Extra Story 13: Cyril's Return

Induk Seri: Silent Witch [id]

Fitur Asisten Suara AI (Beta)
Pengaturan Membaca
18px

Terima kasih khusus kepada Phal atas donasi pertamaku. Terima kasih banyak atas dukunganmu!!

Di bagian barat daya Kerajaan Ridill, terdapat sebuah kota tempat Cyril dilahirkan, yaitu Ashendarte. Kota ini memiliki keahlian khusus dalam menenun karena seluruh wanita di kota tersebut telah diajarkan menenun sejak mereka bisa mengingat sesuatu. Hal ini tidak berbeda dengan ibu Cyril, yang selalu duduk di depan alat tenun untuk menenun kain bermotif indah menggunakan benang warna-warni.

Meskipun tenun tangan belakangan ini mengalami penurunan dengan munculnya alat tenun otomatis yang digerakkan oleh tenaga air, ‘Tenun Ashend’ dari Ascendarte tetap sangat populer di kalangan bangsawan setempat karena motifnya yang indah dan warnanya yang cerah.

Sudah lama ia tidak mengunjungi kampung halamannya dan pemandangan kota telah berubah dalam banyak hal dari ingatan Cyril, namun mendengar suara gemertak dari alat tenun yang masih sama membuatnya merasa sangat bernostalgia.

Turun dari kereta kuda, Cyril berjalan menyusuri jalanan yang penuh kenangan dengan tas perjalanan di tangannya.

Marquis Highon telah menawarkan agar ia menggunakan kereta kuda mereka untuk pulang ke rumahnya, namun Cyril menolaknya dengan sopan karena orang-orang dapat langsung mengenali kereta kuda bangsawan dan hal itu hanya akan membuatnya mencolok jika diparkir di dekat rumah orang tuanya.

Ibunya tidak suka menarik perhatian. Oleh karena itu, ia tidak mengenakan pakaian yang diberikan oleh Marquis Highon, melainkan mengenakan pakaian biasa untuk bepergian.

Penampilannya—rambut pirang platina yang berkilau, mata biru tua, dan wajah yang rupawan—selalu memberikan kesan sebagai seorang bangsawan kepada orang-orang, akibatnya, Cyril selalu mencolok di antara anak-anak di sekitarnya.

Cyril masih ingat bagaimana hal itu membuat ibunya lebih khawatir daripada dirinya sendiri.

Tatapannya saat melihat wajah Cyril selalu tampak begitu ketakutan, karena hal itu selalu mengingatkannya pada suaminya. Bagaimanapun, sang ibu takut suatu hari nanti Cyril akan menjadi orang yang tidak berguna seperti ayahnya.

Cyril menurunkan topinya saat ia berjalan dengan pandangan menunduk.

Ia mungkin sudah terbiasa dengan ketakutan tetangga dan tatapan aneh yang diarahkan kepadanya. Namun bukan berarti ia ingin tatapan-tatapan itu diarahkan kepada ibunya.

* * *

Rumah tempat Cyril dibesarkan tetap sama setelah bertahun-tahun berlalu. Terlepas dari semua dukungan finansial yang diterima ibu Cyril dari Marquis Highon, yang seharusnya cukup baginya untuk hidup tanpa bekerja, ia tetap mempertahankan gaya hidup yang sama seperti di masa lalu.

Cyril menelan ludah saat berdiri di depan pintu. Tangan kanan yang terangkat untuk mengetuk pintu tiba-tiba terhenti.

Bagaimana jika ia membuka pintu ini dan berkata, “Aku pulang”… tetapi ibunya menjawab, “Ini bukan rumahmu lagi, kan?” Pikiran seperti itu terlintas di benaknya.

”………”

Setelah berdiri dalam kegundahan, Cyril akhirnya menetapkan satu kesimpulan.

Ya, dia bisa saja berkata, ‘Sudah lama tidak berjumpa.’ Dengan begitu, percakapan akan mengalir lebih alami. Kemudian, dia akan bertanya terlebih dahulu bagaimana kabarnya…

“Oh, selamat datang di rumah.”

Cyril hampir saja tidak sengaja menjatuhkan barang bawaannya ketika mendengar sebuah suara di belakangnya.

Berbalik dengan canggung, ia melihat ibunya berdiri di belakangnya dengan sebuah sapu di tangan. Rupanya, sang ibu sedang membersihkan area sekitar rumah.

“A-A-Aku pu-pulang!”

Dengan ini, ia tidak bisa menertawakan Monica Norton lagi. Begitulah betapa kaku jawaban yang diucapkannya.

Ibunya memandang Cyril dengan agak linglung, tetapi ia menyandarkan gagang sapu ke dinding dan membuka pintu rumah.

