Year after year, he kept sending her an invitation.
Induk Seri: Silent Witch [id]
Maaf membuat kalian menunggu lama ^0^/. Aku sibuk dengan pekerjaanku dan ada banyak hal yang harus kuselesaikan. Jadi mungkin butuh waktu agak lama sebelum aku bisa mengepos bab berikutnya. Bagaimanapun, ini dia babnya.
Setelah meninggalkan Elliot dan Benjamin, Monica pindah ke area yang tidak terlalu ramai, dan setelah memastikan tidak ada yang mengawasinya, dia mendongak ke arah pohon.
“Nero… apa kau di atas sana?”
“Yo… aku di sini.”
Nero turun dari pohon dan melompat ke bahu Monica. Berbeda dengan burung kecil Lynn, kucing bernama Nero ini lumayan berat saat berdiri di bahunya, tetapi ini tidak bisa dihindari untuk melakukan percakapan pribadi.
“Katakan, Nero, bisakah kau menggunakan indra sihirmu untuk menemukan Tuan Cyril?”
Cyril Ashley memiliki konstitusi tubuh yang menyerap mana di sekitarnya. Itulah mengapa dia selalu membawa bros yang menyedot kelebihan mana dari tubuhnya. Jadi, konsentrasi mana di sekitarnya agak tebal.
Monica berharap Nero yang ahli dalam merasakan sihir bisa menemukannya, tetapi kucing itu mengibas-ngibaskan ekornya dengan wajah masygul.
“Yah, kecuali dia menggunakan sihir, menemukannya akan agak sulit. Aku tidak bisa mendeteksi mana yang lemah. Tapi, aku bisa merasakannya jika aku sudah cukup dekat.”
“Kalau begitu, bisakah aku meminta bantuanmu untuk mencari Tuan Cyril?”
“Tentu. Apa kau butuh sesuatu dari pria dingin itu?”
Tersenyum kecut melihat keengganan Nero untuk mengingat nama orang, Monica menggendongnya di lengan. Sudah waktunya bahunya mulai merasa lelah.
“Tuan Howard sedang mencari Tuan Cyril, jadi aku penasaran apakah aku bisa membantu.”
“Kau ini orang yang sibuk… oh, aku mendapat respons. Aku merasakan sedikit mana yang dingin di area itu. Itu datang dari bangunan besar itu.”
“Aula dansa…?”
Aula dansa yang menjadi kebanggaan Akademi Serendia terhubung dengan bangunan sekolah oleh sebuah koridor. Secara kebetulan, posisi Monica dan Nero saat ini berada di tengah-tengah antara bangunan sekolah dan aula dansa. Itulah mungkin mengapa Nero bisa merasakannya.
Aula dansa tersebut telah digunakan untuk upacara dan turnamen catur, serta menjadi tempat untuk pesta dansa malam ini. Tempat itu seharusnya ditutup sekarang sebagai persiapan untuk pesta dansa nanti malam.
Namun, sebagai anggota OSIS, tidak mengherankan jika dia keluar masuk untuk membantu persiapan pesta dansa, tetapi pekerjaan itu seharusnya menjadi tugas Neil. Mengapa Cyril berada di aula dansa jam segini?
Saat Monica memiringkan kepalanya ke samping, Nero menepuk lengan Monica.
“Hei, Monica. Aku melihat seorang wanita yang tampak mencurigakan.”
”…Hah?”
“Lihat ke sebelah sana.”
Seperti yang ditunjuk Nero dengan cakarnya, dia melihat seorang wanita sedang berjalan mondar-mandir dengan gelisah.
Dia adalah seorang wanita dengan sosok ramping dan rambut cokelat tua, mengenakan pakaian sederhana dan sehelai selendang stole. Mungkin usianya di pertengahan tiga puluhan.
Jika ini berada di kota, tidak akan ada yang salah dengan pakaian wanita itu, tetapi itu terlalu janggal mengingat ini adalah area festival sekolah Akademi Serendia, tempat anak-anak dari keluarga bangsawan bersekolah.
Sebagian besar orang yang datang ke festival sekolah yang hanya berdasarkan undangan ini adalah orang-orang kelas atas atau pelayan mereka. Pakaian wanita itu sama sekali tidak terlihat seperti salah satu dari keduanya.
“Dia bertingkah sangat mencurigakan… Oh! Itu mengingatkanku, kau juga bertingkah gugup saat berjalan menembus kerumunan!”
