Demi Keadilan

Induk Seri: Throne of Magical Arcana

Fitur Asisten Suara AI (Beta)
Berdiskusi di server Discord
Pengaturan Membaca
18px

Tl En: winniethepooh

Kris_Liu Editor: Vermillion

Tl Id: ItsQifuat


Sinar matahari pagi tidak terlalu terik. Lucien berbaring di bawah sinar matahari, tubuhnya penuh luka dan darah. Menatap langit biru yang cerah sambil menghirup udara segar perlahan, Lucien melupakan rasa sakitnya. Pikirannya bergejolak seperti samudra yang dalam.

Lucien menyadari bahwa semua yang telah ia alami membawanya pada keputusan akhir: mempelajari sihir. Meskipun ia tahu ia harus lebih berhati-hati dan waspada di masa depan, di saat yang sama, ia merasa lebih tenang dari sebelumnya setelah membulatkan tekadnya.

Bahkan ada senyum di wajah Lucien yang memar. Ia merasa benar-benar telah tumbuh dewasa dalam beberapa hari terakhir, jauh lebih cepat daripada di dunianya sendiri. Kemarahan, perasaan rendah diri, dan rasa tidak aman telah bercampur menjadi satu dan mendorongnya pada keputusan itu. Ditambah lagi, ia memiliki anugerah berupa perpustakaan itu.

Jadi, kenapa tidak? tanya Lucien pada dirinya sendiri, merasa lega dari tekanan yang selama ini ia rasakan.

“Evans-ku yang malang! Oh, Evans-ku yang malang! Apa kau baik-baik saja?” Bibi Alisa mencoba memegang tangan Lucien.

Sedikit gerakan pada lengan dan kakinya membuat Lucien meringis kesakitan.

“Aku baik-baik saja, Bibi Alisa. Untungnya, mereka tidak berniat membunuhku.”

Bibi Alisa memegang lengan Lucien dan menuntunnya kembali ke rumahnya. Ia terus mengumpat dengan sangat marah, “Keparat-keparat itu seharusnya digantung dan disiksa di neraka oleh api yang abadi!”

Setelah membersihkan luka-lukanya, Alisa hendak menanyakan apa yang terjadi hari ini. Namun sebelum itu, ia tampak teringat sesuatu, dan tangannya bergerak sedikit canggung.

“Lucien…”

“Ya, Bibi Alisa?”

“Ini… begini masalahnya. John akan pulang hari ini. Bisakah kau menyimpan ini untuk dirimu sendiri tanpa memberitahunya? Kau tahu John… Kau adalah sahabat terbaiknya. Jika dia mendengarnya… Aku takut dia tidak akan bisa menahan diri untuk membalas dendam. Sebagai seorang calon ksatria (knight squire), dia akan mendapat masalah besar nantinya…”

Mengetahui bahwa John adalah harapan besar Bibi Alisa dan Paman Joel, Lucien mengangguk.

“Ten… tentu saja. Ini bukan masalah besar, kok.” Lucien memaksakan senyum.

Alisa menggenggam tangan Lucien dengan air mata di pelupuk matanya.

“Terima kasih, Evans kecilku.”

“Apa kalian mencoba menyembunyikan sesuatu dariku?”

Itu suara John. Mengenakan seragam ksatria abu-abu, John berdiri di dekat pintu. Baik Alisa maupun Lucien tidak menyadarinya.

Alisa menjawab dengan terburu-buru, “Tidak, tidak ada. Kau pulang lebih awal?”

John berjalan masuk dan menarik kursi untuk dirinya sendiri. Ia duduk di samping Lucien.

“Grand Duke memanggil Lord Venn, dan aku ikut kembali bersamanya ke Aalto. Ibu, aku sekarang sudah menjadi calon ksatria. Aku bukan lagi anak muda yang gegabah.”

Kemudian ia menoleh ke arah Lucien. “Kondisimu jauh lebih parah daripada terakhir kali kita babak belur bersama. Apa yang terjadi? Jangan coba-coba berbohong. Aku yakin banyak tetangga di sana yang melihatnya,” tambah John.

