Raja Pengobatan Kecil

Induk Seri: Who Let Him Cultivate Immortality! [id]

Fitur Asisten Suara AI (Beta)
Berdiskusi di server Discord
Pengaturan Membaca
18px

“Aku dulu pernah menjelajahi Benua Tengah dan membuat namaku terkenal,” kenang si anak ginseng. “Jika bukan karena seseorang membocorkan khasiatku sebagai afrodisiak yang memaksaku mencari perlindungan di Sekte Pencarian Dao, aku pasti masih berkelana sampai sekarang.”

“Orang yang berkelana bersamaku saat itu juga merupakan tokoh terkemuka di antara umat manusia, dikenal sebagai Pertapa Bulan Kuno. Ketika dia membawaku ke Sekte Pencarian Dao, dia bilang akan menulis tentangku di bukunya agar orang-orang selalu mengingatku.”

Pertapa Bulan Kuno adalah seorang penjelajah terkenal di Benua Tengah. Dia gemar bertualang di Benua Tengah, Alam Iblis, Tanah Buddha, dan berbagai tempat lainnya, meninggalkan jejak serta kisah di setiap sudut yang dikunjunginya.

Menurut legenda, dia dulunya adalah seorang sejarawan di Dinasti Xia yang mencatat secara rinci petualangan romantis sang Kaisar beserta banyak anak haramnya.

Di Alam Iblis, dia pernah diculik oleh Putri Naga dan dipaksa menikah. Dia kemudian melarikan diri, memicu aksi kejar-kejaran yang akhirnya berakhir di Tanah Buddha.

Di Tanah Buddha, dia menyamar sebagai biksu untuk mengelabui orang-orang. Setiap kali terjebak dalam paradoks logika atau menghadapi pertanyaan yang tidak bisa dijawab, dia selalu berdalih, “Buddha bersabda, itu tidak boleh diungkapkan.” Ungkapan ini pun kemudian menjadi sangat populer di Tanah Buddha.

Pertapa Bulan Kuno mengompilasi seluruh pengamatan dan pengalamannya ke dalam buku-buku yang sangat populer di dunia kultivasi.

Meskipun tidak ada catatan pasti mengenai tingkat kultivasi Pertapa Bulan Kuno, Lu Yang berasumsi bahwa kekuatannya pasti sangat tinggi—jika tidak, dia pasti sudah lama habis dipukuli orang karena ulahnya.

Si anak ginseng ternyata adalah pencerita yang hebat. Dia membagikan banyak kisah pengalamannya, termasuk asal-usul beberapa tanaman di taman tersebut yang ditemukan selama perjalanannya bersama Pertapa Bulan Kuno. Lu Yang mendengarkan dengan penuh perhatian, benar-benar terpaku oleh kisah-kisah itu.

Begitu mereka tiba di sebuah gubuk yang terbuat dari tanaman dan bunga, Lu Yang merasakan pancaran energi kehidupan yang begitu pekat hingga terasa nyata, membuat jantungnya berdebar kencang.

“Ada yang salah!” Lu Yang mencengkeram dadanya sementara tubuhnya gemetar hebat tanpa kendali.

Detak jantungnya kian berpacu cepat, diiringi suara mendengung di telinganya seperti kawanan serangga. Namun setelah dicermati, Lu Yang menyadari itu bukanlah suara serangga, melainkan organ-organ di dalam tubuhnya sendiri yang sedang bergejolak dan berteriak seolah ingin melepaskan diri.

Menyadari kondisi Lu Yang yang kepayahan, si anak ginseng langsung berseru memperingatkan, “Hei, hei, hei! Ada orang luar di sini. Semuanya, cepat sembunyikan energi kehidupan kalian!”

Lu Yang segera mengedarkan teknik kultivasinya untuk menenangkan darahnya yang bergejolak, hingga suara-suara aneh itu perlahan memudar.

