Chapter 1 part 2
Induk Seri: Holmes of Kyoto [id]
Seperti biasa, aku menenangkan napasku di luar toko sebelum membuka pintu antik itu. Saat lonceng pintu berdenting, aku melihat dua pria sedang duduk di konter.
“Selamat pagi.”
“Selamat pagi, Aoi,” sapa yang pertama, Kiyotaka Yagashira, atau yang dikenal sebagai Holmes. Dialah orang yang menawarkan pekerjaan ini kepadaku.
“Selamat pagi, Aoi.” Yang kedua adalah ayah Holmes, Takeshi Yagashira. Perawakannya ramping, memakai kacamata dan rompi. Senyum ramahnya mirip dengan Holmes.
“Saya akan berusaha sebaik mungkin hari ini,” kataku sambil membungkuk.
Sudah lumayan lama sejak aku mulai bekerja di sini, dan akhirnya aku mulai terbiasa. Dulu saat Holmes menawarkan pekerjaan ini, aku mengira dia adalah seorang pemilik toko yang masih muda, tetapi ternyata pemilik toko sebenarnya adalah kakeknya. Tampaknya sang kakek dikenal sebagai penilai barang antik legendaris, dan karena merupakan ahli bersertifikasi nasional, beliau bepergian ke seluruh negeri bahkan ke berbagai belahan dunia untuk menjalankan tugasnya. Selama pemilik toko yang asli pergi, Holmes dan ayahnya bergantian mengelola toko di samping menekuni profesi utama mereka.
Profesi utama ayah Holmes adalah—aku melirik ke arah konter di depannya. Tangan kanannya memegang pena bulpen yang digunakannya untuk menulis prosa di atas kertas kotak-kotak khas Jepang. Benar: ayahnya adalah seorang penulis. Beliau menulis novel sejarah, kolom, dan karya lainnya, dan selalu menulis sambil menjaga toko.
Oh, dan omong-omong, profesi utama Holmes adalah seorang siswa, seperti yang sudah bisa ditebak.
Mungkin karena menyadarinya, sang ayah mendongak dari pekerjaannya dan tersenyum hangat padaku sambil berkata, “Kehadiranmu membuat toko ini makin hidup, soalnya sebelumnya di sini tidak ada anak perempuan.”
“Ah, tidak juga,” kataku malu-malu, lalu buru-buru memakai apronku.
Menurut cerita dari pelanggan tetap, tidak ada perempuan di keluarga Yagashira. Pemilik toko adalah seorang yang berjiwa bebas dan sudah lama bercerai dari istrinya, sementara istri sang ayah—dengan kata lain, ibu Holmes—meninggal dunia karena sakit saat Holmes berusia dua tahun. Jadi, keluarga Yagashira hanya terdiri dari laki-laki. Karena ketiganya memiliki nama keluarga yang sama, sang kakek dipanggil “Pemilik”, sang ayah dipanggil “Manajer”, dan Holmes dipanggil dengan nama julukannya atau “Kiyotaka”.
Namun, jarang sekali melihat ayah dan anak ada di toko bersamaan. Biasanya hanya salah satu dari mereka yang menjaga toko.
“Ah, sebentar lagi aku harus pergi. Ayahku yang akan menjaga toko hari ini,” kata Holmes sambil menatap ke arahku dengan senyuman. Aku tersedak napas karena terkejut.
“B-Bisa tolong berhenti membaca pikiranku?”
“Ah, maaf. Kau terlihat penasaran karena melihat kami bergantian.”
Holmes memiliki pengamatan yang sangat tajam. Dia tidak benar-benar membaca pikiran orang, tetapi dia bisa menyimpulkan hal-hal yang tidak diucapkan dari kata-kata, tindakan, dan perilaku seseorang.
“Membaca pikiran? Kau selalu saja berlebihan, Aoi,” lanjutnya sambil terkekeh geli.
Wajahku tegang. Tebakannya yang terus-menerus dan tak terduga tentang pikiranku benar-benar terasa seperti membaca pikiran bagiku. Aku sama sekali tidak berlebihan. Cara dia merespons pikiran batinku benar-benar buruk untuk jantungku.
