Batu Ajaib
Induk Seri: A Sorcerer’s Journey[id]
Malam itu terasa sejuk dan segar, dan laut tampak tenang. Tiba-tiba, terdengar kegaduhan dari atas geladak. Glenn bergegas ke sana untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Jauh di tengah laut, tampak sebuah kapal brig besar bertiang dua, sepanjang 90 kaki, dan berlayar persegi. Nama “the Ocean Dragon” terukir di satu sisi lambungnya. Ocean Dragon sedang mendekati kapal yang ditumpangi Glenn dengan kecepatan penuh. Lebih dari dua puluh meriam dan banyak meriam putar terpasang di kedua sisi kapal. Sekitar dua ratus orang terlihat melambaikan senapan, pedang lengkung, dan pedang pendek di atas geladak, sementara beberapa orang bertengger di tiang kapal dengan satu tangan, memandang tajam.
Mereka semua berteriak menggunakan kata-kata dan frasa aneh yang tidak dimengerti oleh para murid, sampai seorang pria berteriak, “Tahan!” sambil mengayunkan tangannya ke depan. Pria itu mengenakan kemeja longgar yang tampak sering dipakai dan dimasukkan ke dalam celana jin hitamnya yang robek. Beberapa kancing kemejanya hilang, memperlihatkan bulu dadanya yang lebat. Gerombolan sisanya makin bersemangat saat dia meraung “Yo Ho Ho!” sebagai upaya melancarkan serangan akhir.
Glenn yakin kapal itu adalah musuh yang tangguh. Banyak kapal mungkin akan menyerah padanya tanpa menembakkan satu peluru pun. Untuk pertama kalinya, Glenn mengkhawatirkan nyawanya.
“Ayo lihat! Mereka bajak laut!”
“Penampilan mereka aneh sekali.”
Sisa murid lainnya tidak merasakan ketakutan seperti Glenn.
Butuh waktu sejurus bagi Glenn untuk akhirnya menyadari bahwa dia berada di atas kapal yang tidak mungkin bisa dikalahkan oleh manusia biasa. Ada lebih dari lima puluh awak kapal yang dulunya adalah kesatria. Masing-masing dari mereka kuat dan bersenjata lengkap. Mereka dikatakan telah menghancurkan semua penyerang dalam pelayaran mereka, belum lagi Penyihir Dior, yang bisa menaklukkan kapal perang yang lebih besar dan lebih kuat seorang diri.
Saat kapal itu bermanuver mendekati Glenn, dia menyadari tidak ada wanita di kapal tersebut. Dia kemudian diberi tahu bahwa pelayaran laut akan dikutuk jika ada wanita di atas kapal—sebuah kutukan di mana makhluk laut mengerikan akan terbangun untuk memburu, mengisap darah, dan menguliti daging mereka.
Dan para bajak laut itu tidak pernah meragukan hal tersebut.
Tiba-tiba terjadi keributan di atas geladak Ocean Dragon, yang terus melaju menuju kapal Glenn dengan kecepatan tinggi. Glenn bertanya-tanya apakah itu pemberontakan terhadap kapten, tetapi dalam hitungan detik, dia memutuskan kemungkinan besar mereka sedang melarikan diri. Sebab, pria di kemudi memutar kemudi dengan kalap setelah mendengar pria berbulu dada itu meraung “berputar!” beberapa kali.
“Apakah mereka kabur?” tanya seorang murid sambil membungkuk di atas dinding kapal untuk menonton Ocean Dragon.
“Tidak ada alasan untuk meragukannya,” jawab murid di sampingnya dengan datar.
Kenyataannya adalah kapten—pria yang mengenakan kemeja longgar itu—menyimpulkan bahwa kapal yang hendak dia jarah adalah milik Akademi Penyihir Lilith. Dia memverifikasi fakta itu bukan karena melihat puluhan kesatria bersenjata lengkap dan ratusan murid di kapal, melainkan dari ketenangan di wajah para kesatria dan murid yang hendak berhadapan dengan kapal bajak laut kejam.
Begitu kapten menyadari situasi berbahaya yang dihadapinya, dia meneriakkan perintah “berputar” untuk melarikan diri dari takdir bertarung melawan kapal para penyihir.
Jadi, pertarungan yang seharusnya berlangsung sengit itu pun batal terjadi.
Saat orang-orang yang menonton bajak laut meninggalkan sisi kapal dengan rasa kecewa, seorang anak laki-laki dan perempuan keluar dari kabin Penyihir Dior, yang kembali membangkitkan rasa ingin tahu mereka.