”…Ya, tentu saja, aku memang bertingkah mencurigakan saat berjalan menembus kerumunan.”
Tapi, apa yang dikatakan Nero adalah sebuah fakta.
Bagaimanapun juga, dia selalu menundukkan kepalanya untuk menghindari kontak mata dengan orang-orang, berjalan di sepanjang pinggir jalan, dan pindah ke area yang teduh seolah-olah dia takut pada kelompok besar orang. Jika ada kerumunan yang sangat bising, dia akan bersembunyi secara refleks, sehingga tidak pernah mencapai tujuannya.
Dan cara wanita itu berjalan mirip dengan apa yang selalu dilakukan Monica.
“Bagaimana pun kau melihatnya, dia tampak mencurigakan. Dia mungkin seorang pembunuh.”
Bahkan setelah mendengar desakan Nero, Monica masih tidak bisa melihat wanita itu sebagai seorang pembunuh. Jika dia adalah sejenis pembunuh, dia akan berpakaian lebih tidak mencolok. Dan di tempat seperti ini, pakaian polosnya justru akan membuat kehadirannya semakin menonjol.
Dan alisnya yang turun serta ekspresinya yang muram membuatnya tampak agak kebingungan. Persis seperti Monica di dalam kerumunan.
Mungkin wanita itu sedang dalam semacam masalah.
“A-Aku akan mencoba memanggilnya…”
Dibutuhkan banyak keberanian bagi Monica yang penakut untuk berbicara dengan seseorang yang belum pernah dia temui sebelumnya. Tapi dia merasa tidak bisa meninggalkan wanita itu sendirian begitu saja.
Nero mendongak menatap Monica dan tersenyum bahagia.
“Kira-kira kau sudah dewasa, bukan? Baiklah, pergilah. Pergilah.”
Dengan begitu, Nero melompat keluar dari gendongan Monica dan melompat ke pohon terdekat. Nero mungkin ingin dia pergi sendiri tanpa meminta bantuannya. Jadi Monica mengepalkan tinjunya dan melangkah maju.
Monica tidak terlalu menyukai tempat dengan banyak orang. Dia takut pada kerumunan. Dia takut pada orang asing, bahkan sampai sekarang.
Meski begitu, Monica ingin menjadi seseorang seperti Lana, yang bisa membantu seseorang di tempat ramai, meskipun hanya sedikit.
Aku pasti bisa. Aku membawa ‘jimat’ Tuan Cyril bersamaku.
Dia percaya bahwa jika itu adalah Cyril, dia akan mengulurkan tangannya jika melihat sang tamu dalam kesulitan.
Lagipula, aku juga anggota OSIS.
Monica mengumpulkan semua keberaniannya untuk mendekati wanita itu dan memanggilnya.
“P-Permisi… ada yang bisa kubannnduuuu—?”
Dia menggigit lidahnya sendiri.
Saat Monica merasa depresi oleh kenyataan bahwa dirinya jauh dari kehadiran Cyril Ashley yang berwibawa, wanita itu memandang Monica dengan cara yang bingung.
Dia adalah seorang wanita biasa berpenampilan sederhana yang tampaknya bisa berada di mana saja. Dengan kata lain, dia sangat mirip dengan Monica.
Satu-satunya ciri yang dia miliki adalah tanda titik tahi lalat di dekat bibirnya.
Wanita itu menurunkan bulu matanya sekali dengan ragu-ragu dan bertanya kepada Monica dengan berbisik.
“C-Cyril Ashley… A-Apakah kau tahu di mana Cyril Ashley berada?”
Monica membelalakkan matanya mendengar nama tak terduga yang diucapkannya. Mungkinkah dia adalah kenalan Cyril?
“U-Um, Tuan Cyril ada di aula utama…”
“Aula utama…?”
“I-Izinkan aku mengantarkanmu ke jalaaaan—”
Dia menggigit lidahnya lagi.
* * *
Wanita itu berjalan dengan kepala tertunduk di sebelah Monica, sesekali melirik ke sekeliling lalu menjatuhkan pandangannya dengan canggung ke kakinya lagi.
Monica ragu-ragu, bertanya-tanya apakah dia harus mengatakan sesuatu kepadanya, tetapi ketika dia membuka mulutnya, dia menutupnya, membukanya lagi, lalu menutupnya lagi.
I-Ini sangat canggung…
Tidak begitu yakin topik seperti apa yang harus dia bicarakan dalam situasi seperti ini.