“Oh iya. Aoi. Ikut aku ke lantai dua,” kata Holmes sambil berdiri dari tempat duduknya.
“Ah, baik,” jawabku, sedikit kaget.
Setiap kali Holmes memanggilku ke lantai dua, itu selalu untuk menunjukkan sesuatu padaku. Aku menaiki tangga dengan perasaan agak cemas. Ketika kami sampai di atas, dia melepas gantungan kunci di pinggangnya dan membuka kunci pintu di sana hingga terdengar bunyi klik, memperlihatkan sebuah ruangan polos dengan jendela kecil dan kipas ventilasi. Barang-barang dan kotak-kotak menumpuk di atas rak. Seperti penampilannya, ruangan ini disebut “gudang”.
Holmes berjalan lurus menembus gudang dan berhenti di depan sebuah pintu di dinding seberang. Hal pertama yang menarik perhatianku adalah gemboknya. Tidak ada yang spesial dari pintu itu selain gembok tersebut, tetapi pintu itu terkunci rapat. Di dinding sebelah pintu ada penutup yang menyamar sebagai stopkontak, dan saat penutup itu dibuka, terlihat tombol angka. Itu adalah kunci digital dengan kata sandi angka.
Holmes dengan cekatan memasukkan kata sandi lalu membuka gemboknya. Sekilas, ruangan itu hanyalah kamar kecil di bagian belakang gudang, tetapi tidak hanya itu. Ruangan ini memiliki tingkat keamanan yang tinggi.
Pintu akhirnya terbuka. Holmes menyalakan lampu, memperlihatkan ruangan kecil, bersih, tanpa jendela yang dijaga tetap dingin dengan pendingin udara. Di tengah-tengahnya terdapat sebuah meja, dan ada sesuatu di atasnya yang tertutup kain seprei sepenuhnya.
“Kakekku membawa ini pulang tadi malam,” kata Holmes sambil dengan cepat mengenakan sarung tangan putihnya dan membuka kain penutup tersebut. Di bawahnya terdapat sebuah kotak setinggi sekitar lima puluh sentimeter yang terbungkus kain. Holmes melipat kain itu dengan mahir, memperlihatkan sebuah kotak kayu sederhana. Dia membuka tutupnya. Di dalamnya ada sebuah vas bunga setinggi sekitar empat puluh sentimeter. Vas itu dilukis dengan lengkungan halus yang lebar, memiliki badan yang luas dan secara bertahap menyempit ke arah bawah. Motif biru kobalt di atas badannya yang putih sangat rumit dan memukau.
“Wah!”
Apakah motif itu buah anggur? Ditempa dengan indah dan bersih, sampai ke ujung-ujung daunnya.
“Ini… luar biasa.” Terkutuklah kosa kataku yang terbatas ini. Namun hanya itu yang bisa aku katakan.
“Ini adalah porselen Tiongkok yang dikenal sebagai ‘keramik biru putih’. Yang satu ini berasal dari dinasti Yuan.”
“Apa bedanya porselen dengan tembikar biasa?”
“Keduanya mirip, dan tidak ada batasan yang jelas di antara keduanya, tetapi saat tidak diberi lapisan glazur, porselen berwarna putih dan agak transparan, serta mengeluarkan suara berdenting seperti logam saat diketuk.”
“Begitu rupanya. Apakah ini asli?”
“Ya, sebuah pusat perbelanjaan di Kyoto akan mengadakan pameran sebentar lagi, dan karya ini dipinjam dari luar negeri. Mereka meminta kakekku untuk menilai keasliannya terlebih dahulu.”
“Jadi pihak pusat perbelanjaan meminta Pemilik untuk menilai keasliannya?”
“Ya, meskipun mereka meminjam karya dari negara lain, reputasi mereka tetap akan terekspos jika mereka memamerkan barang tiruan.”
Karena Pemilik adalah seorang penilai bersertifikasi nasional, beliau terkadang menerima permintaan seperti ini dan membawa barang antik langka ke sini—jenis barang yang biasanya tidak akan pernah bisa dilihat dari dekat oleh orang biasa seperti diriku. Dan setiap kali ada karya luar biasa seperti itu di sini, Holmes selalu memperlihatkannya padaku.
