Seni Bela Diri – Meredup di Negeri Sendiri, Dipuja di Negeri Orang
Induk Seri: The Way of Restraint[id]
“Banyakin latihan pertarungan nyata,” kata Josh tegas. “Bukan jenis sparring di dalam ring, tapi pertarungan jalanan yang sebenarnya. Saat musuh yang kejam menerjangmu, semua teknikmu tak akan berguna. Pikiranmu bakal kosong, dan pertarungan berubah jadi saling rangkul dan pemukulan liar tanpa kendali. Hanya kalau kamu sudah terlatih menghadapi musuh sesadis itu dengan tenang, teknikmu baru benar-benar bisa bersinar. Tentu saja, kamu bisa mulai dari sparring di dalam ring dulu. Apa istilahnya dalam seni bela diri Tionghoa? Coba kukingat-ingat.”
Dia menepuk dahi dan mendadak teringat, “Oh, istilahnya ‘Utamakan keberanian, kedua kekuatan, dan ketiga keterampilan.’ Tanpa keberanian, tidak ada teknik yang bisa dijalankan dengan benar.”
“Aku cuma punya waktu dua bulan. Pas liburan musim panas selesai, aku harus kembali ke sekolah. Apa yang bisa kucapai dalam dua bulan?” Su Jie dengan antusias menyerap pengetahuan dan pengalaman dari Josh.
Orang asing yang sering berkelahi ini tidak hanya membantu Su Jie berlatih percakapan bahasa Inggris, tetapi juga memberikan wawasan tentang pertarungan, membantunya mengambil jalan pintas tanpa buang waktu.
Josh telah mempelajari seni bela diri Tionghoa secara mendalam dan melintasi lautan untuk belajar lebih banyak. Dedikasi dan kehausannya akan pengetahuan adalah kualitas yang dikagumi Su Jie dan ingin dia tiru.
“Dua bulan? Su Jie, kamu bercanda, kan?” Josh hampir melompat dari kursinya. “Bentuk otot saja tidak sempat dalam dua bulan. Aku saja sudah berlatih tujuh atau delapan tahun. Kecuali kamu belajar menembak—yang mana sebutir peluru bisa menyelesaikan banyak masalah—benar-benar tak ada yang bisa kubantu.”
Su Jie tetap diam. Dia tahu betul bahwa menguasai pertarungan dan menjadi ahli dalam jangka waktu sesingkat itu adalah hal yang mustahil.
Realita tidak seperti novel atau film, di mana mengonsumsi obat ajaib atau menerima ilmu puluhan tahun dalam semalam bisa menghasilkan perubahan instan.
“Orang itu sudah berlatih berbagai disiplin ilmu selama bertahun-tahun—kickboxing, gulat, dan pertarungan umum—serta menghabiskan harinya di tempat gym. Bersaing dengannya di bidang yang sama itu mustahil. Tapi aku tidak bisa membiarkannya terus mengganggu kakakku,” pikir Su Jie, mengingat kembali penghinaan yang dialaminya. Inilah alasannya memilih masuk kelas seni bela diri tradisional daripada program berfokus pertarungan seperti kickboxing, Muay Thai, atau MMA yang ditawarkan di sekolah lain.
Di Akademi Seni Bela Diri Minglun, ada banyak kelas pelatihan pertarungan. Sebaliknya, kelas seni bela diri tradisional jarang memiliki murid, dan mereka yang bergabung kebanyakan adalah orang asing.
“Ini benar-benar kasus barang berharga diabaikan di negeri sendiri, tapi dihargai di negeri orang,” cetus Su Jie.
Latihan hari itu melibatkan kegiatan menggali dan membalik tanah. Pada jam terakhir, Pelatih Gu Yang menjelaskan postur yang tepat untuk menggali, membalik, menumbuk, mengangkat, dan menjatuhkan. Di luar itu, tidak ada teknik pertarungan atau gerakan bela diri yang diajarkan.
“Bukankah kita ke sini untuk belajar bela diri? Kapan kita mulai latihan bertarung?” seorang murid tidak tahan untuk bertanya.