Dia bertumpu pada lututnya sambil terengah-engah, sadar betul bahwa apa yang baru saja dialaminya bukanlah ilusi. Memang ada sesuatu yang bergejolak di dalam tubuhnya. Tapi, apa sebenarnya itu?

Si anak ginseng meletakkan sebutir batu halus lalu meminta maaf kepada Lu Yang, “Maaf soal tadi. Aku tidak sadar kalau kamu belum mencapai ranah Nascent Soul.”

Berbeda dengan manusia, bagi para Raja Pengobatan, yang terpenting adalah usia mereka, bukan tingkat kultivasi. Si anak ginseng tidak bisa melihat tingkat kultivasi Lu Yang, melainkan hanya menilainya berdasarkan kecocokan semata.

“Apa yang terjadi tadi?” tanya Lu Yang yang masih syok, merasa seolah baru saja melangkah kembali dari ambang kematian.

“Wanita itu dan si Tua Ba dari rasmu punya tingkat kultivasi yang terlalu tinggi, jadi aku lupa memperhitungkan dampak energi kehidupan kami pada orang sepertimu,” jelas si anak ginseng.

“Energi kehidupan kami terlalu kuat. Jika tidak ditahan, organ-organ tubuhmu bisa melahirkan kesadarannya sendiri dan terpisah menjadi entitas yang mandiri. Begitu kamu mencapai ranah Nascent Soul, saat titik-titik akupunkturmu sudah terbuka sepenuhnya dan membentuk tubuh emas yang sempurna, kamu tidak akan terpengaruh lagi oleh energi kehidupan kami.”

Terpancing oleh keributan dari si anak ginseng, sekumpulan tanaman setinggi tiga inci langsung melompat-lompat mendekati Lu Yang.

“Raja Ginseng, apa ini manusia? Kenapa dia kecil sekali?”

“Apanya yang kecil sekali? Ukurannya kan biasa saja untuk ukuran manusia. Memangnya kamu sendiri besar?”

“Ini pasti sebuah teknik. Teknik rahasia manusia itu sangat misterius, jadi mengubah ukuran tubuh bukanlah hal yang aneh. Aku bahkan pernah melihat ada yang berubah dari pria menjadi wanita, atau dari manusia menjadi siluman. Hal seperti ini sudah biasa bagi orang sepertiku,” ujar si anak ginseng dengan gaya sok tahu.

“Manusia ini sepertinya tidak punya tingkat kultivasi yang tinggi, bahkan belum mencapai ‘Tahap Mengandung’?”

“Bukan ‘Tahap Mengandung’, Raja Qilin. Ingatanmu sudah mulai pikun ya? Nama resminya itu ‘Ranah Nascent Soul’.”

“Dia sepertinya tidak bisa berdiri dengan tegak. Ayo kita bawa dia masuk ke dalam gubuk.”

Para Raja Pengobatan Kecil itu berdiskusi dengan suara cicitan yang cukup bising di telinga Lu Yang. Mereka kemudian bergotong-royong mengangkat Lu Yang di atas kepala mereka dan membawanya masuk ke dalam gubuk bunga tersebut.

Raja Pohon Pencerahan hanya bisa berdiri di luar sambil menggesekkan batangnya hingga dedaunannya berdesir keras, karena ukurannya terlalu besar untuk masuk ke dalam gubuk.

Begitu berada di dalam, Lu Yang menyadari gubuk tersebut tidak sekadar terbuat dari bunga dan tanaman biasa, melainkan dari kayu kuno. Di bawah pengaruh energi kehidupan dari para Raja Pengobatan Kecil, kayu kuno itu terus menumbuhkan daun dan bunga baru hingga menyembunyikan wujud aslinya.

Kondisi Lu Yang berangsur membaik. Dia perlahan bangkit dan mencoba mengenali jenis-jenis Raja Pengobatan di sekelilingnya.

Namun ternyata, tidak ada satu pun yang dia kenali.

“Siapa namamu, manusia?” tanya sebuah tanaman kecil berkelopak tiga daun lembut yang berkilau keperakan dengan bintik cahaya bintang, tampak indah layaknya miniatur alam semesta.