“Warna kobalt ini dibawa dari dunia Islam. Warnanya indigo yang dalam dan indah, bukan?”
“Ya, benar-benar indah.”
“Bentuknya sangat simetris dan terasa seimbang. Memiliki bentuk yang indah, disempurnakan hingga ke bagian bibirnya. Dan yang paling utama, motif ini. Bukankah ini luar biasa?” Holmes menatap vas itu dengan penuh kasih, menjelaskannya dengan antusias seolah-olah itu adalah kebanggaannya sendiri. Aku terpesona oleh kecintaannya yang tulus pada barang antik, tetapi aku juga bisa memahami dari mana gairah itu berasal. Bahkan orang awam pun bisa tahu bahwa vas ini sangat luar biasa. Namun, sebagai rakyat jelata, yang ingin aku ketahui adalah…
“Kira-kira berapa nilainya?”
“Coba kita lihat… Dulu aku pernah melihat di berita bahwa sepotong keramik biru putih dinasti Yuan terjual seharga 3,2 miliar yen di lelang luar negeri.”
“T-Tiga miliar? Untuk ini?”
“Bukan untuk karya yang ini secara khusus, tetapi itu artinya ada orang di luar sana yang menghargainya setinggi itu,” jawab Holmes dengan senang.
“P-Paham.”
Dunia ini terasa sangat asing bagiku hingga aku tidak bisa mengimbanginya. Ada orang yang hatinya tercuri oleh uang atau perhiasan, tetapi ada juga yang terpesona oleh barang antik. Sebagai pengumpul barang antik, kakekku pasti salah satu dari mereka.
“Holmes, jika kau kaya raya, apakah kau sangat menginginkan vas ini hingga rela membayar dalam jumlah besar?”
“Tidak.”
Aku mendongak kaget karena jawabannya yang sangat cepat.
“Oh, benarkah? Tapi kau menyukai barang antik, kan?”
“Ya, aku menyukainya. Namun, aku tidak punya keinginan untuk memilikinya. Aku sudah senang bisa melihat karya luar biasa seperti ini, dan aku ingin melihat sebanyak mungkin yang kubisa sepanjang hidupku. Untuk tujuan itu, aku rela pergi ke mana pun di dunia. Tapi aku tidak ingin memilikinya. Aku sudah puas selama bisa melihatnya seperti ini dan menyimpannya di dalam hati dan ingatanku,” jawab Holmes sambil meletakkan tangannya di dada dengan senyum lembut di wajahnya.
“Begitu… ya.” Aku mengangguk ragu. Jawabannya di luar dugaan, tetapi terasa tepat.
“Dalam kasusku, bukan hanya keramik dan gulungan lukisan yang menarik bagiku. Aku juga menyukai kuil, tempat suci, serta kastil dan menara asing. Itu adalah hal-hal yang tidak akan pernah bisa aku miliki, apalagi dipajang di rumahku, kan?”
Holmes tersenyum jahil. Aku pun ikut tersenyum dan berkata, “Kau benar.”
“Staf pameran akan segera datang untuk mengambil ini, jadi aku senang bisa memperlihatkannya padamu terlebih dahulu.”
Holmes memasang kembali tutup kotak itu dan membungkusnya dengan rapat menggunakan kain. Kami meninggalkan ruangan bersama-sama, dan aku memperhatikannya melamun saat dia mengunci pintu.
Aku tahu dia sangat berhati-hati, tapi apakah benar-benar aman menaruh barang senilai 3,2 miliar yen di sini? Mungkin bukan kapapasitasku untuk menilai, tapi aku tidak bisa tidak merasa khawatir.
“Jangan khawatir. Keamanan kami lebih ketat dari yang kau bayangkan,” kata Holmes dengan kunci di tangannya.
Napas ku tersedak lagi. “S-Sungguh tidak baik untuk jantungku kalau kau terus membaca pikiranku.”
Holmes tertawa ceria melihat ekspresi wajahku yang kaku.
Kami menuruni tangga, dan aku melihat Ueda, salah satu pelanggan tetap, sedang bersantai di sofa area kafe.