“Pasti di luar dingin. Aku akan menyalakan perapian sekarang.”

“B-Biar aku saja yang melakukannya.”

“Begitukah? Kalau begitu, bisakah aku meminta bantuanmu untuk menyalakan perapian?”

Ibunya menyambut kedatangannya. Ibunya meminta bantuannya seolah-olah itu adalah hal yang wajar untuk dilakukan. Hanya dengan mengetahui fakta itu saja sudah membuat hal-hal yang membebani pikirannya menjadi lega, dan itu juga membuatnya ingin menangis.

* * *

Sudah lama sekali ia tidak mengunjungi rumah orang tuanya, yang tidak banyak berubah dari ingatan Cyril seperti halnya penampilan luarnya.

Di sudut ruangan terdapat sebuah alat tenun, alat yang selalu ibunya gunakan untuk bekerja, di mana benang warna-warni membentuk motif yang indah dan rumit.

Mawar putih ditenun dengan benang mengkilap di atas kain berwarna ultramarine. Mawar-mawar itu sendiri semuanya berwarna putih, tetapi jika diperhatikan lebih dekat, beberapa jenis benang dengan kilau dan warna yang sedikit berbeda sebenarnya ditenun ke dalam kain tersebut, memberikan kesan tiga dimensi.

Segera setelah perapian menyala, ibunya merebus air untuk membuat teh.

“Ini tehmu”

“Terima kasih.”

Bagi orang yang tidak tahan dengan minuman panas, teh dengan suhu sedang ini terasa manis di lidahnya. Ia sudah menyukai rasa ini sejak masih anak-anak.

Sambil meminumnya sekali lagi, ia merasakan dadanya berdegup kencang oleh rasa nostalgia.

Ibunya, yang duduk di seberangnya, meminum tehnya dalam diam, tetapi ketika cangkir itu sudah kosong sekitar setengahnya, sang ibu berkata dengan nada yang agak kaku.

“Bagaimana kehidupan sekolahmu?”

Cyril menegakkan punggungnya dengan gugup.

Ia telah memikirkan apa yang akan ia bicarakan dengan ibunya di sepanjang jalan pulang di dalam kereta kuda, tetapi ketika akhirnya ia benar-benar berhadapan dengannya, pikirannya menjadi kosong dan kata-kata tidak dapat keluar dengan benar.

Pada mulanya, semua hal yang berkaitan dengan kehidupan sekolah selalu ditulis dalam surat, jadi ia tidak bisa memikirkan topik baru untuk dibicarakan.

Cyril meletakkan kembali cangkirnya di atas meja dan merenungkannya.

Benar juga. Di saat-saat seperti ini, aku bisa menceritakan tentang Yang Mulia.

Cyril memiliki rasa percaya diri untuk terus berbicara tentang Felix sampai hari berakhir.

Setiap kali Cyril berbicara dengan penuh semangat tentang Felix, Elliot selalu memandangnya seolah-olah sedang melihat sesuatu yang sangat disayangkan, tetapi dari sudut pandang Cyril, ia selalu berpikir bahwa Elliot kurang memiliki rasa hormat terhadap Yang Mulia.

“Semua hal berjalan baik di OSIS. Meskipun tahun ini agak sibuk karena adanya pergantian bendahara, kepemimpinan Yang Mulia yang luar biasa membuat kami dapat menyelesaikan semua acara tanpa hambatan, dan aku sekali lagi kagum dengan kendali situasi Yang Mulia yang sangat baik. Khususnya, pidato Yang Mulia di festival sekolah…”

“Aku ingin mendengar tentang dirimu lebih banyak daripada tentang Yang Mulia…”

Kata-kata ibunya membuat Cyril menghentikan bicaranya.

Setelah beberapa pandangan canggung, Cyril akhirnya membuka mulutnya.

“…yah, aku sudah menulis semua ceritaku dalam surat-surat itu, jadi kupikir…”

“Aku ingin mendengarnya langsung darimu.”

Mendengar kata-kata ibunya, Cyril terdiam dengan wajah yang tegang.

Di masa kecilnya ketika ia masih bersekolah di kota, ia biasanya dengan bangga menceritakan kepada ibunya tentang bagaimana ia dipuji oleh guru-gurunya setelah mendapatkan nilai ujian yang bagus, tetapi sekarang ia merasa takut untuk berbicara tentang dirinya sendiri.

–Ibu, aku mendapat nilai seratus dalam ujian hari ini. Aku bahkan mendapat peringkat pertama!

Setiap kali ia memberikan laporan dengan antusiasme seperti itu, ibunya hanya akan bergumam ‘begitukah?’ sambil menghela napas, lalu memalingkan muka.