“Namaku Lu Yang. Kalau boleh tahu, Anda sekalian adalah…?” tanya Lu Yang dengan sopan. Dia sadar betul bahwa para Raja Pengobatan Kecil ini bukan sekadar senior, melainkan pusaka leluhur bagi seluruh anggota Sekte Pencarian Dao.

“Dia adalah Rumput Bintang Tiga Daun; kami biasa memanggilnya Raja Bintang,” sela Raja Pengobatan lain dengan cepat. Pembicara itu sendiri adalah sekuntum bunga berwarna-warni dengan lima kelopak yang melambangkan Lima Elemen, sementara bagian tengahnya terbagi menjadi warna hitam dan putih menyerupai lambang Taiji, menyajikan keindahan estetis layaknya lukisan tinta yang memikat siapa saja.

“Sedangkan aku adalah Bunga Akhir Zaman, panggil saja Raja Akhir. Orang-orang bilang aku adalah bunga tercantik yang pernah ada. Menurutku itu hanya karena mereka iri pada pesonaku—semacam pujian yang menjatuhkan. Sebagai Raja Pengobatan yang rendah hati, aku hanya menganggap diriku sebagai makhluk tercantik kedua di dunia…” Bunga Akhir Zaman itu terus mencerocos tanpa henti.

Lu Yang menatap Bunga Akhir Zaman itu selama beberapa saat, pupil matanya melebar karena tidak percaya. Dia mungkin belum pernah melihat wujud aslinya sebelum ini, tetapi dia sudah sering mendengar reputasi besarnya yang melegenda.

“Bunga Akhir Zaman… Bukankah itu bunga yang konon hanya mekar saat kiamat tiba, dan keindahannya mampu membekukan aliran waktu?!”

Tidak heran Lu Yang terkejut bukan main. Menurut catatan kuno, mekarnya Bunga Akhir Zaman menandakan hancurnya dunia dan awal dari tatanan yang sepenuhnya baru.

Namun, sepanjang ingatan sejarah, bencana sedahsyat itu belum pernah tercatat terjadi!

Bunga Akhir Zaman menggaruk bagian nektarnya lalu menyahut, “Orang-orang memang bilang begitu. Tapi seingatku, aku selalu mekar dalam damai dan semua makhluk di sekitarku tampak bahagia. Tidak ada bencana sama sekali. Mungkin itu cuma rumor berlebihan tentang momen mekarku.”

Saat Lu Yang hendak bertanya lebih jauh, Raja Pengobatan Kecil yang lain menyela pembicaraan.

“Lu Yang, kenapa kamu datang ke Taman Obat? Apa si Tua Ba yang menyuruhmu memetik tanaman obat?” tanya seekor Qilin zamrud kecil yang tampak seolah dipahat dari giok murni berkualitas tinggi, begitu indah dan memancarkan aura sakral.

Kejutan baru kembali menghantam Lu Yang. “Seekor Qilin?!”

Qilin adalah salah satu makhluk mitologi yang paling sakral dan legendaris. Keberadaannya sangat langka hingga mungkin hanya tersisa satu atau dua di seluruh dunia. Selama ini wujudnya hanya diisyaratkan dalam naskah-naskah kuno, tetapi Sekte Pencarian Dao ternyata memilikinya?

Kedalaman fondasi dan warisan rahasia milik Sekte Pencarian Dao benar-benar berada di luar jangkauan imajinasi Lu Yang.

Si anak ginseng kemudian menjelaskan, “Itu adalah Obat Abadi Qilin. Wujud yang kamu lihat sekarang hanyalah manifestasi magisnya saja. Dengan tingkat kultivasimu yang sekarang, kamu belum bisa melihat wujud aslinya. Nanti setelah kamu menembus ke Ranah Divine Soul dan menguasai Mata Surgawi, barulah kamu bisa melihat tubuh sejatinya.”

(Akhir Bab)


Berdiskusi di server Discord