Lucien menatap Alisa, yang sudah terlanjur membocorkan rahasianya. Kemudian ia menceritakan kejadian itu secara detail kepada John. Saat bercerita, Lucien bisa merasakan ketegangan di udara karena emosi John, sama seperti yang ia rasakan dari para penjaga yang bertarung bersamanya di selokan.

Tentu saja, John sangat marah, tetapi ia berhasil menenangkan dirinya dengan cepat. Ia menepuk tangan Lucien dengan lembut dan tersenyum.

“Kau benar-benar cerdik, yang paling cerdik di antara kita. Menemukan uang di tempat sampah… sungguh, bagus untukmu! Aku yakin kau akan melakukannya dengan baik jika kau belajar membaca.”

Kemudian, sambil mengangkat bahu, John pergi keluar ruangan dan mengambil tongkat kayu panjang dari dapur.

“Oh tidak…” Alisa menghela napas.

“Bu, Ibu tahu aku harus melakukan ini, demi temanku.”

“Tapi John, Lord Venn tidak akan senang dengan ini…”

“Ya, John…” Lucien buru-buru memotong, “Jangan pergi. Ini bukan masalah besar. Lihat aku. Aku baik-baik saja.”

John berbalik dan menggelengkan kepalanya.

“Lord Venn selalu mengatakan kepada kami, sebagai seorang ksatria, seseorang harus melindungi yang lemah dan melawan mereka yang kejam. Sebagai calon ksatria, aku sudah menganggap diriku sebagai ksatria dan berusaha mengikuti keyakinan ksatria.”

Matanya tajam. Gerak-geriknya tegas.

“Lucien, temanku, telah ditindas, dan tempatnya dihancurkan. Jika aku tetap diam hanya agar tidak membuat Lord Venn marah, rasa bersalah di dalam diriku tidak akan pernah hilang. Ya, mungkin aku tidak akan bisa membangkitkan ‘berkat’ lagi karena aku melanggar aturan, tapi aku akan setia pada keyakinanku. Aku percaya Lord Venn akan mendukungku.”

“Aku tahu, John. Aku tahu… tapi…” Air mata menggenang di mata Alisa.

John memeluk ibunya dan menghiburnya dengan lembut.

“Tidak apa-apa, Bu, aku tidak akan membunuh siapa pun. Aku tidak akan berlebihan. Lihat! Aku memegang tongkat, bukan pedang. Bisakah Ibu memercayaiku?”

Akhirnya, Alisa mengangguk dengan berat hati. “Berhati-hatilah, John.”

“Merekalah yang harus berhati-hati, Bu.” Sambil meraih tongkat itu, John tersenyum penuh keyakinan.

Saat ia hendak pergi, Lucien memanggilnya dari belakang.

“Tunggu, John.”

“Ya?” John menoleh.

Dengan seluruh kekuatannya yang tersisa, Lucien berdiri dari tempat tidur. Ia merasakan darahnya mengalir deras, membakar tubuhnya.

“Kita pergi bersama.”

Senyum Lucien tampak agak lucu dengan mulutnya yang bengkak. Namun, John bisa melihat tekadnya. Ia tertawa, “Ada tongkat lain di dapur. Ayo pergi, seperti saat kita masih kecil.”

Sambil memegang tongkat, Lucien menghibur Bibi Alisa dengan suara pelan saat ia melewatinya.

“Aku akan menjaganya. Jangan khawatir.”

Mudah bagi mereka untuk mencari tahu ke mana Jackson dan anak buahnya pergi dengan bertanya di sekitar. Saat mereka dalam perjalanan, John bertanya kepada Lucien secara tiba-tiba:

“Apakah kau percaya pada keadilan, Lucien?” Suaranya terdengar ragu.

“Ya, aku percaya. Kenapa kau bertanya begitu?”