“Halo, Holmes dan Aoi!” Begitu melihat kami, Ueda melambaikan tangan dengan senyum lebar di wajahnya.
“Selamat datang, Ueda. Apakah Kau datang untuk menemui ayahku?”
Tampaknya Ueda adalah teman kuliah Manajer, yang membuatnya juga merupakan alumni Universitas Kyoto. Dia bekerja sebagai konsultan manajemen di Osaka, dan mulai tertarik pada barang antik karena pengaruh keluarga Yagashira. Ketika menemukan sesuatu yang tampak bagus, dia datang ke Kura untuk meminta penilainnya.
“Uh-huh. Aku membeli buku barunya hari ini dan ingin minta tanda tangan.”
Ueda mengeluarkan sebuah buku dari tasnya yang berjudul Women’s Quarters. Aku secara refleks mendekat. “Wah, apakah itu buku Manajer? Aku terus bertanya kepadanya buku apa yang dia tulis, tapi dia selalu menolak menjawabnya.”
Aku melihat sampulnya dan merasa gembira saat melihat nama penulisnya tercantum sebagai “Takeshi Ijuin”.
“Nama penamu Takeshi Ijuin, ya? Bagus sekali.”
Manajer memegang dahinya seolah merasa terganggu. “Uh, Aoi, anggap saja kau tidak pernah melihatnya.”
“Eh? Kenapa?”
“Orang ini pemalu, Aoi,” kata Ueda. “Nih, kuberikan buku ini padamu, jadi bacalah baik-baik.”
“Terima kasih, Ueda! Aku senang sekali.” Aku menerima buku itu dan memeluknya erat di dada.
Manajer mengalihkan pandangannya dan berkata, “Buku itu sangat sulit dibaca, jadi aku tidak merekomendasikannya.” Pipinya agak merona merah. Terlihat lumayan menggemaskan.
“Ayo lah, kau kan sudah jadi penulis veteran sekarang. Cepat terbiasa!” Ueda menepuk bahunya, merasa gemas, dan Manajer memalingkan wajahnya.
“Pria Osaka yang tidak peka tidak akan mengerti.”
“Pfft, aku tidak mau mendengar itu dari orang yang bangga dibesarkan di Tokyo. Darah Kansai mengalir di pembuluh darahmu, tapi kau menjual jiwamu ke Tokyo.”
Benar juga, Ueda pernah memberitahuku bahwa Manajer lahir di Kyoto, tetapi dibesarkan di Tokyo. Pemilik bercerai ketika Manajer masih kecil, dan beliau terlalu sibuk untuk membesarkan anak seorang diri, jadi beliau mengirim putranya ke kerabatnya di Tokyo. Manajer tidak kembali ke Kyoto sampai dia mulai berkuliah, dan itulah mengapa dia biasanya berbicara dalam bahasa Jepang standar. Mungkin karena itulah Holmes juga menggunakan bahasa Jepang standar.
“Aku akan membuat kopi,” kata Holmes sambil berjalan menuju dapur kecil di belakang.
“Terima kasih, kawan. Ada sesuatu yang ingin kuminta kau lihat juga setelah kopinya selesai.”
“Tentu saja. Aku sudah menduga begitu.” Holmes terkekeh dan masuk ke dapur kecil.
“Ternyata menebakku dengan tepat, ya? Begitulah Holmes.” Ueda mengangkat bahu lalu menatapku sambil tersenyum lebar. “Tahukah kau, Aoi? Akulah yang memberinya julukan ‘Holmes’.”
“Eh? Bukankah itu karena nama belakangnya memiliki kanji untuk ‘home’?”
“Itulah yang dia katakan pada orang lain, tapi kebenarannya berbeda.”
“Apa maksudmu?”
“Itu terjadi saat dia masih di sekolah dasar, kalau tidak salah? Dia datang ke tempatku untuk bermain dan bilang ingin memecahkan teka-teki.”
“Ooh begitu, anak-anak seusia itu memang menyukai hal semacam itu.” Anak-anak kerabatku juga selalu ingin main kuis atau permainan kata. Tidak pernah ada habisnya.
