Sedikit Romansa
Induk Seri: A Sorcerer’s Journey[id]
“Aku punya ide,” kata Glenn dengan riang. “Kita tidak bisa lewat lorong, jadi satu-satunya harapan adalah pergi ke tali dan naik ke geladak, yang panjatannya hanya sekitar 20 sampai 25 kaki.”
“Maksudmu kita harus lari melewati lubang yang dijaga monster besar itu? Itu sama saja bunuh diri,” sanggah Chris.
“Cuma itu satu-satunya pilihan kita,” kata Glenn tegas.
Siswa yang berada di samping Glenn tampaknya berhasil diyakinkan. Ia berlari kencang ke lubang itu lalu melompat. Beruntung, ia berhasil mencengkeram tali dan memutar tubuhnya dengan kuat untuk memanjat naik.
Chris tidak punya pilihan. Ia menggendong adiknya di punggung, menangkap tali, dan mulai merayap naik menggunakan kedua tangannya.
Glenn dan Lafite menyusul.
Memanjat tali tidak menjadi masalah bagi Glenn yang berbadan tegap, meski pergelangan kakinya terluka. Namun, itu adalah tantangan besar bagi Lafite yang bertubuh rapuh dan terbiasa dimanjakan oleh ayahnya yang berkuasa. Meski begitu, saat menghadapi kematian, ia mengumpulkan keberaniannya dan melompat.
Ketika kelima siswa itu sedang memanjat tali, tiga monster serupa muncul dari permukaan laut dan mulai merayap naik dari bagian bawah lambung kapal.
“Sialan! Benda-benda ini berkumpul untuk menyerang?” teriak Chris, yang mengkhawatirkan nyawa Nina yang terkulai pendarahan di punggungnya.
Suara mendesis terdengar saat itu dan rombongan pemanjat gemetar, sebagian karena takut, tetapi utamanya karena hempasan angin dingin yang nyata. Detik berikutnya, mereka melihat hamparan es luas merambat ke bawah menghadang ketiga makhluk raksasa tersebut, mendominasi mereka hingga terdesak mundur.
Saat lapisan es yang tebal itu terus membekukan makhluk-makhluk tersebut, laut berpusar hebat dan seekor gurita raksasa muncul dari dalam air.
“Gurita?” gumam Lafite keheranan. “Apakah monster-monster yang kita lihat tadi adalah tentakelnya?”
Wajah anggota kelompok lainnya muram mendengar tebakan liar Lafite.
Pada saat itu, sebuah monster (tentakel?) telah membeku, sehingga kehilangan cengkeramannya pada lambung kapal. Monster itu jatuh ke laut dan menghasilkan hembusan angin yang kencang.
Glenn bertahan dan memegang tali lebih erat melawan angin berkecepatan tinggi, sementara siswa yang memimpin para pemanjat terhempas lepas dari tali dan terlempar ke laut; jeritannya masih terdengar saat ia tercebur ke dalam air.
Lafite juga terhempas dari tali dan jatuh bebas. Dalam keputusasaannya, ia mengerahkan sihir dan memunculkan sulur tanaman yang terbang lalu menyangkut di pagar geladak. Namun, sihir itu harus ditopang oleh kekuatan sihirnya, yang akan habis dalam hitungan menit.
Ia menggantung di udara dengan rambut berantakan. Wajah cantiknya pucat karena ketakutan. Ia tahu ia akan jatuh sebentar lagi dan menjadi makanan monster, tetapi ia tidak mengucapkan kata “tolong”, entah karena ketakutan yang melumpuhkan atau karena harga dirinya yang keras kepala; ia hanya menggertakkan gigi dan menatap laut yang bergolak.
Chris sudah menggendong adiknya di punggung, jadi ia tidak bisa menampung beban lagi.
Oleh karena itu, Glenn adalah satu-satunya kemungkinan bagi Lafite untuk selamat dari kematian yang mengerikan.
Di saat antara hidup dan mati, Glenn memutuskan untuk mengambil risiko dan menyelamatkannya, bukan hanya karena wajahnya yang menawan sekaligus menyedihkan saat itu, tetapi karena Lafite tidak pernah menghinanya atas asal-usul keluarganya yang miskin.
