Alam Relaksasi Tertinggi – Zen

Induk Seri: The Way of Restraint[id]

Fitur Asisten Suara AI (Beta)
Berdiskusi di server Discord
Pengaturan Membaca
18px

“Ini adalah alam relaksasi tertinggi, Zen. Yang intinya dirangkum dalam satu kalimat dari Sutra Intan: ‘Tidak ada diri, tidak ada orang lain, tidak ada makhluk hidup, tidak ada masa hidup,’” Paman Mang menjelaskan.

“Apa artinya itu?” Su Jie kembali bertanya.

“Apa yang disebut ‘diri’ membentuk fondasi keberadaan di dunia ini. Rasa sakit, kesenangan, kegembiraan, dan kecemasan muncul karena adanya diri. Jika diri berhenti ada, semua emosi akan sirna. ‘Orang lain’ mengacu pada fondasi keberadaan yang mirip dengan diri, yaitu sebab dan akibat yang memengaruhi keberadaan kita. Tanpa orang lain, kita tidak akan memiliki begitu banyak emosi dan pikiran. ‘Makhluk hidup’ mengacu pada berbagai faktor yang memengaruhi keberadaan kita, sedangkan ‘masa hidup’ adalah kombinasi dari ruang dan waktu—sebuah penanda keberadaan kita dalam ruang dan waktu tertentu,” Paman Mang menjelaskan dengan kedalaman filosofis. “Jika seseorang dapat mencapai alam ini, tubuh mereka akan berada dalam kondisi paling rileks, karena pikiran mereka telah melepaskan semua fondasi keberadaan. Semuanya dilepaskan. Konon, dalam kondisi mental seperti ini, tubuh manusia mengalami perubahan yang luar biasa.”

“Aku tidak terlalu paham kondisi seperti apa itu. Namun aku tahu bahwa ketika orang rileks, mereka bisa menyembuhkan banyak penyakit dan meningkatkan daya tahan tubuh. Sebaliknya, ketegangan dan kecemasan terus-menerus bisa membuat mereka rentan terkena penyakit,” kata Su Jie, yang mulai memahami konsep dasarnya.

“Teknik yang kamu latih—menggali dan mengangkut—pada mulanya adalah gabungan dari seni beladiri, Qigong, dan filosofi Zen yang diciptakan oleh para biksu petarung. Ini disebut penyatuan Zen dan seni beladiri. Untuk menguasai seni beladiri ini hingga ke puncaknya, kamu harus memahami Zen,” ujar Paman Mang.

“Paman Mang, sampai sejauh mana Paman bisa merilekskan diri?” Su Jie bertanya.

“Aku baru mencapai alam di mana diri dan dunia luar menyatu lalu memudar. Aku masih sedikit kurang untuk mencapai kondisi sejati dari ‘tidak ada diri, tidak ada orang lain, tidak ada makhluk hidup,’” jawab Paman Mang. “Lagipula, memudar tidak sama dengan ketiadaan. Memudar masih melibatkan ingatan, sedangkan ketiadaan sejati adalah hilangnya ingatan secara total.”

Mendengarkan wawasan filosofis ini, Su Jie merasa agak kewalahan, tetapi samar-samar ia memahami sebagian darinya.

“Mungkin konsep-konsep ini membutuhkan pengalaman hidup dan berlalunya waktu agar benar-benar bisa kupaami,” pikir Su Jie. Untuk saat ini, ia tetap antusias belajar dan maju dengan kecepatannya sendiri.

Setelah sesi pijatnya selesai, waktu baru menunjukkan pukul 8 malam, masih ada waktu satu jam sebelum jam tidur biasanya pada pukul 9. Biasanya, ia dan Josh akan bertanding di ring pada jam seperti ini. Karena Josh kemungkinan sedang berlatih dengan orang lain, Su Jie memutuskan untuk melihat apa yang sedang dilakukannya.

Ia tahu pentingnya bertanding latihan. Meskipun menggunakan pelindung dan ada wasit, bertanding latihan jauh lebih baik daripada berlatih sendirian atau memukul samsak.

“Hi! Hi! Hi!”

Su Jie memasuki aula latihan yang luas. Dengan makin dekatnya semester baru akademi, makin banyak murid yang berlatih di sini. Sebagian besar terdaftar di akademi seni beladiri, dan beberapa di antaranya bahkan petarung profesional.

Akademi Seni Beladiri Minglun telah melahirkan banyak juara di bidang tinju, sanda, Muay Thai, kickboxing, MMA, dan gulat—termasuk juara tingkat nasional.

Seperti yang diiklankan di TV, “Buaian para juara, Akademi Seni Beladiri Minglun.”

Di sini, kamu bisa menemukan ahli dalam hampir setiap seni beladiri dan gaya bertarung. Itulah alasan Su Jie menyeberang antarprovinsi untuk belajar di sini.