John menundukkan kepalanya tetapi tidak berhenti berjalan.

“Aku juga. Tapi Lucien, aku tidak semulia dan seberani yang aku katakan. Aku melakukan ini hanya karena kau temanku. Jika itu orang lain, aku tidak tahu… kurasa aku tidak akan melakukannya. Aku terbiasa memilih pertarunganku dengan bijak, menghindari melakukan apa pun yang di luar kemampuanku. Aku egois… aku hanya ingin melindungi keluarga dan teman-temanku. Aku pengecut, bukan?”

“Menurutku tidak. Setiap ksatria, atau katakanlah, setiap orang, memiliki prioritas. Beberapa mengejar keadilan, beberapa loyalitas, beberapa kasih sayang… Kau memilih keluarga. Hanya ketika seseorang tahu apa yang benar-benar ingin ia lindungi, ia akan berpegang teguh pada keadilan. Jika tidak, keadilan hanyalah seperti awan, tidak ada substansinya.”

Lucien baru menyadari bahwa John masih seorang pemuda seperti dirinya, tidak peduli seberapa dewasa penampilannya. Berkat buku tentang semangat ksatria dari perpustakaan mentalnya, ia merangkai kata-katanya untuk menghibur John. Sekarang ia jauh lebih baik dalam mencari informasi di antara semua buku di perpustakaan tersebut.

“Kau benar-benar berpikir begitu?” John masih tampak bingung.

“Tentu saja. Jika kau mampu, apakah kau akan melindungi yang lemah, melawan yang jahat, dan menegakkan keadilan?”

“Jika aku mampu, tentu saja aku akan melakukannya.”

“Jadi kau tetap seorang ksatria keadilan. Jika kau tidak mampu, kau hanya akan bertarung dan mati tanpa arti. Kau harus bisa melindungi dirimu sendiri terlebih dahulu, baru setelah itu kau bisa melindungi mereka yang membutuhkan bantuanmu.” Lucien merasa dirinya cukup cocok menjadi seorang mentor.

John tampak lega, dan ia mulai tersenyum, “Setiap kali aku menanyakan hal ini kepada Lord Venn, dia mengatakan aku terlalu kurang pengalaman untuk mengerti. Tapi Lucien, kau juga sudah tumbuh dewasa. Kau pandai menghibur dan mungkin kau benar. Tapi aku masih mendambakan keadilan yang sejati.”

“Suatu kali, Lord Venn bercerita kepada kami tentang pedang ksatria legendaris. Pedang itu memiliki kekuatan ilahi di dalamnya, tetapi terlihat seperti pedang biasa. Gagangnya terbuat murni dari kayu, tanpa permata, mutiara, atau apa pun yang luar biasa. Para bangsawan dan ksatria tingkat tinggi bahkan tidak akan melirik pedang itu dua kali.” Mata John tertuju ke kejauhan dan ia melanjutkan.

“Namun sebenarnya pedang itu jauh lebih kuat daripada yang mereka kira. Terutama ketika digunakan untuk melawan kejahatan. Yang paling membuatku terkesan adalah kata-kata yang terukir di pedang itu: ‘Keadilan itu pucat jika dibandingkan dengan kemegahan dan kekuatan. Namun setiap orang bisa menjadi wakilnya: kaya atau miskin, berpendidikan atau buta huruf, pejuang atau petani. Keadilan itu pucat, tetapi ada di mana-mana’.

“Keadilan Pucat (Pale Justice), itulah nama pedang itu. Pedang itu menghilang bersama seorang Grand Arcana Knight di Pegunungan Gelap.”

John menjadi bersemangat. Depresinya lenyap.

Lucien tertawa, “Kalau begitu slogan kita hari ini adalah ‘Demi Keadilan’!”

“Demi Keadilan!” John mengayunkan tongkatnya.

Beberapa menit kemudian, mereka melihat Jackson yang sedang berjalan di jalan raya pasar. Sekelompok orang masih mengikutinya.


Berdiskusi di server Discord