Liga Layar Maut
Induk Seri: A Sorcerer’s Journey[id]
Lafite disambut oleh seorang murid laki-laki yang antusias. Laki-laki itu memberi isyarat agar Lafite duduk di sampingnya sambil berkata dengan sopan:
“Oh, Lafite, kau datang juga. Kami semua menunggumu! Ayo duduk di sini.”
Murid laki-laki itu adalah Aaron, si Penyihir Bola Api dari kelompok “Lima Penyihir”.
Aaron mengenakan jubah longgar mirip penyihir. Penampilannya menawan dengan senyum ramah dan tatapan mata yang tajam.
Namun, Lafite sama sekali tidak meliriknya. Ia justru berkata sinis, “Memangnya kita kenal?” lalu duduk santai di hadapannya.
“Kau benar-benar jalang yang menjengkelkan! Sama persis seperti rumor yang beredar.” Kelembutan di wajah si Penyihir Bola Api berubah menjadi seringai dingin, seperti api menyala yang mendadak padam.
“Kau mati sekarang!” seru Lafite sambil menerjang ke arah Aaron untuk menamparnya, tetapi Glenn maju dan menghentikannya.
Glenn kemudian menatap Aaron:
“Jadi, kau si Penyihir Bola Api, huh? Ada satu hal yang harus kau ingat: semua orang yang masih hidup di sini tidak bodoh. Kenapa kau tidak buang saja kepalsuanmu itu dan langsung bicara inti masalahnya?” bisik Glenn mengancam sambil memainkan pisau belati tajam di tangannya.
“Masa bodoh dengan pikirannmu!” dengkus Aaron lalu diam.
“Pria sejati!” Chris membersihkan sela-sela giginya menggunakan pedang. Dadanya yang kekar terlihat dari celah kemejanya yang koyak.
“Hah-hah, aku pernah mendengar tentang dua pria kuat di samping Lafite. Kalian pasti Chris dan Glenn.” Seorang murid berpenampilan bangsawan dengan pakaian rapi tersenyum lebar ke arah Glenn dan Chris.
Murid yang tampak seperti pria terhormat itu adalah Alastair, si Penyihir Pedang, anggota lain dari Lima Penyihir. Alastair mendapat julukan itu karena ia bisa memunculkan pedang emas secara tiba-tiba saat bertarung. Selain itu, ia memakai dua cincin berkilau dari batu safir dan kecubung di jarinya. Dari hal itu, Glenn menyimpulkan bahwa Alastair bukanlah orang biasa.
Glenn terkenal cerdik dan kejam. Enam murid telah tewas di tangan belatinya selama sebulan terakhir.
Sebulan lalu, Glenn sempat menderita karena kenyataan bahwa ia harus membunuh demi bertahan hidup di kapal ini. Namun sekarang, ia telah menjadi “penjahat” kawakan dan akan membunuh tanpa ampun.
“Alastair, katakan alasanmu memanggil kami ke sini.” Suara serak keluar dari seorang gadis yang tampak imut, tetapi sebenarnya paling kejam. Glenn pernah melihatnya membunuh sekelompok murid dalam hitungan detik hanya dengan mengendalikan benang boneka putih. Ya, dialah si Penyihir Boneka, Beatrix.
Anggota terakhir dari Lima Penyihir duduk di dekat Beatrix. Wajahnya sangat muram dan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Malang baginya, ia kehilangan salah satu tangannya saat bertarung melawan monster laut. Kendati demikian, kemampuan bertarungnya sangat luar biasa sampai-sampai Lafite menduga dia adalah satu-satunya di antara Lima Penyihir yang bisa menggunakan sihir asli tanpa alat bantu sihir. Setahu Lafite, ia bisa menggunakan kekuatan mentalnya untuk mehipnosis lawan, yang kemudian akan mengikuti perintahnya dalam jangka waktu singkat. Karena itulah ia dijuluki si Penyihir Pikiran.
Kini, Lima Penyihir—orang-orang yang paling disegani di kapal, tidak termasuk Penyihir Nilmar, serta mungkin Kyrie, Bionna, Sam, dan jurumudi—telah berkumpul untuk suatu urusan.
Tiba-tiba, Alastair tertawa terbahak-bahak dengan cara yang menyebalkan, tetapi berhasil menarik perhatian semua orang.