“Aku sudah mengajarimu cara mencari uang. Apa aku harus mengajarimu cara membelanjakannya juga?” jawab Pelatih Gu Yang dingin, membungkam murid tersebut.
Mendengar ini, Su Jie paham bahwa Pelatih Gu Yang kemungkinan hanya mengajarkan metode untuk membangun kekuatan. Cara menggunakan kekuatan itu adalah sesuatu yang harus mereka cari tahu sendiri.
Itu masuk akal. Lagipula, ini adalah kelas pelatihan bela diri jangka pendek, jadi tidak bisa berharap diajari keterampilan yang terlalu mendalam.
“Tapi ini bukan berarti sia-sia. Justru latihan menggali dan membalik tanah ini sangat efektif. Berlatih seperti ini selama dua bulan bisa meningkatkan kekuatan secara signifikan,” pikir Su Jie. “Mungkin nanti pelatih bakal mengajari kita teknik yang lebih tingkat lanjut?”
Latihan hari itu pun berakhir.
Semua murid berlari beberapa kilometer kembali ke akademi bersama Pelatih Gu Yang dalam keadaan lelah dan terengah-engah. Setelah beristirahat sejenak di asrama, mereka pergi ke kantin untuk makan malam. Makanan di akademi cukup enak dan harganya terjangkau, dengan beragam pilihan hidangan daging.
Tentu saja, ada juga hidangan bergizi khusus obat-obatan, tetapi harus dipesan terlebih dahulu dan harganya sangat mahal.
Su Jie secara refleks memeriksa saldo banknya dan memilih memesan menu yang sederhana saja. Kondisi keuangan keluarganya tidak luar biasa, tetapi tidak buruk juga. Ibunya seorang profesor universitas, dan kakaknya, Su Muchen, bekerja sebagai pakar riset AI di perusahaan besar dengan gaji tinggi yang sesekali memberinya uang saku. Namun, ayahnya adalah seorang komandan regu sekuriti di sebuah perusahaan, dengan penghasilan yang jauh lebih kecil daripada ibunya.
Perbedaan profesi kedua orang tuanya sering membuat orang heran bagaimana mereka bisa menikah. Su Jie pernah menanyakan hal itu kepada ayahnya, tetapi malah dimarahi habis-habisan, jadi dia tidak pernah membahasnya lagi.
Kali ini, Su Jie tidak meminta uang kepada orang tuanya. Dia menggunakan tabungan dari hasil mengajar les.
Meski masih SMA, nilai Su Jie yang sangat luar biasa membuatnya menjadi tutor yang banyak dicari. Selama bertahun-tahun, dia telah mengumpulkan cukup banyak uang saku. Karena hemat dari sananya, dia tidak menghabiskan uang untuk game, mainan, atau barang-barang merchandise selebriti seperti teman-temannya.
Namun, mendaftar ke kelas pelatihan ini memakan biaya fantastis sebesar 30.000 yuan untuk dua bulan, yang hampir menguras habis tabungan seumur hidupnya.
“Mana ayam susu ginsengku?” panggil Josh, mengajak Su Jie untuk bergabung dengannya di area makan VIP.
Koki segera membawakan sepotong kuah kental berisi ginseng, jamur, ayam kampung, sayuran, buah-buahan segar, dan daging sapi.
“Ayam susu ginseng ini bakal lebih bagus kalau pakai ginseng liar—yang berumur ratusan atau ribuan tahun bakal ideal banget. Itu bisa meningkatkan kekuatanmu secara drastis! Terutama susunya. Kalau pakai ASI, malah lebih bagus lagi,” ujar Josh sambil menggelengkan kepala tanda sedikit tidak puas.
“Nggak nyangka orang asing sepertimu tahu resep masakan Tiongkok,” komentar sang koki dalam bahasa Mandarin. “Tapi hidangan ini harganya cuma seribu yuan. Ginsengnya memang hasil budidaya, tapi kualitasnya tinggi dan sudah berumur enam tahun. Kalau soal ASI, kamu pikir ini zaman Dinasti Qing apa?”
