artica dan senjata magis yang diberikan Jon. Namun, tatapan White Walker itu—campuran antara rasa ingin tahu dan penghinaan—tetap terpatri dalam ingatan Jon. Ia tahu pertempuran ini hanyalah awal.

Setelah merenungkan pertempuran yang dihadapi dan tantangan yang akan datang, Jon meninggalkan pos pengamatannya. Sambil berjalan melewati kota, Jon disambut dengan salam hangat dari rakyatnya. Ia bukan sekadar raja mereka; ia adalah arsitek era baru yang berkomitmen membangun warisan abadi.

Untuk tahun berikutnya, Jon memiliki rencana ambisius untuk membangun armada laut, membangun kanal untuk rute perdagangan, mendirikan bank untuk mengelola kekayaan Artica, dan membangun patung kolosal Dewa Perang yang lebih besar dari Titan Braavos.

“Selamat pagi, Raja Jon!” seru seorang pandai besi sambil membungkuk hormat.

“Lihat, itu raja muda!” bisik dua wanita, menatap Jon dengan kekaguman saat ia lewat dengan senyum ramah.

“Lihat anak yang diberkati para dewa! Raja Jon!” teriak sekelompok anak-anak yang bermain di dekatnya. Jon berhenti, tertawa kecil saat berbincang dengan mereka, menanyakan petualangan mereka dan mengingatkan mereka untuk belajar dengan giat.

Saat Jon berjalan, ia memperhatikan sekelompok Children of the Forest mengamatinya dari jarak yang sopan. Dengan gestur lembut dan senyum menyambut, Jon menyapa mereka dalam bahasa mereka, mengungkapkan rasa terima kasih atas harmoni yang mereka bawa ke Artica.

“RAJA JONNN!” Jon mendengar suara seorang raksasa yang melewati jalanan saat ia menyapanya.

Dengan Eragon yang masih bertengger di bahunya, setiap gerakan dan setiap tatapan warga Artica menjadi pelajaran bagi naga kecil itu tentang kompleksitas dan keindahan kerajaan yang sedang dibangun Jon.

Jon selalu berpegang pada keyakinan bahwa untuk rakyatnya, yang membenci ketundukan paksa dari kerajaan-kerajaan selatan, tindakan dan karakternya jauh lebih bernilai daripada mahkota apa pun. Saat berpidato di depan rakyatnya setahun lalu, ia menegaskan:

“Rakyatku,” proklamasi Jon, “Bangsa kita yang disebut Artica sedang tumbuh dan akan tumbuh lebih besar lagi. Kita baru dua puluh ribu orang sekarang, tapi semangat kita sangat besar. Manusia, Raksasa, Kurcaci, dan Children of the Forest, kita menunggang kuda dan serigala raksasa, berjalan bersama kucing bayangan, beruang, dan mammoth. Kita akan tumbuh menjadi jutaan di masa depan… Rakyat utara yang sejati tangguh dan kuat. Kita begitu teguh dalam semangat sehingga kita tidak tunduk pada siapa pun, bahkan kepada raja Artica sekalipun. Bagiku, rasa hormat dan kesetiaan kalian saja sudah cukup!”

Kata-kata Jon bergema dalam jiwa mereka. Ketika ia menyebutkan bahwa rakyat Artica tidak tunduk pada siapa pun, bahkan kepada rajanya sendiri, gumaman persetujuan muncul dari kerumunan. Jon telah menyentuh poin fundamental dari budaya mereka.

Saat Jon selesai berbicara, keheningan mutlak menyelimuti udara, seolah semua orang meresapi makna kata-katanya. Kemudian, hampir sebagai satu kesatuan, kerumunan itu meledak dalam tepuk tangan dan sorak-sorai. Teriakan “Hidup Raja Jon!” dan “Hidup Artica!” bergema di alun-alun, sementara banyak yang mengangkat tangan dalam penghormatan dan yang lain menghapus air mata haru.


Berdiskusi di server Discord