“Kemenangan! Kemenangan lagi!”

Pada saat itu, sorak-sorai yang riuh pecah dari arena pertandingan terdekat.

Melihat ke arah sana, Su Jie melihat aula lain dengan papan petunjuk di pintu masuk yang menyatakan bahwa tiket diperlukan untuk masuk, mengindikasikan sedang ada semacam kompetisi yang berlangsung di dalam.

“Mungkinkah ini arena skala kecil yang disebutkan Pelatih Nie Shuang?”

Karena penasaran, Su Jie berjalan mendekat, membayar 30 yuan untuk sebuah tiket, lalu masuk.

Di dalam memang terdapat arena pertandingan besar yang dilengkapi dengan ring dan kandang segi delapan (octagonal cage), yang terakhir dirancang khusus untuk MMA. Arena tersebut dipenuhi penonton hingga menciptakan suasana yang meriah. Banyak di antaranya adalah murid akademi, tetapi ada juga orang luar, termasuk murid dari akademi seni beladiri lain.

Dua petarung sedang bertanding.

Salah satu dari mereka melakukan bantingan yang indah diikuti dengan kuncian lengan (armbar), memaksa lawannya untuk menyerah (submit).

Para penonton meletupkan tepuk tangan meriah.

“Ruan Xing telah memenangkan tiga pertandingan berturut-turut. Akademi memberinya hadiah 6.000 yuan!” pengumuman dari wasit.

“Turnamen internal Akademi Seni Beladiri Minglun akhirnya dimulai kembali. Setelah libur musim panas selama sebulan, saatnya bertanding. Haruskah kita ikut dan mencari uang tambahan?”

“Ayo lah, hanya para ahli yang mendaftar turnamen ini. Kalau kita masuk, bukan hanya uang pendaftaran kita yang terbuang, tapi kita juga bakal babak belur.”

Su Jie tidak sengaja mendengar dua murid dari akademi lain berbicara di dekatnya. Ia diliriknya poster-poster di sekitarnya dan langsung paham bahwa ini adalah kompetisi tantangan ring yang diadakan oleh Akademi Seni Beladiri Minglun. Baik murid dari dalam akademi maupun orang luar boleh berpartisipasi asalkan membayar biaya pendaftaran dan tiket masuk. Pemenang bahkan akan menerima uang hadiah.

Kompetisi semacam ini sempat dihentikan selama sebulan saat liburan musim panas. Sekarang karena masa liburan akan segera berakhir dan makin banyak murid yang kembali ke akademi, kompetisi ini dibuka kembali.

Di daerah ini terdapat banyak akademi seni beladiri, dan hampir setiap akademi menyelenggarakan kompetisi semacam itu. Bahkan bar dan sasana tinju di kota juga menggelar acara serupa. Namun, kompetisi ring Akademi Seni Beladiri Minglun adalah yang paling terkenal di wilayah tersebut. Tingkat keterampilannya paling tinggi, menarik paling banyak peserta, dan bahkan memiliki basis penggemar daring yang besar. Acara ini telah bekerja sama dengan platform siaran langsung, menghasilkan pendapatan yang lumayan.

Bagi Akademi Seni Beladiri Minglun, kompetisi ini merupakan proyek yang sangat menguntungkan.

“Haruskah aku ikut mendaftar juga?” Su Jie merasa tertarik. Ia selama ini kesulitan menemukan kesempatan untuk pertarungan sungguhan. Pertarungan terakhirnya dengan Song Li adalah duel pribadi. Meskipun menang 10.000 yuan, ia tidak mengambil uang itu karena bisa dengan mudah menimbulkan rasa permusuhan. Sebaliknya, ia memilih untuk bermurah hati dan menjalin pertemanan.

Nah, kali ini adalah kompetisi publik yang diorganisir oleh akademi. Jika ia berpartisipasi dan menang, itu akan sangat ideal. Bahkan jika kalah, itu akan menjadi pengalaman bertarung yang berharga.

“Stan pendaftarannya ada di sebelah sana.”

Su Jie membelah kerumunan penonton. Area pendaftaran tidak dijaga oleh manusia, melainkan sebuah mesin. Peserta hanya perlu meletakkan kartu identitas mereka di pemindai, menimbang badan, dan membayar biaya pendaftaran melalui kode QR ponsel. Setelah itu, mereka tinggal menunggu untuk ditentukan lawannya.

Sangat sederhana: Langkah pertama, berdiri di atas mesin. Langkah kedua, letakkan kartu identitas. Langkah ketiga, pindai kode QR untuk membayar 100 yuan.

Setelah menyelesaikan pendaftaran, Su Jie berpindah ke area kontestan.

Arena olahraga ini dibagi menjadi area penonton, kontestan, wasit, penyelenggara, perekaman media, dan VIP. Fasilitasnya hampir setara dengan kompetisi tingkat nasional.

