Bab 2 bagian 3

Induk Seri: Holmes of Kyoto [id]

Fitur Asisten Suara AI (Beta)
Berdiskusi di server Discord
Pengaturan Membaca
18px

“Bagaimanapun juga, Toko Kain Kimono Miyashita di Nishijin adalah toko lama yang memiliki sejarah tiga ratus tahun. Kalian menangani segalanya, mulai dari kostum kabuki dan tarian tradisional Jepang, hingga kimono untuk penyanyi enka ternama,” ujar pemilik toko sambil duduk di sofa.

Aku baru saja memasukkan papan nama dan sedang menutup pintu ketika ucapannya membuatku terkejut. Wow, tiga ratus tahun! Toko tertua yang pernah kulihat di kampung halamanku paling banyak hanya berusia seratus tahun. Begitulah Kyoto; bahkan toko-tokonya punya sejarah yang mengagumkan.

“Ini cuma karena toko kami sudah tua. Walaupun kami membuka cabang di Roppongi, aku tidak bisa bilang kalau perkembangannya sesuai dengan yang kami harapkan,” kata ibu Miyashita sambil tersenyum kecut.

Rupanya mereka membuka cabang di Roppongi. Tetap saja, keluarga Miyashita pasti luar biasa kalau sampai menerima pesanan kimono dari penyanyi enka ternama. Aku mulai membersihkan ruangan, berpura-pura tidak mendengarkan percakapan mereka.

“Toko Kain Kimono Miyashita, ya? Selamat,” kata Holmes sambil tersenyum dan menundukkan kepala.

Selamat untuk apa?

“Terima kasih banyak. Menjadi ibu dari seorang Saio-dai memang selalu menjadi impianku.” Ibu Miyashita tertawa anggun sambil menempelkan tangannya di pipi.

S-Saio-dai? Terkejut, aku berbalik dan melihat kakak perempuan Miyashita meringkuk malu. Kalau dipikir-pikir, Mieko pernah bilang kalau Saio-dai tahun ini adalah putri dari pemilik toko kain kimono yang sudah berdiri sejak lama. Berarti dia adalah kakaknya Miyashita. Aku bisa paham kenapa Mieko begitu heboh membahas penampilannya—dia memang seorang wanita cantik yang elegan. Miyashita juga manis dan berwajah menyenangkan, tetapi kakaknya benar-benar sangat menarik perhatian.

“Jadi, urusan Anda hari ini ada hubungannya dengan sang Saio-dai. Ada masalah apa?” kata Holmes sambil bersedekap. Ketiga anggota keluarga Miyashita itu tersentak kaget.

“Kiyotaka. Setelah pengumuman Saio-dai, Saori mulai menerima surat mencurigakan,” kata pemilik toko memberi tahu dengan suara pelan. Holmes mengerutkan dahi.

Saori, sang kakak, ciut. Melihat nama adik perempuannya adalah “Kaori,” mungkin toko kain memang suka menggunakan kata “ori,” yang berarti “tenunan.”

“Maksud Anda surat mencurigakan?” tanya Holmes.

“Iya,” jawab Saori sambil mengangguk pelan, lalu mengeluarkan amplop cokelat dari tas tangannya. “Ini suratnya.”

“Boleh saya lihat?”

“Boleh, silakan.” Saori membungkuk.

Holmes memakai sarung tangan putihnya seperti biasa dan mengambil amplop itu. Dia mengamatinya dengan cermat sebelum mengeluarkan selembar kertas putih di dalamnya.

“Kamu tidak pantas menjadi Saio-dai. Segera umumkan pengunduran dirimu.”

“Memotong huruf dari koran lalu menempelkannya di atas kertas cetak? Ini benar-benar surat kaleng yang sangat klise,” komentar Holmes, tampak sedikit terkesan. Aku menegang. Ibu Miyashita mungkin tidak menyadarinya, tetapi aku tahu kalau Holmes merasa terhibur.

“Apakah Anda sudah membicarakan hal ini dengan orang lain?” lanjut Holmes.

Ibu Miyashita menggelengkan kepala. “Ini terlalu meresahkan. Mungkin lebih baik kalau melapor ke polisi, tetapi pengirimnya tidak menuliskan ancaman apa pun, dan kami tidak ingin membuat keributan tepat sebelum festival sepenting ini. Aku bertanya pada suamiku, dan dia menyarankan untuk berbicara dengan cucu Seiji.”

Begitu rupanya. Jadi pemilik toko dan ayahnya Miyashita saling kenal. Mungkin karena mereka berdua sudah lama menjalankan bisnis di Kyoto.

“Anu, ayahku bilang kalau Anda sangat pintar, dan orang-orang memanggil Anda ‘Holmes,’” Saori mendadak bicara dengan antusias. Pipinya merona, yang membuatku terkejut. Holmes memang agak jahil dan aneh, tetapi dia punya aura yang anggun dan sangat tampan. Bahkan Saio-dai tahun ini pun sepertinya tak kuasa menahan pesona luarnya.

“Sama sekali tidak. Mereka memanggil saya ‘Holmes’ hanya karena nama keluarga saya.” Holmes merespons dengan jawaban yang biasa dia gunakan… padahal itu bukan kebenaran yang sebenarnya. “Bagaimana Anda menerima surat ini?”

“Surat itu ada di dalam tas saya.” Saori mengangkat bahu.

“Tas Anda?”

“Iya. Saya pulang dari universitas, dan saat mengosongkan isi tas, ada amplop asing di dalamnya.”

“Apakah Anda sempat mampir ke tempat lain?”

