Chapter 2 part 2

Induk Seri: Holmes of Kyoto [id]

Fitur Asisten Suara AI (Beta)
Berdiskusi di server Discord
Pengaturan Membaca
18px

Beberapa hari kemudian pada hari kerja, seperti biasa aku membantu di Kura sepulang sekolah.

“Baiklah, Aoi. Kurasa sudah waktunya kita mengganti pajangan jendela, jadi bisakah kamu merapikan pajangan yang sekarang?” tanya Holmes sambil mendekatiku membawa sebuah kotak.

“Tentu,” anggukku antusias. Tugasku di sini biasanya hanya membersihkan dan menjaga toko, jadi aku senang mendapat tugas yang lebih berarti. Lagipula, membersihkan toko tidak membuatku merasa berguna karena tempat ini sudah bersih saat aku datang. Holmes dan manajer tampaknya lebih bersyukur ada yang menjaga toko daripada yang kubayangkan—karena mereka berdua sering tiba-tiba ingin pergi keluar—tetapi aku tetap ingin lebih berguna, jadi aku sangat senang.

Pajangan jendela berisi peralatan minum teh. Satu per satu, kubersihkan debunya, kubungkus dengan kertas, lalu kumasukkan ke dalam kotak. Peralatan teh itu bertema bunga sakura.

“Bunga sakura di Kyoto sebentar lagi gugur semua, ya?” gumamku sambil menatap coraknya.

Holmes, yang sedang mengurus pembukuan, menjawab pelan, “Ya,” sambil mengangguk.

“Nanti tempat ini mau diisi apa?”

“Aku berpikir untuk mengambil tema Festival Aoi.”

“Oh, begitu.”

Saat kami sedang berbincang, aku melihat seorang pria tua berjalan dengan mantap menuju toko. Tepat ketika aku bertanya-tanya tentangnya, dia membuka pintu dengan cukup keras.

“Hei, Kiyotaka.”

Wah, ada apa dengan orang ini?

Dia berkumis, mengenakan pakaian tradisional Jepang, dan memakai topi pet. Penampilannya benar-benar retro, tetapi memancarkan kesan “modis” dan bersih. Ada sesuatu yang mengintimidasi dari pria tua ini.

Holmes terbelalak menatapnya sebelum berkata, “Pemilik toko.”

“Eh?” Mataku ikut melebar. Pemilik toko? Orang ini pemilik Kura? Penilai barang antik bersertifikasi nasional, Seiji Yagashira?

Dengan kata lain, kakeknya Holmes?

“Hei, kelihatannya kamu baik-baik saja.” Pemilik toko tersenyum lebar dan melirik ke arahku. “Eh, kamu punya pacar? Wah, menarik sekali.”

Aku terkejut, tetapi sebelum aku sempat membantahnya, Holmes mendahului, “Ini Aoi Mashiro, yang membantu kita di toko. Aku sudah bilang lewat telepon kalau kita mempekerjakan anak SMA sebagai pekerja paruh waktu. Apa Kakek lupa?” Holmes menghela napas pasrah.

“Oh ya, kamu memang pernah bilang. Aoi, cucuku ini memang agak aneh, tapi mohon maklumi dia, ya.”

Sang pemilik toko mengulurkan tangan untuk berjabat tangan, dan aku menjabatnya dengan ragu-ragu sambil berkata, “Iya, mohon bantuannya juga.”

Dia menarik tangannya lalu berkata, “Manis sekali. Mau minum kopi di kafe sebelah sana?”

“Eh?” Mataku membelalak.

Holmes langsung memotong. “Tolong jangan menggoda anak SMA yang datang untuk bekerja.”

K-Kakeknya barusan menggodaku?

“Jangan bicara begitu. Aku cuma mencoba bersikap ramah,” cibir sang pemilik toko dengan wajah kurang senang.

Holmes menutup buku catatan keuangan dan menghela napas. “Yang lebih penting, Kakek membawa masalah ke sini lagi, kan?”

“Nah, baru itu cucuku,” kata pemilik toko sambil bersedekap dengan raut bangga.

“Aku melihat seorang ibu dan putri-putrinya terlihat gugup di luar toko. Kakek yang mengundang mereka ke sini, kan?”

Pemilik toko dengan cepat berbalik dan membukakan pintu untuk mereka seperti seorang pria sejati. “Kalian datang! Selamat datang.”

“Halo.” Rombongan itu membungkuk saat masuk. Ada seorang wanita setengah baya yang mengenakan kimono kelihatan mahal, seorang wanita cantik bergaun yang tampak seumuran anak kuliahan, dan seorang gadis yang kelihatannya seumuran denganku.

Tunggu… yang terakhir itu rasanya tidak asing. Saat aku memicingkan mata menatapnya, dia bertanya, “Kamu… Mashiro dari Kelas 1, kan?”

“I-Iya, kamu Miyashita dari Kelas 2… kan?” Sekarang aku ingat; dia sekolah di tempat yang sama denganku dan kami satu angkatan. Kami beda kelas jadi aku tidak tahu sifatnya seperti apa, tapi aku tahu nama dan wajahnya karena kami pernah berada di kelas gabungan. Namanya Kaori Miyashita.

“Kenapa kamu ada di sini, Mashiro?”

“A-Aku kerja di sini.”

“Oh, begitu.”

Saat kami sedang terlibat percakapan canggung, sang pemilik toko tersenyum dan berkata, “Oh, kamu berteman dengan putri bungsunya Miyashita? Kebetulan sekali!”

Anu, aku tidak bisa bilang kami berteman, sih…

Mengabaikan keraguanku, dia melanjutkan, “Ayo masuk dan duduk, Nyonya Miyashita.” Dia mengarahkan para tamu ke sofa. “Kiyotaka, siapkan teh. Aoi, bawa papan nama di luar ke dalam dan pasang tanda ‘Tutup’.”

“B-Baik.”

Wah, dia menutup tokonya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?

Dengan perasaan sedikit cemas, aku mengganti tanda di pintu depan menjadi “Tutup” dan membawa papan nama ke dalam.

Berdiskusi di server Discord