“Yah, meskipun kita dihormati sebagai Lima Penyihir, kalian tahu sendiri jika dibandingkan dengan penyihir asli, kita tidak ada apa-apanya. Dan tanpa alat bantu sihir, kita tidak akan bertahan hidup sejauh ini…” Alastair menggelengkan kepalanya.
“Alastair, berhenti mengatakan hal yang sudah jelas dan langsung ke intinya!” Penyihir Boneka kehabisan kesabaran dan memotong pembicaraan.
“Baiklah kalau begitu. Aku akan menyampaikannya secara singkat. Malam ini, kita berkumpul demi masa depan yang lebih baik—masa depan yang lebih baik untuk sisa perjalanan ini dan masa depan yang lebih baik di Sekolah Sihir Black Isotta!” Wajah Alastair mendadak serius.
“Pikirkan apa yang telah kita lalui, dan berapa banyak dari kita yang tewas di kapal ini. Aku takut nasib kita di sekolah terkutuk itu tidak akan jauh lebih baik daripada sekarang!” kata Alastair gelisah sambil menatap Penyihir lainnya.
Penyihir lainnya menelan ludah, dan Glenn pun merasa agak tidak tenang mendengar prediksi ini: “Ya, Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi di sekolah berdarah itu!”
Alastair menunggu sejenak sebelum menambahkan:
“Jadi, aku sarankan kita membentuk sebuah liga—liga yang terdiri dari kita dan murid-murid lain di kapal ini. Kita bersatu untuk bertahan hidup dari penderitaan ini, dan saat kita sampai di sekolah, kita akan saling membantu!”
Dilihat dari wajah mereka yang penuh harapan, tampaknya semua orang menganggap itu ide yang bagus!
“Itu memang saran yang bagus… Tapi bagaimana caranya? Lima murid masih harus dibunuh setiap hari, dan bagaimana mungkin kita bisa saling mengandalkan untuk bertahan hidup?!” Lafite ragu.
Aaron memperhatikan Lafite saat ia berbicara. Tampaknya rasa dendam Aaron pada Lafite akibat sindiran pedasnya telah hilang. Ia menatap Lafite dengan kagum, percaya bahwa gadis itu sangat menawan.
“Setidaknya kita bisa membunuh orang-orang yang bukan kelompok kita terlebih dahulu, seperti para ksatria!” kata Alastair licik. “Dan itu setidaknya bisa memberi kita sedikit waktu.”
“Membunuh para ksatria?” Lafite hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Ya, para ksatria! Ada 17 orang di antara mereka. Kematian mereka akan membuat kita aman selama tiga hari ke depan… Jadi bagaimana menurut kalian?”
“Dan kita, Lima Penyihir, akan menjadi pendiri bersama liga ini.” Alastair langsung mencecar Penyihir lainnya tanpa memberi jeda.
Sesaat kemudian terdengar suara dari yang lain.
“Aku ikut!”
“Aku juga.”
“Aku juga.”
“Hitung aku juga!”
Seluruh anggota Lima Penyihir sepakat untuk membentuk liga.
Keesokan harinya, setelah penghitungan rutin dan pemberian semangat yang aneh seperti biasanya, Penyihir Nilmar kembali ke tendanya bersama Kyrie, Bionna, Sam, dan jurumudi.
Suasana di geladak mendadak tegang karena setiap orang harus bertahan hidup dengan mengorbankan nyawa orang lain. Saat itu, belati telah ditarik, pedang dihunus, dan parang diacungkan. Para penyintas yang tersisa telah bersiap untuk pertarungan mematikan yang biasa mereka jalani.
Mereka memang layak disebut “berpengalaman” karena telah melalui setidaknya 30 pertempuran berdarah.
“Dengar, semuanya!” Seruan mendadak Alastair menyita perhatian semua orang.
Didampingi oleh Penyihir lainnya, ia berteriak:
“Kami Lima Penyihir telah memutuskan untuk mendirikan Liga Layar Maut! Bersama-sama kita akan melawan musuh bersama kita. Siapa pun di sini, jika kalian ingin bergabung dengan kami, bergabunglah. Dan ketika kita sampai di Sekolah Sihir Black Isotta, kami hanya akan menerima murid yang mendapat rekomendasi.”
Para murid yang sudah siap bertempur itu seketika menjadi gempar.
Bab Ini Masih Terkunci
Bab ini dijadwalkan rilis gratis pada .
Ingin baca instan sekarang? Dukung penerjemah di halaman Donasi Novelfire untuk klaim token eksklusif Anda.