Bahkan, banyak kompetisi tingkat nasional yang diselenggarakan di arena ini.

Fasilitas yang ada memperlihatkan keunggulan Akademi Seni Beladiri Minglun.

Ketika tidak ada acara besar, arena ini menggelar kompetisi skala kecil setiap hari, memberi para murid kesempatan bertarung yang sesungguhnya serta pengalaman berpartisipasi dalam acara formal.

Su Jie menunggu di area kontestan bersama puluhan peserta lainnya. Ada yang sedang membebat tangan, ada yang melakukan pemanasan, dan beberapa sedang mengobrol untuk merilekskan diri.

Tidak ada yang memperhatikan Su Jie.

Su Jie mendadak merasakan gelombang rasa gugup. Ini adalah kompetisi resminya yang pertama. Meskipun ini adalah acara skala kecil yang terbuka untuk umum, atmosfer dengan begitu banyak penonton terasa sangat berbeda.

“Atur ritme napas, lakukan pemanasan, sesuaikan kondisi mental, lalu bangun rasa antusias dan semangat bertarung…” Ia mengikuti saran dari Pelatih Odell, mulai melakukan pemanasan dan persiapan mental.

Pelatih Odell sudah lama mengajarkan kepadanya bahwa ketahanan psikologis sangat krusial dalam kompetisi ring. Jika tidak disesuaikan dengan benar, kekuatan dan teknik seseorang mungkin hanya keluar kurang dari 10%, membuat mereka menjadi mangsa yang mudah dikalahkan.

Sambil melakukan pemanasan, Su Jie membayangkan skenario ketika ia diintimidasi, dipukuli, atau dipermalukan, lalu bangkit melawan. Ini membantunya mengatasi rasa takut, memicu amarah, dan menyulut semangat bertarung. Pada saat yang sama, ia menyusun strategi—menentukan taktik, gerakan, dan kombinasi mana yang akan digunakan untuk melawan musuh.

Singkatnya, persiapan emosional adalah bagian paling penting dari ritual pra-pertandingan.

“Sebelum bertarung, menyesuaikan kondisi mental bergantung pada penggunaan emosi untuk merangsang produksi adrenalin. Dalam situasi ekstrem, tubuh melepaskan adrenalin, yang meningkatkan vitalitas, mengurangi sensitivitas rasa sakit, menekan rasa takut, serta meningkatkan kecepatan, kelincahan, dan kekuatan.”

Su Jie memutar ulang teknik bertarung dari Pelatih Odell di dalam pikirannya.

Meskipun pemanasan fisik untuk anggota tubuh itu penting sebelum bertandingan, persiapan emosional jauh lebih krusial.

Menguasai kontrol emosi membutuhkan keseimbangan. Terlalu antusias atau terlalu marah dapat mengaburkan penilaian, menyebabkan kesalahan dan memberi kesempatan pada lawan untuk memanfaatkan kelemahan. Sebaliknya, terlalu tenang dapat menurunkan daya ledak serangan.

Kondisi yang ideal adalah seperti gunung berapi yang berada di ambang letusan—emosi bergejolak di bawah permukaan, menunggu untuk melepaskan seluruh kekuatannya pada momen yang tepat.

Su Jie menyadari bahwa “teknik internal” yang sering ditekankan dalam seni beladiri tradisional Tiongkok adalah tentang kontrol emosi. Dengan mengelola sekresi hormon, seseorang dapat meningkatkan kesehatan dan efektivitas bertarung.

Latihannya, yang mencakup tugas-tugas bertani seperti mencangkul dan memikul beban, disebut “Xin Yi Ba” (Teknik Niat dan Kehendak) di antara para biksu petarung zaman dahulu. Namanya sendiri sudah mengisyaratkan kebenaran yang mendalam.

“Su Jie, lawanmu adalah Huang Bo.”

Setelah sekitar 30 hingga 40 menit, di mana tujuh atau delapan ronde pertarungan telah berlangsung, akhirnya giliran Su Jie tiba.

Dalam kompetisi ring skala kecil ini, setiap pertandingan hanya berlangsung selama lima menit. Jika tidak ada pihak yang mencapai knockout (KO), hasilnya ditentukan melalui sistem poin.

Penilaian poin tidak dilakukan oleh wasit, melainkan oleh sistem komputer akademi yang menganalisis setiap pukulan dengan presisi profesional. Sistem ini tidak hanya sangat akurat tetapi juga adil, meminimalisasi terjadinya perselisihan.

“Siapa Huang Bo?” tanya Su Jie pada dirinya sendiri saat ia mengenakan sarung tangan bertanding dan melangkah masuk ke dalam kandang segi delapan.

Kompetisi ini menggunakan aturan mixed martial arts (MMA).

Berdiskusi di server Discord