Apa yang akan dibicarakan Lana jika dia berada dalam situasi seperti ini? Mungkin akan seperti, ‘selendang itu terlihat sangat indah, di mana kau membelinya?’ lalu dilanjutkan dengan topik tentang pakaiannya.
Jika itu Felix, dia akan berkata, ‘apakah kau menikmati festival sekolah kami?’ atau ‘apakah kau menonton pertunjukan drama panggung?’ sambil membuka topik umum lainnya saat dia mendengarkan tanggapannya.
Jika itu Glenn… yah dia akan berkata ‘silakan coba daging di kedai kami!’ atau semacam itu.
Dia mencoba membayangkan percakapan macam apa yang akan dibuat oleh kenalannya dalam situasi seperti itu, tetapi dia tidak merasa bisa meniru salah satu dari mereka.
Pada akhirnya, dia tidak bisa menemukan topik apa pun untuk dibicarakan saat dia memainkan jari-jarinya, dan wanita yang sedari tadi meliriknya itu berbicara dengan berbisik.
”…A-Apakah kau seorang murid di sekolah ini?”
“Y-Ya, saya seorang murid di sini.”
Seragamnya telah memberi tahu wanita itu bahwa Monica adalah seorang murid dari sekolah ini. Tapi, melihat sosoknya yang kurus dan mungil mungkin telah memberikan kesan yang berbeda atau begitulah yang dipikirkan Monica.
Mendengar jawaban Monica, wanita itu meminta maaf dengan mata tertunduk.
“M-Maaf karena menanyakan pertanyaan yang tidak sopan… Aku tahu seragammu telah memberi tahu segalanya, tapi… yah, hanya saja… kau terasa berbeda dari murid-murid lain di sini.”
Benar saja, dari sudut pandang orang luar, Monica yang merupakan rakyat jelata yang menghadiri Akademi Serendia terasa sangat tidak biasa. Bahkan jika dia mengenakan seragam yang sama, mereka secara alami akan mengenali sesuatu yang tidak biasa setelah melihat bagaimana dia membawa dirinya.
Kebetulan, Monica memiliki gelar “Count of Magic,” yang setara dengan pangkat Count, tetapi dia sering melupakan fakta ini.
”…Apakah kau mengenal Cyril?”
“Y-Ya. Dia selalu menjagaku dengan baik.”
Monica mengangguk dengan penuh semangat, dan pandangan wanita itu mengembara dengan agak bingung. Sebelum mengalihkan mata cokelat mudanya ke bawah dan menatap kakinya.
”…Apakah Cyril… bersikap terlalu angkuh terhadap… gadis penakut sepertimu?”
“T-Tidak…”
Mengesampingkan Felix, tidak hanya terhadap Monica yang patuh, dia bertingkah angkuh sebagian besar terhadap orang lain juga.
Monica merenung sejenak.
Memang, Cyril adalah pria yang sombong dan bertangan besi, dia bahkan sempat berpikir bahwa apa yang berdiri di sana adalah kesombongan itu sendiri yang mengenakan pakaian.
Pertama kali dia bertemu dengannya, dia tiba-tiba dibelenggu, diperlakukan seperti hewan langka, dan paling sering dibentak, jadi wajar jika dia merasa takut padanya.
Meski begitu, Monica tahu bahwa semua hal itu bukanlah segalanya tentang pria itu.
“Kupikir Tuan Cyril adalah orang yang baik. Dia telah mengajariku cara melakukan pekerjaanku dengan sangat, sangat sabat. Ketika aku pingsan, dia mengambil alih semua pekerjaan untukku… Oh, dan dia juga diam-diam memberiku cokelat yang lezat.”
Wanita itu membuka matanya karena terkejut, menatap Monica.
Monica membusungkan dadanya sedikit dan menyentuh hiasan mawar putih di dadanya dengan ujung jarinya.
“Bunga ini juga diberikan kepadaku oleh Tuan Cyril. Dia memberiku bunga ini sebagai jimat agar aku tidak menghadapi rasa malu hari ini.”
”…Cyril memberimu itu… Begitu ya…”
Wajah wanita itu berkerut sesaat seolah dia hendak menangis. Kemudian dia menggelengkan kepalanya dengan lembut dan menghentikan langkahnya.
Aula utama tempat Cyril berada berada tepat di depan mereka. Tapi wanita itu berhenti dan tidak mencoba untuk melangkah lebih jauh.