Jika itu adalah sebuah surat, ia bisa menulis dan merenungkannya dengan tenang. Namun ia takut akan bagaimana reaksi ibunya, dan itulah sebabnya ia takut untuk berbicara langsung kepada ibunya, dalam hal ini, Cyril menghentikan kata-katanya.

Tetapi ia tidak bisa terus diam selamanya.

Terlebih lagi, ada hal-hal yang harus ia sampaikan kepada ibunya.

“Tahun ini, aku telah diundang untuk ikut serta dalam Upacara Tahun Baru.”

Upacara Tahun Baru, yang berlangsung pada hari setelah titik balik matahari musim dingin, merupakan upacara di mana para bangsawan dari seluruh penjuru negeri bergantian mengunjungi kastil dan memberi salam kepada raja.

Pada dasarnya, hanya mereka yang memiliki gelar kebangsawanan yang berpartisipasi dalam upacara Tahun Baru ini, dan sudah menjadi kebiasaan bagi keluarga mereka untuk tinggal di rumah.

Namun Marquis Highon menyatakan bahwa ia akan membawa Cyril bersamanya ke Upacara Tahun Baru tahun ini.

Dengan kata lain, Marquis Highon telah menerima Cyril, anak angkatnya, sebagai penerusnya.

Sudah beberapa tahun berlalu sejak ia diadopsi oleh keluarga Marquis, namun Cyril masih selalu merasa tidak tenang. Jelas, semua orang dapat melihat bahwa ia berada di bawah Claudia dalam hal kecerdasan.

Bahkan ketika ia mencoba mempelajari sihir untuk memperoleh keahlian uniknya sendiri, ia malah berakhir mengalami overdosis mana.

Ia tidak bisa memenuhi harapan mereka dan merasa dirinya kekurangan dalam segala hal. Jika terus begini, Marquis mungkin akan mencampakkannya sama sekali… ketakutan seperti itu selalu membuat Cyril berada di ambang kecemasan.

Beruntung, selama beberapa bulan terakhir ini, ia begitu sibuk sehingga tidak punya waktu untuk merasakan kecemasan tersebut. Terutama karena seorang adik kelasnya yang tidak bisa ia lepaskan dari pandangannya.

Ketika Marquis Highon mengungkit perihal upacara Tahun Baru, Cyril begitu terharu hingga hampir meneteskan air mata. Begitulah betapa bahagianya dia.

Namun di saat yang sama, rasa tidak tenang membuncah di dalam hatinya.

Wajah seperti apa yang akan ditunjukkan oleh ibunya ketika mendengar kabar ini?

Sering kali ia membayangkannya, ia hanya bisa memikirkan ibunya dalam ingatannya yang berkata, ‘Sudah kuduga. Kamu memang putra seorang bangsawan.’ sambil menghela napas.

Ujung jari Cyril gemetar karena takut akan apa yang terjadi jika ia diberi tahu hal yang sama lagi.

Ia takut melihat wajah ibunya. Ia tidak tahu harus berbuat apa jika ibunya menghela napas dengan raut wajah pasrah.

Ketika Cyril menundukkan kepalanya, ibunya berkata kepadanya dengan lembut.

”…Kamu telah bekerja keras.”

Bahu Cyril yang ramping bergetar dan wajahnya yang tertunduk perlahan-lahan terangkat.

Ibunya, yang duduk di seberangnya, tampak tenang.

“Ketika aku mengunjungi festival sekolah, aku bertemu dengan seorang gadis yang mengantarku berkeliling. Dia memberi tahu bahwa kamu adalah orang yang baik… dia memberi tahu bahwa kamu selalu mengajarinya dengan mantap tentang bagaimana melakukan pekerjaan dengan benar.”

”………”

“Marquis Highon pasti telah melihat hal itu di dalam dirimu.”

Tercermin di sudut pandangannya yang kabur adalah alat tenun ibunya.

Saat masih anak-anak, Cyril selalu suka melihat ibunya menenun dari kursi ini seiring dengan motif indah yang perlahan terbentuk bersamaan dengan suara gemertak dari alat tenun tersebut.

“Tenunlah dengan mantap, satu demi satu. Kamu harus mantap dan berhati-hati saat menenun.”

Oleh karena itu, Cyril telah bekerja keras, dengan mantap dan berhati-hati, menyelesaikan satu hal pada satu waktu.

Cyril merenungkan kata-kata ibunya, “Kamu telah bekerja keras,” yang ia terima untuk pertama kalinya.

Maka ia pun menjawab, dengan wajah yang tampak seperti senyuman penuh air mata, namun tetap bangga.

“Bagaimanapun juga, aku adalah putramu.”