“Kenapa mereka diizinkan masuk ke dalam kabin? Kok bisa…?” seorang murid merasa iri. “Apakah mereka punya hubungan kerabat atau mereka memang terlahir sebagai penyihir?”
“Kamu tidak tahu? Mereka katanya jenius. Penyihir Dior sendiri yang mengatakannya,” balas murid lain dengan nada dambaan.
Orang-orang di geladak yang tadinya menatap bajak laut kini berkumpul untuk memberikan komentar antusias pada dua anak emas tersebut.
Anak perempuan itu berambut pirang dan berpakaian putih. Rambutnya terurai ke punggung seperti sungai emas. Mata birunya berbinar terang di bawah sinar matahari, membuatnya tampak sangat memikat. Dia menyapu pandangannya yang polos ke arah kerumunan, yang telah membelah menjadi dua baris untuk memberi jalan bagi gadis mirip putri raja itu. Namun, kepolosannya terabaikan oleh raut wajahnya yang dominan.
Di sampingnya, seorang anak laki-laki sedang memainkan seekor tikus putih kecil di tangannya dan tidak menunjukkan minat untuk berbicara dengan para penonton yang sibuk mengamatinya. Tampaknya tikus milik anak itu lebih penting daripada mereka semua jika digabungkan.
“Kyrie, membosankan sekali. Mereka kabur tanpa bertarung,” kata anak perempuan itu sambil mengibaskan rambutnya dan membiarkannya berkibar ditiup angin.
“Sudah kubilang. Tidak ada yang berani merampok kapal yang menuju Akademi Penyihir Lilith,” kata Kyrie datar. “Kamu yang memaksa ikut. Sekarang bagaimana? Bisakah kita pergi dari tempat berbau busuk ini?”
Merasa jengkel dengan sikap Kyrie yang angkuh, banyak murid melemparkan pandangan marah padanya. Namun Kyrie mengabaikan mereka sepenuhnya dan berjalan santai kembali ke kabin Penyihir, diikuti oleh gadis cantik itu.
Satu adegan besar lainnya telah usai.
…
Glenn sedang membaca ‘Peningkatan Indra Penciuman Anjing’ di kabinnya ketika dia terganggu oleh ketukan di pintu. Dia merengut atas gangguan itu karena dia begitu terhanyut dalam buku dan tidak ingin diganggu dengan cara apa pun. Dia makin kesal karena berpikir itu mungkin Robinson, yang berulang kali mengganggunya dengan mengajak nongkrong di geladak.
Ternyata itu adalah Chris dan Nina. Mereka datang berkunjung untuk menyampaikan rasa terima kasih atas penolakan Glenn terhadap perilaku buruk Kelompok Tiga.
“Aku tidak tahu harus berkata apa, tapi kamu telah menyelamatkan nyawaku. Kamu menyelamatkan nyawa adikku,” kata Chris dengan sikap yang jauh lebih dewasa. Dia telah banyak menjadi dewasa setelah perkelahian yang dialaminya di geladak.
Dan Nina, yang masih agak pemalu, berkata dengan suara pelan: “Terima kasih, Glenn.”
Glenn menjamu keduanya dengan jus. Jus tersebut bisa disimpan hingga dua bulan sebelum basi karena diawetkan menggunakan metode khusus.
“Aku sama sekali tidak membantu. Lafite-lah yang menjatuhkan orang besar itu.” Glenn merasa malu atas rasa terima kasih yang tidak sepenuhnya berhak dia terima ini.
“Kami sungguh berterima kasih. Kamu membuat perubahan dan yang lebih penting adalah arti dari bantuanmu itu.”
Nina kemudian dengan hati-hati mengeluarkan dua buah batu dari gaunnya dan menyerahkannya kepada Glenn.
“Chris dan aku mendapatkan beberapa batu secara tidak sengaja saat kami masih kecil, dan ternyata batu-batu itu adalah uang penyihir—mereka menggunakannya sebagai uang di Benua Penyihir. Batu-batu ini disebut Batu Ajaib.”
‘Batu Ajaib! Uang penyihir. Begitu rupanya. Jadi, batu yang digunakan Wade untuk menyuap Penyihir Dior adalah Batu Ajaib,’ pikir Glenn sambil meimterimanya.
Bab Ini Masih Terkunci
Bab ini dijadwalkan rilis gratis pada .
Ingin baca instan sekarang? Dukung penerjemah di halaman Donasi Novelfire untuk klaim token eksklusif Anda.