Pada zaman Dinasti Qing, para bangsawan meminum ASI yang didapat dari ibu pengasuh (wet nurse), sering kali dicampur dengan gula untuk dijadikan ramuan penambah stamina.
“Ada pepatah tentang kekuatan yang datang dari minum susu. Makin lama seorang anak menyusu, makin kuat dia tumbuh,” tambah sang koki.
“Josh, kamu beneran percaya hal-hal begini? Ginseng budidaya dan ginseng liar itu pada dasarnya sama saja. Ginseng berumur enam tahun berada di puncak potensinya, dengan kandungan saponin tertinggi. Ginseng berusia ratusan tahun sebagian besar sudah mengayu dan hampir tak punya nilai medis. Tapi, ASI memang mengungguli susu sapi dalam hal kandungan nutrisi. Bayi yang dibesarkan dengan ASI memang lebih kuat dan pintar daripada yang diberi susu sapi,” kata Su Jie, memamerkan pengetahuannya dari pelajaran biologi dan sejarah.
Selain unggul di bidang akademis, Su Jie juga banyak mengeksplorasi pengetahuan di luar kurikulum.
Kemampuan olahraganya juga lumayan; dia mahir dalam lari, lompat tinggi, lompat jauh, lompat tali, tolak peluru, lempar lembing, dan senam lantai. Meski tidak sebanding dengan atlet sungguhan, kemampuannya jauh lebih baik daripada teman-teman sebayanya yang menghabiskan waktu dengan main game dan bermalas-malasan.
Tentu saja, sekolah tidak mengajarkan teknik pertarungan, jadi pemahaman Su Jie tentang seni bela diri dan bertarung masih terbatas. Sekarang dia berusaha mengejar ketertinggalan itu.
“Ya sudah, mari makan. Hari ini aku sengaja pesan dua porsi. Lebih seru makan bareng. Aku tidak bisa menghabiskannya sendiri,” kata Josh mengundang Su Jie.
“Josh, kamu mentraktirku makan. Apa ada sesuatu yang kamu butuhkan dariku?” tanya Su Jie setengah bercanda.
“Tentu saja, buat jadikan kamu samsak latihan. Nanti malam aku masih harus latihan!” kata Josh cepat sambil makan, suaranya terdengar tidak jelas karena mulutnya penuh. “Tapi aku tidak memanfaatkannmu kok. Ini bakal berguna buat kamu juga. Bukankah kamu bilang ingin jadi ahli dalam dua bulan? Meskipun latihan ini tidak akan mengubahmu jadi master bela diri, setidaknya ini bakal mempersiapkanmu untuk pertarungan dasar.”
“Kenapa aku harus jadi samsak kamu? Level kita kan tidak seimbang. Harusnya kamu cari orang yang sepadan, kan?” tanya Su Jie penasaran.
“Tidak, tidak, tidak. Justru karena kamu lebih lemah, aku bisa mengendalikan situasi. Kamu seperti target bergerak. Kalau aku sparring dengan orang yang selevel, kita berdua bakal main habis-habisan dan kemungkinan besar malah cedera. Ingat, kamu tidak boleh cedera saat latihan. Bahkan petarung profesional sering cedera saat latihan. Pemulihannya sulit, dan itu bisa mengakhiri karier. Sebaliknya, pertandingan nyata punya wasit profesional, aturan ketat, dan semua orang berhati-hati agar tidak melanggar aturan, jadi cedera malah jarang terjadi,” pencerahan Josh secara serius. “Makanya kamu harus memperlakukan setiap sesi latihan dengan serius. Jangan pernah memaksakan diri saat sakit—itu sama saja merusak diri sendiri.”
“Paham.” Su Jie mengangguk, memasukkan nasihat itu ke dalam hati.
“Sumpit ini menyusahkan sekali,” gumam Josh, kesulitan mengambil makanan. Dengan canggung dia berhasil menjepit sepotong daging ayam, tetapi jatuh sebelum sampai ke mulutnya. Karena frustrasi, dia melemparkan sumpit itu ke lantai.
“Di sini ada pisau dan garpu,” Su Jie dengan cepat menawarkan, menggesernya ke arah Josh.