“Um, Tuan Cyril ada di aula utama di depan…”
“Tidak, kurasa… aku masih belum bisa menghadapinya sekarang.”
Kata wanita itu sambil menggelengkan kepalanya perlahan, tapi wajah yang dia tunjukkan entah bagaimana terasa tenang dan lega.
“Maaf karena berhenti di tengah jalan bahkan setelah kau menunjukkan jalannya.”
“T-Tidak apa-apa…”
Wanita itu membalikkan badannya membelakangi aula utama dan mulai berjalan pergi. Dia berhenti di tengah jalan dan menatap Monica.
“Terima kasih telah memanggilku, gadis yang sangat baik.”
“Tidak, um, maaf saya tidak bisa banyak membantu…”
Wanita itu tersenyum tipis ketika pandangan Monica melesat ke sekeliling dengan malu-malu.
“Aku senang bisa berbicara denganmu. Jika anak itu… bisa begitu baik kepada anak sepertimu…”
Kata terakhir yang dia gumamkan diucapkan dengan lembut untuk dirinya sendiri, kemudian, wanita itu mulai berjalan lagi, tanpa menoleh kembali ke aula utama lagi.
* * *
Mengintip ke dalam celah kecil pintu aula utama yang dibukanya, Monica melihat Cyril dan Neil sedang sibuk memberikan instruksi kepada para pelayan.
Bagaimanapun, ada banyak hal yang harus dikonfirmasi sebelum menit-menit terakhir pesta dansa, seperti konfirmasi akhir makanan dan minuman, jumlah hidangan, posisi orkestra, pengaturan kursi, dan sebagainya.
Saat dia bertanya-tanya apakah dia harus memanggilnya karena dia tampak sangat sibuk, Neil yang menyadari kehadiran Monica, memanggilnya.
“Ada apa, Nona Norton?”
“Oh, um, saya, um, saya punya masalah untuk dibicarakan dengan Tuan Cyril…”
Neil segera memanggil Cyril setelah mendengar jawaban ragu-ragu Monica. Dan Cyril berhenti memeriksa daftarnya lalu berjalan cepat menuju Monica.
“Bendahara Norton. Apakah terjadi suatu masalah di bangunan sekolah?”
“Tidak, bukan itu, hanya saja Tuan Howard sedang mencari Anda dan ingin Anda mengonfirmasi sesuatu sebelum pesta dansa, jadi dia meminta saya untuk menghubungi Anda. Dia bilang dia akan berada di lantai pertama bangunan sekolah…”
“Konfirmasi? …oh, sepertinya dia membutuhkanku untuk memeriksa perubahan apa pun dalam pengaturan orkestra. Baiklah, aku akan ke sana segera setelah aku selesai memeriksa di sini.”
Cyril benar-benar sibuk. Dan Monica tidak berpikir itu adalah ide yang baik untuk menahannya agar ikut serta dalam percakapannya.
Tapi dia merasa dia benar-benar harus memberitahunya tentang wanita itu, jadi sambil memainkan jarinya, Monica membuka mulutnya.
“Dan, um… baru saja, saya bertemu dengan seorang tamu wanita… tampaknya, dia sepertinya mencari Anda, Tuan Cyril.”
“Mencari aku?”
“Maafkan saya. Saya lupa menanyakan namanya… tapi dia memiliki rambut berwarna zaitun… benar, dia juga memiliki tahi lalat di mulutnya.”
Cyril, yang sedari tadi mengernyitkan alisnya dengan bingung, menarik napas pendek dan perlahan membuka matanya.
“Di mana wanita itu sekarang?”
“Yah, saya bersamanya beberapa saat yang lalu, tetapi dia bilang dia belum bisa menemui Anda, jadi dia pergi belum lama ini…”
Wajah Cyril berkerut sesaat mendengar kata-kata Monica.
”…Jadi, dia datang.”
Gumam kecil yang hampir tidak terdengar itu bukan dimaksudkan untuk didengar Monica, itu lebih seperti gumaman pada dirinya sendiri.
“Tuan Cyril?”
Monica mendongak menatapnya dengan bingung, dan Cyril membungkuk dalam-dalam.
“Terima kasih, karena telah mengawal tamuku yang berharga.”
Bab Ini Masih Terkunci
Bab ini dijadwalkan rilis gratis pada .
Ingin baca instan sekarang? Dukung penerjemah di halaman Donasi Novelfire untuk klaim token eksklusif Anda.