“Kan? Jadi aku memberinya beberapa soal, tapi dia anak yang pintar dan langsung memecahkannya. Tak peduli berapa banyak pertanyaan yang kuberikan, dia terus meminta lagi, dan itu mulai sangat mengganggu, jadi aku bilang, ‘Baiklah kalau begitu, ada berapa anak tangga di tanggaku?’ dan dia langsung menjawab ‘Lima belas.’ Aku terkejut dan menuduhnya asal menebak, tapi dia bilang, ‘Aku tidak asal menebak. Aku tahu karena aku pernah menaikinya sekali.’ Dan ketika aku menghitungnya, memang benar ada lima belas. Aoi, apakah kau tahu ada berapa anak tangga di rumahmu?”
Aku kehabisan kata-kata. Kalau dipikir-pikir, meskipun aku naik turun tangga itu setiap hari… aku tidak tahu berapa jumlah anak tangganya.
“A-Aku tidak tahu.”
“Benar, kan? Jangan cemberut begitu. Normal kalau tidak tahu. Lagipula, saat kejadian itu, aku berpikir ‘Anak ini adalah Holmes’.”
Aku memiringkan kepala. “Tapi kenapa?”
Manajer terkekeh dan berkata, “Seperti itulah sosok Sherlock Holmes yang digambarkan. Ketika melihat tangga, otaknya bahkan mengamati jumlah pasti anak tangganya.”
“A-Apakah begitu? Wah.” Aku benar-benar terkesan dari lubuk hatiku yang paling dalam.
“Itu adalah sesuatu yang memang bawaan dari lahir,” lanjutnya. “Jika semua orang melihat hal yang sama, kebanyakan orang akan melewatkan sebagian informasinya, tetapi Kiyotaka menyerap semuanya dan memprosesnya.”
“Karena itulah dia bisa melakukan penilaian barang antik, kan? Apakah Pemilik juga seperti itu?”
“Tidak, ayahku… agak berbeda. Beliau memiliki kemampuan unik untuk menentukan keaslian.”
“Dan kau sama sekali tidak berguna dalam hal itu,” sela Ueda seketika.
Manajer tersenyum sinis dan berkata, “Ya, maafkan aku karena tidak bisa membantu.”
“Tidak apa-apa,” jawab Ueda dengan senyum sinis yang serupa.
Saat aku menatap cemas di antara mereka berdua, Holmes muncul ditemani aroma kopi.
“Aku senang kalian akur, tapi kalian membuat Aoi merasa tidak nyaman.”
Ada empat cangkir kopi porselen, salah satunya adalah café au lait. Yang itu milikku.
“Terima kasih.”
Rasanya enak seperti biasa. Aku sangat menyukai café au lait buatan Holmes.
“Terima kasih. Nah, ini yang ingin kuminta kau lihat.” Ueda meneguk kopinya hingga habis dan terburu-buru mengeluarkan sebuah kotak dari kantong kertas. “Salah satu klien kami, direktur mereka memiliki ini di rumahnya. Menarik perhatianku, jadi aku meminjamnya untuk kuperlihatkan padamu.”
“Baiklah. Izinkan aku memeriksanya.” Holmes mengenakan sarung tangan putihnya lagi dan membuka kotak itu secara perlahan. Di dalamnya ada vas kecil yang terbuat dari porselen putih dengan motif biru.
”…Mengenai hal ini.”
“Ini keramik biru putih, kan? Dari dinasti Yuan?”
“Ini… sungguh kebetulan.” Holmes tersenyum geli dan melirik ke arahku. “Bagaimana menurutmu, Aoi?”
“Eh?” Bingung dengan pertanyaan yang tiba-tiba itu, aku melihat ke arah vas tersebut. Ini jenis yang sama dengan yang baru saja kulihat di lantai atas, kan? Aku menelan ludah dan memperhatikan lebih dekat. Jika nilainya sama dengan yang di atas… Tidak, warna biru ini tidak seindah itu. Yang kulihat sebelumnya adalah biru kobalt yang sangat indah, tetapi yang satu ini jelas hanya sekadar “biru”. Terlebih lagi motifnya—yang di atas sangat rumit, digambar seolah-olah ada urat-urat saraf yang menjangkau hingga ke ujung daun yang runcing. Yang ini tidak memiliki ketegangan yang sama. Hal serupa juga berlaku untuk bentuknya: lengkungan di sekitar bibir atasnya agak mengkhawatirkan.