Glenn menarik napas dalam-dalam, melilitkan lengannya pada tali, dan turun sampai ia mencapai sekoci di tengah lambung kapal. Ia kemudian melepas ikatan tali berkait yang ada di sekoci dan mengayunkannya ke arah sulur tanaman tersebut. Setelah beberapa kali mencoba, Glenn berhasil menyangkutkan kaitnya pada sulur dan menariknya sedekat mungkin, setelah itu ia mulai mengangkat sulur tersebut dengan terengah-engah, di mana ujung lainnya dipegang erat oleh Lafite sebagai harapan terakhirnya.
Lafite berhasil ditarik ke sekoci tepat sebelum sulur itu menghilang. Ia menatap Glenn dengan air mata di matanya.
Glenn tidak pernah ditatap seintens ini oleh gadis secantik Lafite, jadi ia mengusap hidungnya untuk mengurangi rasa canggung.
“Ah,” celetuk Glenn.
Lafite langsung menerjang Glenn dan memeluk pinggangnya, menyandarkan kepalanya di dada Glenn.
“Aku pikir aku akan mati. Aku pikir kamu tidak akan menolongku,” bisik Lafite di telinga Glenn sambil menangis.
Glenn sangat gugup. Tubuhnya menjadi kaku; tangan-tangannya bingung harus ditaruh di mana; jadi, ia hanya berdiri patung di sana dan menghirup aroma alami yang harum dari rambut gadis itu.
Keduanya tidak bergerak sampai Lafite menyadari kekeliruannya dan terkekeh.
“Kamu mau memelukku selamanya?”
“Tidak… Tidak…” gagap Glenn sambil melepaskan Lafite, dan wajahnya memerah.
Sedikit romansa telah tumbuh di tengah bahaya yang mengancam jiwa.
“Naiklah ke punggungku, aku akan membawamu naik ke geladak.” Glenn menenangkan diri dan kembali fokus pada urusannya.
Pada saat itu, Chris sudah mencapai geladak dan membantu Glenn dengan menarik tali Glenn ke atas. Semenit kemudian, Glenn dan Lafite juga sudah berada di geladak.
Namun mereka dihadapkan pada pemandangan yang jauh lebih mengerikan di geladak. Geladak sepanjang 300 kaki itu berlubang-lubang di mana-mana dan dipenuhi oleh lebih dari seratus mayat. Semua mayat terendam darah begitu parah hingga tidak mungkin lagi mengenali mana yang siswa, ksatria, atau monster.
Dan di tengah geladak, sebuah tentakel raksasa yang telah terpotong tampak kedutan, serta mengeluarkan darah berwarna sian yang berbau busuk.
Suara dentuman lain terdengar. Rombongan itu melacak asal suara dan menemukan Penyihir Dior sedang berdiri di udara sekitar dua puluh kaki di atas geladak. Penutup matanya telah dilepas, memperlihatkan mata mekanis yang rumit dan bergerak cepat.
Dior merapalkan mantra dan membekukan tentakel di bawah kakinya yang mencoba menyerangnya. Rombongan itu akhirnya menyadari bahwa lapisan es yang luas tadi dibuat oleh Dior.
Entah dari mana datangnya, tentakel besar lainnya menyambar ke arah Penyihir Dior dan Dior segera melindungi dirinya dengan memunculkan pilar es yang besar dan tebal di depannya. Pilar es dan tentakel yang terbang itu berbenturan lalu hancur menjadi tumpukan daging cincang berbaur serpihan es.
Tentakel lain datang dan Dior menghancurkannya menggunakan senjata es yang sama.
Dan di atas geladak, para ksatria yang tersisa sedang bertahan melawan serangan tentakel, dan yang membuat Glenn terkejut, dua siswa yang berada di kamar Dior tadi juga ikut dalam pertempuran tersebut.
Bab Ini Masih Terkunci
Bab ini dijadwalkan rilis gratis pada .
Ingin baca instan sekarang? Dukung penerjemah di halaman Donasi Novelfire untuk klaim token eksklusif Anda.