“Kalian orang Tionghoa hebat banget ya, bisa pakai peralatan sesulit ini,” kata Josh pasrah. Dia sudah sengaja mencoba memakai sumpit, tetapi tetap tidak bisa menguasainya.
Meskipun Josh kuat dan berbakat secara fisik, sumpit membutuhkan kehalusan gerakan, bukan kekuatan kasar.
“Kami sudah terbiasa sejak kecil. Wajar kalau mahir,” jawab Su Jie, lalu terdiam sejenak seperti sedang berpikir keras.
“Kenapa diam?” tanya Josh dengan mulut masih separuh penuh.
“Aku lagi mikir. Kalian orang Barat secara alami lebih kuat dan menggunakan pisau serta garpu. Kami orang Timur, yang fisiknya lebih lemah, mengandalkan keterampilan untuk mengimbanginya. Bahkan kebiasaan budaya seperti alat makan pun mencerminkan perbedaan ini. Ini mungkin mengungkap prinsip-prinsip yang berhubungan dengan seni bela diri…” Pemikiran Su Jie menunjukkan kedewasaan di luar usianya.
Setelah menghabiskan makanan, keduanya kembali ke asrama bersama. Itu adalah kamar ganda sederhana tanpa kamar mandi dalam, mengandalkan fasilitas umum. Kondisi keseluruhannya tidak bisa dikatakan bagus, tetapi tidak buruk juga.
Bagi Su Jie, fasilitas itu terasa tidak sepadan dengan biaya kursus yang mahal.
Saat Josh berbaring di tempat tidur, Su Jie duduk di meja tulisnya untuk mengisi buku harian. Dia merangkum kegiatan hari itu, merenungkan hal-hal yang perlu ditingkatkan, dan mencatat pelajaran yang dipetik—sebuah kebiasaan yang terus dia pertahankan sejak SD.
“2 Juli: Belajar beberapa teknik menggali. Bertani jauh lebih sulit dari yang kubayangkan dan membutuhkan metode pengerahan tenaga yang tepat. Menurut Josh, ini adalah metode latihan dasar dalam seni bela diri tradisional. Menurutku itu masuk akal. Di Tiongkok kuno, para petani menghadapi kondisi yang keras, melakukan kerja berat, dan sering berurusan dengan konflik lokal. Buku sejarah memberikan banyak contoh bentrokan berdarah demi perebutan sumber daya seperti air. Situasi seperti ini membutuhkan kekuatan fisik dan keterampilan bertahan hidup. Pada masa itu, seekor ayam atau beberapa pon serelia saja merupakan aset yang sangat vital. Keluarga tanpa pria yang sanggup bekerja dan membela diri sering kali menjadi mangsa penindas atau pencuri. Sebaliknya, keluarga dengan pria kuat yang mahir bela diri bisa hidup dengan baik. Itu adalah sebuah kebutuhan, bukan pilihan.”
“Josh menekankan bahwa pengalaman bertarung nyata membentuk keberanian. Aku setuju. Ini seperti menghadapi ujian—sehebat apa pun kamu dalam menyelesaikan soal, kalau tidak berlatih dalam kondisi ujian sungguhan, kamu bisa panik dan lupa semuanya. Aku pernah mengalami itu sebelumnya. Pertarungan pun tidak ada bedanya.”
“Langkahku selanjutnya adalah menguasai teknik menggali, belajar cara menerapkannya, berlatih bertarung, dan menjaga diri agar tidak cedera. Atasi rasa takut, bangun keberanian. Su Jie, kamu pasti bisa!”
Setelah menyelesaikan catatan harian, Su Jie menarik napas dalam-dalam dan merasa segar kembali. Di usianya yang baru 16 atau 17 tahun, ketahanan mentalnya sangat kuat.
Dia menambahkan satu catatan lagi: “Banyakin latihan percakapan bahasa Inggris dengan Josh untuk meningkatkan kemampuan bicaraku.”
Bab Ini Masih Terkunci
Bab ini dijadwalkan rilis gratis pada .
Ingin baca instan sekarang? Dukung penerjemah di halaman Donasi Novelfire untuk klaim token eksklusif Anda.