Aku bisa tahu kalau vas ini mencoba meniru yang satunya, tetapi cacatnya tidak bisa disembunyikan. Yang ada di atas memiliki sesuatu yang misterius dan sangat memukau. Dibandingkan dengan itu, aku tidak merasakan apa-apa saat melihat yang satu ini. Jujur saja, barang ini benar-benar tampak murahan.
“Emm, aku pikir ini barang palsu,” gumamku, dan Holmes mengangguk merespons.
“Tepat.”
Mata Ueda terbelalak. “Wah, apakah Aoi juga punya pengamatan tajam untuk hal ini?”
“Tentu saja. Aoi memiliki penglihatan yang bagus, dan yang paling penting, selama dia sudah melihat barang yang asli terlebih dahulu, dia bisa mengenali barang tiruan dengan baik.” Holmes menatap ke arahku seolah meminta persetujuanku.
“Y-Ya, baru saja dia memperlihatkan padaku barang yang akan dipamerkan di pameran.”
Itulah mengapa rasanya sangat berbeda. Jika aku hanya melihat barang yang dibawa Ueda, aku mungkin berpikir barang itu luar biasa.
“Kakekku selalu bilang, ‘Usahakan hanya melihat barang yang asli sebisa mungkin.’ Dengan begitu, saat melihat barang palsu, kau akan merasakan kualitasnya yang rendah.”
Aku paham; aku sangat bisa berhubungan dengan hal itu.
“Setiap orang dikaruniai kesempatan untuk melihat barang yang asli, karena karya seni yang luar biasa selalu dipamerkan di museum dan galeri. Aku ingin orang-orang memanfaatkan fasilitas tersebut. Terasa sangat disayangkan jika mereka melewatkan kesempatan untuk melihat karya-karya yang indah,” desah Holmes.
Ueda tertawa. “Kau ini apa, agen rahasia?”
“Mungkin saja.”
Semua orang tertawa kecil mendengar pengakuan Holmes yang tanpa ragu itu.
“Tapi kawan, ini barang palsu? Yah, kurasa keramik biru putih dinasti Yuan memang bukan barang yang bisa dilihat setiap hari. Harusnya aku tidak memberi harapan tinggi pada orang itu.” Ueda tampak kecewa saat memasukkan kotak berisi vas itu kembali ke dalam kantong kertas.
“Tapi barang ini tidak terlalu buruk, kok.”
“Lalu berapa harganya?”
“Sekitar lima puluh ribu yen, mungkin. Berapa harga yang dia bayar untuk ini?”
“Jangan tanya,” kata Ueda sambil menyandarkan bahunya. Aku merasakan ekspresi wajahku ikut tegang, mengasumsikan bahwa harganya pasti kehilangan satu atau dua digit.
“Selama dia cukup menyukainya untuk menyimpannya dalam koleksinya, itulah yang paling penting. Dalam kasus seperti ini, nilainya tergantung pada pemiliknya yang menentukan.” Holmes tersenyum gembira, lalu melihat ke arah jam berdiri toko. “Ah, sudah waktunya. Aku berangkat dulu, Yah.”
“Baiklah.” Manajer mengangguk, lalu menatapku. “Oh iya, kenapa kau tidak pergi bersamanya, Aoi? Kau mungkin bisa belajar sesuatu.”
Aku menatapnya dengan pandangan kosong. “Emm, dia mau pergi ke mana?”
“Aku mau pergi ke Candi Ninna. Ini waktu terbaik untuk melihat bunga sakura. Karena ayahku menyaratkannya, bagaimana kalau kita pergi bersama?” jawab Holmes dengan senyuman.
Aku mengangguk antusias. “Ya!”
Bab Ini Masih Terkunci
Bab ini dijadwalkan rilis gratis pada .
Ingin baca instan sekarang? Dukung penerjemah di halaman Donasi Novelfire untuk klaim token eksklusif Anda.