“Kelas ikebana saya.”

“Lalu, apakah hanya ada satu surat ini saja?”

“Oh, tidak.” Saori menggelengkan kepala.

Pada saat yang sama, ibu mereka condong ke depan dan berkata, “Saat pertama kali melihat surat itu, aku sangat cemas—aku tidak tahu harus berbuat apa. Namun, tidak terjadi apa-apa setelahnya, jadi kami pikir itu cuma ulah seseorang yang iri. Tapi kemudian, kami menerima satu lagi.”

“Ini suratnya,” kata Saori, kali ini mengeluarkan selembar kertas putih yang terlipat empat. Holmes mengambilnya dan membukanya dengan hati-hati.

“Cepat mundur. Kamu merusak pemandangan.”

“Yang ini dibuat dari potongan koran juga, ya. Apakah yang ini tidak dimasukkan ke dalam amplop cokelat?” tanya Holmes.

“Tidak, suratnya begitu saja tanpa amplop. Surat ini juga ditaruh di dalam tas saya,” jawab Saori.

“Paham. Dari yang saya tangkap, Anda sudah punya dugaan siapa pelakunya, kan?” tanya Holmes sambil menatap matanya.

Saori tersentak. “Ke-Kenapa Anda berpikir begitu?”

“Anda terlihat sangat tenang meskipun menerima surat-surat ini, yang mana tidak mungkin terjadi jika Anda sama sekali tidak tahu siapa pengirimnya. Di dalam pikiran Anda, Anda berpikir, ‘Mungkin saja orang itu,’ benar kan?” jelas Holmes. Menurutku itu masuk akal.

Aku bahkan bisa mendengar Saori menelan ludah dari tempatku berdiri. Dia ragu-ragu sebelum akhirnya berkata, “Iya. Ada seseorang yang saya curigai.”

“Ya ampun! Begitukah? Kenapa kamu tidak bilang pada Ibu?” seru ibunya terkejut.

Saat itulah Kaori, teman sekolahku, berbicara untuk pertama kalinya. Dia terlihat marah. “Itu karena Ibu selalu membesar-besarkan masalah meskipun tidak punya bukti. Ingat tidak waktu Ibu mendatangi rumah beberapa anak perempuan dan membentak mereka hanya karena Kakak dijauhi? Itu memalukan sekali. Setelah kejadian itu, Kakak malah makin dimusuhi! Ibu memang tidak mengerti.”

“Kaori…” Ibu mereka tampak terkejut, sementara Saori terlihat serba salah.

“Tidak apa-apa, Kaori. Holmes, sebenarnya saya pikir mungkin keluarga dari gadis-gadis itulah pelakunya,” kata Saori dengan tatapan sedih. Holmes tetap diam dan menunggu Saori melanjutkan. “Saya berteman dengan dua orang gadis saat SMA. Keluarga yang satu mengelola rumah makan kecil, sementara yang satunya lagi mengelola penginapan bergaya Jepang. Karena mereka berdua juga berasal dari tempat usaha lama yang terkenal, mereka masuk ke sekolah ikebana yang sama dengan saya, dan kami bertiga berteman dekat. Hal sepele membuat saya dijauhi, dan saya sangat cemas soal itu… Jadi saya minta saran pada Ibu, tapi Ibu malah marah besar, mendatangi rumah mereka berdua, lalu berteriak, ‘Berani-beraninya kalian menjauhi Saori kami dari kelompok kalian! Kami tidak akan pernah berbisnis dengan toko kalian lagi, dan kami juga tidak akan merekomendasikan pelanggan kepada kalian!’”

Aku mengerutkan dahi saat mendengarkan ceritanya. Wah, itu sih protektif yang kelewat batas.

“Kejadian itu merusak pertemanan saya dengan mereka, tapi saya tidak bisa menghindari mereka karena sekarang kami kuliah di universitas yang sama dan ikut kelas ikebana yang sama,” lanjutnya.

Sayang sekali. Aku sendiri pasti tidak akan sanggup menghadapinya.

“Saat saya terpilih sebagai Saio-dai, saya memberi tahu instruktur ikebana saya. Beliau sangat senang dan mengumumkan kepada semua orang bahwa ada anggota kelas kami yang terpilih. Saya pikir kedua gadis itu salah paham, karena mereka terlihat sangat antusias, seolah-olah berpikir nama mereka sendiri yang akan dipanggil.”

Kata-kata Mieko terlintas di kepalaku: “Kudengar guru upacara minum teh dan ikebana suka mendatangi murid-murid mereka.” Rumor itu mungkin memberi mereka ide bahwa sang guru akan mendatangi mereka.

“Tepat setelah itu, beliau berkata, ‘Orang itu adalah Saori Miyashita!’ dan saya tidak akan pernah lupa raut wajah mereka. Sampai saat itu, mereka hanya mendiamkan saya, tetapi sekarang mereka terang-terangan bersikap jahat pada saya…” Saori menundukkan pandangannya.

“Saya mengerti,” kata Holmes sambil mengangguk. “Apakah saya bisa bertemu dengan kedua orang itu?”

Mata Saori membelalak. “Apakah Anda akan menanyai mereka secara langsung?”

Holmes menggelengkan kepala. “Tidak, saya ingin bertemu mereka tanpa memberi tahu kalau saya mengenal Anda.”

“Kalau begitu… kelas ikebana kami mengadakan pameran akhir pekan ini. Semua murid akan hadir di sana.”

“Kedengarannya bagus. Saya pasti akan mampir,” kata Holmes sambil tersenyum.

Berdiskusi di server Discord